Balik ke Rumah

2030 Words
"Gimana dengan tawaran aku?" tanya Kenneth sambil menaikkan sebelah alisnya. Marsha menghela napasnya pelan, sekarang hatinya benar-benar bimbang dia harus bagaimana untuk saat ini? "Gue bisa enggak ketemu sama ibu gue dulu?" tanya Marsha. "Em, cuman 20 menit," ujar Kenneth membuat Marsha mengeram kesal. Orang di depannya ini memang suka mengatur-atur orang. Marsha mengiyakan, setidaknya dia sempat melihat ibunya dalam keadaan baik-baik saja. Untuk ke depannya dia akan memikirkan hal yang lebih matang lagi. Kenneth membawa Marsha ke satu ruangan di mana, di sana ada Inah dan juga kedua orang dari Kenneth. Marsha cukup heran dengan kedua orang tua Kenneth, kenapa dia menyetujui anaknya melakukan hal ini. Cukup aneh. Marsha berjalan menuju Ibunya yang sudah diikat dan mulutnya yang disumbat. "Kalian kok kejam banget sih!" Marsha membuka ikatan yang ada pada ibunya. Ibunya langsung memeluk anaknya itu. "Marsha, maafin ibu nak ...." Marsha membalas pelukan itu. "Ibu enggak apa-apa? Mereka enggak ngapa-ngapain ibu kan?" tanya Marsha. Inah hanya menggeleng pelan, dia tak mau anaknya ini khawatir. Bagaimana pun semuanya ini adalah salah dirinya, dia yang menyetujui semua perjanjian itu dan melibatkan anak satu-satunya. Karena dia tak punya pilihan lain, dia mau anaknya memiliki pendidikan yang baik agar memiliki masa depan yang baik pula. *** Atas permintaan Marsha kepada Kenneth untuk membawa ibunya pulang akhirnya disetujui dengan beberapa persyaratan tentunya. Marsha membawa ibunya pulang. Dan memintanya untuk menjelaskan semuanya. "Bu, emangnya semua ini ada apa? Alasan kenapa kita bisa berhubungan dengan dia itu kenapa?" tanya Marsha. Sungguh, dia tak tahan. Rasanya dia seperti diteror oleh orang yang berdarah dingin dan menginginkan nyawanya. Inah menghela napasnya, dia memang salah di sini. Dan anaknya berhak tau semuanya. Flashback on Inah berjalan bersama dengan putrinya Marsha—gadis yang berusia 17 tahun itu. Marsha terdiam melihat teman-teman yang sibuk membahas soal perkuliahan. Marsha rasanya ingin lanjut ke jenjang lebih tinggi lagi, yaitu menjadi seorang mahasiswa. Namun, biaya memang sudah tak mencukupi. Marsha memilih untuk membantu ibunya berdagang dengan bekal ijazah SMA. Inah yang mengetahui perasaan anaknya itu tak tega. Inah mencari cara agar anaknya itu bisa melanjutkan kuliahnya. Hingga satu hari, Inah berjalan mencari pinjaman. Dia bertemu seseorang dengan rambut yang digerai panjang berwarna hitam pekat. Ariana, adalah ibu dari salah satu teman SMA Marsha, Kenneth, adalah kakak kelas dari Marsha. Ariana menawarkan sesuatu yang baik untuk Inah. "Gimana?" tanyanya. "Persyaratannya?" "Anak kita akan dinikahkan saat mereka sudah menduduki jenjang perkuliahan," ujarnya membuat Inah berpikir. Ariana yang melihat itu langsung tersenyum. "Saya beri waktu bagaimana? Besok kita akan bertemu kembali. Oh ya, ingat masa depan anak jauh lebih baik," ujarnya membuat Inah menutup matanya. Setelah usai perbicangan itu, Inah kembali pulang dan memikirkan semuanya. Malam harinya dia sudah mendapatkan jawaban yang tepat untuk tawaran dari Ariana tersebut, walau beresiko namun dicoba bukan hal yang salah bukan? Inah kembali bertemu dengan Ariana di tempat yang sama. "Bagaimana?" "Saya setuju, tapi mereka menikah di usia yang pas? Saat Marsha sudah S2? Bagaimana?" tanya Inah. Ariana tampak berpikir. "Baiklah," ujarnya final. "Ingat, perjanjian kita. Semua biaya kuliah Marsha akan kamu