Episode 2-Wanita Asing

1162 Words
Fara mengemas berkas-berkas yang harus dibawa pulang. Waktu memang sudah menunjukkan jam usai bekerja. Rekan kerjanya yang lain pun sudah bergegas keluar dari ruangan. Karena terlalu santai dan enggan terburu-buru, ia masih di ruang kerjanya. Ya, sembari menunggu Abra datang menjemputnya. Diam-diam, Sony memperhatikan Fara dari ruang kerjanya yang berada di satu lingkup karyawan biasa, juga ruang kerja milik Fara. Lelaki manis yang menjabat sebagai manager divisi pemasaran yang juga tempat Fara bekerja itu sebenarnya sangat mengagumi sosok Fara. Sayangnya, perasaannya harus ditahan lantaran sang wanita telah memiliki seorang kekasih. Sony tidak membuang kesempatan meski hanya untuk sekedar berbincang dengan Fara. Ia bangkit dari duduknya, setelah itu ia menghampiri sosok yang ia kagumi itu. “Far!” panggil Sony sebelum Fara berhasil keluar dari ruang kerja mereka. Mendengar seruan dari sang manager, Fara menghentikan langkahnya. Ia yang tidak menyadari perihal perasaan Sony sama sekali tidak merasa terganggu. “Iya, Pak,” jawabnya. “Bisa jalan bareng? Ya, sambil ngobrol, ‘kan, sudah sepi seperti ini. Mungkin kamu takut.” Fara tersenyum. “Mana ada saya takut, Pak. Tapi, boleh saja sembari buang sepi.” Sony tersenyum senang. Setidaknya, ia bisa memiliki waktu berdua seperti itu. Meski ia tahu, jika ia tidak akan bisa memiliki Fara. Namun, jodoh tidak ada yang tahu, bukan? Ada satu pepatah yang membuatnya masih berharap, jika jalur kuning belum melengkung maka ia masih memiliki kesempatan. Keduanya serempak melangkah menyusuri lorong kantor. Langkah kaki begitu kombak bak pengebar bendera yang berjalan menuju tiang. “Mm ... Far, kamu masih sama pacar kamu itu?” tanya Sony memberanikan diri. Fara mengangguk. “Masih, Pak. Bosan ya lihatnya?” senyum manis terulas di bibir tipisnya. “Ya, kalian lama sekali pacarannya. Umur kamu berapa sih?” “Dua empat, Pak. Seharusnya sudah menikah ya?” “Memangnya kamu targetin menikah di umur berapa? Saya saja sudah dua sembilan tahun masih melajang.” “Mm ... mungkin Pak Sony kebanyakan memilih ya? Kalau saya maunya pas  umur dua lima. Tapi, do’akan saja. Kita saling mendo’akan, Pak.” “Bukan memilih, Far. Tapi, yang saya suka sudah memiliki pacar. Tidak boleh mengganggu hubungan mereka, ‘kan?” “Ya, kalau ceweknya tertarik dengan Bapak juga, kenapa tidak boleh?” Sony tersenyum tipis mendengar jawaban Fara. Batinnya bertanya memangnya wanita yang bersamanya saat ini tertarik padanya? Ironisnya, tidak. Hal itu yang membuatnya selalu menahan diri agar tidak sampai berbuat tidak wajar terhadap Fara. Entah sampai kapan perasaan itu akan luruh dan hilang. Sedangkan sang wanita justru selalu ia temui setiap hari. Hanya ada mereka berdua di dalam kotak penghubung lantai dengan lantai. Jika Fara merasa biasa saja, Sony justru merasa senang. Ia ingin waktu berhenti saat itu juga, bersama dengan orang yang ia sukai adalah keinginannya. Namun, itu tidak mungkin, bukan? Pada kenyataannya, waktu tetap berjalan sebagaimana mestinya. “Saya duluan ya, Pak,” pamit Fara pada Sony setelah mereka sudah berada di halaman dari gedung perkantoran itu. Sony mengangguk. “Iya, silakan. Hati-hati di jalan, Far,” jawabnya. “Bapak juga hati-hati, ya?” “Tentu, Far.” Setelah itu, Fara mengambil langkah menuju luar di mana Abra telah menunggu di dirinya di balik gerbang yang terbuka. Motor gede menjadi kendaraan yang digunakan sebagai penghantar pulang. Berbeda dengan Sony yang selalu menggunakan kendaraan roda empat alias mobil. Sebab itu juga yang membuat Fara tidak pernah memakai androk jika bekerja. Tidak seperti rekan kerjanya yang lain yang gemar memakai androk span atau sejenisnya. Baginya, akan sangat merepotkan jika naik motor dengan pakaian tersebut. Mau tidak mau, ia harus menahan keinginan mengenai androk untuk menunjang penampilannya. “Hai,” sapa Abra pada sang kekasih ketika Fara sudah sampai di hadapannya. Ia memberikan helm yang diperuntukan khusus untuk Fara. “Hai juga,” jawab Fara sembari menerima helm tersebut. “Tadi sama manager kamu, ya?” “Hanya kebetulan keluar akhiran aja kok. Jadi bareng keluarnya.” “Oh, gitu.” “Mm ....” Abra mengembuskan napasnya dengan kasar. Ada rasa cemburu yang mencuat dari dalam dirinya. namun, ia tidak bisa menunjukkannya lantaran belum ada bukti secara jelas. Lagipula, ia menyadari bahwa selama ini dirinya lebih sering bermain api daripada Fara. Lalu, Fara naik ke atas motor gede milik kekasihnya tersebut, tentunya ketika Abra sudah menyalakan mesinnya. Mereka melaju menyusuri jalan aspal yang panjang. Sepasang tangan melingkar di pinggang Abra, membuktikan betap cintanya Fara padanya sampai atau mungkin memang sudah kebiasaan. “Mau mampir dulu enggak?” tanya Abra di pertengahan jalan. “Ke mana?” balas Fara. “Makan.” “Aku belum lapar, Sayang.” “Kafe atau mungkin apartemenku.” “Enggak! Di sana ada Reno, aku enggak enak.” “Seenggaknya, mari berdua sebelum petang menjelang. Aku rindu padamu, Far.” “Tumben? Oke deh, ke kafe saja.” Rindu mungkin suatu kata yang jarang diucapkan Abra pada Fara, sehingga membuat Fara benar-benar merasa aneh. Sedangkan Abra sendiri sebenarnya hanya merasa cemburu, sampai ia mengatakan kata rindu. Setiap hari memang ada rindu, jarang sekali diungkapkan oleh satu sama lain. Meski sudah tujuh tahun menjalin cinta, nyatanya tidak membuat keduanya saling terbuka. Ego dari masing-masing insan masih sama-sama besar. Hal itu pula yang sering memicu pertengkaran. Dengan motor gede itu, Abra membawa kekasihnya menuju suatu kafe. Kafe yang biasa mereka datangi untuk berkencan, bahkan bertengkar. Di mana pun tempatnya, jika sudah merasa kesal mereka bisa saja berdebat hebat. Beruntung sang pemilik adalah teman dari Abra, sehingga cukup mengerti. Hingga beberapa menit kemudian, Abra dan Fara telah sampai di tempat yang dituju. Motor gede tersebut di parkir dengan tenang di area yang sudah ditentukan. Tidak seperti biasanya, kali ini Abra menggandeng tangan Fara untuk memasuki ruang dari kafe tersebut. Sambutan hangat dari Anton—sang pemilik—mereka dapatkan. Pojok belakang paling kanan adalah tempat favorit untuk duduk sembari menyantap pesanan. “Kamu mau pesan apa, Sayang?” tanya Abra pada Fara setelah mereka duduk di kursi masing-masing. “Apple pie dan apple juice,” jawab Fara. “Hmm ... kebiasaan.” Fara menyengir. “Aku suka itu.” Abra memanggil salah satu pelayan. Sampai pelayan tersebut mendatangi dirinya juga Fara. Ia memesan menu sesuai seleranya, juga kekasihnya. Setelah itu, pelayan tersebut kembali dengan catatan yang sudah ia pegang. Fokus Abra kembali mengarah pada wajah cantik nan manis milik Fara. Senyum tipis mengembang di bibirnya tanpa ia sadari. Kekasihnya itu memang cantik, bibir tipis, hidung mancung juga kulit putih bersih. Apalagi ditambah gigi gingsul yang membuat kesan manis semakin terlihat jelas. “Kamu selalu cantik,” ucap Abra. “Tentu, aku selalu cantik,” jawab Fara. “Kamu enggak mau jalan sama aku, Sayang? Aku biasa saja.” “Kalau malu, enggak mungkin tujuh tahun pacaran sama kamu.” “Hmm ... ya.” “Kamu masih enggak percaya sama aku?” “Aku selalu percaya sama kamu. Kamu yang kurang percaya sama aku.” “Karena kamu—“ Ucapan Fara terhenti ketika melihat seorang wanita tengah berjalan mendekati bangku mereka. Wanita tersebut tampak girang. Fara tidak mengenalnya, tetapi kecurigaannya mencuat. Jangan-jangan kenalan Abra? Meski begitu, ia berharap bahwa hanya pengunjung lain yang hendak duduk di bangku sampingnya. Sayangnya, harapan Fara pupus seketika. Wanita tersebut berhenti di samping Abra. “Abra, aku cari kamu ke mana-mana lho,” ucap wanita tersebut. “C-Celine?” Abra tampak terperanjat dengan kedatangan wanita yang bernama Celine. Ia menggeragap, terlebih ketika mendapati Fara dengan wajah yang memerah. Ya, wanita mana yang tidak terluka jika kekasih hatinya tiba-tiba saja didatangi oleh seorang wanita asing? Fara berdiri dari duduknya. Ia mendorong kursinya ke belakang, lalu pergi. Ia sudah menduga siapa wanita tersebut, sudah pasti mainan milik kekasihnya. “Far!” seru Abra. Ia ingin mengejar Fara, tetapi Celine justru sigap menarik lengannya. “Aku butuh penjelan, Abra,” ucap Celine. Mata mereka saling bertemu—menatap tajam—satu sama lain. Celine tidak peduli perihal siapa Fara, ia menuntut penjelasan yang belum ia dapatkan dari seorang Abra. Sementara, Fara sudah pergi jauh di luar kafe. Air matanya menetes dengan perasaan terluka untuk kesekian kalinya. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD