Ketemuan

2026 Words
Jessica tertawa. "Bener banget pujiannya," ujarnya membuat Michael memasang muka datar. "Jadi cerita enggak nih?" tanya Michael. "Jadi dong, ini mah masalah serius. Super duper serius dari apa pun. Ini tentang kisah percintaan kakak," ujar Jessica. Michael hanya terdiam dan menunggu penjelasan lebih lanjut lagi. Adik di depannya ini memang banyak omong. "Jadi gini, Kak. Pas kakak kecelakaan, alasan kenapa Marsha enggak datang tepat waktu itu ...." "MICHAEL! JESSICA! TURUN MAKAN!" Jessica menoleh ke arah pintu. "Makan yuk," ujarnya lalu berlari meninggalkan Michael yang ternganga. Dia berdecak kesal, adiknya ini memang terlalu polos atau bagaimana? Seharusnya dia ngomong dulu, menggantung pembaca saja. Michael lalu berjalan keluar dari kamarnya mengikuti Jessica yang juga turun. Mereka kembali berhadapan satu sama lain, termasuk Vanessa juga. Terjadi keheningan di sepanjang mereka melangsungkan makan malam ini, meski hanya 4 orang saja. Setelah selesai, Jessica dan Michael kembali duduk bersama. "Tante kalau gitu, Nessa pulang ya. Takut dicariin sama Mama," ujarnya lalu menyalami Anne. "Enggak mau nginap? Tidur bareng Jessica," ujar Anne membuat Jessica melotot. Bagaimana bisa, nanti mereka akan bertengkar sepanjang malam dan sepanjang hari. Salah atau tidaknya, Jessica seperti punya dendam yang sangat dalam kepada Vanessa. Vanessa yang mendengar perkataan Anne hanya tertawa garing. "Enggak usah, Tan. Takut orang tau Nessa khawatir," ujarnya. "Yaudah, kamu hati-hati ya." Vanessa mengangguk lalu mengambil tasnya dan pergi meninggalkan rumah Harington. Anne menatap kedua anaknya lalu memilih untuk naik ke kamarnya. Jessica menghela napasnya pelan. "Syukur deh dia enggak nginap," ujar Jessica membuat Michael menoleh. "Hah? Lo kayaknya dari dulu sampai sekarang enggak suka sama dia ya? Emang dia kenapa sih?" tanya Michael yang bingung dengan adiknya ini. "Enggak lupain aja. Yang penting sekarang aku mau bahas soal Marsha, Kak. Kita harus cari tau semuanya," ujar Jessica. Michael menaikkan sebelah alisnya. Apakah dia patut untuk mengurusi kembali urusannya Marsha? Secara dia akan menikah dengan orang lain. Bukan dirinya, mungkin Marsha—cinta pertamanya itu bukan miliknya. Michael menghela napasnya pelan. "Udahlah, Jes. Gue udah capek sama dia, kalau emang dia sayang sama gue dia bakal pertahankan hubungan kita berdua dan tidak memilih untuk putus di tengah jalan seperti ini," jelas Michael. Jessica rasanya ingin menjitak kepala kakaknya ini. "Ish, makanya dengerin dulu. Ini soal calon suaminya juga, ternyata tuh ya." Jessica kembali memotong ucapannya. "Apa?" "Em, kan hari itu tepat saat kakak kecelakaan. Ada beberapa alasan kenapa Marsha terlambat untuk mengetahui bahwa kakak itu kecelakaan, karena dia disekap di apartemen calon suaminya itu." Michael tertegun. "Siapa yang sekap?" "Calon suaminya lah, gue rasa emang calonnya itu rada miring otaknya. Masa sih calon istrinya digituin, kan bodoh banget. Pasti ada alasan di balik semua itu, Kak. Kalau kakak benar-benar mau berjuang sama cinta kakak. Yaudah perjuangin," ujar Jessica. Michael terdiam dan berpikir. "Kak, jangan mikirin kalau Marsha itu bukan siapa-siapanya kakak, ingat. Kalau Marsha itu khawatir saat tau kakak koma, dia yang jagain kakak sampai kakak sembuh seperti ini. Bukan Vanessa!" tegas Jessica. Dia takut, kalau kakaknya ini berpaling kepada Vanessa orang yang sering menyuruh-nyuruhnya dulu pas masih kecil. Bukannya dendam, dia tak mau punya ipar yang punya sikap dan perilaku yang sombong seperti itu. "Gue harus gimana?" tanya Michael. Jessica berpikir. "Kakak harus nemuin kak Marsha, bicarakan semaunya. Tanyakan apa masalahnya lalu bantuin dia," ujar Jessica. "Kalau dia enggak mau cerita?" tanya Michael. "Ish, makanya coba dulu. Belum dicoba juga udah bilang gitu," kesal Jessica. Michael tersenyum lalu mengusap kepala Jessica. "Tumben, baik banget. Ada maunya kah?" tanya Michael membuat Jessica tertawa lalu memukul bahu kakaknya hingga sang empu meringis. "Enggak kok, cuman emang mau bantuin. Marsha itu cocok sama kakak, jadi Jessica harap kakak bisa perjuangin dia sampai dia jadi istri sah kakak," ujar Jessica. "Thanks adik gue yang paling cantik karena gue udah enggak punya adik lagi, jadi lo yang paling cantik." Michael tersenyum. Jessica memutar bola matanya malas. "Kalau enggak niat muji, enggak usah muji kali," ujar Jessica. "Iya-iya maaf ya, emang enggak niat muji. Males, soalnya enggak ada yang bagus dipuji dari lo," ujar Michael terkekeh. "Hadeuh gini nih, kakak yang tak tau balas budi kepada adiknya yang sudah baik padanya." Jessica bersedekap. "Ululu, lo mau imbalan berarti bantuin gue ya? Lain kali harus ikhlas enggak usah diungkit-ungkit," ujar Michael. "Udah ikhlas kok, cuman kakak harus janji buat dapatin Marsha sebagai kakak iparnya Jessica," ujarnya tersenyum menantang. "Siapa takut? Yaudah gue janji, dan gue bakal berusaha sekuat mungkin untuk dapatin dia kembali. Dia milik kakak, dan selamanya akan milik kakak," ujar Michael. "Nah gitu, kan kalau gitu kelihatan lebih ganteng dan gagah," puji Jessica. Setelah perbincangan yang lumayan lama antara mereka berdua, Michael membuka handphonenya dan menatap ke layar handphone di sana tertera nama Marsha. Michael menghela napasnya, dia harus bisa mendapatkan cinta pertamanya lagi. Eh maksudnya cinta kedua, setelah Anne. Michael mengetikkan beberapa kata 'Marsha, kita ketemuan besok. Di taman biasa. Jam 10 pagi.'—Michael langsung mengirim pesan tersebut. Dia menghela napasnya legah. Besok dia akan melihat wajah wanita yang sangat dia rindu dan sangat dia cinta. *** Marsha yang mendapatkan pesan dari Michael lalu menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman, dia menghela napasnya pelan dan membalas pesan tersebut 'iya. See you.'—Marsha meletakan handphonenya. Mungkin dia akan jujur dengan semuanya, agar Michael bisa paham sama situasi yang dia alami sekarang. Mungkin dengan itu, Michael tak akan sakit hati jika Marsha meninggalkannya dengan alasan yang cukup jelas. Walau pun dalam hati Marsha sangat sakit, hati yang sudah dia janjikan untuk dijaga oleh Michael. Ternyata, janji itu sekarang tak ada apa-apanya. Marsha masih ingat banyak sekali kejadian yang mereka alami selama mereka masa pendekatan, pacaran, hingga Marsha meminta putus. Memang wanita yang bodoh, menyia-nyiakan hal yang sangat sempurna. Tapi, ini adalah pilihan dalam kehidupannya. Marsha masuk ke dalam kamarnya menunggu pagi yang akan tiba. Pagi bertemu dengan orang yang dia cinta dan rindu. Di sisi lain, Clarita yang baru saja pulang dari rumah Stevan menghabiskan waktunya bersama dengan Aileen sebagai pendekatan yang sangat dekat lagi. Membuat Aileen nyaman dengan dirinya. Clarita duduk di sofa bersama dengan Devi—asistennya. Jessica yang melihat kakaknya pulang langsung turun menjumpainya. "Em, kakak. Mau nanya dong," ujar Jessica. Clarita menoleh dan mengangguk. Sekarang dia sangat lelah, tapi untuk menjawab pertanyaan adiknya bukan hal yang membuat dirinya mati kan? Jadi dia akan menjawab. "Apa?" "Kak Clar, ketemu sama Kak Devi di mana?" tanya Jessica. Clarita yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Devi yang juga sedang menatapnya. "Em, kita dulu teman waktu kuliah. Devi teman dekat Kakak dulu, sampai akhirnya aku jadiin asisten dia se-frekuensi sama aku," jelas Clarita. Jessica mengangguk-angguk sepertinya dia juga harus mencari asisten yang terpercaya dan bisa membantu dirinya kapan saja dan di mana saja. "Emang kenapa? Mau nyari asisten juga?" tanya Clarita membuat Jessica mengangguk. Devi tersenyum. "Kamu coba tanya teman-teman lama kamu, teman kuliah atau teman SMA. Mereka yang kosong waktunya bisa kamu ajak buat jadi asisten kamu. Tapi intinya dia mengerti akan dirimu," ujar Devi. Jessica nampak berpikir, dan dia punya ide untuk membawa sahabat-sahabatnya untuk reunian, mungkin di sana dia bakal dapat yang satu frekuensi. Masalahnya, Jessica kebanyakan teman cowok dan teman cewek hanya dua orang, yang dia ajak untuk pergi belanja dan lain-lainnya. "Oke deh, makasih ya kak." Jessica langsung berlari menuju kamarnya. Clarita memegang pelipisnya. "Hem? Kenapa?" tanya Devi. "Aku capek banget, tadi Aileen aktif banget. Belum lagi tadi kita setelah pulang langsung pergi buat cek jadwal mendatang," ujar Clarita. "Kalau jadi ibu rumah tangga nanti, kamu akan tetap jadi artis?" Pertanyaan itu sontak membuat Clarita terdiam. Memang sulit untuk menentukannya sekarang, sangat sulit bahkan. "Udahlah, jangan tanya itu dulu. Aku mau istirahat, kamu mau pulang? Sama siapa? Mau aku pesanin taksi?" tanya Clarita. "Enggak usah, suami mau jemput kok." Clarita mengangguk. "Kamu kayaknya capek banget, mending kamu ke kamar. Aku di sini nungguin," ujar Devi. "Enggaklah, aku temenin nunggu. Masa kamu nunggu sendiri," ujar Clarita final membuat Devi mengangguk. 15 menit berlalu, akhirnya Devi pulang. Clarita dengan lesuh berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di sana dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Akhirnya!" Anne yang melihat itu hanya menggeleng. Clarita sekarang terlalu sering lelah, tapi itu resikonya kalau dia memilih untuk menjadi artis. Sama seperti Anne dulu, dia pun dijodohkan karena terlalu sibuk dengan karirnya hingga dia menikah dengan Robert dan semuanya berubah seketika. Anne dan Robert tak mau sampai anak-anaknya sama seperti dirinya, itulah kenapa mereka mau-mau saja menjodohkan anaknya karena mereka tau. Tak semua perjodohan akan berakhir jelek, contohnya seperti dia dan Robert. Berakhir seperti ini. Tapi memang benar sih, karena dia dan Robert pernah saling jatuh cinta. Jadi bukan hal sulit untuk kembali merangkai cinta tersebut. *** Damian memberikan beberapa naskah yang akan dihalalkan oleh Jessica. Jessica menerimanya, dia langsung membaca beberapa bait dan menghela napasnya. Kenapa sekarang rasanya begitu sulit? Mungkin karena dia terlalu capek mengurusi semuanya. "Kamu kayaknya enggak fokus ya?" tanya Damian. "Iya, gimana ya? Kalau kita nanti enggak satu skrip lagi? Mungkin aku bakal dikeluarin dan enggak jadi pemeran lagi," ujar Jessica lalu memasang muka memelas. "Hey, makanya mumpung kita masih satu skrip jadi kita bisa sama-sama belajar. Dan intinya, kepercayaan diri adalah hal utama, serta sabar nomor satu juga, jadi kamu harus terima semuanya dengan ikhlas. Kita sama-sama berjuang di sini," ujar Damian. Jessica hanya mengangguk. "Kamu juga kayaknya capek banget? Ngurus sendiri, kamu butuh asisten." "Iya, lagi nyari kok." Sekarang memang masih jam delapan pagi. Masih sangat segar untuk membaca skenario ini. Jessica meminum air hangatnya, dan menatap sekeliling. Dan kembali menatap skenarionya. "Ini? Berarti kita akan ke London?" tanya Jessica. "Iyap, pastinya." Jessica membulatkan matanya. "Kenapa?" Jessica menggeleng dengan cepat. "Enggak." Damian terkekeh melihat sikap Jessica. "Hal biasa itu, jadi siap-siap banyakin barang-barang yang memang dibutuhkan untuk pergi-pergi." *** Marsha melirik jam sudah hampir jam 10, dia juga sudah siap dan langsung berangkat. Dia menghela napasnya dan langsung berjalan menuju motornya dan menaikinya. "Semoga hari ini tak mengecewakan," ujar Marsha lalu tersenyum. Memerlukan waktu 10 menit, dia sudah sampai di tempat tujuan. Marsha memarkirkan motornya dan turun, berjalan menuju rumput yang tak terlalu lebat itu, di sana juga ada danau. Marsha duduk sambil menekuk kedua kakinya. Menunggu Michael datang sambil mendengarkan lagu, dia menatap ke arah sekitar memang sangat asri dan damai. Satu tangan menepuk pundak Marsha membuatnya menoleh dan langsung berdiri menatap orang di depannya ini. Michael tersenyum. "Hai, apa kabar?" tanya Michael. Marsha membalas senyuman itu. "Aku baik, seharusnya aku nanya ke kamu. Gimana kabarnya? Udah enggak sakit?" tanya Marsha. "Pastinya enggak, karena kamu yang rawat." Ucapan itu membuat Marsha merasakan pipinya yang panas. "Blushing?" Marsha memukul tangan Michael. "Apaan sih!" Michael tertawa. "Yaudah, aku mau nanya sesuatu. Makanya aku ngajak kamu ke sini," ujar Michael. Marsha menghela napasnya pelan. "Aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu, aku harap kamu enggak marah sama aku." Marsha menunduk. Michael memegang kedua pundak Marsha. Marsha masih menunduk, membuat Michael memegang dagu Marsha membuatnya mendongak. "Sha, kapan sih aku marah sama kamu?" tanyanya sambil menatap dalam mata coklat milik Marsha. "Michael, orang yang berhasil buat aku jatuh cinta. Padahal belum sampai 1 Minggu," ujar Marsha membuat Michael tersenyum. "Tapi, berakhir tidak bisa bersama." Sontak perkataan itu melunturkan senyum Michael. Michael memegang kedua tangan Marsha. "Sha, kamu kenapa mutusin aku? Kalau soal janji. Apa janji itu?" tanya Michael. Marsha menatap mata Michael. "Kamu mau tau?" tanya Marsha. Michael mengangguk mantap. "Aku ingin kamu jujur, sejujur-jujurnya. Jangan ada yang ditutup-tutupi." Marsha menunduk kembali. "Maafin aku," ujarnya. "Jawab pertanyaan aku, Sha." Marsha membalikkan badannya hingga membelakangi Michael. "Perlu kamu tau, kalau aku sebenarnya enggak mau lepas kamu." "Terus kenapa kamu minta putus, Sha?" Marsha menarik napasnya dan membuangnya kembali. "Aku, aku punya satu janji. Lebih tepatnya, ibu aku punya satu janji yang di mana, harus aku yang membayarnya." "Kenapa?" "Michael, berjanjilah untuk tidak melakukan kekerasan di sini. Aku tak mau kamu mengambil tindakan yang tidak baik, setelah aku menceritakan semuanya," ujar Marsha membuat Michael menaikkan sebelah alisnya. Sekaligus mengernyitkan dahinya bingung. Marsha berbicara seperti ini, karena dia tahu. Kalau Michael itu suka berkelahi, apalagi menyangkut sama orang yang dia sayang. Kalau readers, bertanya Marsha tau dari mana, ya karena author yang kasih tau. Mikir dong. Enggak canda, Marsha tau karena Michael yang memberitahukannya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD