23°C
Jessica memasang earphone-nya dan bersiap untuk berlari pagi. Dia akan pergi jam 10 pagi untuk syuting, Kemarin dia sempat minta izin seharian karena tak bisa mengikuti syuting karena kondisinya memang belum terlalu pulih dan kakaknya yang masih dalam masa perawatan.
Jessica berlari mengelilingi kompleks dengan handuk di lehernya. Dia terus berlari sambil mendengarkan musik, dia menatap ke arah depan. Pagi hari yang sangat menyenangkan dan menyejukkan hati.
Di lain tempat, Marsha yang mendapati sebuah surat membuatnya mengernyitkan dahinya bingung. 'Ibu kamu berada dalam bahaya, ini akibat kenapa kamu menentang diriku.'—begitulah tulisan yang berada pada kertas tersebut. Marsha meremas kertas itu.
Dia sudah menduga semuanya akan jadi seperti ini dia tak tau akan seperti apa ke depannya. Kenapa dirinya jadi kacau sejak dia bertemu dengan seseorang bernama 'Kenneth' itu? Benar-benar psikopat. Dia wajib dibawa ke psikolog karena jiwanya pasti sedang bermasalah.
Marsha rasanya ingin kembali menangis. Dirinya memang bodoh dan lemah, Marsha memegang kepalanya yang terasa pusing masih pagi dan dia sudah mendapatkan berita seperti ini. Marsha masuk ke dalam rumahnya dan bersiap untuk menemui Kenneth.
Jessica baru saja selesai berlari, dia kembali pulang dan bersiap untuk syuting. Dia masuk ke dalam kamarnya dan mengambil handuknya dan mandi. Memerlukan waktu lumayan lama, Jessica selesai dengan pakaiannya. Dia turun dan meminta izin kepada Anne dan Clarita, Robert sibuk mengurusi beberapa hal di kantornya semenjak Michael berada di rumah sakit.
"Kamu mau kemana?" tanya Clarita.
Jessica tersenyum puas. "Ya syuting dong," ujarnya membuat Clarita ikut tersenyum.
"Akhirnya ya," ujar Anne.
"Iya, Mah. Kerja keras Jessica membuahkan hasil, kamu syuting berapa lama?" tanya Clarita.
"Em, kurang tahu kak."
Setelah selesai meminta izin Jessica pun akhirnya pergi menuju lokasi syuting. Namun saat di perjalanan, matanya tertuju pada Marsha yang tengah terburu-buru berlari membuat Jessica menyuruh driver memberhentikan mobilnya.
Saat melihat Marsha menaiki mobil taksi, Jessica menyandarkan tubuhnya di kursi. "Coba ikuti mobil taksi itu."
"Tapi, Non mau syuting."
"Cuman sebentar kok," ujar Jessica dibalas anggukan dari driver.
Marsha dengan tergesa-gesa masuk ke dalam mobil, dia menghela napasnya pelan berusaha untuk tetap tenang. Mobil berhenti tepat di rumah dengan nuansa yang sangatlah mewah, Marsha membayar taksi tersebut dan langsung berlari masuk ke rumah Kenneth. Orang yang memberikan surat aneh itu padanya.
Marsha berdiri di depan gerbang. Gerbang tersebut terkunci, Marsha mengambil handphonenya dan menelfon Kenneth. Namun orang itu tak menjawab telfon dari Marsha membuatnya mendengus kesal. Di saat seperti ini orang itu malah sok ngartis dan tak mau mengangkat telfonnya.
Marsha berusaha berteriak, tak lama satpam datang dan membuka gerbang. "Di mana Kenneth?" tanya Marsha tanpa basa basi.
"Tuan Kenneth? Dia pergi, dari semalam belum pulang," ujar Satpam.
"Pergi kemana kalau boleh tau?" tanya Marsha dengan sopan, setidaknya dia harus bersikap sopan pada orang yang lebih tua walau pun satpam ini bagian dari Kenneth.
"Kalau soal itu, saya juga kurang tau Mbak," ujarnya final membuat Marsha menghela napasnya.
Dia langsung pergi dari rumah Kenneth dan berjalan keluar, dia berjalan di sepanjang koridor jalanan. Dia sekarang tak tau harus bertemu dengan Kenneth di mana. Tak lama satu pesan masuk ke handphone Marsha membuatnya langsung menatap layar handphone.
