Episode 1-Kepastian

1161 Words
Di sebuah kamar yang bernuansa putih s**u, Fara Abela tengah duduk terdiam. Pikirannya kalut, beberapa hal membuatnya terpaksa berpikir keras. Salah satunya mengenai hubungannya dengan Abra yang tidak kunjung diseriuskan. Tujuh tahun sudah mereka menjalin cinta, tetapi sang kekasih tidak kunjung melamarnya. Ada apa? Karena uang? Dua pertanyaan itu yang sering terlintas di benak Fara. Rasanya sungguh tidak mungkin jika karena uang, mengingat kehidupan Abra yang lebih dari kata cukup, bahkan kekasihnya itu menjabat sebagai direktur di perusahaan milik sang ayah. Sedangkan Abra justru terlihat begitu santai—menjalani sesuai air mengalir. Dan sampai saat ini pun, Fara tidak pernah tahu apa alasan yang tepat untuk sikap kekasihnya tersebut. Bukan tidak pernah bertanya, melainkan sudah sering. Bahkan, dari dua tahun yang lalu, Fara sudah membahas perihal pernikahan. Sialnya, Abra belum juga melamar. “Ais! Aku capek,” keluh Fara sembari meletakkan kepalanya di atas meja kecil. Satu bulir air mata turun membasahi pipi. Ia takut jika selama ini, Abra hanya ingin mempermainkan dirinya saja. Namun, setiap kali ia meminta putus, hatinya selalu ingin kembali. “Dik?” Suara Ima terdengar dari arah pintu. Kakak dari Fara itu lebih melebarkan pintu dan melenggang masuk tanpa meminta izin pada sang pemilik kamar terlebih dahulu. Ima menghela napas dan mengembuskannya kembali. Ia prihatin melihat sang adik sering merasa gelisah sendiri. Seandainya saja, ia bisa ikut campur dalam hubungan Fara dan Abra, ia pasti akan membuat keduanya berpisah. Sayangnya, ia bukan tipikal orang yang gemar melakukan hal itu. Lalu, Fara membangunkan kepalanya dari meja. Ia mengusap sisa air mata yang sempat terjatuh dari pelupuk mata. Senyum paksa ia lukiskan di bibir tipis berwarna pink miliknya. Ia menatap Ima dengan getir, sembari berkata, “Izam sudah tidur, Kak?” Ima mengangguk. “Iya sudah, Dik. Kenapa kamu malah belum tidur?” balasnya setelah mengiyakan perihal kondisi anaknya saat ini. “Besok libur, bergadang sepertinya enggak apa-apa, Kak.” “Hmm ... jangan bergadang kalau enggak ada manfaatnya. Tidur saja, Dik. Jangan terus memikirkan cowok itu.” Fara tersenyum kecut. “Enggak kok, Kak.” “Aku tahu sangat mengenal kamu, Dik. Putuskan saja kalau dia enggak ada kepastian.” “Enggak, Kak. Kami sudah bersama dalam tujuh tahun, bukan bulan. Sayang sekali jika harus berakhir.” “Halah! Alasan kamu selalu begitu. Kamu selalu menahan perih, kalau terus bersama, Dik.” “Walaupun berpisah, aku juga belum tentu mendapatkan cowok yang baik. Dan lebih baik mempertahankan,’kan?” Ima hanya bisa menggelengkan kepala. Meski sebenarnya, jawaban Fara bukan kali pertamanya ia dengar. Ia hanya heran, mengapa ada orang yang bisa perpacaran sampai tujuh tahun? Bahkan, ada yang lebih. Memangnya mereka tidak bosan? Terlebih, ketika tidak kunjung menikah. Ia mengingat masa mudanya sebelum menikah, sering kali ia memutuskan pacar ketika sudah bosan atau mungkin ada setitik kesalahan. Dan hal itu membuatnya memiliki banyak mantan. Namun, meskipun saudara kandung, Fara sangat berbeda dengan Ima. Fara selalu bersabar ketika menghadapi Abra yang berbuat salah. Alasannya karena sudah terlalu cinta. Tidak jarang, ia melihat Abra menggandeng perempuan lain. Namun, ketika ia bertanya—tentang siapa wanita itu—Abra hanya menjawab bahwa itu teman, rekan kerja, dan beberapa hal lain. Bodohnya, ia selalu percaya, meski kecurigaannya selalu mencuat tinggi. Tidak jarang, ia bertengkar karena kecurigaannya yang dinilai berlebihan oleh Abra. “Ya sudahlah, Kakak mau tidur,” ucap Ima sembari memberikan belaian halus di kepala Fara. Fara tersenyum manis. “Selamat tidur, Kak,” jawabnya. “Jangan terlalu dipikirkan. Semoga esok, pangeranmu datang melamar.” “Amin.” “Kamu juga cepat tidur, ya? Jangan bergadang, nanti tambah kurus.” “Siap, Kak.” Setelah itu, Ima berbalik dan mengambil langkah untuk keluar. Tidak lupa ia kembali menutup pintu kamar sang adik dengan rapat, setelah sebelumnya ia buka. Ia berhenti sejenak, berbalik lagi dan menatap pintu kamar tersebut. Benaknya membayangkan wajah Fara yang sempat lesu, juga hati yang ikut prihatin atas kisah asmara milik Fara bersama Abra. Detik berikutnya, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar pribadi yang dibagi dengan suami. Fara menilik jam dinding yang sudah menunjukkan waktu yang larut malam. Namun, matanya sama sekali tidak merasakan kantuk. Ya, setiap kali ada beban pikiran—matanya enggan diajak terpejam. Ia meraih ponsel yang berada di atas meja yang sama. Setelah itu, ia membawanya menuju ranjang untuk sebatas rebahan karena pinggangnya merasa pegal. “Aku bisa dan aku yakin, Abra pasti merencanakan sesuatu untuk melamarku,” gumamnya. Begitu naifnya, ia mengharapkan akan hal itu. Dua tahun tidak cukup untuk membuatnya sadar dari harapan yang tidak kunjung dikabulkan. Tujuh tahun tidak membuatnya jera dalam hubungan tanpa kepastian. Keyakinan itu yang membuatnya terus berada di dalam lingkaran asmara tidak berujung. **** Di sebuah apartemen nan megah, Abra tengah asyik bermain konsol game bersama sahabatnya—Reno. Tidak peduli perihal malam yang sudah semakin larut. Keduanya justru larut dalam permainan itu, bahkan sudah hampir empat jam lamanya. Hobi para lelaki yang paling dihindari oleh para wanita. “Sial!” Abra melemparkan alat tersebut begitu saja, ketika mengalami kekalahan beruntun. Sedangkan Reno justru tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak, kemenangannya itu tidak cuma-Cuma, melainkan ada uang taruhan yang akan diberikan oleh Abra. Terhitung empat juta sejak kemenangan pertama. Suatu kebanggaan mencuat dari dalam hatinya, sehingga tawanya keluar begitu lepas seolah tanpa beban. “Diam!” bentak Abra karena merasa terhina atas kekalahannya. Reno menghentikan tawanya, tetapi senyumnya tetap melebar sampai menampakkan gigi-gigi putih nan rapi. “Ck, gue menang lagi. Loe itu enggak bakalan bisa ngalahin gue, Bro,” ucapnya. “Lagi rezeki loe aja, No.” “Hmm ... loe memang jago berkilah, Bro. Sama seperti saat cewek loe bertanya.” “Hais! Jangan bahaslah, gue pusing.” “Kalau sudah pusing, mending kasih Fara buat gue aja.” “Jangan harap!” “Loe berlaku seenaknya, tapi masih ada niat mempertahankan gadis itu, ya?” Abra mendadak diam. Ya, benar, selama ini ia memang terkesan seenaknya saja. Bahkan, sering menghubungi perempuan lain. Alasannya untuk menghilangkan rasa bosan atas hubungan yang sudah bertahun-tahun. Apalagi jika Fara sudah mencurigai dirinya yang tidak-tidak, rasanya lebih baik dilakukan sesuai kecurigaan itu. Namun, meski begitu, hanya seorang Fara yang ada di dalam hati Abra. Beberapa perempuan yang ia dekati, sama sekali tidak membuatnya tergoda sama sekali. Ia menganggap bahwa mereka hanya mainan ketika merasa jengah dengan pertengkarannya yang terjadi antara dirinya dengan sang kekasih—Fara. “Loe sudah tua, Bro. Loe pacaran sama Fara juga sudah bertahun-tahun. Loe enggak ada keinginan buat lamar do’i?” tanya Reno, karena rasa penasarannya tentang hal itu sudah tidak tertahan lagi. Abra tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut, ia terdiam dan menunduk. Hingga beberapa detik kemudian, ia berkata, “ada keinginan. Tapi, gue masih mikirin konsepnya saja.” “Memangnya harus ada konsep buat melamar?” “Gue enggak mau lamar dia dengan sekenanya saja, No. Gue mau sesuatu yang berkesan dan enggak bisa dilupakan.” “Jangan terlalu lama, Bro. Cewek loe itu cantik, pasti banyak yang antri.” “Ya, benar. Bahkan, manager kantornya saja sering terlihat menggoda dia.” “Terus, loe diam saja?” “Selama enggak ada sesuatu yang mencurigakan, gue enggak mau menuduh yang enggak-enggak.” Reno mengacungkan jempolnya untuk Abra. “Good boy!” Ia menggeleng. “Sayangnya, tukang selingkuh.” “Enggak! Gue, ‘kan, dekat doang. Enggak ada hubungan apa pun sama mereka.” Reno memberikan cibiran. Abra memang tidak pernah menganggap kedekatanya dengan perempuan lain sebagai perselingkuhan. Tidak bisa ketika tidak ada kata jadian. Keegoisannya itu membuat Reno tidak habis pikir. Meski sama-sama seorang lelaki, nyatanya prinsip mereka berbeda. Namun, perbedaan itu tidak membuat persahabatan mereka renggang, justru semakin erat. Ya, suatu saat, pasti gue bisa lamar Fara dengan romantis. Tunggu saja! Batin Abra. Senyumnya merekah indah di bibirnya. Sedangkan, benaknya terbayang wajah cantik milik Fara. Keduanya memiliki keyakinan masing-masing, tanpa dibuka di hadapan satu sama lain. Entah takdir apa yang akan hadir.  ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD