1. Ancaman pekerjaan
Seperti roda yang berotasi tanpa henti, demikian pula waktu berjalan. Kehidupan telah berlangsung sekian ribu tahun. Orang-orang menyusun kalender dan penanggalan , memberi nama pada masehi dan mereka-reka setiap sejarah masa lalu pada tanggal-tanggal yang tak pasti. Demikian pula hidup yang kita dilewati saat ini.
Pernahkah kita berpikir, kapan pertama kehidupan dimulai? Sementara penciptaan bumi, ruang, dan waktu adalah misteri maka cukuplah kita menyebut titik dimana kita menemukan segala sesuatu untuk kali pertama sebagai sebuah awal.
"Happy reading!!"
✳
Cuit burung-burung peliharaan keluarga Pak Boby sangat riuh terdengar dari halaman samping rumahnya. Di sela-sela kesibukan yang setiap hari Pak Boby jalani, ia juga tidak lupa untuk menyalurkan hobinya pada burung-burung peliharaan yang entah sudah berapa banyak jumlahnya, burung-burung itu berjajar tergantung rapi di sisi kanan.
Keluarga pak Boby telah bersiap untuk sarapan pagi sebelum memulai aktivitas, beberapa makanan telah tersaji di atas meja makan yang tidak terlalu luas berbentuk persegi panjang itu. Tiga kursi telah terisi tinggal menunggu Revan, anak sulung pak Boby yang sebentar lagi akan menempuh UN tingkat SMP.
"Bu, mana Revan?" tanya pak Boby—ayah Revan.
"Masih di kamarnya kali, Yah?" jawab Ibu Mika
"Revan, ayo sarapan. Nak!" agak sedikit berteriak agar putranya itu segera keluar dari kamar.
"Iya sebentar, Revan masih mencari kaos kaki sebentar lagi Revan turun," Revan berteriak sembari mencari kaos kakinya dari dalam lemari.
Tak lama akhirnya Revan keluar dengan mengenakan seragam sekolahnya dan terlihat begitu rapi. Di sekolahnya Revan termasuk anak yang pandai karena ia selalu menduduki posisi tiga besar di kelasnya, itu yang membuat pak Boby cukup bangga memiliki anak seperti Revan. Melihat anak-anaknya yang mulai tumbuh dewasa membuat pak Boby semangkin semangat untuk bekerja demi anak-anaknya yang sangat ia sayangi.
"Ayo kita makan sama-sama", ujar pak Boby. Keluarga kecil itu kemudian sarapan bersama sebelum masing-masing sibuk dengan aktivitasnya.
Kebetulan cuaca pagi ini mulai menampakan mentari paginya, yang sudah beberapa hari ini terguyur hujan, cahaya dari mentari seperti menawarkan harapan baru bagi mereka yang mau mengerjakannya.
"Ma, Yah Revan berangkat dulu ya, assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Revan kemudian pergi mengambil sepedanya. Sehari-hari Revan selalu menggunakan sepeda ketika menuju ke sekolah karena sekolahnya memang tidak diperbolehkan membawa sepada motor. Sedangkan adiknya—Vania, yang masih berusia 9 tahun ikut dengan pak Boby, untuk diantar ke sekolah yang jaraknya sekitar 10 KM dari rumah. Pak Boby mengenakan jaket berwarna hitam telah siap menembus jalan raya. Ingar bingar mesin roda dua bagai laron menyerbu, susul menyusul di sela-sela mobil.
Tiba di pabrik tempatnya bekerja, pak Boby mulai mengerjakan segala rutinitas kantor yang biasa ia jalani. Salah satu teman kerjanya yaitu pak Zaki datang menghampiri pak Boby untuk sekedar meluapkan sedikit uneg-uneg yang ada di kepalanya.
"Bob? masih sibuk?"
"Iya, ini sepertinya pekerjaanku hari ini lebih banyak".
"Hm, kau jangan terlalu bersemangat Boby, kita ini hanya pekerja rendahan yang bekerja di pabrik ini".
"Justru itu, dengan kita semangat mengerjakan segala kegiatan, mudah-mudahan gaji kita bisa dinaikkan oleh pak Bos, dan kita juga bisa mendapatkan reward seperti karyawan senior kita"
"Hha mimpi kamu tinggi banget Bob, kamu tidak lihat dibanyak media massa, kalau pekerja kantor yang terkena PHK"
"Iya Zaki berita itu telah aku ketahui setelah melihat siaran di televisi."
"Terus bagaimana menurutmu? kalau-kalau kita mendapatkan nasib yang sama seperti buruh yang ada diberitakan itu. Aku semangkin khawatir bagaimana nasib kita dan keluarga kita nanti," terang Zaki.
Pak Boby bernapas panjang.
"Ya, akupun berfikiran begitu, bagaimana tidak aku pun khawatir saat ini cicilan rumah ku saja belum lunas, belum lagi biaya rumah tangga, seperti yang kau katakan," kata Boby, yang juga penuh khwatiran.
"Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan kebutuhan rakyat yang seperti kita ini. Jangan hanya berkoar-koar dengan memberikan sejuta janji yang sampai saat ini belum di realisasikan."
Pak Boby mulai memikirkan perkataan pak Zaki.
"Kamu kenapa bengong Bob?," tanya Zaki yang melihat tiba-tiba teman kantornya itu hanya diam.
"Begini, aku sebenarnya setuju dengan apa yang kau katakan tetapi coba kau lihat kondisi kantor saat ini, membuatku semangkin muak saja. Bayangkan jika kita lihat anak-anak yang baru lulus dan IP mereka rata-rata hampir empat ditempatkan sangat tidak sesuai dengan bidangnya. Akhirnya mereka hanya planga-plongo saja di kantor," kata Boby.
Menanggapi Boby, Zaki hanya tertawa.
Tangan laki-laki itu meraih pundak Boby. Sambil menepuk-tepuknya.
"Sebenarnya bukan hanya itu Bob, pekerja atau staf yang diberi tugas untuk keluar kota atau ke luar negeri tujuannya cuman untuk mendapatkan uang tambahan saja."
"Hm, mungkin saja mereka lupa, kalau di atas mereka itu masih yang lebih tinggi dari mereka yaitu Tuhan yang sebenar dan sesungguhnya," kata Boby, setelah dari tadi ia hanya diam menyimak keluh kesah teman kantornya itu.
Setelah keduanya saling mengutarakan kegelisahan mereka, pak Boby dan pak Zaki kembali menyelesaikan pekerjaannya agar dapat segera beristirahat setelah lelah bergelut dengan pekerjaan kantor.
Seluruh pekerja kantor telah membereskan pekerjaannya, dan segera menuju kantin yang ada di depan kantor untuk makan siang.
Begitupun dengan pak Boby dan pak Zaki mereka berdua tinggal menunggu makanan yang dipesan datang.
"Bob, ada yang ingin aku bicarakan?"
"Apa Zaki?"
"Apa kau tidak tahu barusan saja, pihak keuangan kantor yang di pegang oleh Ibu Danti mengatakan kepadaku bahwa kantor ini sedang merugi besar". Dia mengeluarkan rokok klobot dari kantong celananya.
"Hah, yang benar kamu?," dengan raut tidak percaya.
"Iya, sebelum keluar ruangan tadi aku sempat bertemu dengan Ibu Danti, dan ia memberikan sedikit bercerita tentang keuangan kantor ini."
"Ah, aku rasa besok kita akan dikumpulkan, untuk mendengarkan berita buruk yang selama ini kita takutkan." sahut pak Boby.
"Iya, kabar-kabarnya lagi. Akan ada sekitar empat puluh orang yang kena PHK", tambah Zaki dengan penuh kegelisahan.
"Kita tunggu saja kabar selanjutnya, jika memang itu terjadi kita hanya bisa pasrah."
Suapan demi suapan masuk dalam mulut keduanya, dan makanan telah habis tiada tersisa. Dikantin itu telah sepi, di sudut kantin sudah terlihat bi Rus sudah mulai membereskan makan-makan para karyawan kantor. Tinggal Boby dan Zaki yang masih duduk-duduk sembari menghitung uang didompetnya untuk dibayarkan ke bi Rus, pemilik kantin tempat mereka makan.
Setelah membayar, mereka kembali untuk bekerja demi secerca harapan untuk menghidupi keluarga dan anak di rumah.
Maaf ya kalau kurang bagus, krna memang masih belajar