Kilas Masa Lalu

2026 Words
Robert menghela napasnya pelan. "Ini tergantung sama kesiapan kalian, Papa tak lagi menghalang-halangi hubungan kalian. Selagi itu masih dalam batasan yang baik," ujar Robert. Dia harus mengalah dalam situasi seperti ini karena bukan hanya dirinya yang harus bahagia, tapi anak-anaknya juga harus bahagia. Clarita tersenyum. Anne mengangguk. "Jadi, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" tanya Anne. "Em, belum tahu juga, Ma. Soalnya salah satu dari kami belum ada keputusan," ujar Clarita. Anne menghela napasnya, kenapa lama sekali untuk melihat anaknya bersanding di pelaminan bersama dengan pasangannya. "Yasudah, pernikahan juga butuh kesiapan. Jadi kalian harus memikirkannya dengan baik-baik," jelas Anne. Clarita dan Stevan mengangguk. Setelah usai selesai berbincang bersama dengan keluarga Harington, Stevan memilih untuk pulang karena anaknya sekarang berada di rumahnya hanya bersama dengan pembantu di rumahnya. Clarita mengantar Stevan sampai ke depan gerbang. "Kamu banyak-banyak istirahat ya," ujar Stevan dibalas anggukan oleh Clarita. "Iya, kamu juga ya." Stevan mengangguk lalu melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Clarita. Clarita melihat mobil itu melaju sampai hilang di tikungan depan. Clarita kembali masuk ke dalam rumahnya, keluarganya semuanya sudah masuk di kamar masing-masing. Ini sudah menjadi kebiasaan malam mereka, hanya berbincang sebentar lalu kembali dengan kesibukan dan zona istirahat mereka. Sedangkan Michael terdiam di dalam kamarnya, pikirannya sekarang campur aduk. Antara harus memberitahu keluarganya tentang dia yang ingin melamar Marsha, namun takut jika Marsha belum siap dan lamaran Michael ditolak. Deringan telfonnya sedari tadi berbunyi, dan Michael mengabaikannya. Michael merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit. Pikirannya, serta di dalam otaknya selalu bertanya-tanya kapan dia akan memiliki takdir yang manis dan indah? Kapan itu terjadi. Sepertinya memerlukan waktu yang lama. "Huft, sabar Michael. Lo pasti bisa laluin semua ini dengan baik," ujarnya menyemangati dirinya sendiri. *** Marsha mengusap wajahnya kasar, hari ini kafenya dia tutup. Sengaja, dia harus kuliah sekaligus menjaga ibunya, dengan sisa uang yang dia punya sepertinya dia akan kuliah beberapa bulan lagi setelah itu dia akan lulus. Masih memerlukan waktu lumayan lama untuk semuanya. "Sha, lo harus bisa mandiri mulai sekarang," ujarnya. Selama pelajaran berlangsung, Marsha fokus dengan materi yang diberikan oleh dosennya. Setelah kelas selesai, Marsha langsung pulang ke rumah. Dia menaiki angkot, dia harus hemat mulai sekarang untuk berjaga-jaga buat ke depannya. Setelah sampai di rumahnya, Marsha langsung meletakkan tasnya dan masuk ke dalam kamar ibunya. "Bu, ibu udah minum obat?" tanya Marsha. Inah menoleh ke arah anaknya, wanita paruh baya itu dengan wajah yang pucat hanya bisa mengulas senyumnya saat melihat anaknya. "Kamu makan dulu gih," ujar Inah. Marsha menatap ibunya dengan tatapan sendu, walau pun dalam keadaan begini Ibunya tetap perhatian pada anaknya dan tak peduli dengan pertanyaan Marsha. "Marsha udah kok tadi," alibinya guna agar Ibunya tak terlalu khawatir. Inah kembali mengulas senyumnya. "Yasudah ibu mau makan sekarang?" tanya Marsha. Inah hanya menggeleng dia sama sekali tak selera untuk makan sekarang, tubuhnya seperti tak mau menerima makanan. "Enggak