Audrey menyeka mulut dan wajahnya. Perutnya terasa tidak enak setelah mengeluarkan isi perutnya."Aku baik-baik saja, Bi."
"Mungkin susunya sudah kadaluarsa. Maafkan Aku." Bibi Evelyn menghampiri Audrey dan mengusap pundak keponakannya itu.
Audrey merasa sedikit nyaman setelah mendapat usapan lembut itu."Terima kasih, Bi ...mungkin Audrey harus banyak istirahat."
"Iya. Istirahatlah. Kalau besok kondisimu masih tidak sehat. Sebaiknya kau izin saja. Kau butuh sesuatu? Biar aku ambilkan."
Audrey menggeleng."Tidak, Bi. Aku langsung istirahat saja."
Bibi Evelyn mengangguk, ia membantu Audrey naik ke atas tempat tidur. Menyelimutinya lalu keluar dari kamar Audrey.
Audrey merenung di balik selimutnya. Air matanya kembali menetes. Sepertinya tanda-tanda dan kehamilannya mulai terlihat. Bagaimana ia bisa menyembunyikan itu dari sang Bibi. Adrey harus berpikir keras mencari jalan keluar dari masalah ini. Ia terpikirkan untuk menceritakan hal ini pada Zac. Tapi, mendadak ia merasa malu bila sahabatnya itu tau dirinya tengah hamil.
Kepala Audrey mulai sakit, memikirkan banyak hal. Mungkin satu-satunya cara adalah kembali menghubungi Adam. Meyakinkan pria itu bahwa ia tengah mengandung anaknya. Ia butuh sebuah pengakuan dari mahasiswanya sendiri. Semoga saja Adam luluh dan mau menerima kenyataan itu.
Audrey mengembuskan napas berat. Matanya sangat perih karena kebanyakan menangis. Sedari tadi ia memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, tak bisa tidur.
Sampai pukul dua dini hari, ia belum juga menemukan solusi dari semua ini. Mungkin ia harus mengakui ini pada Bibi Evelyn. Atau mungkin ia akan membiarkan semuanya berjalan begitu saja seperti air. Belum sempat Audrey memutuskan jalan mana yang harus ia tempuh, dirinya sudah tertidur.
**
Hari ini adalah ujian akhir mahasiswa. Sebenarnya Audrey sudah tidak sanggup bangkit dari tempat tidur. Tapi, ia ingat bahwa ada anak-anak yang menunggunya untuk melakukan ujian akhir, akhirnya ia bangkit.
Wajah Audrey sangat pucat, ia berusaha kuat membagikan kertas ujian untuk mahasiswanya. Ia sempat saling bertatapan dengan Adam, tapi Pria itu justru membuang pandangannya. Hati Audrey berdenyut. Sakit sekali. Kepala Audrey pusing lagi. Ia mempercepat gerakannya membagi kertas dan kembali duduk.
"Ujian sudah bisa dimulai," kata Audrey.
Beberapa menit, suasana hening. Tiba-tiba perut Audrey terasa ingin mengeluarkan sesuatu dan ia mengeluarkan suara yang membuat seisi ruangan tersentak kaget.
"Maaf mengagetkan. Kalian lanjutkan, saya keluar sebentar." Audrey berlari kecil agar ia tak memuntahkan isi perutnya di kelas.
"Apa kau tidak merasa aneh dengan Miss Brown?" Kata Michele pada Nicolete.
"Belakangan ini...ia sering terlihat stress, tidak enak badan,pusing-pusing, bahkan muntah."
"Seperi orang hamil saja," kata Michele.
"Ya wajar saja kalau dia sampai hamil. Dia memiliki kekasih bukan? Pria yang kita lihat di parkiran."
"Kalian berdua! Diamlah. Ini ujian," hardik Adam.
Michele dan Nicolete menatap Adam kesal. Mereka memilih diam daripada menanggapi ucapan Adam. Pria itu memang menyebalkan.
"Ada apa dengan Adam. Dia semakin aneh sekarang," bisik Nicolete.
Michele tersenyum sinis."Ya. Mungkin dia sedang mengalami banyak masalah. Aku berharap dia tidak akan bahagia."
Nicolete terkekeh mendengar ucapan Michele yang memang sangat sakit hati setelah mengalami penolakan dari Adam.
Beberapa menit kemudian, Audrey masuk. Meskipun ia tidak yakin dengan kondisinya. Ia harus tetap mengawasi mereka yang sedang ujian. Audrey kehilangan kendali di detik-detik terakhir. Akhirnya ia jatuh pingsan. Seisi kelas terlihat panik dan menjadi ricuh. Beberapa orang segera menolongnya dan membawa ke ruang kesehatan.
Bianca terlihat panik, berusaha membangunkan Audrey. Ia sudah menghubungi Zac, sebagai orang terdekat Audrey yang ia kenal. Ia tak mungkin menghubungi Bibi Evelyn, sebab ia sudah tua dan tidak mungkin untuk datang ke sini melihat kondisi Audrey.
"Bianca, apa yang terjadi?" Tanya Zac begitu mendapati Bianca berada di depan ruang kesehatan.
Bianca menggeleng."Dia pingsan di kelas. Beberapa mahasiswa membawanya ke sini. Karena ia tidak sadar-sadar, maka aku memanggil dokter. Audrey sedang diperiksa. Tapi...."
"Kenapa?"
"Dokter sempat mendiagnosis ... Audrey hamil."
"What? Jangan bercanda, Bianca. Maksudnya...Aku tau Audrey bukanlah wanita dengan gaya hidup yang bebas. Ya...Kamu tau, lah...bagaimana dia."
"Ya, aku paham...oleh karena itu sulit dipercaya jika Audrey hamil. Dia bahkan tidak dekat dengan pria mana pun." Bianca juga tidak ingin mempercayai apa yang dikatakan dokter padanya.
"Tapi itu cuma diagnosa. Atas dasar apa dokter mengatakan Audrey hamil jika belum melakukan pemeriksaan."
"Mereka melakukan pemeriksaan singkat, lalu untuk meyakinkan...mereka memeriksanya kembali dan menyuruhku keluar," jelas Bianca.
"Kita tunggu hasil pemeriksaannya."
Zac dan Bianca menunggu dengan sabar. Kemudian, pemeriksaan selesai dan mereka harus menerima kenyataan bahwa Audrey dinyatakan positif hamil."Aku harus menemui Audrey di dalam."
Bianca mengangguk."Ya...dia butuh teman. Aku harus mengajar, Zac."
"Ya...pergilah. aku akan urus Audrey." Zac masuk ke ruang kesehatan menemui sahabatnya itu.
"Audi!" Zac memeluk Audrey dengan erat. Sementara wanita itu terlihat menangis."Jangan menangis, Audy. Aku di sini."
"Aku hamil, Zac," bisik Audrey pilu.
Zac mengangguk-angguk."Ya...dokter sudah memberi tahu hal itu padaku. Tenanglah... Sekarang katakan, siapa pria yang menghamilimu?"
Audrey menutup wajahnya malu. Ia tak sanggup harus menyebutkan sebuah nama yang mungkin saja Zac kenal.
"Audi...percaya padaku. Aku ini sahabat kamu." Zac mengusap punggung Audrey dengan sabar.
"Adam Evans."
Tubuh Zac membatu seketika mendengar nama Adam Evans. Pria yang masih memiliki kekerabatan dengan wali kota itu terkenal dengan sikapnya yang dingin dan suka semena-mena. Zac memeluk Audrey dengan erat."Tenangkan pikiranmu."
Audrey terisak."Dia tidak mengakui kalau ini adalah anaknya, Zac, dia menyangkal."
Zac mengembuskan napas berat. “Baik...Aku paham. Pria seperti Adam tidak akan mengakui hak itu, meskipun aku yakin...kalau dialah laki-laki yang menghamilimu. Melihat riwayat hidupnya selama ini...Ya, aku paham mengapa ini terjadi. Tapi, aku merasa bersalah tidak bisa menjagamu, Audi."
"Jangan begitu, zac, ini salahku."
Zac mengusap puncak kepala Audrey."Kita pulang saja. Kau harus istirahat. Mulai sekarang...kau menjadi tanggung jawabku. Masalah Adam, aku akan cari jalan keluar. Jangan sedih, karena aku ada untukmu."
Audrey mengangguk haru. Mereka berdua pun pulang.
Sesampai di rumah, Audrey mendapati Bibi Evelyn duduk di sofa dengan berurai air mata.
"Bibi?" Audrey dan Zac panik melihat kondisi itu.
"Bibi kenapa?" Zac menggenggam kedua tangan Bibi Evelyn.
"Audrey...Kamu hamil?"
Zac dan Audrey mematung beberapa saat, kemudian saling bertukar pandang. Audrey berlutut di depan Bibi Evelyn, menangis tersedu-sedu.
"Bibi maafkan aku!"
"Ya Tuhan, Audrey. Aku sangat terkejut menemukan testpack di kamar mandimu. Aku sungguh tidak percaya ini terjadi," kata Bibi Evelyn sambil memegangi dadanya.
"Bibi, tenangkan pikiranmu. Kita bicarakan baik-baik." Zac mengusap lengan Bibi Evelyn.
"Bibi, maafkan aku. Aku sungguh tidak berguna."