Prolog

157 Words
Tangisan Fara berlanjut hingga malam, bahkan hampir menjelang pagi. Matanya sudah sangat sembab, dikarenakan air mata yang terus mengalir deras. Pertengkarannya dengan Abra di sore itu, benar-benar meluluhlatakkan perasaannya.Terlebih, ketika ia melihat wajah dari wanita mainan kekasihnya secara jelas dan langsung. Paras cantik milik Celine terbayang dengan jelas di benaknya. Membuatnya terus membayangkan sudah sejauh mana hubungan wanita itu dengan Abra. Sampai-sampai, dengan tidak tahu malu wanita itu menghampiri Abra yang tengah bersama dirinya. Ironis sekali, jika hubungannya dengan Abra yang terjalin selama tujuh tahun harus kandas karena orang ketiga. Fara masih belum siap berpisah dengan Abra, meskipun sudah mengatakan kata putus. Tampaknya rasa cintanya terhadap pria itu masih lebih besar dibanding rasa kecewa di hatinya. "Seharusnya, aku enggak bertahan dari dulu. Seharusnya aku putus dengannya sejak awal, sebelum hubungan ini menjadi bertahun-tahun, dan aku enggak bakalan merasa sakit sampai separah ini. Kenapa aku segila itu padanya? Padahal aku sudah disakiti berkali-kali," gumam Fara dengan air mata yang masih berlinang.  ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD