Hari itu, Michael pernah bilang kalau dia tak suka jika orang yang dia sayang diperlakukan tidak wajar oleh orang lain. Sama seperti waktu, Clarita yang sembunyi di rumah Stevan. Michael sangat marah hingga membuat rumah Stevan seperti kapal pecah.
"Kenapa diam, Michael? Kamu janji kan?" tanya Marsha.
Michael terdiam, dia menarik napasnya dan membuangnya kembali dan mengangguk. "Iya, aku janji."
"Aku dulu bukan anak orang kaya, kami tak memiliki uang untuk membiayai semua keperluan aku untuk kuliah. Ibuku mengambil satu janji, yang ditawarkan oleh Ariana, Ariana adalah ibu dari Kenneth."
"Mereka, mereka mau membiayai semua kebutuhan kuliah aku. Asalkan, setelah aku sudah kuliah semester 2 dan hampir semester 3, aku bakal menikah dengan anaknya Kenneth," jelas Marsha.
"Hah?" Michael masih tak percaya, Marsha seperti dijual hanya untuk bekal pendidikan di jenjang kuliah.
"Seminggu setelah kita putus aku dan ibuku dalam bahaya, dan seminggu sebelum kita putus itu aku mengetahui semua perjanjian ini," ujar Marsha.
"Walau masih tak terlalu jelas."
"Dalam bahaya maksudnya?" tanya Michael yang menurutnya kata itu terlalu ambigu baginya.
"Aku selalu disiksa, Kenneth terlalu main fisik, dan ibuku kemarin disekap."
"Apakah, Jessica sudah menceritakan waktu dia menolong aku di apartemen?" tanya Marsha.
Michael mengangguk. "Iya, dia menceritakan semuanya. Dan dia minta aku menemui kamu, Sha."
"Maaf, Michael. Aku sudah mengambil keputusan untuk menikah dengan Kenneth. Jadi aku harap kamu menerima keputusan aku," ujar Marsha lalu pergi berlari meninggalkan Michael yang terdiam.
Dalam pikiran Marsha setidaknya, Michael tau semuanya. Michael yang sadar kepergian Marsha lalu menaiki mobilnya dan berusaha mengejar Marsha.
Namun di perjalanan, Michael terjebak macet. Dan dia kehilangan jejak Marsha, karena Marsha menaiki motor. "s**t!" umpatnya. Bagiamana bisa alasan itu menjadi alasan kenapa dia harus terpisah dengan Marsha.
Michael tak mau kehilangan Marsha, dia harus memperjuangkan semuanya. Antara hidup dan matinya, dia akan tetap berjuang semampu yang dia bisa. Michael memilih melajukan mobilnya menuju rumah Marsha. Sesampainya di sana, dia sudah bisa melihat motor Marsha.
Rumah yang pernah dia kunjungi kini jauh berbeda, bentuknya sudah mewah. Michael bernapas lega jika sudah begini, dia dengan cepat mengetuk-ngetuk pintu rumah Marsha. Membuat Marsha langsung membukanya dan terkejut.
"Michael?"
Michael langsung menarik Marsha ke dalam pelukannya. "Apa pun yang terjadi, aku enggak bakal lepasin kamu, Sha," gumam Michael yang terdengar jelas di telinga Marsha.
Marsha terdiam, dia tak membalas pelukan Michael. Karena dia tau, dia hanya bisa menyakiti hati Michael dia tak bisa membuat orang di depannya ini bahagia. "Maaf Michael. Tapi aku udah ngambil kep-"
"Aku enggak peduli, Sha. Aku akan tetap bantuin kamu dan kita akan hidup bersama, apa pun yang terjadi." Michael melepas pelukannya tangganya masih memegang kedua pundak Marsha.
Inah hanya bisa melihat keduanya dari jauh, ini memang salahnya. Tapi dia tak pernah tau, kalau Kenneth adalah orang gila. Orang yang bahkan berjiwa psikopat berdarah dingin.
Marsha mengalihkan pandangannya. Dia tak mampu menatap Michael sekarang, hatinya begitu sakit jika menatap mata penuh kekecewaan itu. Marsha melepas kedua tangan Michael. "Michael, kita harus menerima takdir. Kita enggak bisa ngelawan semuanya," ujar Marsha lalu berbalik.
Michael menarik tangan Marsha dan kembali memeluknya. "Enggak. Aku akan ngelakuin apa pun," ujar Michael.
Marsha sudah terisak. "Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Marsha.
***
Kini mereka bertiga berada dalam satu ruangan, tepatnya di rumah Marsha. Michael menatap ke arah Inah, dia tak bisa menyalakan ibunya Marsha untuk apa yang terjadi. Karena dia hanya ingin yang terbaik untuk anaknya, dan dia tak punya pilihan lain pastinya, saat itu. Dan Michael beralih ke Marsha.
Marsha hanya tertunduk, gadis yang benar-benar lemah dan polos menurut Michael. Namun, gadis ini memiliki hati yang begitu kuat. Karena Marsha mampu menahan semua rasa sakitnya tanpa memberitahukan siapa pun.
"Aku akan membayar semua uang yang sudah kalian pinjam dulu," ujar Michael final membuat mereka berdua terkejut dan menatap Michael dengan tatapan tidak percaya.
Marsha menggeleng. "Enggak, itu terlalu banyak, Michael. Dan kamu udah bantu banyak," ujar Marsha.
"Bantu banyak? Apa yang aku berikan sama kamu, Sha?"
"Kafe? Modal? Bahkan semua itu sudah kamu kembalikan. Dan kafe itu bahkan sudah kamu beli dari aku sendiri, Sha. Kamu harus sadar itu," ujar Michael..
Marsha terdiam.
"Bagaimana? Aku tak suka penolakan. Berapa total semuanya?" tanya Michael.
"30 juta. Tapi, kami punya simpanan 15 juta," ujar Inah membuat Michael tersenyum.
"Aku punya udah 25 juta, aku enggak bisa ambil semuanya dari rekeningku. Karena bisa-bisa ayahku curiga," ujar Michael. Dia harus tetap waspada.
Setelah kesepakatan keduanya, mereka bertiga memilih untuk mengembalikan semua uang yang telah mereka pinjam dahulu. Malam ini, Michael akan kembali datang ke rumah Marsha dan membawa uang tunai, sebanyak 30 juta itu. Sebagai persiapan, jika saja mereka ingin menambah. Uang Marsha akan digunakan.
Di luar rumah, Marsha menatap dalam Michael. "Michael, banyak perjuangan yang kamu lakukan buat aku," ujar Marsha.
"Sha, aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu, jadi enggak ada alasan lagi kalau aku bantuin orang yang aku cinta," ujar Michael membuat Marsha tersenyum.
Namun dalam hatinya dia tak enak hati, jujur. Menyangkut masalah uang, dia akan mengusahakan semuanya. Agar, Marsha bisa membayar semuanya kepada Michael.
"Udah ya, jangan mikirin hal macam-macam lagi. Aku enggak bakal lepasin, orang yang aku sayang buat orang yang suka main fisik kayak gitu," ujar Michael.
Dia memegang kedua tangan Marsha. "Kalau pun kita berdua enggak bersama, tapi kalau kamu berada di orang yang tepat aku akan merasa lega," ujar Michael.
Marsha rasanya ingin jingkrak-jingkrak sekarang, dia sangat senang. Dia beruntung sudah kenal dengan Michael, orang yang sangat perhatian.
***
Michael pulang dengan wajah yang berseri-seri namun, selangkah dia masuk ke rumahnya dia mendapatkan tatapan horor dari Robert. "Kamu, duduk!" Michael menghela napasnya lalu duduk di salah satu sofa.
Vanessa juga ada di sini, kenapa dengan gadis ini? Michael lupa kalau Vanessa harus menjaganya. "Kamu dari mana? Kenapa baru pulang? Bukannya kamu masih sakit?" tanya Robert.
Michael terdiam. "Oke, Pah. Maaf, tapi Michael benar-benar mau bertemu sama Marsha. Dan Michael baru pulang dari rumah dia," ujarnya.
Robert menghela napasnya, anaknya memang benar-benar keras kepala. Tapi kalau ini memang keputusan anaknya untuk bersama dengan Marsha, dia akan terima semuanya. Dia tak mau mengulang kesalahan yang sama seperti dulu.
"Yaudah kamu masuk ke kamar, jangan lupa makan dan minum obat." Michael terkejut.
Ada apa dengan papanya ini? Tapi beruntung dia tak kena marah. Michael mengangguk dan langsung berjalan menuju kamarnya, sesampainya di lantai atas dia langsung diteriaki oleh Jessica. "OY BANG!!"
Michael menoleh.
"Dari rumahnya Kak Marsha? Apa gimana? Cerita dong!" ujar Jessica.
"Loh bukannya lo mau syuting? Kok jam segini ada di rumah?" tanya Michael.
"Ish, katanya sore baru syuting sampai malam. Jadi, enakan di rumah santai-santai, rebahan, jawab pertanyaan aku dong!" ujar Jessica.
"Em, kasih tau enggak ya ...."
"Dih."
"Yaudah, udah ada rencana sih. Kalau berhasil, nanti aku kasih tau ya adikku sayang," ujar Michael mengusap kepala Jessica lalu masuk ke kamarnya.
Jessica menghela napasnya pelan, kakaknya memang keterlaluan. Dia tak berpikir apa? Kalau adiknya ini sangat kepo? Jessica bahkan kegirangan mendengar kalau Michael berhasil ketemu dengan Marsha, setidaknya mereka berdua sudah berbincang dan saling bertukar keluh kesah lagi.
Jessica memang sangat berharap keduanya bisa bersama. "Gue harap sih, kalau mereka bisa bersama," gumam Jessica.
Karena Jessica dapat melihat waktu Michael benar-benar patah hati. Mungkin ini pertama kalinya dia mengenal namanya cinta, sampai dia bisa sebucin ini pada Marsha. Sangat bersyukur, setidaknya kakaknya ini bukan gay seperti apa yang dikatakan oleh Clarita kakaknya.
Jessica mendengus kesal, bisa-bisanya dia percaya kalau Michael itu gay. Secara keturunan mereka tak ada yang gay, Jessica bergidik ngeri lalu berjalan menuju kamarnya.
Jessica merebahkan tubuhnya dan membaca-baca chatan lamanya dengan Damian. Sungguh, dia sangat rindu momen waktu Damian mengajarinya banyak hal, Jessica sangat merindukan semua itu.
***
Clarita memainkan rambutnya hari ini dia padat dengan syuting yang akan dilakukan. Mungkin, seminggu ini dia akan kembali stay dengan kegiatan awal yang sering dia lakukan. Sekaligus dia mau memikirkan matang-matang soal menjadi ibu rumah tangga atau tetap menjalankan karirnya. Dia masih belum bisa memikirkannya dengan baik.
Devi duduk di samping Clarita. Mereka berdua berbincang santai, layaknya sahabat bahkan saudara. Bukan seperti asisten, Devi adalah orang yang paling tau perjuangan Clarita dari nol sampai sekarang. Karena mereka selalu bersama.
Bahkan Devi pernah hampir memutuskan untuk berhenti karena dia sedang hamil waktu itu. Clarita sangat menyayangkan semuanya, karena Devi adalah orang terpercaya dari Clarita.
Namun, saat setelah dia melahirkan. Clarita memberikan ruang antara kesibukan Devi dan juga jadwalnya menjadi seorang asisten. Clarita memberikan banyak keringanan, agar Devi tetap menjadi asistennya.
Cukup berat memang kalau menjadi artis tanpa seorang asisten, melakukan semuanya sendiri. Tak ada yang mengurus barang-barang dan tak ada yang mengingatkan jadwal setiap saat.
"Anak kamu udah berapa tahun?" tanya Clarita
"Ya lima tahun, kayaknya sama kayak Aileen. Baiknya nanti mereka kasih ketemu gitu, biar main sama-sama saat kita kerja," ujar Devi.
"Nah ide bagus tuh, jadi gue bisa tetap kerja walau pun udah nikah," ujar Clarita membuat Devi menggeleng.
Tapi, menurutnya tidak apa-apa yang penting Clarita nikah. "Tapi lo harus tetap utamakan keluarga lo yah," ujar Devi memperingati.
Karena sahabatnya yang satu ini memang benar-benar aneh, dan juga pikirannya masih berubah-ubah dulu dia sempat bilang dia akan merelakan semuanya, demi Stevan sekarang Stevan sudah ada di depan mata dia malah menunda-nunda pernikahan mereka. Sungguh aneh.
"Tapi ada satu kebenaran yang belum lo tau, Dev." Clarita mengusap wajahnya. Kebenaran kali ini sangatlah ah! Lupakan.
"Apa?"
"Jam istirahat sudah selesai, kita akan kembali syuting," ujar salah satu kru membuat Clarita menghela napasnya pelan.
Hari ini sudah sangat sore, mungkin setelah syuting berakhir Clarita akan pulang.
Di sisi lain Stevan mengurus beberapa hal untuk pernikahannya bersama dengan Clarita, sebenarnya semuanya sudah siap. Tinggal pengantinnya saja yang belum siap.
Stevan menghela napasnya, dia berharap dengan menikahnya mereka akan menumbuhkan sebuah kebahagiaan seperti yang mereka harapkan. "Semuanya sudah siap, Pak."
Stevan mengangguk.
***
Malam telah tiba, saatnya Michael kembali pergi ke rumah Marsha untuk menjalankan rencana mereka bertiga, Marsha, dia dan Ibu Inah. Michael akan tetap mempertahankan semuanya, agar tetap sama seperti keadaan yang awal, di mana hanya ada di dan Marsha dalam kisah percintaan mereka. Tidak boleh ada orang ketiga.
"Akhirnya," gumamnya lalu pergi meninggalkan rumah dan menaiki mobilnya.
Michael melajukan mobilnya menuju rumah Marsha. Hanya memerlukan waktu 15 menit, dia sampai di pekarangan rumah Marsha Michael turun dan mengetuk pintu rumah Marsha.
Tok ... //
Tok ... //
Marsha membukanya, melihat seseorang di balik pintu itu adalah Michael senyumnya seketika terbit seperti matahari di malam hati. "Hai," sapa Michael membuat Marsha tertawa.
"Loh kok ketawa?" tanya Michael.
"Enggak kok, silahkan masuk." Marsha sebenarnya tertawa karena Michael terlalu sering mengatakan hai padanya. Seperti anak remaja saja.
Michael masuk dan duduk di salah satu sofa. Inah juga sudah siap, Marsha mengambil tasnya. "Gimana? Udah siap semuanya?" tanya Michael.
Marsha mengangguk. "Semoga aja ini akan berhasil sih," ujarnya.
"Pasti, kalau dia enggak mau terima. Kita bakal bawa ini ke pihak hukum," ujar Michael.
Marsha terdiam.
"Mana surat perjanjiannya?" tanya Michael. Inah memberikan surat itu kepada Michael.
"Kita akan berhasil, karena di sini. Ada keterangan bahwa, perjanjian akan batal jika dia sudah membayar semua uang yang telah diberikan," ujar Michael.
Bersyukur, ada kalimat itu di sana. Mereka yang ada di sana memang bodoh, tapi ini memberikan keuntungan kepada keluarga Marsha. Yang mereka tau, keluarga Marsha tak akan bisa membayar semuanya.
Mereka lalu berangkat menuju rumah kediaman Kenneth. Sesampainya di sana ketiganya turun dari mobil dan langsung berjalan menuju rumah Kenneth.
Marsha menghela napasnya. Dia harus bisa, dia tak mau mengecewakan Michael yang sudah berjuang buat Marsha sampai sebesar ini. Marsha melangkah kakinya dan memencet bel. Pintu terbuka dan terlihatlah pembantu dari rumah ini.
"Saya mau ketemu sama pemilik rumah ini," ujar Michael.
"Baiklah silahkan masuk, tuan."
Mereka masuk di rumah Kenneth yang rumahnya hampir sama besar dengan rumah Harington, tapi lebih jelas rumah Harington lebih besar dari ini. Mereka disambut oleh keluarga besar Xavier itu. Di sana sudah jelas ada Jonathan, Ariana, dan juga Kenneth. "Silahkan duduk."
Michael langsung menyimpan tas berisi uang tanpa basa basi lagi. Dia tak mau berlama-lama berurusan dengan keluarga Xavier apalagi tanpa sepengetahuan ayahnya sendiri, Robert. "Saya ke sini mau membayar semua pinjaman dari keluarga Marsha, sesuai dengan surat perjanjian. Jika semuanya terbayar, sudah tidak ada urusan lagi antara kalian dan keluarga dari Marsha."