'Temui saya di apartemen kemarin.' —Kenneth.
Marsha sebenarnya takut, namun ini semua demi ibunya. Dia harus bisa menyelamatkan ibunya dan memberhentikan semua hal konyol ini, Marsha langsung berangkat menuju apartemen yang sempat menyekapnya kemarin.
***
Michael menatap Robert. "Pah, aku mohon. Michael udah enggak tahan di sini, Michael mau pulang," ujarnya seperti merengek kepada sang Ayah.
"Michael, dengar Papa. Kamu itu baru sehari dirawat setelah masa kritis, kamu jangan aneh-aneh deh," ujar Robert kesal kepada anaknya yang sungguh keras kepala. Wajar, sama seperti dirinya sama-sama keras kepala.
"Tapi, Pah. Aku mau ketemu seseorang," ujar Michael membuat Robert menoleh.
"Marsha?"
Michael mengangguk. "Yaudah biar Papa yang telfon dan suruh dia kemari," ujarnya membuat Michael melotot.
"Eh, Pah!"
Michael sebenarnya bukan mau menemui Marsha, namun dia ingin tau rahasia apa yang disembunyikan oleh Marsha hingga dia mau memutuskan hubungannya dengan dirinya. Bukan mau bertanya langsung, mungkin Marsha tak akan memberitahunya jika dia bertanya secara langsung.
Michael mau mencari tahu. Namun jika seperti ini, dia akan gagal. "Kenapa?" tanya Robert menaikkan sebelah alisnya.
"Enggak jadi deh, Pah. Aku di sini aja," ujarnya final membuat Robert mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan.
"Mati deh gue," gumamnya.
Michael benar-benar ingin tahu sebenarnya, apa yang terjadi dan perjanjian apa yang membuat Marsha ingin memutuskan hubungan dengan dirinya. Michael juga sangat bosan di sini, sendirian dan hanya Papanya yang menjaganya, terlebih lagi dia malas untuk mengajak Vanessa ngobrol banyak hal.
Dia sangat cerewet, tidak seperti dulu. Dia sangat susah buat ditaklukkan, dia orangnya cuek dan hodoamat. Intinya jauh beda dengan yang sekarang. Michael menatap ke arah jendela.
"DUAR!"
Teriakan itu membuatnya menoleh sekaligus terkejut. Dia menghela napasnya saat melihat Vanessa lagi, dan lagi. "Ngapain?" tanya Michael.
Vanessa menarik kursi ke dekat ranjang milik Michael dan duduk. "Jagain lo lah," ujarnya.
"Gue bukan anak kecil yang harus dijagain," ujar Michael.
"Ini bukan soal lo kecil apa besar, tapi lo kan lagi sakit," ujar Vanessa.
Michael hanya terdiam dan menatap kembali ke arah jendela, dia sangat merindukan Marsha. Meski Marsha sempat datang dan menjenguknya, namun dia seperti tak merasakan apa-apa. Namun satu hal, sebelum dia sadar. Dia merasakan Marsha memegang tangannya, semoga saja itu bukan halu belaka.
Vanessa melambaikan tangannya ke wajah Michael. "Wei! Lo enggak lagi anu kan?" tanyanya.
"Anu apaan?" Michael mengernyitkan dahinya bingung.
"Lo mikirin apa sih? Biasanya lo yang lebih banyak ngomong daripada gue, sekarang kebalik ya?" tanya Vanessa.
"Mungkin."
Vanessa menatap wajah Michael yang cukup berubah menurutnya namun masih sama gantengnya, lelaki yang paling berhasil membuat dirinya tidak lagi dingin dan cuek seperti dulu. Andai dia bisa mengulang kembali masa-masa itu mungkin Vanessa akan menjadi perempuan yang paling beruntung.
"Lo belum jawab pertanyaan gue," ujar Vanessa.
"Yang mana?"
"Itu tadi, lo lagi mikirin apa?" tanya Vanessa lagi.
"Em, enggak."
"Bohong!"
"Beneran!"
"Masa?"
Michael berdecak kesal, susah sekali meyakinkan satu gadis di dekatnya ini. Walau sebenarnya, Michael memang memikirkan Marsha yang sama sekali tak kembali menjenguknya.
"Iya, beneran," ujar Michael.
Vanessa menghela napasnya. "Boleh gue nanya sesuatu?" tanya Vanessa.
Michael hanya mengangguk. Perasaan, tanpa dia meminta izin Vanessa sudah sering bertanya-tanya hal bodoh dan tak penting menurut Michael. Tunggu, ada apa dengan dirinya? Kenapa dia jadi emosional seperti ini berada di dekat Vanessa?
"Lo punya pacar?" tanyanya hati-hati membuat Michael menoleh dan menatap mata Vanessa dalam. Mata bulat berwarna hitam itu. Michael hanya menggeleng, memang benarkan? Dia tak punya pacar, dia hanya punya mantan pacar.
Vanessa mengangguk.
"Tapi gue punya orang yang gue suka," ujar Michael.
"Siapa?"
"Harus banget ya lo tau?" tanya Michael membuat Vanessa terdiam.
Memang ya, semuanya telah berubah baik sikap mau pun cara merespon. Vanessa memilih untuk keluar ruangan, sepertinya kehadirannya hanya membuat Michael muak dan tak senang hati. Michael yang melihat Vanessa hampir beranjak pergi langsung bertanya.
"Mau kemana?" tanya Michael sontak membuat Vanessa menoleh.
"Em, keluar." Jawaban yang diberikan Vanessa cukup singkat dan dingin.
Michael tau, pasti Vanessa sekarang sedang tak enak hati. Apakah Michael membuatnya sedih? Apakah kata-kata Michael membuatnya sedih? Michael menghela napasnya pelan. "Temenin gue aja di sini, gue kesepian," ujarnya membuat Vanessa memutar bola matanya malas.
Apa Michael bilang? Kesepian? Vanessa datang untuk menemani Michael karena dia sakit. Bukan menemani Michael karena Michael merasa kesepian, seperti tameng saja. Pikir Vanessa.
Vanessa yang tak mau memperpanjang akhirnya kembali duduk. Mereka berdua hanya diam dan tak membuka suara satu sama lain, terjadi canggung seperti biasa. Vanessa juga rasanya percuma membuka suara, kalau dia membuka suara Michael akan merespon dengan cuek dan dingin.
"Kenapa diam?" tanya Michael.
"Emang kenapa?"
Michael berdecak kesal. "Enggak ada pembahasan gitu? Btw, bantu tanya Papa gue dong. Gue bosan di sini," ujar Michael.
"Tanyain apa?"
"Bantuin bilang, gue udah enggak mau di sini. Kalau gue yang bilang, dia terus ngelarang. Mungkin kalau lo yang bilang, Papa gue bakal setuju," ujar Michael.
"Em gue enggak yakin tapi bakal gue coba deh," ujar Vanessa.
***
Di sisi lain, Jessica yang masih sibuk menatap Marsha yang kini sedang berbincang dengan orang yang sempat menangkap dan menyekap Marsha, tak lain adalah Kenneth. Bahkan Jessica, tidak pergi ke lokasi syuting karena melihat Marsha sedang bersama dengan Kenneth.
Jessica hanya takut kalau terjadi apa-apa dengan Marsha. Jessica melihat dari jarak yang tak jauh, namun di balik semak-semak. Handphonenya dia matikan agar tidak diteror oleh kru, dan juga sutradara. Jujur, entah mengapa Jessica jadi menyia-nyiakan hal seperti ini. Hal yang dulu sangat dia impikan.
"Kalau dari sini gue enggak bakal denger," ujar Jessica mendengus kesal. Dia melirik jam tangannya, sudah lewat satu jam dia belum pergi ke lokasi syuting.
Mungkin tak akan terjadi apa-apa lagi. Mereka seperti berbincang biasa, Jessica lalu memilih untuk pergi berangkat menuju lokasi syuting. "Gue pergi aja deh, nanti gue hubungin Marsha aja," ujar Jessica.
Jessica menaiki mobil, dan berangkat menuju lokasi. Sesampainya di sana sudah ada pemain yang menunggu kehadirannya termasuk Damian. "Akhirnya kamu datang, kamu dari mana aja? Ini sudah lewat 1 jam, kalau kamu begini di hari pertama. Mungkin bisa digantikan oleh pemain lainnya," ujar Sutradara memarahi Jessica.
"Maaf bang, Jessica tadi abis ke rumah sakit ngurus kakaknya, jadi wajar ya," ujar Damian berusaha membela Jessica.
Padahal dia tau, kalau Jessica tidak pergi ke rumah sakit. Damian juga tak tau Jessica dari mana, dan kenapa bisa terlambat seperti ini. Jessica menghela napasnya pelan.
"Maafkan saya, lain kali akan tepat waktu," ujar Jessica.
Syuting pun dilaksanakan, setelah Jessica bersiap. Mereka memang syuting film, bukan sinteron atau drama. Jadi mungkin cuman memerlukan waktu satu bulan atau dua bulan. Setelah selesai syuting Damian duduk bersama dengan Jessica.
"Jess, ini hari pertama kamu loh. Untung aja enggak diganti," ujar Damian.
"Iya, Kak. Maafin Jessica ya, soalnya tadi ada sesuatu yang harus Jessica lakuin," ujar Jessica.
"Iya, lain kali harus on time ya," ujar Damian.
"Iya Kak."
Mereka berdua berbincang-bincang sesekali tertawa bersama. Namun, Jessica masih memikirkan soal Marsha, kenapa Jessica bisa sekhawatir ini dengan Marsha? Padahal mereka sebelum ini tak terlalu dekat bahkan Jessica kenal dengan Marsha pun, karena Michael kakaknya membawa Marsha ke rumah.
Jessica membuka handphonenya dan mencoba mengirimkan pesan kepada Marsha. Mungkin, jika Marsha membalas Jessica akan lebih tenang dan tidak khawatir. Dan untuk sebulan ini dia harus fokus sama apa yang dia impikan menjadi seorang aktris seperti kakaknya, Clarita Harington.
Usai sudah masa break, mereka kembali melakukan syuting. Beberapa kali salah dalam dialog, karena Jessica memang masih kepikiran soal Marsha, Jessica ditegur beberapa kali karena terlalu banyak salah.
"Jess, fokus. Kamu kenapa?" tanya Damian.
Jessica mendongak dan menatap Damian. "Maaf kak, tapi kepala Jessica sakit," alibinya.
Setidaknya agar tidak terlalu diomeli oleh sutradara. Karena alasan itu, mereka beristirahat kembali selama 15 menit, Jessica memaafkan waktunya itu dengan menelfon Marsha sekaligus kakaknya Michael.
"Halo, Kak Michael!!"
'Halo? Aku Vanessa, Michael lagi tidur.'
Ucapan itu membuat Jessica kesal saja, dia langsung mematikan telfon secara sepihak. Marsha pun tak mengangkat telfonnya. Damian datang dan memegang pundak Jessica. "Jess," panggilnya membuat Jessica menoleh ke samping.
"Nih, minum." Damian menyodorkan satu botol air putih.
Jessica mengambilnya dan meminumnya. "Thanks, Kak."
"Kamu kayaknya lagi khawatir ya? Kenapa? Sama siapa?" tanya Damian.
"Iya, Kak. Cuman sekarang udah enggak kok," ujar Jessica. Dia tak mau melibatkan Damian dalam hal ini, cukup dia saja. Sebenarnya Jessica ingin memberitahu kakaknya Michael tapi yang angkat telfon adalah Vanessa.
Gadis yang agresif itu, menurut Jessica sangat manja. Dan sikapnya itu sangat menjijikan menutut Jessica. Setelah 15 menit berlalu, mereka kembali melakukan take. Jessica menghela napasnya berat. "Fokus Jes! Ini impian lo," gumamnya.
Akhirnya, Jessica melakukan aktingnya tanpa kesalahan sedikit pun tak seperti yang tadi. Damian tersenyum, sebenarnya Jessica memang ahli dalam akting, hanya saja dia suka lupa dengan dialognya. Dan Damian juga sudah mengajarkan banyak hal untuk Jessica, baik untuk pengapalan, pengaturan emosi, dan juga penyesuaian karakter dalam berakting.
Memang bukan hal yang mudah, namun semangat yang Jessica punya cukup mendorong dirinya untuk lebih cepat dalam belajar dan memahami semuanya. Damian menyimpan skenarionya dan berjalan menuju Jessica yang berdiri sambil memainkan handphonenya.
"Coba duduk dulu," ujar Damian membuat Jessica mengangguk.
Jessica menyimpan handphonenya, rasanya tak sopan jika dia bermain handphone di depan Damian seperti ini. Bak seperti seniornya apalagi orang yang sudah membantunya selama ini. Damian memang satu film dengan Jessica untuk film kali ini. Besok atau nanti mungkin tidak.