sayang, Ibu enggak nafsu." Jawaban itu membuat Marsha tertawa. "Iyalah, kan ibu sakit. Kalau sakit mah emang enggak nafsu, ingat enggak pas ibu paksa aku makan waktu sakit. Dan aku beralasan enggak mau makan, karena enggak berselera?" tanya Marsha. Inah hanya mengangguk. Waktu itu Marsha kehujanan, motor dia mogok saat dia pulang kuliah jam shift malam. Pulang-pergi Marsha langsung sakit, dia demam dan tak berselera buat makan padahal Inah sudah menyiapkan makanan kesukaan buat Marsha. "Nah kan, jadi enggak ada alasan lagi buat ibu enggak makan. Tahan ya, supaya ibu cepat sembuh ...." Walau Marsha enggak tau pasti, mendengarkan penuturan dokter mengenai penyakit yang ibunya alami sepertinya bukan penyakit yang ringan. Tapi memang berat. Marshanda sampai shock mendengarkan ucapan dokter tersebut. Flashback ON Setelah Inah terbangun dari pingsannya, Marsha memutuskan untuk membawa ibunya untuk pergi mengecek apa sebenarnya yang terjadi. Namun Ibunya sering sekali menolak, tetapi Marsha bersikeras untuk membawa ibunya ke rumah sakit. Mereka menaiki mobil milik Anya—tetangga dari Marsha. Mereka membawa Inah ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di sana, Marsha membantu Inah dengan cara memapahnya. Anya pun melakukan hal yang sama, Marsha di bagian kiri dan Anya di bagian kanan. Inah pun melakukan pengecekan. Menunggu waktu 15 menit, akhirnya hasilnya keluar. Marsha duduk di depan dokter dengan Inah yang masih terbaring di balik ruangan dengan pembatas gorden saja. "Ini hasilnya." Dokter menyodorkan satu kertas hasil pemeriksaan tadi. "Apa? Ibu saya kanker hati dok?" tanya Marsha tak percaya, dia benar-benar tidak tau kapan ibunya mengidap penyakit kanker. Sama sekali tak ada keluhan selama ini. Anya hanya bisa berdiri melihat raut kesedihan yang ada di wajah Marsha saat ini. Anya memegang pundak Marsha menyalurkan ketenangan. "Iya, mungkin untuk awal-awal pengidap memang tak memiliki gejala atau tanda-tanda apa pun, tapi ini biasa hanya gejala-gejala biasa saja. Seperti tidak ada selera makan, mual, dan muntah-muntah," ujar Dokter. Marsha terdiam dan mengangguk. "Terimakasih, Dok. Untuk ke depannya saya harus bagaimana?" tanya Marsha. "Untuk sementara kemoterapi dulu," ujar Dokter. "Berapa biayanya dok?" tanya Marsha. "Setiap kemoterapi, sekitar 4 juta lebih bahkan ada yang sampai 5 juta," ujar Dokter lagi-lagi membuat Marsha menghela napasnya. Setelah usai sudah dengan semuanya, Marsha kembali pulang. Rasanya dia sudah mati rasa, sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Kembali lagi pada situasi di mana dia harus bekerja maksimal. Membiayai kehidupannya bersama dengan ibunya, kemoterapi ibunya, biaya kuliahnya dan banyak lainnya namun Marsha harus bisa sabar dengan keadaan yang sedang dia alami. Pasti Tuhan punya hal yang terbaik di balik semua ini. Marsha mengusap kepala ibunya dan menatap ibunya dengan tatapan sendu, bahkan ibunya saja kuat menjaga dan mendidiknya sampai sekarang, dia juga harus bisa. Yang Marsha tak pernah sangka adalah mengetahui di mana ibunya mengidap penyakit kanker hati. "Bu, ibu kenapa enggak bilang sama Marsha?" tanya Marsha. Inah terdiam, sebenarnya dia juga baru tau sebulan yang lalu. Saat Marsha sibuk dengan kafenya, dan banyak lainnya di situlah Inah sudah merasakan gejala-gejala biasa, dia pergi mengecek dan ternyata dia sudah stadium 2 kanker hati. Inah cukup terkejut. "Sebenarnya, ibu juga baru tahu sebulan yang lalu, bukan cuman kamu yang kaget Nak. Tapi ibu juga, ibu hanya berharap kamu sukses sebelum ibu tiada," ujar Inah membuat Marsha menggeleng. Tak lama air matanya turun begitu saja. "Enggak, Marsha mau ibu juga menikmati kesuksesan Marsha. Ibu pasti bisa sembuh," ujar Marsha tersenyum. Mungkin senyumnya bisa membuat Ibunya sedikit lega dengan semuanya dan tak memikirkan banyak hal kecuali kesehatannya sendiri. "Maafin Ibu ya, buat kamu jadi gini." Inah mengusap tangan Marsha. "Kenapa Ibu minta maaf? Enggak ada yang salah di sini, ibu fokus sama kesehatan ibu saja ya. Jangan terlalu banyak pikiran, semuanya akan baik-baik saja." *** Michael kini sibuk dengan berkas-berkas di kantornya. Dia sesekali mengecek jam, ternyata sudah jam 1 siang, dia juga belum makan karena rasanya tidak lapar jika sudah sibuk seperti ini. Tak lama pintu ruangannya terbuka membuatnya menoleh dan mendapati seorang gadis dengan rambut pendek berwarna hitam pekat itu, dengan kulit putih yang sedang tersenyum ke arah Michael. "Hei!" Michael menghela napasnya. "Hai." "Kamu sibuk ya?" tanya Nessa lalu duduk di salah satu sofa. "Em lumayan, cuman udah hampir selesai," ujar Michael lalu kembali mengotak-atik laptopnya. "Makan siang bareng mau enggak?" tanya Nessa. "Berhubung gue bawa makanan nih," ujarnya lagi sambil menaikkan paper bag yang dia bawa berisi dua makanan. "Gue enggak lapar, lo makan duluan aja." Vanessa mendengus kesal, kenapa pria di depannya ini selalu saja sibuk dengan pekerjaannya? Padahal dia baru saja pulang dari rumah sakit sudah mulai aktif dalam bekerja. "Gue tunggu." "Tunggu apa?" tanya Michael sambil menaikkan sebelah alisnya. Gadis dengan rambut pendek itu hanya bisa menghela napasnya pelan. "Nunggu ayam jantan bertelur. Ya nunggu lo lah buat makan bareng," ujarnya. "Gue bilang gue enggak lapar." Lagi-lagi jawaban itu membuatnya menghela napas lagi. Entah sudah ke berapa kalinya dia menghela napasnya. Vanessa menyimpan paper bag itu di meja. Dan menatap ke arah Michael. "Ngapain?" tanya Michael yang merasa ditatap. "Michael, lo tuh belum berubah ya. Kalau udah punya satu pekerjaan, pasti sibuknya minta ampun. Lo terlalu fokus dalam pekerjaan bahkan untuk mencari calon aja belum bisa," ujar Vanessa membuat Michael menoleh dan menatap tajam mata Nessa yang berwarna coklat itu. Vanessa mengalihkan pandangannya. "Hem, gue tau lo kesinggung tapi bukannya emang bener ya? Lo kan salah satu anak Harington bahkan lo satu-satunya anak lelaki dari Robert Harington. Udah banyak yang ngantri, enggak ada niatan buat noleh ke belakang?" tanya Nessa menaikkan sebelah alisnya. Michael mendengus kesal, apa-apaan ini? Nessa sedang membahas apa? Kalau pun ini berkaitan dengan hubungan asmara Michael dia belum bisa mengatakan kalau Marsha adalah miliknya. Salah besar, bahkan Marsha belum bisa menjawab semua pertanyaan Michael mengenai perasaannya sendiri kepada Michael. Michael bukan orang pemaksa, kalau memang Marsha menolaknya dia bisa mundur dan mencari orang lain. Tapi sepertinya itu akan sulit apalagi umurnya yang sudah hampir menginjak 28 tahun. Beberapa bulan lagi, dia akan masuk usia 28 tahun. "Iya gue tau, cuman gue belum siap noleh. Lebih tepatnya gue enggak suka noleh, gue maunya dia yang ada di depan." Michael tersenyum miring, kalau dipikir-pikir jarang ada cewek yang mau datang langsung dan berjuang bersama. Paling dia hanya ingin memiliki karena Michael memiliki jabatan, harta dan tahta yang besar. Michael mau yang seperti Marsha, sayangnya Marsha hanya ada satu di dunia. Dan Marsha akan menjadi miliknya satu-satunya. "Cewek itu kuadrat-nya dikejar bukan mengejar. Jadi susah kalau lo mau dapat dia yang ada langsung di depan mata lo," ujar Nessa tertawa sepertinya Michael sudah masuk dalam arah pembicaraannya. "Nah justru itu, dia yang ada di depan berarti gue yang siap mengejar sampai gue ada di sampingnya. Pahami kata-kata yang gue ucapin, ingat gue enggak suka dikejar. Gue lebih suka mengejar," ujar Michael. "Dan satu hal lagi, gue lebih nyaman sama cewek yang apa adanya. Bukan ada apanya." Michael menutup laptop-nya dan menatap ke arah Vanessa. Vanessa tersenyum. "Sahabat gue udah dewasa banget ya, baru gue tinggal bentar udah gini ternyata." "Gue boleh nanya?" tanya Nessa. "Lo udah punya target siapa yang akan dikejar?" tanya Nessa langsung. Michael terdiam. Dia dengan cepat mengangguk, jelas ada. Dia sudah ada target siapa lagi kalau bukan Marsha. Orang yang bisa memikat hatinya dengan kepolosan yang dia punya seketika senyum Michael terbit mengingat-ingat kebersamaannya bersama dengan Marsha. Mengingat-ingat Marsha, bagaimana dengan keadaan gadis itu? Apakah dia baik-baik saja? Michael seharian belum ke rumah Marsha, karena Marsha tak mengangkat telfonnya. Sepertinya Marsha sibuk dengan kafenya, Michael akan memahaminya. "Siapa?" tanya Nessa sambil menaikkan kedua alisnya. "Harus benget gue sebut namanya?" tanya Michael. "Ya, siapa tau gue kenal." "Maybe, maybe lo kenal sama dia. Lo udah pernah ketemu sama dia," ujar Michael. Vanessa hanya terdiam, bagaimana pun semuanya tak lagi sama Nessa yang mengharapkan sikap lama Michael kembali padanya. Bahkan Nessa tak membuka hatinya untuk siapa pun saat dia berada di luar negeri karena dia masih mengingat Michael yang pasti juga menunggunya. Namun, dia sudah terlambat. Sudah ada orang lain yang ada di hatinya Michael. Dan dia tak bisa menuntun ataupun ikut campur banyak hal, yang perlu diketahui bahwa Michael akan tetap menjadi sahabatnya meski Michael sudah milik orang lain. "Lo kenapa?" tanya Michael melihat raut wajah Vanessa berubah. "Enggak sih, kalau gue jujur gue kayak orang pecundang tau enggak." Mendengar itu Michael langsung mencoba memasang kontak mata dengan Vanessa biasanya, dia bisa mengetahui hanya dengan melihat mata Vanessa, saat dia marah, kecewa, sedih, jahil dan banyak hal lainnya. Namun kini Vanessa berusaha agar Michael tak mendapatkan kontak matanya. "Lo kenapa sih?" tanya Michael heran dengan sikap Vanessa yang suka berubah-ubah. "Lo yang kenapa, orang gue baik-baik aja." "Bohong, Ness gue masih kayak dulu. Masih peka sama apa yang terjadi sama lo, mau sejauh apa pun lo pergi. Dan selama apa pun kita berpisah gue akan tetap ingat tingkah dan kenangan yang sudah kita ukir selama 6 tahun itu," ujar Michael membuat Vanessa tersenyum tipis. Mereka sudah kenal sejak SMP Michael adalah salah satu murid yang paling famous sekaligus pendiam. Dia tak pernah membuka suaranya kecuali hal penting, pertemuan pertama mereka itu saat Vanessa terjatuh dari sepeda. Dan Michael lah yang mengobati dan membantunya hingga Vanessa bisa kembali bersepeda. Mereka bertemu saat pulang sekolah. Masih zaman kanak-kanak, belum memikirkan banyak hal seperti beban-bebab hidup yang sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD