Lupa Daratan

1448 Words
Ruangan besar itu nampak kacau, baju dan handuk berserakan di lantai. Kasur dengan seprei putih polos terhampar berantakan, selimut dimana, bantal guling dimana. Suara cekikikan terdengar di dalam kamar mandi, rupanya pengantin baru itu tengah mandi bersama. "Udah dong ah, godain mas terus. Nanti Mas serang lagi, loh!" ucap Wira yang kini sedang menahan tangan Sera yang sedang bergerilya ke sembarang arah di area tubuhnya. Terdengar wanita itu terkikik geli, "Emang mas gak capek? Dari semalam kita belum keluar kamar, lho!" tawa Sera nampak lebar, kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya. "Kamu yang nahan-nahan mas terus. Dasar istri nakal! Bahkan sarapan aja sampai diantar ke kamar. Mas malu deh, apa kata para ART coba!" "Duh suamiku ini ngapain mikirin terlalu jauh kesana, yang penting 'kan kita bahagia." Sera menggosok punggung Wira, lalu memeluknya dari belakang. Wanita itu sungguh mencintai suaminya, dengan sepenuh hatinya. Wira benar-benar hebat bisa membuat gadis cantik dengan profesi model itu jatuh ke dalam pelukannya. Sikap dewasa dan ketenangan yang selalu ditampilkan Wira, kecerdasan dan sifat cepat tanggapnya, belum lagi wajahnya yang tampan dan perawakan yang gagah, laki-laki itu tidak nampak sama sekali berasal dari kampung. Meskipun baru menjabat menjadi direktur menggantikan mertuanya, semua orang langsung menaruh hormat pada dirinya. Sebab, semuanya tahu bagaimana sepak terjang laki-laki itu, dan dia memang berprestasi dan patut diapresiasi. Lalu bagaimana cara laki-laki itu memperlakukan Sera dan mengatasi sifat jeleknya, membuat Sera benar-benar jatuh cinta. Satu lagi yang membuat wanita berambut sebahu itu semakin tergila-gila padanya, Wira sangat gagah di atas ranjang. Laki-laki itu selalu berhasil membuatnya teriak, untung kamar mereka berada di lantai dua. Dan hanya mereka penghuni di lantai tersebut, sehingga teriakan pelan Sera tidak cukup terdengar sampai ke bawah. Saat aktifitas mandi mereka selesai, Wira langsung membenahi segala kekacauan yang mereka ciptakan itu. Merapikan baju-baju mereka yang berserakan di lantai, lalu menaruhnya pada keranjang pakaian kotor. Laki-laki itu begitu rapi dan bertanggung jawab, sedangkan Sera hanya memperhatikan tapi tak ada niatan untuk membantu. Dirinya sedang sibuk luluran. "Mas, sudah jangan kamu beresin, dong. Tinggal panggil Bi Karsih, gak usah capek-capek." ucap Sera cuek, tanpa menolehkan kepalanya. Tapi Wira tetap melanjutkannya sendiri, laki-laki itu punya rasa malu jika orang lain melihat kekacauan hasil aktifitas panas mereka. Baginya, itu adalah hal yang sangat privasi. Wira menarik seprei dan melepas sarung bantal dan guling yang terpasang. Laki-laki itu bermaksud untuk mengganti seprei mereka. Saat dirasa sudah cukup, ia gegas menarik Sera untuk turun ke ruang makan. Jam sudah menunjukkan ke angka setengah satu siang, sudah saatnya perut mereka diisi. "Baru kerasa laparnya sekarang ya, Mas?" tanya Sera. "Iya, kalau tadi laparnya sama kamu terus." Wira mengerling, lalu mendapat cubitan di pinggangnya. Di meja makan sudah tersedia berbagai macam masakan yang terlihat sangat menggugah selera. Ada ikan bakar dengan saus padang, ada juga cumi asam manis. Belum lagi sayur hijau yang dimasak setengah matang, dan masih banyak menu lainnya yang benar-benar membuat laki-laki itu merasa lapar saat melihatnya. Kini, laki-laki itu terbiasa makan enak. Kehidupan Wira sangat berubah, dan ia sangat menikmati itu. Selama ini, tidak pernah terpikirkan sedikit pun laki-laki itu bisa memimpin sebuah perusahaan yang cukup besar, memiliki istri seorang model yang cantik dan berpendidikan, dan mendapatkan uang dengan mudah. Mimpinya yang ingin mengubah kehidupan dirinya dan keluarganya itu hanya tinggal menjetikkan jari kini. Semuanya sudah lengkap, istri yang cantik, pekerjaan yang mapan dan kehidupan yang mewah. Apalagi Sera, wanita itu benar-benar membuatnya ketagihan. Sebagai pengantin baru, surga dunia yang baru ia rasakan itu membuatnya menjadi ingin selalu dekat dengan istrinya. Wanita yang seminggu ini selalu memberikan kehangatan padanya itu membuat Wira lupa daratan, sibuk menyelami lautan kenikmatan, sampai lupa pada gadis cantik yang sangat ia cintai yang selalu menunggunya dengan setia. Ya Wira lupa, seringkali laki-laki itu tidak memberikan kabar. Seminggu ini, Wira baru memberi kabar satu kali. Itu pun sudah empat hari yang lalu. Saat Sera menyindukkan nasi untuk Wira, lalu menaruh cumi asam manis itu di piringnya, laki-laki itu terdiam sesaat. Cumi asam manis. Rasanya laki-laki itu jadi teringat sebuah moment dan kisah manis mengenai cumi asam manis bersama Rinjani. Rinjani? Sedikit tersentak, laki-laki itu baru menyadari bahwa ia sudah cukup lama tidak menghubungi kekasihnya itu. "Sekarang hari apa?" tanya Wira dengan tiba-tiba. "Minggu, Mas. Kenapa? Ada janji?" tanya Sera balik. Matanya membulat, sudah hari minggu? Terakhir kali menghubungi Rinjani saat itu adalah hari Rabu. Itu artinya sudah empat hari. Laki-laki itu nampak tak percaya, lalu mengusap wajahnya kasar. Mengapa dia tidak menyadari bahwa sudah selama itu ia melupakan Rinjani? "Mas ... bulan madu, yuk! Aku pengen suasana baru." Wira tidak mendengarkan istrinya itu dengan baik, wajahnya kini terlihat gelisah. Yang ada di pikirannya hanya Rinjani, mengapa ia bisa lupa dengan gadisnya itu? Rasa bersalah kini menjalar memenuhi hatinya. "Mas ih, ditanya diam aja. Nyebelin, ah!" "A-apa?" Wira tersentak, menatap Sera yang sedang memasang wajah kesal. "Kamu gak ngedenger aku ngomong?" "Maaf, Sayang. Ini cuminya enak banget, sampe otak aku nge-blank makannya." "Nge-blank?" "Iya, ini enak banget sumpah!" Wira kira Sera akan semakin marah padanya, tapi tak disangka istrinya itu malah tertawa. "Apaan sih, Mas, absurd banget. Hahahah ...." Wira menghela nafas lega, syukurlah! batinnya. "Tadi kamu ngomong apa? Aku gak fokus." "Bulan madu Mas. Aku pengen suasana baru." "Suasana baru?" "Iya, supaya enggak di kamar terus ehemnya. Dari kemarin papah nanya, lho! Apa kita gak mau bulan madu?" "Boleh, mas terserah kamu aja sayang. Kamu mau kemana, sok diatur." Sera nampak senang, wajahnya berbinar-binar. Mereka makan dengan lahap sambil menceritakan banyak hal. "Oh iya, hari ini aku mau ketemuan sama teman-temanku Mas, di mall." Wira yang baru selesai makan itu nampak senang mendengarnya. Sera mau pergi? Itu artinya ia bisa menghubungi Rinjani dengan bebas. "Ikut ya, Mas?" pinta Sera kemudian. "Emmmh sayang, gak tau nih badan mas sedikit kurang enak badan." "Yahhh, kamu sakit?" "Enggak sih, cuma kurang enak aja. Mungkin butuh istirahat sebentar. Kamu sih, buat mas gak tidur-tidur." Sera tertawa, "mas aja yang doyan. Malah nyalahin aku, huh!" "Nah, kamu sendiri aja ya?" "Yaudah, suamiku yang gagah ini memang harus istirahat sejenak." ucapnya sambil mencubit pipi suaminya itu. *** Wira menatap mobil yang sudah keluar melewati gerbang rumah besar tersebut dari balkon kamarnya. Saat memastikan Sera sudah pergi, laki-laki itu gegas mengambil handphone-nya. Mencari kontak dengan nama 'sepupu jauh'. Sesuai dengan apa yang diminta Wira, Rinjani tidak menghubungi Wira sama sekali. Sebab laki-laki itu selalu menggaungkan kalimat 'jangan menghubungi kakak kalau kakak belum menghubungi kamu'. Dan seperti biasa, gadis itu sangat penurut. "Rinjani ya ampun, kenapa kakak bisa lupa sama kamu, sayang. Maaf, maaf, maaf ...." gumamnya sendirian. [Rinjani, sayang ....] Pesan yang ia kirimkan langsung bercentang dua dan biru. Rinjani langsung membukanya. [Kak? Akhirnya kakak hubungi aku juga!] [Maaf, pasti kamu menunggu kakak setiap hari.] [Iya ;(] [Kamu sehat, kan?] [Sehat Wal Afiat.] [Bagus, kakak gak mau ngedenger kamu sakit lagi.] [Iyaa :)] [Kakak kangen banget, tapi gak bisa video call kamu.] [Kenapa? :'(] [Dari kemarin, para pengawas lagi nginep di mess. Kakak gak enak aja teleponnya.] [Iya, aku ngerti. Pantes kakak gak menghubungi aku empat hari ini :)] Wira menunduk, wajahnya sendu membaca kalimat Rinjani tersebut. "Maaf kakak bohongin kamu terus. Maaf Rinjani, maaf ...." [Kirimin foto kamu ya, supaya rindu ini terobati.] Lama tidak ada balasan, sampai kemudian gadis itu mengirimkan tiga foto dirinya yang memakai baju berwarna kuning. Terlihat sangat kontras dengan warna kulitnya yang seputih s**u. Rambut panjang itu diikat asal, poni dan anak-anak rambutnya berserakan menutupi dahinya. Wira tersenyum. "Cantik! Satu tahun lebih gak pulang, kamu semakin cantik!" ucap Wira memuji dalam kesendiriannya. Dan mau dilihat berapa kali pun, dari wanita-wanita yang pernah Wira temui, belum ada satupun yang ia lihat mengalahkan kecantikan Rinjani. "Kamu gadis tercantik yang pernah kakak lihat, Rinjani." ucapnya sambil tersenyum. "Bahkan Sera juga tidak secantik kamu." lanjutnya. [Gadis ini ... makin hari makin cantik aja. Tetap setia sama kakak, ya? Jangan tergoda sama laki-laki lain.] [Aku selalu setia.] [Makasih, Rinjani. Suatu saat nanti, kakak pasti akan menikahi kamu. Dan kita bisa bertemu setiap hari tanpa harus terpisah jarak seperti ini lagi.] Begitulah harapan dan cita-cita Wira, bagaimana caranya ia akan mengatur sebaik mungkin. Posisinya sebagai direktur kini, akan lebih memudahkan segalanya. Tapi laki-laki itu tidak pernah tahu, apa yang akan terjadi di depan nanti. "Kakak gak perlu risau. Sebentar lagi kita bisa ketemu setiap hari. Aku akan menyusul kakak ke Jakarta. Dan ... aku mau kasih kejutan buat kakak." Gadis cantik itu tersenyum, membayangkan bagaimana ekspresi Wira nanti saat melihat Rinjani tiba-tiba ada di depan matanya. Dan hal itu membuatnya tidak sabar untuk segera pergi ke Jakarta dengan segera. *** "Pak, Bu ... izinkan Rinjani untuk pergi ke ibukota. Rinjani ditawari Hani, untuk ikut bekerja di tempatnya." "APAAAAA??????" Apa yang diucapkan Rinjani malam itu, sontak membuat kedua orangtuanya sangat terkejut dibuatnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD