"Saya punya tanah 10 hektar, 7 hektar di antaranya aktif ditanami padi dan sayuran. Kalo Dek Rinja mau sama saya, wes tanah 1 hektarnya buat bapak sampeyan." ucap seorang laki-laki tua dengan kumis tebal di bawah hidungnya. Sedang rambut di kepalanya sudah memutih setengahnya.
Laki-laki yang lebih pantas menjadi ayah Rinjani itu tengah mengiming-imingi kembang desa di hadapannya dengan harapan Rinjani tertarik dengan harta yang ia miliki. Namanya Pak Broto, juragan tanah yang terkenal kaya raya sekecamatan.
"Tapi kan bapak sudah punya dua istri." sangkal Rinjani dengan nada sopan.
"Sssttt, kan saya sudah bilang. Panggil Mas saja, Dek, jangan bapak. Kesannya saya sudah tua banget gitu, loh! Kikikikik ...." ucapnya sambil terkekeh.
Rinjani mengalihkan wajahnya ke sisi kanan, diam-diam gadis itu menahan tawanya lalu sedikit menggelengkan kepala.
"Emang udah tua, masa gak nyadar?" lirihnya setengah berbisik, ia menahan senyumnya. Bu Rima yang mendengar lirihan anaknya itu mendesis sambil menatap tajam, menyeru untuk diam dan kembali bersikap sopan. Melihat ibunya, Rinjani langsung berekspresi tenang seperti tadi, lalu menolehkan kepalanya lagi dengan pandangan lurus ke depan.
"Iya Mas, maaf. Tapi kan Mas sudah punya dua istri?" ucap Rinjani mengulangi pertanyaannya.
"Tidak apa-apa, kamu jadi yang ketiga. Tenang saja, pasti kamu akan diperlakukan dengan sangat baik sama kakak madumu."
Rinjani kembali menahan tawanya, belum apa-apa dia sudah menyebut istri-istrinya itu sebagai 'kakak madumu'. Siapa juga yang mau jadi istrinya? Sudah tua, jadi yang ketiga lagi.
"Hadeuuhhh ...." lirihnya tak habis fikir.
"Jadi bagaimana? Apa Dek Rinja mau menerima saya? Ingat ada tanah satu hektar yang siap Dek Rinja dan Pak Suja dapatkan kalau mau menerima lamaran saya ini."
Di sudut hatinya, gadis bersurai hitam itu muak mendengar segala iming-imingan laki-laki tua di hadapannya. Apa dia pikir dengan memiliki harta banyak bisa membeli semua orang yang dia inginkan? Sebelum juragan tanah ini pun, ada juragan sawit dan juragan ayam juga yang sama-sama mengiming-imingi dirinya dengan menjanjikan harta mereka. Apa mereka pikir dia tertarik?
Tidak!
Sama sekali tidak!
Kalau mereka pikir Rinjani akan langsung menerima saat ditawari harta, maka mereka salah besar. Sebab gadis yang terkenal sebagai kembang desa itu bukan gadis materialistis. Semua orang memuji dirinya. Cantik, cerdas, berpendirian kuat, lembut dan ... setia. Namun sayang, kesetiaannya itu sering sekali dicemooh orang. Mereka bilang Rinjani bodoh. Entah ....
Rinjani menatap bapak dan ibunya, mereka semua tidak bereaksi apapun. Sama seperti sebelum-sebelumnya, mau menyebut kekayaan apapun yang ditawarkan kepada keluarga yang ekonominya pas-pasan tersebut, tidak satupun dari mereka ada yang tertarik.
Bapaknya Rinjani hanya seorang petani kecil. Di desa yang segalanya masih alami, kalau untuk makan mereka tidak kesulitan. Sebab, ada hasil ladang yang bisa dijadikan makanan setiap harinya. Tapi kalau masalah keuangan sangatlah pas-pasan, berapa rupiah yang bisa didapatkan oleh seorang petani kecil? Panen pun hanya beberapa bulan sekali, itu pun hasilnya tidak seberapa. Meski begitu, pantang bagi orangtuanya Rinjani untuk menjual anak mereka hanya demi harta yang tidak seberapa itu, kebahagiaan anaknya di atas segalanya.
"Sebagai orangtua, kami menyerahkan keputusan ini kepada Rinjani sepenuhnya. Karena yang akan menjalaninya adalah Rinjani, maka sebagai orangtua kami hanya bisa mendukung apapun itu keputusan dia." ungkap Pak Suja memberikan pendapatnya.
