Pagi-pagi sekali, Audrey terbangun karena mencium aroma tubuh yang khas. Ia tersadar sedang berada di pelukan Zac. Ia tersenyum dan menenggelamkan wajahnya ke d**a pria itu. Terasa hangat dan menenangkan.
"Selamat pagi," sapa Zac yang terbangun karena gerakan yang ditimbulkan oleh Audrey.
"Hai!" balas Audrey gugup.
"Kamu terlihat segar pagi ini." Zac mengeratkan pelukannya.
Audrey menyadari kalau pagi ini, ia tidak mual atau pun muntah."Iya."
Zac tampak memejamkan matanya lagi. Sepertinya ia masih mengantuk. Audrey memutuskan untuk bangun, sebelum Nyonya Anderson atau Bibi Evelyn mencarinya. Ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Mandilah dengan air hangat," gumam Zac.
Audrey yang tadinya berjalan pelan agar Zac tidak terbangun, sekarang justru terkekeh. Ternyata kekasihnya itu tau dia sudah bangun dan hendak mandi.
"Iya. Kau tidur saja lagi," balas Audrey yang kemudian mengecup kening Zac.
Audrey mandi dan berpakaian rapi. Setelah ini ia memutuskan untuk menemui Bibi Evelyn dan Nyonya Anderson. Tapi, saat ia baru saja keluar dari kamar mandi, Zac sudah berada di Walk in Closet. Wanita itu terlihat sangat terkejut.
"Hai, kenapa melihatku seperti itu." Zac terkekeh dan menghampiri Audrey."Aku suka melihat rambutmu yang basah."
Pipi Audrey merona."Jangan menggodaku sepagi ini, Zac."
"Aku tidak menggodamu, sayang. Aku memang suka melihatmu pagi ini. Terlihat begitu bersinar." Zac melayangkan kecupan di kening Audrey, kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi.
Audrey berpakaian rapi, ia segera menemui Nyonya Anderson di rumah utama.
"Hai, sayang. Bagaimana tidurmu?" sapa Nyonya Anderson. Saat ini ia sedang duduk di ruang keluarga bersama Bibi Evelyn.
"Tidur saya nyenyak, Nyonya Anderson."
"Dimana Zac?"
"Sedang mandi," jawab Audrey.
Nyonya Anderson mengangguk. “Semalaman aku dan Eve membicarakan pernikahan kalian berdua. Kami sangat bersemangat."
Wajah Audrey kembali merona seperti saat Zac memujinya."Pernikahan?"
"Iya. Benar. Nyonya Anderson mengatakan kalau...kau dan Zac sudah menjalin hubungan yang serius."
"Tapi, Nyonya...apa kau mau menerima keadaanku yang seperti ini?" Audrey kembali dilanda ketakutan.
"Kau hamil?"
Audrey mengangguk.
"Jika Zac tidak mempermasalahkan, kenapa kami harus membuat itu jadi masalah. Kami tidak keberatan dengan masalah itu. Kau harus melanjutkan hidup, bersama kami tentunya." Nyonya Anderson merentangkan tangannya memeluk Audrey.
"Terima kasih, Nyonya."
"Zac sudah melamarmu bukan?"
Audrey mengangguk, ia menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya."Iya, sudah, Nyonya."
Nyonya Anderson dan Bibi Evelyn bertukar pandang. "Cincin yang sangat indah. Selera Zac luar biasa. Dia tau bagaimana semakin membuatmu cantik."
"Sepertinya aku sedang diperbincangkan di sini." Zac muncul dengan mengenakan kemeja polos bewarna hitam.
"Ya, kami membicarakan kalian." Nyonya Anderson tertawa kecil.
Zac duduk di sebelah Audrey, memberikan kecupan kecil di pipinya.
"Jadi, kapan...Kalian akan melangsungkan pernikahan?"
Zac menatap Audrey."Secepatnya?"
Audrey tersenyum malu-malu."Terserah kau saja."
"Baiklah, Mom, sepertinya aku harus menyerahkan semua ini pada Mom."
"Pernikahan sederhana saja, Nyonya." Audrey tidak pernah membayangkan seperti apa rasanya menjadi pusat perhatian di acara pernikahan. Mungkin ia gugup dan tidak percaya diri. Apalagi sebentar lagi ia akan menjadi menantu dari keluarga Anderson.
"Aku akan mengadakan pernikahan yang begitu besar. Aku ingin memberi tahukan pada dunia bahwa, aku akan segera memiliki Puteri. Aku akan menyiapkan semuanya, Eve, Audrey. Audrey...kau harus menjadi Puteri di rumahku."
Audrey mengangguk pasrah."Baik, Nyonya. Aku tau kau akan melakukan yang terbaik."
"Baiklah, sekarang...kita makan pagi."
Mereka semua pergi ke ruang makan untuk sarapan. Setelah itu Zac mengantarkan Bibi Evelyn dan Audrey pulang, sebab malam ini, Zac beserta kedua orangtuanya harus pergi ke luar kota untuk urusan bisnis.
"Bibi!" Audrey memekik tidak percaya.
"Ada apa?"
"Rumah kita...."
Zac baru turun dari mobil, heran melihat kedua wanita itu tidak masuk ke dalam rumah."Kenapa kalian masih di sini?"
"Zac, rumahku." Audrey berjalan perlahan.
Zac melihat ke arah rumah yang terlihat berantakan. Kaca jendela yang pecah, pintu rusak. Beberapa potongan kayu yang berasal dari bangku itu berserakan. Ia berjalan cepat, memasuki rumah. Ia sangat terkejut, rumah itu benar-benar hancur. Beberapa pecahan porselen, kapas berterbangan, benar-benar mengenaskan.
"Oh, Tuhan! Ada apa ini?" Bibi Evelyn tampak Syok.
"Bibi, duduklah." Audrey memapah Bibi Evelyn ke sebuah kursi yang masih bagus.
"Audrey, rumah kita. Siapa yang sudah tega melakukan ini." Bibi Evelyn menangis.
Zac tampak mengelilingi rumah, termasuk memeriksa kamar Audrey yang ternyata juga berantakan. Tapi, kamar Bibi Evelyn masih rapi. Zac menghubungi seseorang, berbicara beberapa saat. Kemudian Ia segera menemui dua wanita itu.
"Bibi, jangan sedih. Mungkin...ada pencuri yang masuk semalam."
Bibi Evelyn mengangguk. Ia tidak bisa berkata-kata lagi dengan kondisi rumahnya saat ini.
"Kalian siapkan pakaian, kita pergi saja dari sini," kata Zac.
"Kemana?" tanya Audrey.
"Bagaimana kalau tinggal di rumahku sementara aku, Mom, dan Dad pergi?"
Audrey menggeleng."Tidak perlu, Zac. Kami tidak ingin merepotkan.
Zac berubah pikiran untuk menempatkan Audrey di rumahnya. Satu hal yang belum diketahui Audrey, bahwa rumahnya dan Adam sebenarnya bersebelahan. Hanya saja lahan mereka yang begitu luas membuat gedung rumah mereka terlihat jauh."Baiklah...bagaimana kalau kita ke Gwynedd?"
Mengingat nama Gwynedd, Audrey jadi merindukan udara segar di sana. Meskipun sekarang di saja begitu sunyi, ia ingin berkunjung ke tempat itu."Kau ikut?"
"Aku akan mengantarkanmu dan Bibi ke sana." Zac mengusap puncak kepala Audrey dengan lembut.
"Bukankah kau harus pergi ke luar kota?"
"Aku akan menyusul Mommy setelah mengantarkan kalian. Sebaiknya kita bersiap."
"Bagaimana, Bibi?" tanya Audrey pelan.
Bibi Evelyn mengangguk pasrah."Mari kita siapkan barang kita."
Sementara itu di kediaman keluarga Evans, Adam tampak murung. Ia memikirkan Audrey yang semalam menginap bersama dengan Zac. Ia menyesali kenapa harus memergoki mereka berdua.
Ashley, yang saat itu sedang berada di kediaman Adam pun mendekat."Kau memikirkan wanita itu lagi? Sudah jelas dia mengandung anak Zac."
Adam melirik tajam."Bagaimana kau bisa tau?"
Ashley tertawa."Kau tau kenapa pada akhirnya aku berpaling dari Zac, karena dia selalu bersama Audrey. Setiap saat ia membicarakan wanita kebanggaannya itu. Mereka sering tidur bersama..., Tapi...katanya tidak melakukan apa-apa. Itu mustahil. Aku yakin mereka memiliki hubungan spesial."
"Kau berpaling darinya lalu memasuki kehidupan rumah tangga Pamanku?" ucap Adam tajam.
Ashley tampak terkejut dengan ucapan Adam."Apa maksudmu? Kau tau, kan kalau Pamanmu adalah seorang Duda."
Adam tertawa sinis."Ya, Bibiku meninggal setahun yang lalu karena bunuh diri setelah tau bahwa Paman memiliki hubungan spesial denganmu! Tapi, satu hal yang aku tau bahwa...Bibiku bukan bunuh diri. Tapi, seseorang telah membunuhnya."
Keringat dingin mengalir di tubuh Ashley. Adam mulai mengusik kehidupan pribadinya dan Daren. Andai saja Daren tau yang sebenarnya, pria itu pasti akan mencampakkannya."Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat denganmu. Ini tidak baik untuk bayi di dalam kandunganku. Setidaknya aku harus menjaga calon penerus keluarga Evans bukan? Ya...Pamanmu itu tidak punya anak, dan...anak ini akan menjadi penerusnya."