Gay?

1006 Words
Michael menghela napasnya begitu mobil yang ia tumpangi sampai di halaman rumahnya. Jadwal penuh seharian membuta tubuhnya terasa pegal. Beruntung ia tidak mengendarai mobilnya sendiri. Setidaknya ada hikmah dari kejadian kemarin malam. “Terima kasih pak,” ujar Michael pada sopir keluarganya sebelum melenggang masuk ke dalam rumah. Baru saja ia melangkahkan kaki masuk suara seruan dari dalam rumah membuat dirinya mulai waspada. Dengan berlahan menatap ke arah sumber suara, Michael mencengkram kuat saku celananya. “Michael!!” seru Clarita diikuti oleh Jessica dan langsung memeluk saudara laki-laki kesayangan mereka itu. Michael tidak balas memeluk, ia justru semakin mengeratkan pegangannya pada saku celananya dan berusaha melepaskan diri dari saudari-saudarinya karena ia merasakan firasat buruk akan menimpanya. “Kakak pasti cape, makanya aku udah nyiapin lemon tea hangat,” ujar Jessica sambil menengadah menatap kakaknya dengan senyuman manis. “Aku mau ke kamar, oke?” “Duduk dulu deh ... kita quality time. Kapan lagi, kan?” bujuk Clarita sambil menarik Michael ke ruang keluarga. Michael buru-buru menggelengkan kepalanya. Otaknya sudah memberikan sinyal bahaya. Tapi kedua saudarinya terus menarik kedua tangannya dengan sekuat tenaga ke ruang keluarga. Tadi saja manis sekarang main gusur. Yah, memang begitu sudah kebiasaan jika Clarita dan Jessica lebih suka mengganggu satu-satunya saudara lelakinya, apalagi Michael pribadi yang pendiam namun tegas, terlihat lucu dan manis bagi mereka. Michael pasrah ketika kedua saudarinya mendudukkan ia di sofa. Mereka menyalakan penghangat ruangan dan televisi. Jessica menyajikan lemon tea di hadapan Michael. “Bukannya tadi kau bilang ‘lemon tea hangat’?” Michael mengangkat gelas berisi lemon tea dingin. Jessica tersenyum. “Aku membuatnya sore, jadi lemon tea-nya sudah mendingin. Daripada aku hangatkan lagi dan merubah rasanya jadi aku tambahkan es saja.” Michael menatap datar Jessica yang kini tengah cengengesan. “Lagi pula aku tidak berbohong, itu lemon tea hangat tadinya.” “Tadinya,” ujar Michael sinis tapi tetap meminumnya. Michael mengerutkan keningnya saat melihat kedua saudarinya saling sikut dan begumam sesuatu. “Kalian kenapa?” Jessica menatap Clarita dan meminta kakaknya itu untuk mengatakan maksud sikap baik mereka. “Gini ...” Tangan Michael merambat ke saku celananya saat melihat tatapan Clarita mengarah pada saku celananya. “Bentar lagikan ada acara pembukaan cabang perusahaan baru ayah ...” Oke, Michael paham. “Jangan harap kalian bisa menguras isi dompetku hanya karena membeli barang-barang yang kalian punya,” ujar Michael sambil beranjak pergi. Jessica segera menahan lengan kakaknya dan bergelayut di sana. “Kak, ayolah ... aku hanya ingin tas Cancel keluaran terbaru,” ujar Jessica dengan suara merajuk dan wajah memelas andalannya. “Aku hanya ingin gaun merah di butik C&K,” sahut Clarita sambil menghadang langkah Michael dengan merentangkan tangannya. “Lagi pula aku yakin jika isi dompetmu  tidak akan habis hanya karena membelinya.” “Kalian bahkan memiliki selemari tas dan gaun!” “Aku hanya ingin tampil beda,” Jessica melepaskan tangannya dari Michael dan melipat tangannya di depan d**a sambil membaingkan wajahnya dari Michael, yang artinya ia tengah merajuk. “Kau tahu jika artis sepertiku akan menjadi sorotan di acara nanti,” ujar Clarita. “Kalian punya cukup uang untuk membelinya, jangan selalu mengemis padaku.” Jessica dan Clarita menatap Michael dengan wajah terkejutnya. Sepertinya saudaranya ini sudah sangat kesal hingga mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. “Tapi tidak cukup!” Jessica kembali memohon dan memiliih melupakan ucapan kasar kakaknya. “Kau akan menyesal!” Berbeda dengan Jessica, Clarita memilih beranjak dari sana meninggalkan adik-adiknya sambil mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Ia paling tidak suka jika ada orang yang mengejeknya. ** Michael melangkah turun menuju ruang makan.  