Sungguh, bagi Rinjani dia adalah anak paling beruntung di dunia. Mempunyai kedua orangtua yang pengertian dan tidak menuntut apa-apa. Membebaskan ia untuk menerima atau pun menolak setiap lamaran yang datang. Rinjani tahu, bohong jika kedua orangtuanya tak tergiur dengan iming-iming yang sudah beberapa kali ditawarkan. Tapi mereka selalu mengutamakan perasaan Rinjani di atas segalanya. Mungkin, jika saja ia dilahirkan dari rahim orangtua yang lain, bisa saja dari awal datangnya lamaran, ia sudah disuruh untuk menerima mereka. Maka dengan bangga gadis itu mengakui, kedua orangtuanya adalah yang terbaik sejagat raya.
"Bagaimana, Rinjani? Jadi apa keputusan kamu, Nak?" tanya Pak Suja, yang sebenarnya sudah diketahui pasti jawabannya.
Rinjani menarik nafas sesaat, lalu menghembuskannya.
"Maaf Mas Broto, saya tidak bisa menerima lamaran ini." ucapnya dengan tegas tanpa keraguan sedikit pun.
Inilah lamaran ke-21 yang telah Rinjani tolak mentah-mentah. Hatinya kukuh mempertahankan cintanya pada Wira.
Rinjani tidak tahu, di kejauhan sana kekasih yang diperjuangkan mati-matian itu kini tengah bergandengan tangan bersama wanitanya yang baru, sambil bergaya dengan pose-pose mesra di depan kamera yang akan mengabadikan moment-moment berharga mereka.
Senyum dan tawa menghiasi wajah tampannya, laki-laki itu nampak gagah dengan jas burgundy yang senada dengan gaun pengantin bertema mermaid dress yang Sera kenakan. Gaun yang mengikuti lekukan tubuh seperti gitar spanyol dengan bawahan seperti duyung itu nampak indah membentuk body model cantik tersebut, memberikan kesan seksi dan elegan.
"Sekarang peluk pinggang istrinya rapat-rapat, kalian saling berhadapan dan bertatap-tatapan dengan penuh cinta. Sera tempelkan tanganmu di wajah suamimu, lalu berikan senyuman kalian, ya. Ingat, tatap masing-masing dengan mesra! Saya akan mengambil gambarnya dari dekat." ucap seorang fotografer memberi arahan.
"Hey, gak perlu sedetail itu aku pun mengerti. Kau lupa aku ini model, heh?" protes Sera tidak terima.
Lalu mereka terbahak sesaat. Sampai kemudian mereka memperagakan pose tersebut.
'Maaf Rinjani, maaf ....' batin Wira.
Bibirnya boleh tersenyum bahagia, tapi di sudut hatinya yang terdalam laki-laki itu hanya menyebutkan nama Rinjani sedari tadi.
***
Minimarket FioMart, Jakarta
-Terungkap! Ahli Waris Hutama Group akhirnya diumumkan!-
Sebuah siaran televisi yang memberitakan Sang Pewaris Keluarga Hutama Group itu sukses mengalihkan perhatian para pegawai di sebuah minimarket.
"Pak Fio! Itu kan Pak Fio!" teriak seorang gadis yang menjaga kasir sambil menunjuk-nunjuk televisi yang dipasang di tembok.
Sontak teriakannya membuat teman-temannya yang sedang fokus dengan tugasnya masing-masing itu menoleh dan menatap layar.
"Hahh? Benar itu Pak Fio! Ya ampunn!!!
"Astaga! Jadi Pak Fio dari keluarga Hutama yang kaya itu?"
"Iya Hutama Group yang punya perusahaan tekstil itu, kan?" Ucap mereka satu persatu dengan ekspresi terkejut.
Seiring dengan hal besar yang baru mereka ketahui, sosok tersebut akhirnya datang. Laki-laki berbadan tegap yang memakai jas hitam dengan pandangan mata setajam elang itu masuk dengan langkah seperti mengintimidasi. Awalnya ia melewati para pegawainya yang sedang berkumpul itu begitu saja, sampai akhirnya langkahnya berhenti dengan kepala yang masih lurus ke depan. Membuat para pegawai berseragam biru tersebut berdebar di detik-detik kepala laki-laki berjas hitam itu menoleh.
Laki-laki bernama Fiovi itu memicingkan mata. Pegawainya kini tengah melihat ke arahnya semua dengan pandangan seperti orang-orang bodoh. Mulut menganga dan mata yang tertuju padanya tanpa berkedip.
"Apa yang kalian lihat? Kerja yang benar!" sentaknya dengan galak.
"Mentang-mentang gak ada pelanggan, kalian bebas kumpul-kumpul dan bergosip gitu?" Kalimatnya begitu tajam dan menusuk. Tidak ada senyum yang terpancar di wajahnya sama sekali.
Ahh bahkan mereka tidak ingat, kapan bossnya itu pernah tersenyum, apalagi tertawa. Mereka tidak ingat, bagaimana parasnya jika laki-laki tampan itu tersenyum. Apakah terlihat semakin tampan? Ataukah justru sebaliknya? Sungguh mereka tidak ingat! Sumpah!
"A-anu, emmm itu ...." tergagap sang kasir yang bernama Ratna itu bicara.
"A-anu, Pak. Ki-kita, la-lagi lihat si-siaran di tv. I-itu bapak, kan?" tanya laki-laki yang tugasnya mengecek stok barang, dan dia lebih gagap lagi. Namanya Galuh.
Memang seperti itulah jika berhadapan dengan Fiovi. Mereka menjadi gagap mendadak. Saking takutnya pada laki-laki yang selalu menatap mereka dengan tatapan mautnya itu.
"Memangnya kenapa kalau itu saya? Masalah buat kalian?"
Dan para pegawai itu kini hanya bisa saling sikut, untuk bergantian menjawab perkataan boss killernya itu. Salah-salah kata, bisa habis mereka dibentak-bentak.
"Ki-kita cu-cuma kaget, ternyata ba-bapak pewaris Keluarga Hutama yang kaya itu."
"I-iya begitu, Pak."
"Ki-kita gak bergosip sama sekali, Pak. Pas lihat bapak di tv, jadi pengen lihat dari dekat. Makanya jadi kelihatan kumpul di sini."
Fiovi terdiam sambil menatap lima orang pegawainya satu persatu. Mereka berdiri berjejer dengan kedua tangan saling mengepal. Fiovi tidak tahu, mengapa saat berhadapan dengannya para pegawai itu akan melakukan hal tersebut sambil menundukkan kepalanya masing-masing. Laki-laki itu pun tidak tahu, bahwa di mata mereka ia semengerikan itu.
"Oke bagus kalau kalian sudah tahu. Sebab mulai dari sekarang saya tidak bisa setiap hari datang ke sini. Dan selama saya tidak di sini, bekerjalah sesuai aturan. Ingat, terapkan kedisiplinan dan kejujuran! Siapapun yang terlihat berbuat curang dan tidak jujur, saya langsung mendepak kalian tanpa ampun."
Mendengarnya, mereka langsung mengangguk dengan wajah tegang seketika.
"Dan kamu Mita!" ucapnya dengan telunjuk mengarah pada gadis yang paling pinggir.
"Sa-saya, Pak."
"Kamu saya pecat!"
Kepala gadis itu langsung mengangkat, matanya membulat.
"Di-dipecat? Ta-tapi kenapa, Pak?"
"Jangan pikir kamu bisa membodohi saya, apa kamu fikir saya tidak tahu dengan laporan keuangan dan setoran yang kamu berikan itu? Semuanya tidak sesuai dengan pendapatan yang masuk. Kau ... korupsi hampir setiap hari!"
Wajah-wajah empat orang itu langsung menolehkan kepala mereka kepada gadis bernama Mita dengan pandangan kaget. Wajahnya sudah pucat pasi dengan mulut terbuka. Keringat sebesar biji jagung membasahi pelipisnya.
"Saya sudah membiarkan kamu asyik dengan kecuranganmu itu terlalu lama! Sekarang, silakan keluar dari toko saya! Mulai dari sekarang kamu bukan pegawai saya lagi!" ucapnya final dan tak terbantahkan, sedangkan gadis itu hanya terpaku saking syoknya. Ia tidak menyangka, laporan yang ia buat dengan begitu sempurna itu bisa dilihat kebohongannya.
"Oh iya, saat saya panggil kamu, silakan masuk ke ruangan saya. Saya akan membayar upah kamu yang tersisa!"
Kali ini Fiovi menatap mereka satu persatu.
"Dari awal kalian berada di sini, saya sudah menekankan kalian untuk jujur dan disiplin. Sepertinya kalian tidak melihat ya, bahwa saya sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran dan kedisiplinan kalian? Atau saya kurang mendidik kalian dengan keras?
Oke ini contoh buat yang lain, kalau kalian berani bersikap curang seperti dia, maka kalian akan keluar dengan tidak terhormat!
Dan kalian berempat! Carikan saya pegawai yang baru pengganti Mita. Harus yang jujur dan disiplin! Kalau dia sama buruknya seperti Mita, bukan hanya dia yang saya depak, kalian yang membawanya juga yang saya depak!"
Deg!
Kini wajah empat orang itu jadi lebih pucat dari Mita sendiri.
***