Adam mengembuskan napas berat. Satu-satunya generasi penerus keluarga Evans adalah dirinya. Daren sendiri tidak memiliki anak, sehingga ia menganggap Adam sudah seperti anak kandungnya sendiri.
Hal itu juga karena orangtua Adam sendiri sudah meninggal dalam kecelakaan tragis. Adam menjadi kehilangan arah sejak saat itu. Bibi Chloe, yang merupakan adik dari ayah Adam memiliki beberapa anak perempuan. Dan mereka tentunya tidak bisa meneruskan usaha keluarga Evans.
Adam memerhatikan Ashley yang sudah berjalan menjauh darinya. Wanita itu terlihat sungguh menyebalkan. Bahkan yang ia tau, ia hanya mengincar harta Pamannya yang sebenarnya sebagian besar adalah harta dari Ayah Adam. Ia tersentak, menyadari sesuatu. Jika anak Ashley lahir dan mewarisi harta keluarga Evans, itu bukanlah sesuatu yang baik. Ia harus berbuat sesuatu.
Audrey menghirup udara segar Gwynedd dalam-dalam di teras kamarnya. Setelah sekian lama, akhirnya ia menginjakkan Desa dimana ia dilahirkan. Satu jam yang lalu, Zac pergi meninggalkan mereka di sini karena harus bergegas ke luar kota untuk urusan pekerjaan.
Audrey bersyukur memiliki calon suami seperti Zac. Meskipun pria itu kaya raya, ia tidak pernah bersikap angkuh atau pun sombong. Zac masih saja rendah hati dalam hal apa pun. Termasuk dalam hal mencintai. Lembut dan sederhana.
"Audrey, masuklah!" kata Bibi Evelyn.
Audrey menoleh sejenak."Iya, Bibi."
Tiba-tiba ia tersentak saat merasa ada seseorang tengah mengawasinya. Atau mungkin itu hanyalah sebuah bayangan hitam yang bisa saja berasal dari hewan atau tetangga yang sedang melintas. Audrey memandang ke sekeliling, ia sedikit merinding karena desa ini memang begitu sunyi. Banyak warga yang sudah hijrah ke kota lain.
"Kau jangan berlama-lama di luar Audrey. Zac sudah memperingatkan bukan?" Bibi Evelyn memperingatkan keponakannya itu agar mematuhi aturan yang dibuat oleh Zac.
Audrey tersenyum."Iya, Bi. Aku hanya rindu dengan tempat ini."
"Tapi, calon suamimu tidak ingin kau keluar dari rumah ini tanpanya." Bibi Evelyn mengingatkan.
Audrey terkekeh."Iya, Bi. Aku akan mengingatnya. Lagi pula bukannya ia sudah membawakan beberapa bodyguard di sini. Kenapa ia harus khawatir."
Zac memang menyiapkan bodyguard yang ia sewa khusus untuk menjaga Audrey dan Bibi Evelyn selama ia pergi. Mereka tinggal di rumah tepat di mana Audrey dan Bibi Evelyn tinggal.
"Ikuti saja perintahnya. Dua hari lagi, ia akan datang mengunjungi kita. Setelah itu, kau bebas keluar dan mengenang masa kecilmu di sini bersama Zac. Tugasmu sekarang adalah...merawat dirimu sendiri dan juga bayimu." Bibi Evelyn mengusap perut Audrey.
Audrey menatap ke sekeliling Rumah keluarga Anderson di masa lampau yang memang sengaja tidak dijual. Rumah tua ini masih terawat dan tentunya beberapa kenangan masih melekat dalam ingatan Audrey."Aku tidak tau apa yang harus kita lakukan di sini, Bi. Di sini sangat sepi."
"Kau bisa berbuat semaumu. Menonton tv, bermain game, atau...menggunakan fasilitas internet yang disediakan Zac. Ya...dia begitu menyayangimu sampai begitu memperhatikan hal detail seperti itu."
"Dan aku sangat senang akan hal itu, Bi." Audrey memeluk Bibi Evelyn.
"Oleh karena itu, kau tidak boleh bersedih lagi. Kau harus semangat melanjutkan hidup. Oh, ya...apa kau mau membantuku memasak untuk makan malam kita?"
"Tentu," jawab Audrey senang.
**
Adam menjadi frustrasi sendiri di rumahnya. Perdebatannya dengan Ashley kembali membuatnya berpikir keras. Ia harus menyelamatkan warisan keluarga dari wanita mata duitan itu. Tapi, rasanya semua sudah terlambat. Ia harus mengakui bahwa dirinya terlalu egois dan kekanakan. Ia berharap semoga semuanya masih bisa diperbaiki.
Seorang pria mengenakan mantel hitam memasuki ruangan Adam.
"Tuan, Adam...kami sudah menemukan kabar tentang Miss Brown."
Adam melirik ke arah detektif suruhannya."Cepat katakan. Kemana mereka pergi?" Adam sangat gusar ketika melihat Adam pergi bersama Audrey dan Bibinya. Ia pikir mereka akan pulang ke rumah Audrey.
Keresahan hati Adam menuntunnya sampai ke rumah Audrey. Tapi, kenyataannya, Adam melihat seisi rumah Audrey sudah berantakan. Tidak ada siapa pun di sana. Bahkan ia tidak melihat pakaian dimana pun. Ia menyesal kenapa terlambat mengikuti mobil Zac sehingga ia harus kehilangan jejak Audrey.
Ia langsung frustasi, ia harus menemukan wanita itu. Terpaksa ia menyuruh salah satu detektif swasta untuk mencari tau. Ia ingin tau kabar Audrey secepatnya. Hasilnya tidak sia-sia. Dalam waktu beberapa jam saja, ia sudah mendapat informasi.
"Nona Audrey beserta Bibinya pergi ke Gwynedd, karena rumah mereka sudah dihancurkan oleh seseorang tidak dikenal. Rumah di Gwynedd adalah milik dari Zac Anderson, dan...kabar yang saya dapatkan lagi adalah mereka akan segera menikah."
Adam mengatupkan bibirnya, mengerang kesal. Berani-beraninya Audrey mengatakan sedang mengandung anaknya tapi menikah dengan Zac."Kau dapatkan alamat mereka?"
"Ya." Ia menyodorkan sebuah alamat kepada Adam.
Adam memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri sebelum ia mengambil tindakan."Kau tau siapa yang menghancurkan rumah mereka?"
"Saya masih menyelidikinya, Tuan."
"Baik, lanjutkan penyelidikanmu!" Adam menatap alamat yang diberikan Detektif sewaannya. Ia harus menemui gadis itu di Gwynedd. Apa pun yang terjadi, ia ingin memperbaiki semuanya.
Adam sudah berdiri di depan rumah yang alamatnya sesuai dengan yang tertera di catatannya. Ia mengumpulkan tenaga dan kekuatan untuk bertemu dengan Audrey. Ia juga harus siap menerima cacian atau pun pukulan dari Audrey.
Adam mengetuk pintu, beberapa kali baru lah ada yang membuka. Seorang wanita tua muncul dan tersenyum pada Adam."Selamat sore, anak muda. Ada yang bisa aku bantu?"
"Saya...Adam." Adam bingung harus memulai perkataannya dari mana.
Bibi Evelyn membenahi kacamatanya, menatap Adam lebih jeli."Adam?"
"Adam Evans!"
Bibi Evelyn hampir saja memekik."Kau pria yang sudah menghamili Audrey? Pria tidak bertanggung jawab itu? Pergi...pergilah!"
"Bibi, aku tidak bermaksud jahat. Aku ingin meminta maaf atas perbuatanku." Adam tidak bergerak meskipun Bibi Evelyn mendorongnya.
"Aku akan memanggil Bodyguard,"kata Bibi Evelyn sambil berjalan masuk hendak memencet tombol untuk membunyikan sirine tanda bahaya yang sudah disediakan Zac.
"Bibi aku mohon!"
"Bibi ada apa?" Audrey berlari kecil saat mendengar suara Bibi Evelyn berteriak. Lalu ia mematung saat menatap pria di depan sana.
"Kau tidak perlu mempedulikan dia, Audrey. Pria ini, kan yang membuat hidupmu hancur?"
Audrey berjalan pelan. Ia tersenyum."Iya, Bi. Dia adalah Adam Evans, pria yang tidak bertanggung jawab. Bibi, tenanglah."
"Audrey, aku ingin bicara padamu."
Audrey menatap ke dalam bola mata Adam."Baiklah. Kita duduk di sini," katanya sambil mengarah ke ruang tamu.
"Kau yakin, Audrey?" tanya Bibi Evelyn resah.
Audrey mengangguk."Iya, Bibi. Aku akan berteriak jika Adam melakukan sesuatu padaku."
Bibi Evelyn mengembuskan napas berat."Baiklah. Aku akan meninggalkan kalian berdua."
"Silahkan duduk, Adam. Perjalananmu jauh sekali sampai ke sini."
"Aku ingin menemuimu, Audrey."