Pagi ini ia hanya memakai setelah pakaian santai karena tidak ada jadwal yang megharuskannya selalu di kantor dan ia juga sudah menyuruh sekretarisnya untuk meng-handle beberapa pekerjaan. Sesampainya di bawah, Michael melihat seluruh anggota keluarganya sudah berada di meja makan dan tengah menyantap sarapan mereka dengan tenang. “Maaf, aku terlambat,” ujar Michael sambil menggeser kursi. Mendengar suara Michael dan decitan kursi, semua orang yang ada di sana mengangkat pandangan mereka ke arah Michael yang kini tengah mengambil beberapa lauk untuk sarapannya. “Ada apa?” tanya Michael bingung, karena sedari ia datang untuk sarapan semua orang menatapnya dengan aneh. Tak mendapat jawaban, Michael menatap ke arah ayahnya. Robert menghela napasnya dan kembali pada sarapannya, begitu juga dengan yang lainnya. Michael kembali dibuat bingung. “Kau tidak bekerja hari ini?” “Aku tidak pergi ke kantor dan mungkin aku hanya akan mengecek beberapa email,” jawab Michael. Robert menganggukkan kepalanya dan kembali melanjutkan sarapannya. Michael mengerutkan keningnya. Ia merasa aneh dengan perilaku keluarganya. “Habiskan makananmu, setelah itu temui aku di ruang kerja,” ujar Robert setelah selesai memakan sarapannya dan beranjak pergi tanpa perlu mendengar jawaban anaknya. Anne juga ikut menyusul suaminya. “Apa aku membuat kesalahan?” tanya Michael pada kedua saudarinya yang dijawab dengan gidikan bahu sebelum mereka beranjak dan pergi entah kemana. Michael menghela napasnya, ia kembali memakan sarapannya seorang diri. Sepertinya ia melakukan kesalahan fatal hingga keluarganya mogok bicara. Sambil mengunyah makannanya Michael mecoba memikirkan apa yang ia lakukan hingga keluarganya marah. “Apa karena mobilku?” gumam Michael. “Ah ... sepertinya iya. Itu adalah mobil pemberian ayah.” Michael menganggukkan kepalanya dan segera menghabiskan sarapannya. ** Michael mengacak rambutnya. Ia baru saja keluar dari ruang kerja ayahnya dan diintrograsi ketat oleh Robert dan Anne. (flashback) “Duduk,” perintah Robert. Michael menganggukkan kepalanya dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Robert dan Anne. Untuk beberapa saat mereka diliputi oleh keheningan, namun tidak dengan batin Michael yang tengah gelisah karena tatapan tajam dari kedua orang tuanya. “Ada apa?” Michael memberanikan diri memulai percakapan. “Jika aku menjodohkanmu lagi apa kau akan menolak?” tanya Robert dengan nada tegas. Michael mengerutkan keningnya sejenak, ia pikir Robert akan menanyakan perihal mobilnya yang kini tidak berada di garasi rumah mereka. Michael menggelengkan kepalanya, “Sudah kukatakan untuk berhenti melakukan perjodohan.” “Tipe wanita seperti apa yang kau inginkan?” tanya Anne. “Jika hal itu akan membuat kalian menjodohkanku kembali, maka aku tidak mau menjawabnya,” jawab Michael. Robert dan Anne saling menatap, seolah mereka tengah berkomunikasi sebelum akhirnya menganggukan kepala mereka secara bersamaan dan kembali menatap Michael. “Nak, apa kau menderita kelainan?” Michael dibuat bingung dengan pertanyaa ayahnya tersebut. “Tidak, aku sehat.” “Bukan itu,” ujar Anne. Michael semakin dibuat bingung. “Apa kau menyukai sesama jenis?” (flashback off) Michael membanting tubuhnya ke atas kasur. Meletakkan lengannya untuk menutupi matanya. Pantas saja tadi keluarganya bersikap aneh, tenyata mereka menyangka dirinya seorang gay. “Kenapa mereka bisa berpikir demikian?” tanya Michael pada dirinya sendiri. “Apa ini hanya akal-akalan ayah agar aku menerima perjodohan?” Ia menghela napasnya. Ia merasa jika kepalanya akan pecah. Mengacak rambutnya dengan kesal, Michael mengubah posisinya menjadi tertelengkup. “Tunggu dulu,” ujar Michael sambil mengangkat wajahnya dari bantal. Ia baru mengingat sesuatu. “Kau akan menyesal!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD