Kesempatan Emas

1196 Words
Minimarket FioMart, Jakarta Laki-laki bermata elang itu menatap tajam pada sembilan orang karyawan di hadapannya yang berjejer rapi sambil menundukkan kepala mereka. "Mana pegawai yang saya minta untuk menggantikan Mita? Kenapa kalian belum juga membawakan untuk saya? Shift satu hanya empat orang, apa kalian tidak merasa kesulitan karena kekurangan tenaga?" Suara bariton itu berucap serius, setiap kalimat yang terlontar memberi ketakutan tersendiri pada jiwa-jiwa di hadapannya. Tak ada yang berani menyahut, hingga mereka hanya saling sikut. "Kalian tinggal dimana? Kuburan? Atau hutan? Memangnya kalian hidup sendiri? Kalian 'kan punya saudara, teman juga tetangga! Apa tidak ada satupun dari mereka yang bisa kalian ajak kemari untuk saya interview?" Lagi lagi mereka terdiam. Pada dasarnya, kepala toko yang ternyata adalah anak pengusaha ternama itu aslinya tidak banyak bicara. Sikapnya dingin dan tak terjangkau, tapi saat sudah merasa marah, maka lidahnya akan berbicara banyak hal dan tentunya dengan kata-kata yang sangat tajam pula. "Shift satu, beberapa hari ini saya melihat antrian panjang di kasir, karena hanya satu orang yang menerima pembayaran. Kalau seperti ini terus, lama lama pelanggan akan merasa jenuh dengan pelayanan di toko ini." ucapnya sambil meremas kertas kosong di hadapannya. "Ma-maaf, Pak." ucap seorang laki-laki yang sangat dipercaya Fio. "Maafkan kami, Pak." ucap mereka serempak mengikuti. "Lalu apa masalahnya? Kenapa kalian tidak bisa mencarikan pegawai untuk saya? Setahu saya, gaji yang saya tawarkan cukup tinggi dibanding dengan minimarket ternama lainnya. Apa kalian sama sekali tidak punya gadis pengangguran yang kalian kenal? Hah? Mustahil!" Mereka saling pandang, saling melempar tugas untuk mengatakan hal yang sebenarnya. "hmmm ... hmmmm ...." "Bicara yang benar! Memangnya kamu lagi paduan suara?" "I-iya, be-begini, Pak. Bapak bilang, kami harus mencarikan bapak pegawai yang jujur dan amanah, tapi kalau orang yang kami bawa berbuat curang seperti yang Mita lakukan, bukan hanya dia yang bapak depak, kami yang membawanya pun akan di depak. Jujur, ka-kami takut, Pak. Kami gak mau ambil resiko, karena kami semua sudah sangat nyaman bekerja dengan bapak di sini." ucap pegawai kepercayaan Fio yang bernama Jeje. Fio membulatkan matanya, ia sedikit terperangah. Menatap satu persatu pegawainya yang semuanya mengangguk setuju dengan ucapan Jeje itu membuat Fio memijat pelipisnya pelan, ia menghembuskan nafasnya kasar. Brakkk!!!! Fio menggebrak meja, hingga orang-orang berseragam hijau tua kombinasi hijau muda itu terlonjak semuanya. Wajah mereka pucat sudah. "Saya mengatakan hal itu supaya kalian lebih berhati-hati dan selektif lagi untuk mencarikan saya orang. Tidak sembarangan hanya karena hubungan baik kalian dengan orang-orang tertentu. Saya ingin kalian mencari yang benar-benar jujur dan disiplin. Tapi ... bukan berarti saya benar-benar akan melakukan hal itu kepada kalian. Ya ampun, kalian ini ... ckkk!!!" Fio berdecak kesal memandang ke sembarang arah. Pantas saja sudah seminggu lamanya, ia masih juga belum mendapat karyawan baru. "Pak, ka-kalau begitu kami akan mencoba mencarikan orang terbaik yang kami kenal." "Memang harusnya begitu!" "I-iya, Pak." "Secepatnya!" "Baik, Pak." "Silakan pergi dari ruangan saya, kalau tiga hari ke depan shift satu masih berempat, awas kalian!!!" ancamnya yang membuat para pegawainya itu langsung menelan ludah masing-masing. Atasan mereka itu ... huh, benar-benar laki-laki dingin yang tidak ada ramah-ramahnya. Kalau sudah marah, akan jadi tukang omel terbaik di dunia yang melebihi kemampuan ibu mereka masing-masing. Meskipun begitu, mereka tahu Fio adalah laki-laki yang sangat baik dan memperhatikan mereka. Upah yang diberikan Fio terbilang sangat mensejahterakan, kalau ia puas dengan kerja pegawainya, maka tidak sayang-sayang ia akan memberikan bonus yang merata. Tapi kalau ia merasa kecewa, tidak pernah sekalipun upah mereka dipotong. Setiap beberapa hari sekali, akan ada beberapa orang yang mengantar makanan untuk para pegawainya. Ya, di balik sikapnya yang dingin dan galak itu, juga wajahnya yang tidak pernah tersenyum, sosok itu sangat perhatian dan juga peduli. Itulah kenyamanan mereka yang dimaksud oleh Jeje. Saat mereka keluar dari ruangan Fio, wajah-wajah itu masih terlihat bingung. Meskipun atasannya bilang bahwa ia hanya menggertak saja, bukan berarti benar-benar akan mendepak mereka kalau mereka salah membawa orang, hal itu tetap saja membuat mereka tidak cukup berani. Kalau mereka salah membawa orang, tetap saja nama baik mereka dipertaruhkan. Sebab mereka tidak mau kehilangan kepercayaan atasannya itu sama sekali. Banyak orang-orang yang mereka kenal, tapi kriteria utama yang diinginkan oleh atasannya itu terbilang cukup sulit dicari. Zaman sekarang, susah sekali bukan mencari orang-orang yang benar-benar jujur? Apalagi di ibu kota, segala macam kejahatan ada di sana. "Kalian benar-benar gak punya kerabat yang sekiranya sungguh bisa dipercaya?" tanya Jeje menatap kawan-kawannya. Mereka semua diam saja, bukan tidak punya, tapi masih takut. Sampai akhirnya gadis yang bernama Hani mengangkat tangan. "Kak Jeje, aku punya teman dari kampung yang terkenal amanah dan bisa dipercaya. Dia juga cantik dan menarik. Pintar dan cepat tanggap juga. Aku akan coba nawarin kerjaan ini ke dia, deh." ungkapnya setelah berpikir cukup lama. "Cakep! Nah gitu, dong. Kamu langsung kabarin ke dia ya. Mau atau enggaknya, besok harus udah ada jawaban, loh!" "Iya, Kak." "Oke, kita anggap tugas mencari pegawai ini sudah selesai, ya. Tapi jangan senang dulu, kalau orang yang dimaksud Hani ternyata menolak, maka kita harus mikir keras lagi." "Yaahhh ...." Wajah-wajah yang semula lega itu kini diliputi dengan kecemasan lagi. "Semoga orangnya mau, deh." ucap salah satu dari mereka yang langsung diamini dengan serempak. *** Rinjani menyandarkan tubuhnya di dinding rumahnya yang masih terbuat dari kayu. Gadis itu duduk di atas balai bambu, tatapan matanya kosong. Sudah tiga hari Wira tidak memberinya kabar, perlahan gadis itu rasanya mulai terbiasa meski hatinya diliputi dengan kerinduan yang teramat sangat. Meski keanehan Wira ia sadari, tapi Rinjani tidak berpikir bahwa penyebab perubahan laki-laki itu karena dirinya sedang bermain api bersama wanita lain. Rinjani percaya sepenuhnya pada Wira, dan akan tetap percaya pada kekasih hatinya itu. Kini pandangannya beralih ke layar handphone, terakhir kali Wira menghubungi Rinjani di jam sekarang ini. Gadis itu pun berharap Wira akan menghubunginya lagi di jam ini. Sampai kemudian, layar handphone-nya menyala. Satu pesan masuk membuat gadis itu langsung semangat, berharap Wira menghubunginya. Tapi saat membuka pesan, gadis itu menelan kekecewaannya. Bukan dari Wira, tapi dari teman lama yang sampai saat ini masih sering bertukar kabar. [Rinjani?] "Hani kirim pesan?" Wajah yang semula murung itu kini sedikit berbinar cerah. Meski bukan dari Wira, tapi tetap saja hal itu menghibur. Temannya menghubungi di kala bosan itu melanda, sedikit jadi hiburan untuk melupakan Wira yang saat ini sangat sangat sibuk dan tak ada waktu untuknya. [Iya, Hani?] [Kamu masih di desa, kan?] [Iya, aku masih di sini jadi gadis lapuk. Bagaimana kabar kamu di kota?] [Mana mungkin, gadis secantik kamu melapuk. Di kota sangat menyenangkan, Rinjani.] [Duh, irinya!] [Rinjani, pernahkah kamu terpikirkan untuk pergi ke kota sama sepertiku?] Deg! Rinjani terdiam, wajahnya sendu. Belakangan ini memang sangat terpikirkan sekali dirinya untuk pergi ke kota. Satu, untuk menghindari lamaran orang-orang desa dan juga lambe-lambe turah yang menghibahkan dirinya setiap kali Rinjani menolak lamaran. Dua, ingin bekerja lalu membantu perekonomian keluarga. Dan tiga, lebih dari itu semua ia ingin menyusul Wira. [Mau banget, andai aku bisa ....] [Serius? Rinjani, ayo datang ke kota. Tempat kerjaku lagi butuh satu pegawai baru yang sangat cocok untuk kamu. Gaji di sini juga sangat tinggi untuk ukuran pegawai toko.] Deg! Rinjani membulatkan matanya. Kabar yang dibawa oleh teman lamanya itu sungguh terasa menyegarkan, bagaikan air di tengah gurun pasir yang tandus. [Apakah kamu bersedia?] ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD