Malam semakin larut, tapi udara di Jakarta tidak ada yang berubah. Mau pagi, siang atau pun malam, hawanya sama saja. Panas.
Wira menatap langit cerah di atasnya lewat balkon kamar. Resepsi pernikahannya yang meriah itu sudah selesai, dan di sinilah ia malam ini, yaitu rumah Pak Handoko. Mulai malam ini ia resmi mendiami rumah atasannya yang telah berganti menjadi mertuanya itu. Laki-laki yang telah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur itu merenung, jika orang-orang bahagia dengan pernikahannya, maka tidak pada dirinya. Ia teringat Rinjani sedari tadi, hari ini ia belum menghubungi gadisnya sama sekali. Wira yakin, pasti Rinjani sedang menunggu-nunggu kabar darinya. Seperti hal yang biasa Rinjani katakan kalau Wira telat memberi kabar,
"Kak aku nunggu kabar dari kakak sedari tadi."
"Kakak lama banget kerjanya. Aku kangen pengen ditelepon."
"Kak, tahu gak? Aku jamuran ngeliatin layar handphone terus, berharap kakak kasih kabar di detik itu juga!"
Seperti itulah respon Rinjani kalau Wira lama tidak memberinya kabar. Mengingatnya, Wira jadi senyum-senyum sendiri. Rasanya, hanya dengan mengingatnya saja hatinya menjadi tenang. Apalagi jika gadis itu berada di sisinya?
Wira merogoh saku celana dan mengambil handphone-nya. Seharian ini hapenya dinon-aktifkan. Ia ingin menghubungi Rinjani, sudah tiga hari ia tidak melihat wajah ayu itu. Terakhir video call saat ia berbohong pada Rinjani mengenai hari liburnya. Rasa rindu menguasai hatinya.
'Rinjani, Rinjani, Rinjani.'
Hanya Rinjani yang ia sebut dalam hatinya. Baru saja hendak menekan tombol power, saat Sera tiba-tiba memanggil.
"Mas ...."
Wira tersentak, gerakannya berhenti. Laki-laki itu mengembuskan nafas, ia pikir Sera akan menghabiskan waktu yang lama di kamar mandi, perempuan 'kan biasanya seperti itu. Tapi ia harus menelan kekecewaan saat gadis itu memanggilnya. Padahal baru belum lama ia berdiri di balkon itu.
Wira memasukkan kembali handphone-nya ke dalam saku, lalu memilih memenuhi panggilan istrinya terlebih dahulu. Laki-laki itu menghembuskan nafasnya kembali, sepertinya menghubungi Rinjani nanti saja, kalau istrinya itu sudah tertidur. Sera pasti akan tertidur dengan cepat, sebab gadis itu pasti kelelahan seharian ini terus berdiri menyalami tamu yang datang.
'Sabar ya, Rinjani sayang. Kakak janji pasti hubungi kamu malam ini. Sabarlah sebentar.' batinnya.
"Mas Wira, kamu dimana?" panggil Sera sekali lagi.
"Aku di sini, Sayang." sahutnya sambil membuka pintu yang menghubungkan kamar Sera dengan balkon.
Detik selanjutnya Wira terperanjat. Ia berdiri terpaku dengan tangan yang masih memegang handle pintu saat melihat Sera yang ... yang hanya memakai sebuah lingerie yang sangat tipis hingga lekuk tubuhnya terlihat di pandangannya kini.
Deg!
Dalam sekejap, darah laki-laki itu terasa berdesir.
"Mas kamu di sana?" tanyanya dengan tatapan lembut. Bibir yang ranum dan tampak mengkilap itu tersenyum. Gadis itu nampak bercahaya, kulit yang putih berpadu dengan lingerie berwarna merah menyala itu terlihat sangat menantang.
Penampilan Sera malam ini sukses membangkitkan hasrat dan naluri Wira sebagai seorang laki-laki dewasa yang normal. Wangi ruangan terasa memabukkan, lalu ... wajah Sera yang tengah memberikan senyuman menggoda kepadanya. Laki-laki itu terdiam, seakan wajah Rinjani yang sedari tadi hadir di pelupuk matanya itu kini langsung raib entah kemana. Wira meneguk ludahnya sendiri, sampai jakunnya terlihat bergerak turun.
Sera mendekat dengan langkah s*****l, setiap detiknya akan ia rekam baik-baik. Bagaimana ekspresi wajah itu yang selalu terlihat tenang dengan sorot mata yang teduh kini mulai berkabut karena gairah. Ya, dia sukses membuat suaminya b*******h hanya dari pandangan pertama saja.
"Sera?" ucap Wira dengan suara serak.
Senyum di wajah Sera tidak memudar, gadis cantik dengan rambut sebahu itu berdiri merapatkan tubuhnya kepada Wira yang langsung ditanggapi Wira dengan memeluk pinggangnya.
"Mas ...."
"Hmmmm?"
"Ini malam pertama kita." bisiknya tepat di telinga Wira hingga laki-laki itu meremang.
Wira tersenyum, lalu menggendong tubuh berlapis kain tipis itu ke atas kasur. Saat lampu utama dimatikan, segala hal tentang Rinjani dan kegalauannya tentang gadisnya itu hilang sudah, meluap entah kemana. Dalam sekejap, ingatan tentang Rinjani raib dan berganti dengan Sera, Sera dan Sera.
Malam itu, aktifitas panas yang mereka lakukan sukses membuat Wira benar-benar lupa sesaat pada keberadaan Rinjani yang sampai malam ini masih menunggu kabar darinya.
***
Rinjani mengetuk-ngetuk meja dengan sisi kepala yang bersandar di atasnya. Ditatapnya benda pipih dengan layar hitam di hadapannya yang ia sandarkan pada tumpukan buku-buku yang menjadi teman kala rasa bosan melanda. Entah sudah berapa jam matanya terpaku pada layar gelap tersebut. Berharap layar tersebut menyala, lalu ada pesan masuk dan Wira memberinya kabar. Tapi harapannya tidak juga terkabul.
Semakin larut, udara semakin dingin. Gadis desa yang tinggal di kaki gunung itu merapatkan selimut lembut yang sedari tadi membungkus tubuhnya. Sementara ia masih berharap kiranya Wira mengiriminya pesan. Suara jangkrik yang bersahut-sahutan menjadi melodi yang menemani malam panjangnya. Hatinya gelisah, matanya pun tak bisa terpejam. Apalagi saat mendapati pesan yang sedari pagi ia kirim itu masih saja bercentang satu. Itu artinya pesannya bahkan belum sampai kepada Wira.
Sekali lagi, Rinjani mengiriminya pesan.
[Aku masih menunggu kabar dari kakak, semoga kakak baik-baik aja :)]
Pesannya boleh memberikan senyuman, tapi kenyataannya gadis itu malah sedang menangis sekarang. Berbagai rasa berkecamuk dalam hatinya. Antara gelisah, khawatir, sedih, takut dan rindu bercampur menjadi satu.
'Sedang apa kakak sekarang?' batin gadis itu dalam tatapan kosongnya.
Maka jawabannya adalah, Wira sedang asyik b******u dengan wanita yang baru dinikahinya itu.
'Kabarilah aku, Kak. Satu kalimat saja, aku bisa langsung tertidur dengan tenang.'
Tidak akan mungkin, dia bahkan lupa belum mengabarimu dari kemarin malam.
'Apa yang sebenarnya terjadi, Kak? Belakangan, aku merasa ada yang aneh.'
Firasatmu memang tidak salah!
Rinjani menghirup udara banyak-banyak, air matanya kembali menetes dan berjatuhan. Wira yang entah bagaimana kabarnya, pigura yang pecah tadi dengan foto mereka yang blur membuat jantungnya berdebar-debar saat memikirkan ...
Mungkinkah sesuatu yang buruk terjadi pada Wira?
Sedangkan di kamar luas dengan ranjang king size itu, tepat saat Wira melepas keperjakaannya, Rinjani langsung luruh ke lantai. Ia memegangi d**a yang tiba-tiba terasa sesak, sakit dan membuatnya kesulitan bernafas.
Air matanya berjatuhan dengan deras, sementara tangannya mengepal dan memukul-mukul dadanya sendiri. Perasaan apa ini? Mengapa hati Rinjani terasa begitu sakit? Mengapa dadanya terasa sesak? Rinjani terisak tanpa suara, oleh sesuatu yang entah tidak diketahui sebabnya.
Lelah menunggu Wira sedari magrib, gadis cantik dengan mata sembab itu meringkuk di atas lantai semennya yang sudah tidak terasa dingin lagi baginya. Entah kenapa hatinya lebih dingin dari udara malam di kaki gunung itu. Matanya menatap langit-langit kamar dengan cahaya lampu yang redup.
"Kak ...." lirihnya masih menyebut Wira di sela rasa sakitnya, lalu matanya terpejam rapat.
***
Pukul empat pagi Wira terbangun dari tidurnya. Laki-laki itu langsung mendapati Sera yang berada dalam pelukannya tanpa sehelai benang pun, pun dengan dirinya. Matanya membulat saat mengingat aktifitas yang ia lakukan semalam bersama Sera, dan seketika rasa bersalah itu menguasai hatinya kini.
Rinjani ....
Kembali ia teringat akan sosok gadis itu. Semalam itu, Sera benar-benar membuatnya lupa pada Rinjani. Bahkan janjinya yang ingin menghubungi Rinjani pun tak ia tepati. Wira tidak menyangka, malam itu mereka akan berakhir seperti itu.
"Ckkkk!" Wira mengusap wajahnya kasar, bagaimana bisa ia bertindak sekejam itu pada Rinjani? Di saat gadisnya menunggu kabar darinya, tapi ia malah asyik b******u dan menuntaskan hasratnya?
'b******k kau, Wira.' makinya pada diri sendiri.
Tapi di sisi lain ia merasa bahwa dirinya tidak salah, bukankah memang harus seperti itu saat laki-laki dan perempuan menikah? Salah satu tujuan menikah adalah itu ... menuntaskan hasrat.
Memindahkan kepala Sera yang bersandar di dadanya dengan pelan-pelan, Wira bangkit dari posisinya dan segera meraih handuk. Ia meraih celananya di sisi ranjang, dan membawanya ke kamar mandi. Di dalam celananya itu, ada handphonenya. Di atas toilet duduk, Wira merebahkan pantatnya di sana. Lalu mengaktifkan benda pipih yang diambilnya dari saku celana, benda itu telah dimatikan seharian kemarin.
Dua pesan masuk dari Rinjani begitu handphone menyala, saat membacanya langsung membuat Wira kembali merasa bersalah.
"Maaf, Rinjani. Maaf ...."
Wira mengetik pesan balasan dan meminta maaf, sedangkan di kejauhan sana, gadis yang terlelap di lantai dingin itu kini malah menggigil dengan suhu tubuh yang sangat panas. Ia pindah ke ranjangnya yang sempit. Rinjani demam, tapi masih menyempatkan diri untuk membuka handphone-nya.
Bibirnya langsung mengulas senyum saat melihat Wira membalas pesannya di pagi buta tersebut yang berisi permintaan maafnya. Laki-laki itu pun menceritakan keadaannya yang sehat wal afiat. Meski suhu tubuhnya panas, tapi binar di wajah Rinjani tetap terlihat cantik. Gadis itu senang mengetahui keadaan Wira yang baik-baik saja. Itu artinya ... pigura yang jatuh itu tidak bermakna apa-apa. Setidaknya, itulah yang ada di pikiran Rinjani untuk saat ini.
[Kak.]
[Iya sayang?]
[Aku sakit.]
[Jangan sakit, Rinjani. Kakak mohon!]
[Semalam kakak kemana?]
Wira terdiam saat membaca pesan tersebut. Mengapa Rinjani harus menanyakan hal yang semalam itu?
[Kakak ketiduran.]
[Semalam dadaku sesak entah kenapa.]
Wira kembali terdiam. Rinjani ... gadis itu menumbuhkan kembali rasa bersalah di hati Wira.
[Jaga kesehatan, kakak gak mau kamu sakit.]
[Aku juga gak mau kakak sakit.]
[InsyaAllah kakak selalu baik-baik aja, jangan khawatirkan kakak, ya?]
[Kak?]
[Iya, sayang?]
[Aku kangen, pengen ditelepon.]
Wira terdiam melihat pesan tersebut. Apa yang harus ia katakan pada Rinjani? Ia tidak bisa menelponnya di saat seperti ini.
"Mas?" Di saat yang bersamaan Sera memanggilnya. Laki-laki itu menghembuskan nafasnya, lalu mendesah lirih.
"Mas?"
"Mas di sini, Sayang." sahutnya dari dalam kamar mandi.
"Mas lagi apa?"
"Emmm aku sedikit mules. Kamu tidur lagi aja, ya? Kamu pasti masih capek."
"Tapi kamu jangan kemana-mana. Nanti berbaring di sisi aku lagi, ya?" pintanya dengan manja.
"Pasti."
"Aku tungguin loh!"
"Iya, Sayang."
Merasa tak aman, Wira segera menyudahi chattingan-nya dengan Rinjani.
[Kakak gak bisa telepon kamu sekarang, Rinjani. Kakak off dulu, ya. Ingat, jangan menghubungi kakak kalau kakak belum menghubungi kamu. Jaga kesehatan selalu, love you.]
Satu tetes air mata Rinjani terjatuh kembali. Entah, apa dirinya yang terlalu membawa hati dan baper atau memang Wira-nya yang mulai berubah? Satu hal yang Rinjani sadari, kekasihnya itu sekarang ... aneh!
***