Menunda-Nunda

2026 Words
Michael berjalan bersama dengan Marsha dalam satu wahana permainan, mereka hanya berjalan-jalan saja melihat-lihat sambil berbincang santai. "Marsha," panggil Michael membuat Marsha menoleh dan menaikkan kedua alisnya. "Aku mau jujur boleh enggak?" tanya Michael membuat Marsha terdiam dan kembali menatap ke arah sekitar. Marsha tau, kalau Michael pasti akan kembali membahas masalah pernikahan. Marsha bukannya tidak ingin menikah, cuman dengan dirinya yang masih S3 ini, apakah orang tuanya akan merestui mereka berdua? Belum tentu. Marsha juga sudah capek berharap. "Hem, boleh. Tapi bentar deh, aku mau makan es krim," ujar Marsha lalu tersenyum. Michael menatap ke arah mata Marsha terarah. Tepat berada di satu penjual es krim, Michael mengangguk. Dirinya juga tak boleh terlalu ngotot untuk melangsungkan apa yang dia pikirkan sekarang, bukan hal yang baik. Apalagi Marsha jika dilihat-lihat adalah orang yang tak suka dipaksa dan didesak. "Yasudah ayo," ujar Michael lalu berjalan dahulu Marsha yang melihat itu langsung mengekori jalan Michael. Mereka sampai di tukang penjual es-krim. "Es krim vanilla dua ya," ujar Michael. "Oke." "Kok kamu tau kalau aku suka Vanilla?" tanya Marsha. "Kamu, kayak baru ketemu aku seminggu aja." Marsha tertawa mendengar jawaban Michael. Memang benar, Michael sudah tau banyak tentang Marsha begitupun sebaliknya. Sebenarnya mereka sudah bisa menjadi pasangan yang clop, hanya saja Marsha belum siap untuk menikah bahkan saat Michael membawanya untuk ke rumah Harington. Marsha sangat terkejut bukan main, apalagi keluarga mereka yang tak menerima kehadiran Marsha. Keduanya langsung duduk di salah satu taman yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. "Sha, boleh ngomong sekarang?" tanya Michael. Saat Marsha ingin membuka suaranya, suara deringan handphonenya berbunyi membuatnya langsung menoleh ke arah tasnya. "Bentar ya, Ibu nelfon." Michael hanya mengangguk sepertinya hari ini dia tak akan jadi berbincang soal lamaran dia. "Halo Bu? Kenapa?" "Hah? Marsha pulang sekarang." Marsha menutup panggilan tersebut dan langsung mengambil tasnya. "Kak, aku mau pulang ibu aku ...." Marsha menggantungkan ucapannya membuat Michael menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?" "Boleh antar aku pulang?" tanya Marsha. Michael menghela napasnya pelan. "Oke." Mereka berdua berjalan menuju mobil Michael yang terparkir tak jauh dari tempat mereka bermain sore ini. Michael masuk ke dalam mobil diikuti oleh Marsha selama perjalanan tidak ada yang membuka suara, Michael pun tak berani untuk bertanya ada apa sebenarnya. Dan Marsha hanya terus menatap ke arah kaca mobil. Hingga mereka sampai di rumah Marsha. "Kak, kakak pulang aja dulu. Nanti aku kabarin ya," ujar Marsha lalu turun dan menutup pintu mobil tanpa menunggu balasan dari Michael. Michael menatap heran serta bingung kepada Marsha. Ada apa sebenarnya? Dengan Marsha? Michael tak mau ambil pusing dan tak mau membebankan Marsha dengan beberapa pertanyaan yang muncul di dalam benaknya. Dia memilih untuk melajukan mobilnya dan meninggalkan pekarangan rumah Marsha. Marsha yang melihat itu akhirnya bisa bernapas dengan lega. "Maafkan aku, Kak." Marsha dengan cepat langsung berlari masuk ke dalam rumahnya. "Kenapa dengan ibu saya?" tanya Marsha yang masuk ke dalam kamar melihat ibunya yang sudah tak sadarkan diri. "Kayaknya kambuh lagi," ujar salah satu orang—tetangga dari Marsha. Marsha mengusap wajahnya lalu duduk di tepi ranjang milik Ibunya dan mengusap kepala ibunya. "Makasih ya, kalian udah mau jagain ibu saya," ujar Marsha. "Tenang aja, Sha. Kami kan tetangga setia," ujarnya membuat Marsha tersenyum. "Kamu mau bawa dia ke rumah sakit?" Marsha menatap ke arah Ibunya lalu menggeleng. "Kayaknya enggak dulu, kalau aku mau bawa ibu aku. Aku hubungin ya," ujar Marsha lalu dibalas anggukan oleh Anya—tetangga Marsha. "Oke, aku pulang dulu ya." Beberapa orang yang tadi membantu Inah pun ikut pulang. Kini tinggal Marsha dan Inah saja di kamar. Marsha menghela napasnya, dia sudah tak punya banyak uang untuk saat ini. Dia juga masih harus membiayai dirinya kuliah, ibunya yang kambuh sama penyakitnya, dan dia juga tak bisa memberikan banyak waktu untuk kafe yang diberikan oleh Michael. Uang dia sudah abis karena sebagian diberikan kepada Michael untuk menambahkan semuanya hingga cukup 40 juta. "Bu, maafin Marsha ya. Untuk saat ini, biar Marsha yang urus ibu dulu," ujarnya lalu menarik selimut hingga menutupi badan Inah. Marsha menutup matanya lalu memijit pelipisnya. Dia bangkit dari duduknya dan menutup kamar ibunya, mungkin saat ini ibunya sudah tak bisa bergerak terlalu banyak karena memang penyakit yang ibunya alami sudah terlalu parah. Bahkan sudah hampir stadium akhir. Marsha benar-benar pusing. Marsha menyimpan tasnya lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Kenapa cobaan selalu datang bertubi-tubi?" tanyanya. Baru 10 menit dia berbaring, Marsha bangkit lagi dari tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah selesai mandi dan memakai pakaiannya, Marsha masuk ke dalam dapur dan membuatkan ibunya bubur. Marsha berjalan menuju kamar ibunya dengan nampan di tangannya. Dia membuka pintu dan mendapati ibunya masih tak sadarkan diri, Marsha menyimpan nampan itu dan mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya di jarinya. Marsha berusaha membangunkan ibunya dengan membiarkan tangannya berada di dekat hidung ibunya. Setelah 3 menit berlalu akhirnya Inah kembali sadar. Marsha tersenyum. "Ibu minum dulu," ujar Marsha lalu membantu ibunya untuk duduk. Inah meminum air hangat tersebut. "Ibu kalau ngerasa ada yang sakit itu bilang ya, jangan sembunyiin kayak gini. Apalagi sampai pingsan kayak gini, kalau capek istirahat jangan dipaksa," ujar Marsha. "Iya, Ibu sebenarnya enggak capek. Tadi kepala ibu tiba-tiba sakit," ujar Inah. "Yasudah ibu makan dulu ya, terus minum obatnya. Kalau udah, ibu tidur lagi." Marsha menyodorkan satu suapan kepada Inah. Setelah 10 suapan, Inah menggeleng berarti dia sudah tak ingin makan lagi. Marsha mengangguk dan memberikan gelas berisi air tersebut kepada ibunya. "Ini obatnya, rutin diminum bu. Jangan lupa ya," ujar Marsha. Dia sudah sering kali mengingatkan ibunya namun tetap saja, ibunya jarang meminum obatnya. Sangat keras kepala. "Iya, Nak." Inah kembali merebahkan tubuhnya. Dia dapat melihat raut kelelahan anaknya, inilah alasan kenapa Inah selalu menyembunyikan semuanya. Dia hanya tinggal bersama dengan Marsha, dan tak mau sampai kehilangan anaknya itu. Dia tak mau membuat anaknya susah, Marsha adalah satu-satunya harta yang paling berharga yang Inah punya saat ini. "Ibu tidur ya, jangan banyak pikiran. Mungkin beberapa hari ini kafe aku tutup ya?" tanya Marsha. "Kamu yakin? Kita udah enggak punya uang lagi," ujar Inah. Marsha terdiam, dia harusnya memikirkan ini lebih jauh lagi. Namun, dia sangat capek dan lelah untuk semuanya, dia ingin sekali istirahat dari dunia yang penuh dengan tipuan ini. "Iya, Bu. Marsha bakal buka lagi untuk beberapa hari ini doang kok," ujar Marsha lalu tersenyum. Marsha memegang kedua tangan ibunya. "Aku enggak mau ibu capek, aku enggak mau kehilangan ibu. Jadi, aku harap ibu dengerin apa yang aku bilang ini semuanya demi kebaikan ibu semata," jelas Marsha. Bagaimana bisa, Inah bahkan tak mau merepotkan anaknya. Sama-sama dalam situasi yang imbang, Marsha yang tak mau kehilangan ibunya. Dan ibunya yang tak mau anaknya menjadi susah. "Tapi ...." "Enggak ada tapi-tapi, ini tugas aku sekarang. Dulu waktu kecil bukannya ibu yang jagain aku? Sekarang aku udah dewasa, Bu. Waktunya Marsha yang rawat ibu," ujar Marsha. "Sebagai balas budi atas semuanya yang ibu berikan kepada Marsha," lanjutnya. Inah tersenyum, dia sangat bersyukur mempunyai anak seperti Marsha yang selalu ada di dekatnya apa pun yang terjadi walau susah maupun suka. Dia selalu ada di dekat Inah memberikan support kepada Inah. "Makasih, Nak." Marsha mengangguk lalu mencium kening ibunya. Marsha menghela napasnya, mungkin ini satu cara agar beban pikirannya tak terlalu banyak. Setidaknya dia tau kalau Ibunya sedang beristirahat dan tak melakukan hal-hal yang dapat membuat dirinya capek. *** Michael mengacak-acak rambutnya. Dia baru saja pulang, sedari tadi dirinya dibuat pusing dengan sikap Marsha yang tiba-tiba berubah padanya. Dia seperti ingin menjauh dari Michael, namun dengan cepat Michael menghilangkan pikiran tersebut. "Kenapa, Kak?" tanya Jessica tepat di depan pintu Michael. "Buka enggak bilang-bilang, enggak sopan banget sih," kesal Michael. Jessica menggeleng. "Woy bang, ini pintu kagak dikunci, dan kagak ditutup. Terbuka lebar tadi, enak aja main nuduh kayak gitu mau ngajak gelut apa gimana nih?" tanya Jessica. "Hem sorry. Udahlah keluar sono." Michael menutup pintu kamarnya. Dia benar-benar stress sekarang karena tak mau membuang-buang waktunya, Michael langsung menutup matanya dan masuk ke dalam alam mimpi. Selepas dia pulang dari kantor siang tadi, dia langsung menjemput Marsha untuk bertemu dengannya dan berjalan-jalan bersama menghabiskan waktu. Jessica yang aneh melihat kakaknya ini hanya bisa menggelengkan kepalanya bingung, kakaknya memang benar-benar aneh. "Ish mabok kali ya?" monolog Jessica lalu turun ke bawah dan duduk di salah satu sofa. "Kenapa Michael tadi? Kayaknya dia stress banget deh," ujar Anne lalu duduk di samping Jessica. Jessica memutar bola matanya malas. "Enggak tau, mabok kali, Mah. Soalnya aneh." "Atau kalau bukan mabok dia lagi galau, atau enggak dia lagi capek karena kerjaan dia kan moodswing banget ya," ujar Jessica. Anne hanya mengangguk-angguk mendengarkan putri bungsunya itu. "Eh, tadi yang awal, mabok? Awas aja kalau kakak kamu ketahuan mabok ya," ancam Anne. "Mau diapain, Mah? Mau dicincang? Digoreng? Dimasak? Atau dibuang? Atau dicoret dari kartu keluarga aja, gimana?" tanya Jessica. "Kamu ini, ada-ada aja. Oh ya kamu udah selesai syutingnya? Kok selalu pulang sore ya?" tanya Anne. "Entah, mungkin karena scene enggak pernah malam," ujar Jessica lalu kembali menatap layar handphonenya. "Bisa gitu ya," ujar Anne. "Bisa, buktinya gini." Jessica tertawa dibalas wajah datar dari Anne. *** Clarita tertawa bersama dengan Aileen. Aileen sibuk dengan bola yang dia pegang, mungkin masih sangat sulit buat Clarita menjadi seorang ibu yang baik buat Aileen karena dirinya yang sering lalai menjaga Aileen. Dan mementingkan kesibukannya. Maka di sinilah Clarita harus memilih antara karir dan juga rumah tangga. Sebenarnya, dia bisa melakukan keduanya cuman mungkin dia tak selamanya bisa mengimbangi semuanya. Stevan memberikan satu gelas berisi jus. "Nih." "Makasih." Clarita menyeruput minumannya. "Gimana? Udah ada keputusan?" tanya Stevan. "Kayaknya kita bicara dulu soal diri aku yang enggak hamil," ujar Clarita. Stevan hanya mengangguk-angguk mengerti. Kenapa sulit sekali membuka jalan antara keduanya, selagi mereka atau salah satu dari mereka belum siap. Maka tidak akan bisa terjadi pernikahan yang mereka harapkan. "Yasudah, abis ini kita ke rumah kamu ya." Clarita mengangguk dan menghela napasnya pelan. "Tenang aja, kalau ada apa-apa aku yang angkat bicara," ujar Stevan. "Tapi ...." "Udah, kamu jangan khawatir ya." Clarita mengangguk. Dia menatap ke arah depan, sebenarnya masa depan sudah ada di depan matanya. Hanya dirinya saja yang tak memikirkan apa yang akan dia lakukan ke depannya. Antara menggapai, atau menata dahulu. Setelah selesai bermain-main bersama dengan Aileen, mereka berdua kini berada di rumah Harington tepat pada saat jam sudah menunjukkan pukul 19:15. Clarita terdiam, keluarganya pun terdiam. Mereka kini berada di meja makan. Karena sekarang memang sudah menunjukkan jam makan malam. "Kenapa?" tanya Anne. "Hem, kami mau kasih tau sesuatu," ujar Clarita. "Kita makan dulu aja deh," ujar Michael lalu mengambil nasi dan menuangkannya ke dalam piringnya. Jessica pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Michael, mereka berdua memang sangat jahil. "Yasudah kita makan dulu aja," ujar Anne membuat Clarita dan Stevan mengangguk. Mereka makan dengan tenang tanpa ada yang membuka suara sama sekali. Setelah selesai makan mereka sekarang sudah ada di ruang tamu. Jessica dan Michael hanya bisa diam menatap kedua orang yang sebentar lagi akan menikah ini. "Kalian mau bahas apa?" tanya Robert. "Tapi, Papa janji enggak akan marah ya?" tanya Clarita. "Tergantung." Jawaban tersebut membuat Clarita dan Stevan saling tatap menatap. "Kalau mau nikah langsung aja kak," ujar Michael memutar bola matanya malas. Dia masih sangat kesal dengan Stevan tapi, mau diapa? Dia sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya. Tak ada pilihan lain selain daripada harus berteman seperti sahabat bahkan keluarga. "Pah, janji ya?" tanya Clarita. "Iya sayang, kamu mau bilang apa?" tanya Anne. "Sebenarnya ...." Semuanya menunggu ucapan Stevan dengan tatapan rasa ingin tahu. "Sebenarnya Clarita itu tidak hamil," ujar Stevan membuat semuanya terdiam. 20 detik setelahnya Anne mengernyitkan dahinya bingung. "Maksudnya?" tanya Anne masih bingung dengan apa yang dikatakan Stevan. "Aku enggak hamil, Mah." "Syukurlah," ujar Michael. "Eh beneran enggak hamil? Terus pas di rumah sakit waktu itu?" tanya Jessica. "Dokternya cuman main-main doang," ujar Clarita membuat Robert menghela napasnya lega. "Syukur kamu masih perawan," ujar Robert. Clarita tertunduk. "Terus kelanjutannya mau kayak gimana, Pah?" tanya Clarita. Robert menatap ke arah Stevan, dia masih ragu dengan orang di depannya ini. Apakah dia benar-benar mencintai anaknya? Atau hanya ingin menjadi populer karena derajat anaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD