Bab 8

1013 Words
Audrey melangkah keluar area kampus dengan kepala yang sakit. Seharian ini ia tidak fokus akibat memikirkan Adam yang gak mengakui anak di dalam kandungannya. Apa yang harus ia lakukan saat ini. Entah kenapa ia tak bisa mengeluarkan air mata, tapi jangan tanya bagaimana kondisi hatinya. Luluh lantak tak berbentuk. Ia pun segera naik angkutan umum yang lewat. "Adam...apa yang ada di pikiranmu...kenapa kau mengatakan bahwa ini bukanlah anakmu." Air mata Audrey mengalir saat ia ada di dalam bus. Tak peduli kalau ada orang lain yang melihat. Ia sudah tak sanggup menahan ini. Tapi, ada satu hal yang mengganjal di hati Audrey. Pikirannya kembali ke malam dimana mereka melakukan itu bersama. Sekarang ia baru terpikir kenapa dulu, ia tak menghindar saja. Atau lebih tepatnya menolak kelakuan kurang ajar dari mahasiswanya sendiri. Dengan bodohnya, ia menerima setiap sentuhan Adam. Bahkan mungkin ia mendesah. Audrey menutup wajahnya dengan malu. Tentunya malu pada diriku sendiri. Ia begitu 'murah' dan mudah terperdaya oleh lelaki tampan seperti Adam. Kini ia semakin sedih, dan menjadi terisak. Ia sudah masuk ke dalam lubang hitam yang akan membawanya ke dalam keburukan. Suara pintu terbuka menyadarkan Audrey kalau ia sudah tiba. Ia bergegas turun dan melangkah gontai. Bibi Evelyn menyambutnya dengan hangat."Audrey, kau sudah pulang. Syukurlah." Audrey berusaha tersenyum."Iya, Bi. Memangnya ada apa?" Bibi Evelyn kembali mengembangkan senyumnya yang penuh arti. Ia mengambil sesuatu dari lemari yang tak jauh dari meja makan."Ini ada hadiah untukmu." Audrey mengernyitkan keningnya."Hadiah? Kenapa Bibi repot sekali membelikan aku hadiah. Uang simpanan Bibi pasti habis." "Ini, kan Ulang tahunmu, Audrey. Selama ini aku tidak pernah memberikanmu apa-apa. Aku hanya menyusahkan." Bibi Evelyn menangis. Dari wajahnya terlihat begitu jelas, ia sangat sedih. Sementara Audrey hanya bisa meratapi dirinya sendiri. Ia bahkan tak ingat kalau ini adalah hati Ulang tahunnya. Ia tak lagi ingin mengingat kalau ia sedang berulang tahun sejak kepergian orangtuanya. Audrey memeluk Bibi Evelyn, perlahan air matanya mengalir."Terima kasih, Bibi. Kau adalah satu-satunya yang kumiliki. Jangan pernah merasa tidak enak. Aku sayang Bibi." Audrey semakin terisak. Bukan hanya karena kejutan yang diberikan Bibi Evelyn, tapi juga untuk kesedihannya yang ingat orangtua serta Adam yang gak mau bertanggung jawab. Rasanya ia tak akan bercerita kepada Bibi Evelyn. Biarlah ia akan cari solusi untuk perbuatannya sendiri. "Bukalah hadiahmu." Audrey melepaskan pelukannya, kemudian melihat sebuah kotak berwarna ungu dengan hiasan pita bewarna emas. Sangat indah. Air matanya kembali menetes saat melihat isinya."Ini indah sekali, Bibi. Pasti sangat mahal." Bibi Evelyn menggeleng."Ini adalah perhiasan milik Mamamu. Aku memang sengaja menyimpannya cukup lama. Akan aku hadiahkan di waktu yang tepat." "Terima kasih, Bi." "Hei, berhenti menangis. Aku sudah memasakkan makanan kesukaanmu." Bibi Evelyn menangkup wajah Audrey. Audrey tersenyum."Iya, Bi. Ayo kita makan. Aku juga sudah lapar." Audrey menutup kotak kado itu, menyimpannya di lemari yang tak jauh dari tempatnya berdiri Bibi Evelyn mengangguk, lantas ia mengambil piring dan mereka pun makan bersama. Sementara itu di tempat lain, Adam tengah duduk berdiam diri di sudut kamar Michele. Wanita itu pun heran melihat Adam mendadak menjadi pendiam. "Kau kenapa?" Tanya Michele memberanikan diri bertanya setelah mendapat bentakan siang tadi. Adam menatap Michele dengan wajah dinginnya."Tidak ada apa-apa. Entah berapa kali kau bertanya hal itu padaku, Michele. Aku juga menjawab dengan jawaban yang sama." Michele duduk di sebelah Adam dengan perlahan."Aku takut kau sakit. Atau kau memiliki masalah di luar sana." Adam mendecak sebal. Ia berdiri, lalu melangkah pergi. Michele menjadi kesal pada pria itu, ia langsung menarik lengan Adam."Apa yang kau lakukan. Apa kau pantas memperlakukan kekasihmu seperti itu?" Adam menatap Michele."Kita bukan kekasih." Michele menatap Adam tak percaya."Bukan kekasih? Apa maksudmu?" Adam membuang pandangannya sekilas, lalu menatap Michele kembali."Aku tidak pernah memintamu menjadi kekasihku. Kau saja yang selalu mengatakan pada orang-orang kalau kita ini sepasang kekasih. Kenyataannya tidak." Wajah Michele berubah pucat."Ma...Maaf, Adam. Tapi aku mencintaimu." Adam tak menjawab apapun. Pria itu berlalu meninggalkan Michele begitu saja. Ekspresinya sulit diartikan. Bahkan Michele sendiri yang sudah cukup lama mengenal Adam Evans, masih belum paham dengan sikap dan karakternya. Pikiran Adam semakin berkecamuk pasca Audrey datang dan mengatakan bahwa gadis itu tengah mengandung anaknya.  Rasanya tidak mungkin mengingat Dosennya itu sering pergi bersama Zac, salah satu Billionare di kota ini. Adam benar-benar kesal. Pria itu berjalan keluar dari apartemen Michele. Di lobi, sebuah mobil mewah sudah menanti dan siap membawanya kemana pun yang ia mau. Adam memerintahkan sang supir untuk membawanya ke sebuah Club malam. Ia ingin menghilangkan rasa sakit di kepalanya. Audrey terbaring di tempat tidur, matanya menatap ke arah luar jendela yang ia buka lebar dengan nanar. Air matanya mengalir, memikirkan kehamilannya. Ia bingung harus bagaimana. Apakah jika ia mengatakan pada Bibi Evelyn, wanita itu akan menerima. Audrey benar-benar takut. Tapi, ia paham kalau ini adalah konsekuensi yang harus ia hadapi. Pintu kamar Audrey diketuk. Bibi Evelyn muncul dengan segelas s**u hangat. “Audrey...kau sedang apa?" Audrey buru-buru menyeka air matanya."Bibi...kenapa repot sekali membawakan Audrey s**u. Nanti Audrey ambil sendiri." Bibi Evelyn mengusap pipi keponakannya itu dengan penuh kasih sayang."Kau sudah bekerja begitu keras untuk membiayai hidup kita. Ini salah satu bentuk rasa sayangku padamu. Aku berharap kau segera menemukan tambatan hatimu dan menikah." Mendengar kata pernikahan, hati Audrey berdenyut. Sekarang ia tengah mengandung anak Adam. Pria itu tak mau bertanggung jawab. Pernikahan yang bagaimana yang ia inginkan sudahlah pupus tinggal kenangan."Menikah? Aku tidak tau. Bibi." Bibi Evelyn menatap keponakannya itu heran."Kenapa kau bersedih? Apa pertanyaanku membuatmu terluka? Maafkan aku." Audrey tersenyum."Tidak, Bi. Aku hanya ...sedih jika aku menikah nanti. Tentu...tidak ada yang memperhatikan Bibi. Perhatianku tentu sedikit banyaknya berkurang." "Kau terlalu memikirkanku sampai lupa memikirkan dirimu sendiri." Bibi Evelyn tersenyum. "Aku menyayangimu lebih dari apapun." Audrey memeluk Bibi Evelyn. Spontan Bibi Evelyn merentangkan tangannya agar s**u yang ia pegang tidak tumpah mengenai Audrey. "Aku juga menyayangimu, Audrey. Lebih dari nyawaku," bisik Bibi Audrey dengan haru. Satu tangannya mengusap punggung Audrey. "Terima kasih, Bi." Audrey melepaskan pelukannya. "Minumlah susumu." Audrey mengangguk. Ia meraih segelas s**u dari tangan Bibi Evelyn dan meneguknya. Tiba-tiba, perutnya terasa diaduk begitu kencang. Ia segera meletakkan s**u ke atas nakas dan berlari ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya. "Audrey? Kau baik-baik saja?" Bibi Evelyn menyusul ke dalam kamar mandi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD