Sebuah Kebohongan

2015 Words
Keluarga Xavier saling tatap menatap, Kenneth maju dengan tangan yang sudah ada di depan dadanya. Dia tersenyum miring. "Tapi ini belum selesai," ujarnya. Michael menaikkan sebelah alisnya. "Ini sudah selesai," ujar Michael lalu melemparkan surat perjanjian yang diberikan oleh Inah tadi. Kenneth membukanya, memang benar. "Ini surat perjanjian palsu," ujar Kenneth. Membuat Marsha terkejut dan langsung menatap ke arah Ibunya dan Michael. "Tidak mungkin. Jelas-jelas ini sudah ada tanda tangan materai," ujar Michael. "Tapi di sini tak ada cap yang sebenarnya, yang benar itu ...." Kenneth mengambil satu map berwarna coklat s**u itu dan memberikannya pada Michael. "Ini yang benar," ujar Kenneth lalu tertawa. "Kalian berdua memang gampang ditipu ya," ujar Ariana. Michael merobek kertas tersebut dan langsung membuangnya ke sembarangan arah. "Gimana? Perjanjian itu udah hilang bukan?" tanyanya menaikkan sebelah alisnya. Kenneth ternganga, dia dengan cepat menarik kerah baju milik Michael. Michael hanya terdiam, kalau mereka bermain licik kenapa Michael tidak boleh? Marsha semakin khawatir ini yang memang ditakutkan olehnya. Takut mereka bertengkar seperti ini. Michael mendorong Kenneth. "Di sini tak ada yang main kasar. Jangan berlagak pintar di depan orang cerdas," ujar Michael. "Ini uang sebesar 40 juta, silahkan dinikmati. 10 juta lebihnya itu sebagai tanda bunga saja, atau enggak tanda sumbangan dari kami," ujar Michael. Dengan segera mereka meninggalkan rumah kediaman Xavier itu. Kenneth yang mau menyusul ditahan oleh Jonathan. "Ini belum berakhir," ujar Jonathan. Kenneth tersenyum miring. *** Michael kembali melajukan mobilnya menuju rumah Marsha. Terjadi keheningan beberapa saat, namun untuk menghilangkan keheningan itu Marsha membuka suaranya. "Makasih ya," ujarnya. Michael tersenyum lalu mengangguk, sebenarnya dirinya juga belum bisa terlalu tenang. Karena melihat sekitar dari rumah Kenneth memang menyeramkan, dan keluarga Xavier itu bukan keluarga yang biasa, menurut Michael. Berbahaya. Michael memberhentikan mobilnya di depan rumah Marsha. Marsha dan Inah turun lalu mengucapkan terimakasih. "Kalau ada apa-apa langsung hubungin aku ya," ujar Michael. Dia lalu melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Marsha. Dia sepertinya harus mencarikan satpam, atau bodyguard untuk rumah Marsha berjaga-jaga agar Kenneth tak lagi menganggu Marsha. Dan tak mengusik kehidupan Marsha lagi. Marsha hanya miliknya, hanya milik Michael Harington. Michael memberhentikan mobilnya tepat di depan pagar rumahnya. Dia turun dan langsung masuk ke rumahnya, sudah beberapa hari ini dia tak masuk bekerja karena Robert melarang dirinya untuk melakukan banyak hal. Michael bersyukur karena dia sudah menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. "Kamu baru pulang?" tanya Anne. "Iya, Mah. Maaf ya," ujarnya lalu duduk di salah satu sofa. "Hem, tadi ada Vanessa. Kamu sih lama pulangnya jadi dia pulang deh," ujar Anne. Michael hanya menghela napasnya pelan. "Kamu kenapa sih? Dulu aja berharap kalau Nessa enggak pergi, eh sekarang udah berbeda ya?" tanya Anne. "Bukan gitu mah, dulu sama sekarang udah beda banget. Dulu Michael baru aja lulus SMA, dan satu-satunya sahabat Michael dulu kan Nessa. Jadi ya wajarlah. Sekarang udah terbiasa tanpa dia," ujar Michael lalu mengusap wajahnya. "Sekarang sama dulu apa bedanya ya? Itu tergantung kamu nyesuainnya kayak gimana, dia kan sahabat kamu. Ya sahabat tetaplah sahabat, selagi dia enggak ganggu kamu," ujar Anne. Michael hanya terdiam. "Dan satu lagi, jangan kasar-kasar apalagi cuek sama dia. Ingat, dulu dia yang paling baik loh, jangan lupain kebaikan dia." Setelah mengucapkan itu Anne langsung berdiri dan meninggalkan Michael yang terdiam. Memang benar kata Mamanya, apa bedanya? Tak ada bedanya. Michael hanya butuh waktu kembali apalagi setelah ditinggal dulu, bukan hal yang mudah buat Michael. Walau dia bertemu dengan teman baru semasa kuliah namun tak seakrab Vanessa. Michael sangat tertutup. Dan satu-satunya orang yang sudah buat Michael luluh adalah Marsha, ya. Ini juga salah satu alasan kenapa Michael tak mau dekat-dekat sama cewek lain, karena dia masih sayang sama Marsha. Hanya Marsha yang ada di hatinya. Michael naik ke atas kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia mengukir senyum yang selama ini dia selalu pendam, Marsha akhirnya dia kembali memilih gadis itu. Michael tak akan lagi mengajak gadis itu untuk berpacaran, dia akan langsung melamarnya. *** Di sisi lain sama halnya dengan Clarita yang semakin sibuk dengan kegiatan yang ada di jadwalnya bahkan untuk makan pun dia sampai lupa. Devi sudah sering kali mengingatkannya bahwa dia itu punya penyakit maag, namun tetap saja. Sahabatnya itu tak mau mendengarkannya. "Hari ini semuanya sudah selesai, dan sudah jam 9 malam. Waktunya kita pulang," ujar Devi. Clarita mengangguk. "Iya ayo." Tubuhnya juga sudah lelah, sepertinya dia harus memakai koyo biar pegal-pegalnya hilang. Devi membereskan semuanya, mereka berdua naik ke dalam mobil meninggalkan tempat syuting Clarita. Di perjalanan hanya ada suara mesin mobil, tidak ada yang membuka suara. Clarita menatap ke arah jendela. Dirinya benar-benar pusing, semakin hari dia semakin melupakan apa yang harusnya dia lakukan buat Stevan. Stevan juga belum ada tanda-tanda untuk segera menikahinya, mungkin saja dia sedang mempersiapkan dirinya. "Lagi mikirin apa coba?" tanya Devi membuyarkan lamunan Clarita. "Enggak, gue cuman capek aja. Seharian ini belum istirahat," ujarnya. Memerlukan waktu 20 menit mereka sudah sampai di rumah kediaman Harington, Clarita dan Devi berjalan beriringan masuk ke dalam rumah dan di sana juga sudah ada Anne dan juga Robert. Jessica turun menatap sang kakak. "Kakak seharusnya lebih banyak istirahat, kakak kan lagi ngandung," ujar Jessica sontak membuat Devi kaget mendengarnya. Apa yang dikatakan Jessica? Mengandung? Clarita hamil anak siapa? Stevan? Devi menggeleng dengan cepat lalu beralih menatap ke arah Clarita yang sepertinya santai seperti biasa. Clarita duduk di salah satu sofa lalu memejamkan matanya. Jessica yang sepertinya salah bicara langsung berlari naik ke atas kamarnya dan menguncinya. Kan memang benar kalau Clarita hamil, dan itu juga dia tau dari orang tuanya. Sudahlah, keluarganya memang selalu cari pembenaran sampai yang benar selalu disalahkan. Robert menghela napasnya lalu berdehem. Devi yang merasakan aura itu menjadi tidak enak hati. "Hem, Clar gue pulang aja ya?" tanyanya. Clarita membuka matanya. "Tungguin suami lo di sini aja seperti biasa," ujar Clarita. Devi menghela napasnya, sahabatnya ini tidak lihat apa kalau Papanya sudah menatap Clarita seperti orang yang akan memangsa sang mangsa. Devi hanya tersenyum kikuk. "Suami gue udah di luar kayaknya, gue pulang ya." Devi menyalami kedua orang tua Clarita. "Devi pulang, Om, Tan." "Hati-hati ya," ujar Anne membuat Devi mengangguk. Clarita menatap kedua orang tuanya. "Iya, kenapa?" tanya Clarita. Seminggu ini moodnya benar-benar buruk, dia tak bisa mengontrol emosinya dia seperti anak kecil yang selalu diingatkan akan sesuatu hal. "Kamu kapan langsungkan pernikahan sama Stevan?" tanya Robert. Clarita benar-benar tak percaya Papanya bertanya hal demikian, mungkin karena dirinya dikatakan sedang mengandung padahal tidak. Bahkan Stevan rela-rela ditampar oleh Robert karena mengaku sudah menghamili Clarita. Bagaimana jika sebenarnya, ayah dan ibunya tau yang sebenarnya? Mereka akan berpikir mereka dibohongi dan dipermainkan. Clarita akan membicarakan ini kepada Stevan. "Hem, secepatnya Pah. Tenang saja," ujar Clarita lalu tersenyum dan bangkit dari duduknya meninggalkan Robert dan Anne. Anne memegang tangan Robert. "Tenanglah, aku yakin semuanya akan baik-baik saja," ujar Anne. *** Pagi kembali tiba, waktunya melakukan rutinitas seperti biasa, yaitu melakukan kegiatan yang sudah seharusnya dilakukan oleh mereka-mereka. Clarita duduk di salah satu kursi meja makan. "Hari ini kesibukannya apa?" tanya Robert. "Hari ini aku mau masuk kantor," ujar Michael membuat Robert beralih menatapnya. Michael yang merasa ditatap langsung menghela napasnya. "Aku udah sehat, Pah. Dan aku juga bosan kalau di rumah mulu." "Yasudah tapi jangan lupa obat dibawa, dan Vanessa akan menyusul nanti," ujar Robert membuat Jessica melotot. "Enggak, enggak. Mending kak Marsha aja, Pah. Pasti kak Michael lebih terawat dan lebih seneng," ujar Jessica. Robert menggeleng. "Nanti dia hanya sibuk ngebucin dan enggak fokus kerja," ujar Robert dihadiahi tawa dari Anne dan Clarita. "Sejak kapan Papa tau namanya bucin?" tanya Clarita. "Papa udah gaul kayak kalian." "Sudah-sudah kalian makan gih," ujar Anne menengahi. "Oh, ya. Mungkin Jessica pulang sore," ujar Jessica lalu menyuapkan satu sendok makanan ke mulutnya. "Kamu mah setiap sore emang pulang," ujar Anne membuat Jessica mendengus kesal. "Kalau kamu Clarita?" tanya Robert. "Mungkin hari ini aku mau ambil cuti, mau ketemu Stevan." Robert hanya mengangguk mendengarkan jawaban tersebut. Dia akan membiarkan anak-anaknya bebas untuk mencintai siapa pun, tapi tetap saja dengan orang yang tepat. Tidak asal-asalan seperti ini, dia takut anaknya hanya dipermainkan dan tidak ada kehidupan mereka yang tetap seperti dirinya dan Anne. Setelah selesai rutinitas makan pagi, Clarita mengambil tasnya dan menaiki mobilnya dan berangkat menuju kantor milik Stevan. Di perjalanan dia ketemu anak-anak yang masih berjuang hidup dengan cara menjual tissue. Clarita semakin hari rasanya semakin tak bersyukur apalagi penuh dengan keluhan setiap dia merasakan lelah. Clarita menghela napasnya dan fokus menyetir sampai akhirnya dia sampai di satu kantor yang sangat besar. Sangat besar, Clarita turun dan masuk ke dalamnya. Sontak semua sorot mata tertuju padanya, gadis dengan body girls itu, dengan kaki yang jenjang putih berjalan menuju ruangan Stevan. Clarita mengetuk-ngetuk pintu hingga ada suara Stevan. "Masuk." Clarita membuka pintu tersebut dan terlihatlah Stevan yang sudah menatap layar laptopnya. Clarita tersenyum dan langsung duduk di depan Stevan. "Morning." "Too." "Tumben ke sini, biasanya ngajak ketemuan," ujar Stevan. Clarita masih mengulas senyumnya dia menyimpan tasnya di meja. "Enggak, cuman mau jalan-jalan sekaligus mau ngomong hal serius," ujar Clarita lalu merubah raut wajahnya. Stevan yang melihat raut wajah Clarita berubah langsung bertanya, semoga saja bukan hal-hal yang buruk. "Hal serius apa?" tanya Stevan. Clarita menghela napasnya pelan. "Stevan, sebelumnya aku mau minta maaf ya." Stevan mengernyitkan dahinya. "Loh, emang kamu salah apa? Jangan aneh-aneh deh ngomongnya aku jadi gimana ya," ujarnya membuat Clarita menatapnya bingung. "Emang aku ngomongnya aneh ya?" tanya Clarita. "Em, enggak sih. Mau ngomong apa?" tanya Stevan. "Kayaknya kita harus jujur kalau aku ini enggak hamil. Aku dan kamu bakal terima resiko yang besar kalau mereka taunya aku enggak hamil, Stevan." Clarita menghela napasnya. "Tapi kalau mereka enggak setuju kalau kita enggak lanjutin kebohongan ini gimana ...." "Stevan, lebih baik kita berjuang dengan cara yang jujur. Daripada harus bohong kayak gini, aku juga rasanya enggak nyaman kalau aku dibilang udah berbadan dua," ujar Clarita tertawa. "Iya sih, lucu juga kalau kamu hamil tapi kita belum ngapa-ngapain," ujar Stevan. "Jadi gimana?" tanya Clarita. "Aku ngikut aja, tapi aku harap ini jalan yang terbaik. Kita harusnya mikir ke depannya bakal kayak gimana," ujar Stevan lalu menutup laptopnya dan menatap ke arah Clarita. "Maafin aku ya, tapi aku enggak nyaman kalau dibilang hamil di luar nikah, Stevan." "Aku ngerti kok, kita bakal jalanin semuanya sama-sama, kamu jangan khawatir ya," ujar Stevan lalu memegang kedua tangan Clarita. "Di sini enggak ada yang salah kok, kamu hanya mau jujur kan? Kita akan jujur," ujar Stevan. Clarita tersenyum dan mengangguk. "Jangan pusing lagi soal ini ya," ujar Stevan. "Tapi, mereka bakal setuju dengan hubungan kita? Enggak kayak awal dulu kan?" tanya Clarita masih khawatir. Stevan terdiam, dia sebenarnya ragu jika saja kedua orang tua Clarita malah marah karena kami berdua melakukan hal yang ceroboh seperti ini. Membuat orang tua menjadi khawatir belum lagi hubungan mereka akan menjadi renggang jika sudah begini. Dan berakhirlah, Stevan dan Clarita harus berjuang lagi. Dan lagi untuk mencapai titik yang sebenarnya, memang sulit. Tapi ini harus dilakukan. "Kamu enggak syuting?" tanya Stevan mengubah alih pembicaraan. Dia tak mau membahas itu dulu, dia mau tau ke depannya akan seperti apa. Dia akan melihat semuanya, walau emang masih harus menunggu. Stevan akan melakukannya. "Enggak, aku ambil cuti. Dan mau ngabisin waktu berdua sama kamu," ujar Clarita. Stevan tersenyum. "Ngabisin waktu bareng Aileen juga mau?" tanya Stevan. "Pasti dong, oh ya. Aku mau kenalin nanti Aileen sama anak asisten aku namanya Jihan," ujar Clarita. "Boleh." Keduanya berbincang dengan senangnya. Berusaha melupakan keluh kesah mereka, dengan menceritakan masa-masa di mana mereka masih sekolah. Di mana Clarita mengagumi Stevan dalam diamnya, dan tak berani mengungkapkannya, jelas. Karena dia adalah perempuan. "Kapan kita mau jalan-jalan?" tanya Clarita. "Abis ini ya," ujar Stevan lalu membuka kembali laptopnya. "Sesibuk itu ya? Untung saja aku enggak ambil alih perusahaan Papa aku," ujar Clarita. "Padahal ini menyenangkan loh," ujar Stevan. "Menyenangkan atau meresahkan?" tanya Clarita menaikkan sebelah alisnya. "Tergantung sih. Sama seperti kamu, yang udah terbiasa menjadi aktris makanya itu udah jadi hal biasa. Sama seperti aku," ujar Stevan. "Iya deh iya, aku ngalah." "Emang harus." Stevan tertawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD