Rinjani keluar dari kamarnya saat matahari keluar dari peraduannya. Wangi kopi menguar menusuk indra penciuman, juga aroma manisnya pisang yang digoreng. Gadis itu sudah lebih baik dari dinihari tadi, demamnya sudah turun dan tubuhnya sudah cukup kuat untuk digerakkan kembali. Entah apa yang terjadi dengan tubuhnya itu, tapi Rinjani merasa setiap kali perasaannya tidak enak maka tubuhnya pun akan melemah. Entahlah ....
"Wajah kamu kelihatan pucat, Nak. Kamu sakit?" tanya Pak Suja mengamati anak gadisnya lekat-lekat yang berdiri di ambang pintu ruang tengah dengan dapur. Laki-laki paruh baya yang baru saja menginjak kepala lima itu tengah menikmati pisang goreng dengan kopi hitam di hadapannya, tudung kepalanya sudah tersampir di meja, tanda bahwa ia sudah siap berangkat ke sawah.
Rinjani menyentuh pipinya yang kemerahan dengan punggung tangan, meraba suhu tubuhnya di sana yang kini sudah terasa dingin.
"Subuh tadi Rinja demam, Pak. Tapi sekarang sudah enakan." sahut gadis bersurai panjang itu lalu duduk di sebelah bapaknya.
"Pantesan bangunnya siang. Suruh adikmu beli obat di warung,"
Rinjani mengangguk, lalu menatap bapaknya seakan ada hal yang ingin dibicarakan.
"Pak, Rinja ... minta maaf."
Pak Suja menatap anaknya, meski bibirnya terkunci, tapi wajahnya menunjukkan sebuah tanda tanya.
"Bapak pasti kecewa sama Rinja karena selalu menolak lamaran." Gadis itu menunduk, sambil memainkan jari jemarinya yang lentik.
Terdengar helaan nafas dari laki-laki yang mewariskan sikap keras kepala dan ketegasan kepada gadis cantik itu, ia menyesap kopinya yang terlihat masih mengepulkan asap.
"Mau bagaimana lagi, bapak mengerti perasaan kamu tidak mungkin bisa dipaksakan. Bagi bapak dan ibu, kebahagiaan kamu dan adik-adik kamu itu nomor satu, Rinja. Bapak memang tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk kalian, tapi setidaknya bapak tidak akan memaksa anak-anak bapak untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya."
Kali ini gadis itu mulai berkaca-kaca, hatinya tersentuh. Ahh sungguh, kedua orangtuanya itu adalah orangtua terbaik sedunia, sejagat raya.
"Hanya saja ada yang bapak khawatirkan."
"Apa itu, Pak?"
"Kamu melakukan semua ini, karena kesetiaan kamu terhadap Wira. Tapi ... selama setahun lebih ini bahkan laki-laki itu belum pulang-pulang juga. Rinjani, Nak ... apa kamu benar-benar yakin bahwa di sana Wira benar-benar setia? Bapak hanya takut ... setelah semua yang telah kamu lakukan untuknya, malah dia sendiri yang berkhianat."
"Kak Wira bukan orang seperti itu, Pak." sahutnya lemah. Ia memejamkan matanya, mencoba meyakinkan diri bahwa Wira tidak mungkin bersikap seperti itu, di sela-sela keanehan yang ia tunjukkan belakangan ini, Rinjani mencoba meyakinkan diri bahwa Wiranya masih seperti dulu. Mencintainya sepenuh hati, dan setia sampai mati.
Pak Suja manggut-manggut, jika itu keyakinan anaknya, maka ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yang ia khawatirkan hanya itu, tapi melihat keyakinan yang Rinjani tunjukkan, memang sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
***
"Rinjani, dengar-dengar kemarin sore juragan tanah Pak Broto datang ke rumah kamu?" tanya salah seorang gadis yang sedang menyikat baju di atas batu besar.
"Ngapain, Rinjani? Ngelamar kamu lain?" tanya gadis yang lainnya.
Rinjani baru saja sampai, tapi sudah diberondong dengan pertanyaan itu lagi.
"Huuffttt ...." Rinjani menghela nafas bosan, membuat poni yang menutupi dahi itu bergerak karena tiupannya barusan.
"Kata siapa kamu teh, Lilis? Dia datang karena ada perlu sama bapak." sangkal Rinjani tidak mau berkata apa adanya, malas menanggapi ocehan mereka yang pasti akan menyudutkan Rinjani kembali saat tahu lagi-lagi Rinjani menolak lamaran.
"Ohh ada perlu sama bapak kamu, sugan teh kamu dilamar lagi. Hehehe ...."
Rinjani mengangkat sudut bibirnya sebelah, khas gadis itu kalau sedang kesal. Kalau berekspresi seperti itu, wajahnya jadi terlihat judes. Untung Lilis dan Neneng tidak melihatnya.
"Tumben datangnya siang? Lihat nih, kami sudah selesai nyucinya. Orang-orang juga sudah pada pergi, Rinjani."
"Tadi aku kurang enak badan, jadi baru bisa sekarang."
"Ohhh." Sahut kedua temannya itu hingga mulutnya membentuk huruf o.
'Sengaja, supaya gak bertemu sama lambe-lambe turah dan terhindar dari pertanyaan yang macem-macem.' lanjutnya dalam hati.
Sepanjang mencuci baju, Rinjani jadi terpikirkan akan sampai kapan dirinya menjadi seperti ini? Selama ia belum menikah, mungkin saja lamaran itu akan terus datang. Dan selama itu juga ia akan terus menolak mereka. Artinya, tetangganya yang tahu pasti akan terus menyudutkan dirinya. Sedangkan Wira, entah kapan ia akan pulang dan menikahinya. Sekarang usianya sudah 23 tahun, usia yang sudah sangat pas untuk menikah untuk ukuran wanita desa. Orangtuanya tidak pernah menuntut dirinya, mereka sangat menghargai perasaan Rinjani, tapi pembicaraan tetangga kanan-kiri itu sangat mengganggu.
Kebanyakan, gadis-gadis di desanya menikah saat lulus sekolah. Di usia yang masih sangat muda. Namun tidak sedikit juga dari mereka yang masih melajang di usia 23-25 tahun. Usia itu masih terbilang aman kalau belum menikah juga. Tapi kalau sudah 25 tahun ke atas, sudah jadi pembicaraan satu kampung. Seperti Risma yang usianya sudah 28 tahun dan masih sendiri juga, predikat perawan tua itu sudah melekat dalam dirinya. Maklum, namanya juga tinggal di desa, berbeda dengan di kota yang tidak terlalu menjunjung hal tersebut.
"Huuhh, aku berada di posisi yang sulit." gumamnya memikirkan segala hal yang berkecamuk.
"Usiaku sudah 23 tahun sekarang, lihatlah Kak, dua tahun lagi kalau kakak belum juga datang melamar, maka kekasih cantikmu ini akan disebut sebagai perawan tua. Kakak tega, heh, membuatku dipanggil seperti itu?" ucapnya sendirian sambil bersungut-sungut. Terdengar sangat kepedean.
"Kakak belum tahu aja ya, aku sudah dilamar oleh 21 laki-laki, lho! Aku gak mau cerita aja supaya di sana kakak bisa kerja dengan tenang. Coba kalau aku membeberkan semuanya, pasti kakak akan ketakutan aku diambil orang lain pada akhirnya. Huh!" Kembali ia berucap sendirian, kali ini sambil membilas bajunya.
"Gimana ya caranya supaya aku bisa terhindar dari situasi ini?"
Detik kemudian gerakan tangannya berhenti, ia menatap kosong pada aliran air yang mengalir tenang, lalu menjadi tak terkendali saat menabrak batu-batuan besar di depan sana.
"Ahh andai aku juga bisa pergi ke kota! Pasti akan jadi menyenangkan, apalagi bisa menyusul Kak Wira!"
Untuk saat ini hal itu hanya jadi khayalannya saja, tapi ia tidak tahu hal itu akan benar-benar terjadi padanya nanti.
***
"Hati-hati di jalan ya, Bu, Pak." Wira memeluk bapak dan ibunya bergantian.
Pagi ini orangtua dan adik-adiknya sudah siap untuk pulang lagi ke kampung dengan diantar oleh orang suruhan Pak Handoko.
"Ingat Pak, Bu, rahasiakan pernikahan Wira, bahkan ke tetangga-tetangga kita sekali pun. Kalau ada yang tahu, ibu harus memastikan kalau mereka gak akan menyebarluaskan berita ini."
Bapak dan ibunya Wira memicingkan matanya, tidak mengerti dengan maksud anak sulungnya itu.
"Tapi kenapa Wira kamu ingin pernikahan kamu ini dirahasiakan?"
"Wira cuma takut, orang-orang tahu dan akhirnya tersebar ke kampung sebelah."
Kali ini dua wajah renta itu membulatkan matanya karena terkejut.
"Wira, jangan bilang kamu ...." ucapan bapaknya terpotong.
"Kamu masih berhubungan sama Rinjani?" tanya ibunya dengan raut tak percaya.
"Ssssttttt, pelan-pelan, Bu."
"Astaghfirullah Wira. Istighfar kamu, Nak. Ibu kira kamu memutuskan menikah dengan wanita lain, karena kalian sudah putus. Apa yang kamu lakukan, Wira? Eling kamu teh, kamu udah punya istri sekarang! Jangan main api!!!!"
"Wira gak bisa meninggalkan Rinjani, Bu. Wira terlalu mencintai gadis itu."
"Lalu kenapa kamu menikahi wanita lain kalau hati kamu hanya tertaut ke anaknya Rima dan Suja itu? Ya Allah, Wira!!!!" Kini ibunya menangis, ia tidak menyangka anaknya bisa berbuat seperti itu.
"Bu, Wira mohon ... Wira melakukan ini semua juga demi keluarga kita. Mulai sekarang, Wira bisa membuat kalian sejahtera lebih cepat. Ibu sama bapak gak perlu capek-capek ke sawah, bapak buka usaha yang jadi cita-cita bapak selama ini, Pak. Wira juga bisa menyekolahkan Angga sama Hanun sampai tinggi. Wira mohon, Bu, Pak. Kali ini aja ... turutin permintaan Wira ini. Wira hanya minta rahasiakan pernikahan Wira. Jangan sampai orang-orang tahu." panjang lebar laki-laki itu berbicara, tatapannya menyiratkan permohonan yang teramat sangat.
"Tapi bagaimana kalau tiba waktunya kamu dan istrimu pulang?"
"Itu bisa diurus nanti, Bu. Wira akan pikirkan caranya."
Sampai kemudian, Sera dan ayahnya datang menghampiri mereka.
"Kami pamit pulang Pak Handoko, Nak Sera. Terima kasih atas kebaikan kalian. Kalau ada waktu, main-main lah ke desa. Untuk melihat tanah kelahiran Wira." ucap wanita paruh baya itu berbasa-basi.
"Sama-sama, Bu. Baik, baik, nanti kapan-kapan kami ke sana." ucap Pak Handoko dengan ramah.
Tapi ekspresi Sera terlihat masam, tak ada senyum yang terpancar di wajahnya. Malah ekspresinya itu seakan mengatakan 'ogah banget datang ke kampung'.
Wira mencium tangan kedua orangtuanya itu, lalu memeluk kedua adiknya. Begitu pun Pak Handoko menyalami mereka berdua dengan sangat baik, tiba saatnya Sera gadis itu menyalami kedua mertuanya hanya menempelkan tangan tua itu ke pipinya. Sedangkan tangan halusnya seakan tak ingin bersentuhan banyak, ia mengamit tangan mereka dengan keempat jarinya. Lalu saat selesai, tangannya itu dipeperkan ke baju.
Melihat hal tersebut, ibu dan bapaknya Wira hanya memasang wajah sendu. Hati mereka telah tersakiti, mereka tahu anak menantunya itu tidak menyukai mereka, bahkan mungkin merasa jijik. Mata ibunya berkaca-kaca, sayang Wira tidak melihat bagaimana istrinya itu bersikap kepada kedua orangtuanya. Pak Handoko melihat hal tersebut, sampai kedua matanya melotot memberi peringatan pada anak semata wayangnya itu.
"Kalau begitu kami pulang dulu, Pak. Wira jaga kesehatan, Nak. Jaga istri kamu, ya. Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalaam."
Wira melambaikan tangannya, mempercayakan kepada kedua orangtuanya untuk tidak menyebarluaskan berita pernikahannya itu. Sebab ia takut, saat satu orang tahu lalu akan tersebar dari mulut ke mulut, ia takut hal tersebut sampai ke telinga Rinjani. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
***