Bibi Evelyn menggeleng."Kau sungguh jahat tidak memberi tahu hal ini padaku, Audrey. Belakangan ini kau terlihat tidak sehat, aku pikir kau sakit biasa. Ternyata kau tengah hamil. Seandainya aku tau...Aku akan lebih memperhatikanmu."
Wajah Audrey terangkat."Bibi? Tidak marah padaku?"
Bibi Evelyn menggeleng."Bagaimana bisa aku marah, jika sebentar lagi aku akan memiliki seorang cucu."
Audrey bangkit, ia langsung memeluk Bibi Evelyn dengan haru."Maafkan aku, Bi, menyembunyikan ini karena pria itu tidak mau bertanggung jawab. Aku merasa malu, Bi."
"Begitukah? Betapa Malang nasibmu, sayang." Bibi Evelyn mengusap punggung Audrey. Hatinya terasa sakit, mendengar berita itu.
"Tapi, kalian tenang saja. Aku di sini untuk kalian." Zac tersenyum untuk kedua wanita itu.
Audrey menatap Zac, air matanya terus mengalir."Zac?"
Zac tersenyum."Ya? Peluklah aku!" Zac merentangkan tangannya.
Audrey menyambut pelukan Zac dengan haru. Tapi, di hatinya tentu masih ada perasaan yang tidak nyaman karena Adam tidak pernah mengakui perbuatannya.
Bibi Evelyn tampak sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka semua. Sementara Audrey, tidak diperkenankan membantunya. Ia ingin gadis itu istirahat dan menjaga kondisi tubuhnya. Lalu Zac, pria itu sedang merapikan kamar Audrey agar sahabatnya itu bisa tidur dengan nyaman.
Audrey menunggu di sebuah sofa usang dengan selimut tebal menutupi tubuhnya. Sesekali ia memerhatikan Bibi Evelyn di dapur yang tak jauh dari posisinya. Ia sudah tidak sabar menunggu masakan enak itu masuk ke dalam perut.
Audrey merasa terharu, awalnya ia takut semuanya akan buruk. Bibinya akan marah. Tapi, sekarang ia merasa terlindungi. Jika Adam tidak mau bertanggung jawab, ia masih mampu membesarkan anak itu sendiri. Ia tidak perlu laki-laki pecundang seperti Adam.
"Makan malam sudah siap. Dimana Zac?" tanya Bibi Evelyn. Ia melepas celemek dan menyeka keringat di dahinya.
Audrey melirik ke arah kamarnya."Entahlah, Bi. Zac mengatakan kalau ia akan membersihkan kamarku. Tapi, mungkin ia belum terbiasa jadi...sampai sekarang belum selesai."
Bibi Evelyn tertawa."Seorang Zac Anderson membersihkan kamar di sebuah rumah tua. Sulit dipercaya."
Wajah Audrey merona. Itu benar. Bagaimana bisa seorang yang terpandang di kota ini sedang membersihkan kamarnya.
"Zac? Apa kau di dalam?" Bibi Evelyn mengetuk pintu kamar Audrey.
"Iya, Bibi. Aku baru saja akan keluar." Zac muncul dengan ekspresi yang aneh.
"Baguslah. Saatnya makan malam. Ayo...."
Zac mengangguk, ia melirik ke arah Audrey dan membantunya bangkit.
"Thanks, Zac."
Zac hanya tersenyum dengan hangat. Matanya tak lepas dari gadis di hadapannya. Mereka makan dengan hikmat. Obrolan antara Bibi Evelyn dan Audrey lebih mendominasi acara makan malam itu.
"Zac, apa kau tidak ada pekerjaan?" tanya Audrey tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Ehmm...tidak. Tapi, kau hampir seharian di sini membantuku. Apa pekerjaanmu tidak terbengkalai?"
Zac menggeleng."Sesekali menemanimu bukanlah suatu masalah, Audi. Lagi pula kau butuh teman. Aku sudah berjanji akan selalu ada untukmu bukan?"
Mata Audrey tampak bersinar. Rasanya dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya saja itu sudah cukup. Ia tidak membutuhkan apa pun, termasuk Adam.
Usai makan malam, Bibi Evelyn langsung istirahat di kamarnya. Ia merasa cukup lelah karena memasak dalam porsi yang lebih banyak dari biasanya. Ia juga membuat jenis makanan berbeda untuk Audreybkarena sedang hamil. Sementara itu, Audrey dan Zac ada di kamar.
"Audi...," panggil Zac saat ia sudah menyelimuti Audrey di tempat tidur.
Audrey menoleh."Iya?"
"Kau mencintaiku?"
Tubuh Audrey membatu, ia tidak bisa menghindari tatapan Zac. Pria itu mengetahui perasaannya selama ini. Tapi, darimana ia bisa tau."Z...Zac..."
"Aku baca semua buku harianmu, Audi. Aku membaca semuanya." Zac duduk di sisi tempat tidur. Ia menggenggam kedua tangan Audrey."Katakan sejujurnya, Audi. Apa kau mencintaiku?"
Audrey menundukkan wajahnya. Ia tidak ingin Zac tau betapa ia rapuh saat Zac bersama dengan Ashley."Aku...."
"Aku hanya butuh jawaban, Iya atau tidak," kata Zac lagi.
"Aku memang mencintaimu sejak dulu, Zac. Aku tidak tau sejak kapan...Tapi yang pasti itu sudah lama. Bahkan sebelum kau bersama dengan Ashley. Aku..."
Belum selesai Audrey bicara, Zac sudah memeluknya. Ia menjadi bingung.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakan hal itu, Audi. Kenapa kau tidak pernah jujur padaku kalau kau jatuh cinta padaku."
Audrey yang tadinya membatu dalam pelukan Zac, kini mulai melemaskan tubuhnya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Zac, terasa nyaman."Aku takut perasaanku akan membuat kita menjauh, Zac."
"Tidak akan, Audi."
"Benarkah?"
Zac melepaskan pelukan, lalu ia menangkup wajah Audrey."Tentu...kita tidak akan terpisahkan. Kau adalah wanita yang penting dalam hidupku. Aku pikir, kau tidak mungkin pernah mencintaiku. Kau terlalu cuek padaku, Audi. Jika kau masih mencintaiku...bolehkah sekarang aku bertanya?"
Audrey menahan napasnya. Ia terlihat tegang."Apa?"
"Apa kau bersedia menjadi kekasihku?" ucap Zac. Adrey melihat sebuah keseriusan di mata pria yang ia kenal sejak lama. Tapi, entah kenapa hari ini ia sulit menerjemahkan tatapan itu.
"Zac, jangan bercanda...apa kau lupa kalau aku sedang hamil anak Adam Evans?" ucap Audrey lirih. Jujur saja, ia sedang mengasihani dirinya sendiri. Impiannya sudah di depan mata, ia cukup meraihnya dalam waktu sedikit. Tapi, kehamilan itu membuatnya menarik diri. Ia tidak pantas untuk Zac.
"So what? Aku yang akan bertanggung jawab. Bibi Evelyn, kamu, dan juga anak di dalam sini." Zac mengusap perut Audrey dengan lembut. Hal itu membuat Audrey terisak.
"Aku tidak pantas untukmu, Zac. Apa kau...Kasihan padaku?" Audrey mulai tidak percaya diri.
Zac menggeleng kuat, ia kembali menggenggam tangan Audrey."Kau mengenalku dengan baik bukan? Apa aku adalah orang yang seperti kau sebutkan?"
Audrey menggeleng."Tapi...ini sulit dipercaya. Apa kau juga mencintaiku?"
Zac tertawa. Ia tidak menjawab, melainkan mengecup bibir Audrey. Bibir mereka bersentuhan, lidah saling bertautan. Audrey menatap Zac dengan serius."Aku mencintaimu, Audrey. Aku tidak tau sejak kapan. Tapi, begitu aku tau kau mencintaiku...entah kenapa aku juga ingin mengatakan kalau aku juga mencintaimu. Izinkan aku menjadi bagian dari hidupmu, Audi."
"Ini seperti mimpi," desis Audrey.
Zac memeluk Audrey dengan erat."Jangan pikirkan Adam lagi, Audi. Dia masih kecil untuk memikirkan hal seperti ini. Dia juga bukanlah pria yang baik untukmu. Aku akan menanggung semuanya. Percayalah."
Audrey mengangguk, ia menangis terharu. Mereka berpelukan sepanjang malam, sambil mengenang banyak hal tentang masa kecil mereka.
**
Audrey terbangun karena merasa perutnya terasa mual. Ia berlari kecil menuju kamar mandi. Zac yang merasa kaget karena tadinya mereka tidur dalam keadaan berpelukan dan Audrey menghentakkan tubuhnya sampai terjatuh.
"Audi?" Zac mengusap matanya. Ia berjalan ke kamar mandi dan mendapati Audrey sedang memuntahkan isi perutnya.
"Maaf mengagetkanmu, Zac,"kata Audrey.
Zac tersenyum, membantu Audrey bangkit dan kembali ke tempat tidur."Kau terlihat tidak sehat."