tanggung dengan jaminan, Marsha akan menikah dengan anakmu nanti," jelas Inah. Flashback off Marsha mengusap wajahnya kasar. Pantas saja ibunya dulu, dengan bangganya memberitahu kepada Marsha dia bisa berkuliah. Namun, dia tak bisa menyalahkan ibunya akan semua yang terjadi selama ini. "Maafin, Ibunya sayang ...." Marsha memegang tangan Ibunya dan menatap dalam matanya. "Bu, aku tau. Kalau apa yang ibu lakukan itu demi masa depan aku. Aku bersyukur dengan apa yang terjadi, karena semuanya ada sisi baik dan sisi buruknya. Dan Marsha terima semuanya," ujarnya. Ya, Marsha akan berserah kalau dia harus berakhir menikah dengan Kenneth, pria berdarah dingin itu. "Tapi ...." Marsha menaikkan alisnya. "Kenapa, Bu?" "Kamu yakin? Mau nikah sama dia? Yakin bahagia? Dia kasar dan seperti tak punya perasaan," ujar Inah. Dia tau, bagaimana sosok Kenneth yang sebenarnya. Dan yang anehnya kedua orang tuanya tak pernah melarang anaknya berbuat apa yang dia mau. "Gimana pun, janji tetaplah janji, Bu. Kalau pun Marsha menolak semuanya tak akan bisa, bagaimana jika mereka minta gantinya? Dengan uang yang lebih mahal lagi?" tanya Marsha. Memang benar, sangat benar. Mereka juga belum punya uang yang cukup jika mau membayar sekaligus. Tapi Inah tak mau merelakan anaknya begitu saja, anak tunggalnya. "Tapi nak ...." Marsha tau, bagaimana perasaan ibunya sekarang namun dia juga tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Dia hanya bisa pasrah apalagi jika dia harus membayar pasti sampai 30 juta lebih, dan dia tak mungkin mendapatkan uang sebanyak itu. Marsha memang benar-benar harus pasrah dengan keadaan. "Enggak apa-apa, Bu. Mungkin dengan menikahnya Marsha dan Kenneth. Kenneth bisa berubah," ujar Marsha tersenyum. Dia akan merubah sikap Kenneth menjadi orang yang lebih penyayang dan punya hati yang hangat. Marsha menyimpan tasnya dan bersandar pada sofa yang ada di ruang tamu. Marsha kembali mengingat Michael. Bagaimana keadaan Michael sekarang? Bagaimana Marsha menjelaskan semuanya kepada Michael? Sepertinya, Marsha tak harus memilikikan semua itu karena Michael sekarang bukan siapa-siapanya. Hanya sebatas teman saja. Inah berjalan masuk ke dalam kamarnya, Marsha menatap sepeninggalan Ibunya. Memang berat untuk sekarang, untung saja Kenneth masih punya hati membiarkan dirinya pulang bersama dengan ibunya. *** Vanessa kini berada di depan Robert yang menunggu Vanessa berbicara. "Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Robert. "Em, sebelumnya Nessa minta maaf, Om. Nessa cuman mau kasih tau kalau Michael sepertinya udah enggak nyaman di rumah sakit ini. Dia mau pulang," ujar Vanessa sedikit kikuk. Robert menaikkan sebelah alisnya lalu menggeleng. "Anak itu benar-benar keras kepala," ujar Robert. Vanessa terdiam dan menunduk. Susah berbicara langsung kepada Papanya Michael apalagi hanya soal ini, Michael memang sering menyuruhnya hal-hal aneh apalagi berhubungan dengan keluarganya. Namun, Vanessa nyaman. Setidaknya dia bisa dipercaya kembali oleh Michael. "Baiklah, ikut saya," ujar Robert lalu berjalan menuju ruangan Michael diikat oleh Vanessa di belakangnya. Robert membuka pintu dan langsung berjalan menuju ranjang di mana Michael duduk sambil menatap ke arah jendela. "Kamu mau pulang?" tanya Robert membuat Michael menoleh. "Iya, Pah." Michael memasang muka memelas. "Tapi, kamu masih harus dirawat," ujar Robert. "Dirawat di rumah juga bisa kok, Pah." Michael tetap kekeuh. "Siapa yang akan rawat kamu? Clarita? Dia bahkan sibuk mengurusi syuting-nya dan juga persiapan ke depannya. Jessica? Adikmu sekarang sudah mulai menjadi aktris, Mama kamu? Dia itu sudah banyak pekerjaan sudah tak bisa merawat kamu 100 % dan untuk Papa? Papa sibuk sama kerja papa," jelasnya. Sebenarnya, Anne bisa saja merawat Michael ini hanya alibi dari Robert agar Michael tetap berada di rumah sakit dan tidak berniat pulang. Michael menghela napasnya pelan, Papanya ini juga terlalu banyak alasan. Michael menatap ke arah Vanessa. "Vanessa bisa rawat Michael," ujarnya membuat Vanessa terkejut sekaligus membuat jantungnya bergemuruh. Dadanya begitu senang, jika dia menghabiskan waktunya bersama dengan Michael. Walau hanya sebatas merawat dia saja. Robert menatap ke arah Vanessa lalu menghela napasnya. "Yaudah. Papa akan urus administrasinya, Vanessa bantu dia untuk bersiap-siap untuk pulang," ujar Robert lalu berjalan keluar ruangan. Vanessa merasa canggung dia hanya bisa terdiam. Michael yang menatap aneh ke arah Vanessa langsung bertanya, "Lo mau kan?" Vanessa menatap ke arah Michael. "Iya," jawabnya singkat lalu mulai membereskan barang-barang Michael. "Awas aja lo banyak maunya ya," ujar Vanessa kesal. "Namanya juga ngerawat, kalau gue banyak maunya kan hal wajar?" tanya Michael menaikkan turunkan alisnya. Vanessa berdecak. "Nih, udah semua. Lo jalan sendiri ya, sekalian bawa tas-tas lo," ujar Vanessa. "Gue aduin lo ya sama Papa gue," ujar Michael. "Dasar tukang ngadu," ledek Vanessa mengambil tas tersebut. "Lo ganti baju, gue tunggu di depan ya." Vanessa keluar ruangan. Michael hanya mengangguk. Dia langsung berjalan menuju kamar mandi dan segera mengganti pakaiannya. Hanya memerlukan waktu 10 menit saja dia sudah selesai, Michael keluar dari ruangan lalu berjalan mendekati Robert dan juga Vanessa. "Udah? Jangan ngeluh kalau sakit ya," ujar Robert lalu pergi berjalan dahulu. Michael menghela napasnya, dia tak akan pernah mengeluh kalau dia sakit. Bahkan sakit hatinya saja tak pernah dia ungkapkan kepada siapa pun. Michael dan Vanessa masuk ke dalam mobil dan mobil dilajukan oleh Robert menuju rumahnya. Memerlukan waktu 15 menit mereka sudah tiba di rumahnya, Robert turun diikuti oleh Vanessa dan juga Michael. Anne menyambut kedatangan mereka. Sekaligus terkejut karena Michael pulang? Kenapa anaknya ini pulang padahal baru 2 hari dalam perawatan. "Kamu? Kok pulang?" tanya Anne kepada Michael. Michael menghela napasnya. "Mama ini, anaknya pulang kok ditanya sih?" kesal Michael membuat Anne tertawa. "Bukan gitu maksudnya, kamu kan belum sepenuhnya sembuh," ujar Anne. "Dia ngotot mau pulang, katanya dia bosan di sana. Kalau begitu aku mau langsung ke kantor ya," ujar Robert. Anne mengangguk. "Hati-hati." Anne mempersilahkan Michael dan Vanessa masuk, Michael dan Vanessa duduk di salah satu sofa. "Kamu ini, Michael. Keras kepala betul ya," ujar Anne lalu duduk di samping Nessa. "Kan emang, bosan di sana." Michael menyandarkan tubuhnya di sofa. "Yaudah kamu masuk ke kamar, istirahat." Michael menghela napasnya. Dia mau mencari tau soal Marsha, bukan mau santai-santai seperti ini. "Iya entar, Mah." "Jangan bentar-bentar, sekarang!" Michael dengan rasa tak ingin berjalan naik menuju kamarnya. Vanessa menatap kepergian Michael lalu dia kembali menatap Anne. "Kamu, masih mau di sini?" tanya Anne. Vanessa mengangguk. "Iya, Tan. Sekalian jagain Michael," ujarnya membuat Anne mengangguk. *** Michael menatap handphonenya ada panggilan dari adiknya Jessica, tumben. Pasti adiknya ini mau meminta uang lagi, padahal dirinya baru saja pulang dari rumah sakit. Namun, dia melihat satu panggilan dari Jessica yang diangkat. Siapa yang mengangkatnya? Ah! Lupakan saja. Michael merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya. Di usianya yang hampir 28 tahun ini belum juga menikah, dia hanya ingin menikah dengan Marsha. Sore hari telah tiba, Jessica baru saja pulang. Besok dia akan kembali syuting, melelahkan bukan? Memang. Namun ini syuting pertama yang dia lakukan. Jessica masuk ke dalam rumahnya, sepertinya dia harus mempunyai asisten yang baik seperti Devi—asisten dari Clarita. Jessica duduk di salah satu sofa dia melihat Vanessa yang berada di ruang makan bersama dengan Ibunya membuatnya mengernyitkan bingung, bagaimana bisa anak itu kembali ke sini lagi? Ah, sungguh menyebalkan. Bukan apa-apa tapi saat Jessica masih duduk di bangku SMP. Dan Michael berada di bangku SMA, Jessica selalu saja disuruh-suruh oleh Vanessa, cukup kekanak-kanakan bukan? Jessica menghela napasnya pelan. Dia menatap ke arah sekitar, dia melihat satu sepatu milik Michael. "Mama? Kak Michael udah pulang?" tanya Jessica sedikit berteriak. "Loh kamu udah pulang?" tanya Anne membuat Jessica menghela napasnya, Ibunya bahkan tak melihatnya pulang? Karena sibuk berbincang dengan Vanessa. Sungguh menyebalkan. "Iya. Kak Michael mana?" tanya Jessica. "Dia di kamarnya." Mendengar itu Jessica langsung berlari menuju lantai atas dan menggedor-gedor pintu kamar milik abangnya itu. "KAKAK!! BUKA!" "BUKA WOY!" Michael yang mendengar suara ribut itu langsung berdecak kesal dan membuka pintu secara langsung membuat Jessica terjatuh ke bawah. "Ihs! Jahat banget!" kesal Jessica yang masih berada di bawah. "Ngapain tiduran di lantai?" tanya Michael. Jessica berdecak kesal lalu bangun. "Kak, ada sesuatu yang mau aku bicarakan," ujar Jessica. "Apa? Sok serius banget. Paling mau minta duit, enggak ada. Kosong dompet," ujar Michael. "Ih kepedean," ujarnya kesal. "Terus apa lagi?" tanya Michael. "Ini soal Marsha, Kak. Tadi aku nelfon kakak tapi Nessa yang angkat," ujar Jessica. "Hah? Soal Marsha? Kenapa dia?" tanya Michael. Jessica memutar bola matanya malas, giliran Marsha saja dia langsung heboh seperti itu. Tadinya cuek dan bodoamat. "Jadi gini ...." Jessica menggantungkan perkataannya. "Em, aku mandi dulu deh. Bentar aku kasih tau ya!" ujar Jessica pergi meninggalkan kakaknya dan langsung masuk ke kamar mandi. Jessica membersihkan tubuhnya. Setelah mandi dia memakai pakaian santainya, dia mengeringkan rambutnya. Setelah itu dia kembali masuk ke kamar Michael. "Kak, woy!" Jessica menepuk-nepuk pundak kakaknya yang sedang tidur. "Ish baru juga gue tinggal 30 menit, dia udah molor," kesal Jessica. "DUAR!!" teriak Michael Krik-krik .... Krik-krik .... "Apasih, Kak! Enggak jelas banget!" ujar Jessica lalu duduk di tepi ranjang. Michael mengubah posisinya menjadi duduk. "Apa yang mau kamu bicarakan wahai adikku yang cantik jelita, yang sudah menjadi seorang aktris papan bawah," ujar Michael. Jessica memukul bahu Michael. "Mau denger enggak? Yaudah enggak jadi deh. Pujiannya jelek, kayak mukanya kakak." "Alah ngambekan, yaudah bicaralah wahai adikku yang cantik jelita, yang sudah menjadi seorang aktris papan atas. Yang sebentar lagi akan seperti kakak perempuannya yaitu Clarita Harington bahkan bisa melebihi kakaknya sendiri," ujar Michael panjang kali lebar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD