Audrey tersenyum tipis, air matanya mengalir, lalu terisak.
"Hei, kenapa?" Zac menatap Audrey bingung.
Audrey menggeleng, ia justru semakin terisak.
Zac bingung harus bagaimana. Ia hanya bisa memeluk Audrey. "Kau memikirkan Adam?"
Adrey mengangguk."Ya."
"Apa kau mencintainya?"
"Tidak, Zac. Aku sedih saja. Kenapa ini semua terjadi. Hamil tanpa pasangan, itu menyakitkan!" Audrey memegang dadanya. Rasa sakitnya terasa sampai ke ulu hati.
"Audy...semua sudah terjadi. Aku tau ini semua berat untukmu. Tapi, kamu tidak sendiri. Aku dan Bibi Eve ada bersamamu." Hati Zac terluka melihat Audrey seperti itu. Apakah ia harus memberi pelajaran pada Adam Evans, rasanya hanya buang-buang waktu. Lelaki manja seperti Adam tidak akan mengerti bagaimana caranya bertanggung jawab.
"Aku malu, Zac. Aku malu...."
"Audy kamu tidak boleh stres. Kamu harus sehat." Zac berusaha menenangkan Audrey.
Pintu kamar diketuk, Bibi Evelyn masuk karena mendengar suara isakan tangis dari Audrey. Ia panik.
"Ada apa?"
Zac tersenyum."Adrey hanya butuh waktu untuk berdamai dengan dirinya sendiri, Bi. Sepertinya...Audrey butuh suasana baru."
Bibi Evelyn mengusap punggung Audrey."Semuanya akan baik-baik saja, sayang. Kami ada untukmu. Kau dan juga bayimu."
Audrey melepaskan pelukan Zac, lalu beralih ke Bibi Evelyn."Maafkan aku, Bi. Maafkan aku."
"Tidak, sayang. Semua ini adalah takdir. Sekarang...kita harus berjalan ke depan. Menyusun rencana langkah-langkah yang akan kita lakukan. Menyiapkan kelahiran bayimu dengan suka cita." Bibi Evelyn tersenyum hangat.
"Iya, Bi. Aku harus bersiap-siap mengajar." Tiba-tiba Audrey teringat dengan tugasnya.
"Tidak perlu, Audy," kata Zac.
"Kenapa?" gerakan Audy melambat.
Zac menarik napas panjang. Ia sulit mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Tapi, Audrey harus tau."Kau diberhentikan sementara. Berita kehamilanmu sudah tersebar di seluruh kampus."
"Kenapa aku harus diberhentikan?" Audrey mematung tak percaya. Kehamilan bukanlah kesalahan yang begitu besar hingga membuat ia harus diberhentikan.
Zac menggeleng."Entahlah. Baca saja emailmu. Kau diberhentikan sementara. Mereka akan mengevaluasi lagi masalah ini. Setelah itu mereka akan memutuskan apakah kehamilanmu berdampak buruk terhadap mahasiswa atau tidak. Mungkin...ini ulah Adam."
Audrey menoleh cepat."Ulah Adam? Adam yang membuatku diberhentikan?"
"Hanya prediksiku, Audy. Adam masih keponakan dari Wali kota. Dia adalah anak lelaki manja yang memiliki kuasa. Aku tidak suka berurusan dengan mereka. Karena Ashley sudah menjadi bagian dari mereka."
Audrey terisak."Jadi, Adam...tidak lagi ingin bertemu denganku. Dia sengaja mengeluarkan ku dari kampus, agar aku tidak bisa menuntutnya bertanggung jawab.Apa dia tidak pernah merasa kalau ini adalah darah dagingnya. Dimana hatinya, Zac?"
"Oh, Audy...maafkan aku semakin membuatmu sedih." Zac bertukar pandang dengan Bibi Evelyn.
"Aku akan menyiapkan sarapan. Kalian berdua bersiaplah," katanya sambil berjalan ke arah dapur.
"Audi, dengarkan aku. Hanya ada satu orang yang meninggalkanmu. Yaitu Adam Evans. Tapi, ada lebih dari orang yang akan selalu memelukmu, menghapus air matamu, serta mendukung setiap langkahmu. Aku, Bibi Evelyn, Mommy, dan Daddy. Apa kau lebih memilih memikirkan satu orang yang melukai hati daripada memikirkan empat orang yang membuatmu bahagia?"
"Aku tahu, Zac. Aku tidak bisa seperti ini. Beri aku waktu untuk meluapkan kesedihanku. Aku janji, setelah itu...tidak akan ada lagi maka Adam Evans." Audrey menatap Zac dengan serius.
Zac tersenyum, ia melayangkan kecupan singkat di bibir Audrey."Baiklah. Sekarang...kita harus bersiap karena Bibi sudah menunggu."
Audrey mengangguk. Sementara Zac pergi ke kamar mandi. Adrey kembali meremas dadanya sendiri. Hatinya hanya menyebut nama Adam Evans.
**
Rumah keluarga Anderson terlihat begitu megah di malam hari. Penataan cahaya yang tepat membuat rumah itu sedap dipandang.
Audrey menarik napas panjang, menenangkan dirinya. Malam ini, ia dan Bibi Evelyn berkunjung ke kediaman keluarga Anderson. Zac sudah memberitahukan perihal kehamilan Audrey pada kedua orangtuanya.
"Mari kita masuk," kata Zac.
Audrey mengangguk, ia memeluk lengan Bibi Evelyn. Tuan dan Nyonya Anderson menyambut mereka dengan hangat.
"Audrey, sudah lama sekali kau tidak berkunjung."
"Maafkan aku, Nyonya." Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Audrey.
"Kau baik-baik saja?" Mata Nyonya Anderson berkaca-kaca. Lalu matanya menatap perut Audrey yang masih datar.
Audrey mengerti apa yang dimaksud oleh Nyonya Anderson."Ya. Aku baik-baik saja, Nyonya."
"Kita makan malam saja, kasihan Audrey kalau terlambat makan." Tuan Anderson memperingatkan.
Mereka semua makan malam. Suasana begitu hangat dan menyenangkan. Tidak ada yang membahas masalah siapa ayah dari janin yang dikandung Audrey. Mereka membicarakan hal-hal yang menyenangkan dan membuat Adrey tersenyum.
Usai makan malam, Bibi Evelyn dan Nyonya Anderson memilih berduaan untuk berbagi banyak hal. Sementara Tuab Anderson pergi untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.
"Audy, ayo kita ke tempat lain," bisik Zac sambil menarik lengan Audrey.
Wanita itu tersenyum malu-malu saat Zac membawanya ke belakang rumah. Di sana ada jalan setapak yang menghubungkan rumah utama dengan sebuah paviliun. Di sanalah kamar Zac.
"Untuk apa ke sini?" tanya Audrey heran.
Zac menutup pintu kamarnya."Tidak ada. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu."
Audrey melihat ke sekeliling. Kamar Zac sungguh berbeda dengan kamarnya sewaktu masih remaja. Ia begitu mengenal Zac sejak mereka tinggal di Gwynedd, Inggris Barat. Mereka sering bermain bersama di pantai yang berpasir. Sebagian warga di sana menjadikan rumah mereka di Gwynedd sebagai rumah kedua, sehingga Gwynedd mulai sepi layaknya Desa berhantu. Orangtua Zac dan Audrey pun memutuskan sama-sama pindah ke London. Mereka berjuang bersama memulai hidup baru. Sampai sebuah kecelakaan merenggut nyawa orang tua Audrey.
"Seleramu berubah."
Zac terkekeh."Aku tidak mengurusi masalah seleraku lagi, Audy. Tidaklah penting bagaimana bentuk dan warna kamarku. Yang terpenting adalah aku masih bisa tidur."
"Jawaban yang bagus." Audrey terkekeh.
Zac meraih dagu Audrey dan mengecupnya perlahan. Wajah gadis itu terlihat merona. Tentu saja itu karena kecupan hangat dari lelaki yang sudah lama ia cintai.
Namun, sebenarnya ia masih tidak yakin apakah keputusan ini benar. Apakah Zac benar-benar mencintainya, ia juga masih ragu. Sebab ia tau seberapa besar Zac mencintai Ashley.
"Kau meragukanku?"
Audrey tersentak kaget. Zac bisa membaca pikirannya."Apa maksudmu, Zac?"
"Aku bisa lihat di matamu, sayang. Kau meragukan cintaku," kata Zac.
Audrey menunduk malu."Maafkan aku, Zac." Audrey tidak bisa menyangkal kehebatan Zac dalam menerka isi hatinya.
"Tidak apa-apa. Wanita butuh pembuktian dan aku akan memberikan itu padamu." Zac merogoh saku jas yang ia pakai, mengeluarkan sebuah kotak beludru bewarna biru."Will you marry me?"
Air mata Audrey mengalir."Zac, kamu bercanda? Ini sulit dipercaya."
"Ini serius, Audrey. Aku sudah memberi tahu pada Mommy dan Daddy. Mereka setuju. Saat ini, Mom dan Bibi Eve sedang membicarakan pernikahan kita. Jadi...Kamu mau menikah denganku?"
Audrey terisak, ia mengangguk.
Zac memakaikan cincin itu ke jari manis Audrey. Kemudian mereka berpelukan. Setelah itu, tatapan mereka saling mengunci, bibir mereka bersentuhan, dan tubuh mereka terhempas ke atas tempat tidur.
Malam ini mereka dipenuhi oleh perasaan cinta. Pertama kalinya mereka saling menyentuh dan meninggalkan jejak-jejak kenikmatan. Malam pun semakin panjang, karena Zac terus mencumbu Audrey tanpa pernah merasa cukup. Meskipun Audrey meragukannya, Zac tidak akan menyerah. Ia berjanji akan membahagiakan Audrey.