Menginjakkan Kaki di Ibukota

1490 Words
"Kamu yakin, Neng?" Rima bertanya pada anaknya sekali lagi. Gadis itu sudah mengenakan baju rajut lengan panjang dengan rok sebetis. Rambutnya digerai bebas dengan jepit rambut menghias kepalanya. Satu tas ransel besar yang berisi baju-baju dan keperluan pribadinya sudah siap dikemas. Sinar matahari mulai menerobos masuk dari celah-celah rumah, saat gadis itu sudah siap berangkat ke ibukota. Biasanya, di jam segini ia akan mulai siap-siap untuk mencuci baju di sungai. Tapi hari ini ia sudah rapi dan cantik, siap untuk menunaikan cita-citanya itu. "Rinjani yakin banget, Bu. Hani bilang kemungkinan diterima itu besar banget. Bosnya butuh pegawai yang jujur dan disiplin, itu kriteria utamanya. Insyaallah Rinjani memenuhi kriteria itu." Rima dan Suja diam saja, mereka seperti tidak ikhlas dengan keputusan anaknya itu. Sangat berat melepas Rinjani ke ibukota, tapi melarang pun mereka tidak bisa. Anaknya kukuh ingin mengubah kehidupan mereka, sedangkan Suja juga merasa tidak bisa memberikan anak-anaknya itu kehidupan yang sejahtera, itulah sebabnya dia pun tidak melarang Rinjani. "Pak, Bu ... Rinjani janji akan baik-baik saja di Jakarta, kalau benar Rinjani diterima bekerja di sana, Rinjani bisa mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik. Kata Hani, upah yang diterima itu cukup besar, lebih besar dari upah pada umumnya. Rinjani nggak bisa ngebayangin, kalau itu benar terjadi. Setiap bulan Rinjani bisa mengirim uang untuk bapak dan ibu, bapak gak perlu pusing-pusing kalau tiba waktunya Fajar sama Baim bayaran sekolah. Rinjani juga pengen banget bisa membangun rumah yang bagus, supaya rumah kita gak dari kayu lagi, Pak. Terus Rinjani juga pengen banget bisa beliin motor baru yang bagus buat bapak, supaya bapak gak bongkar-bongar terus motor kita yang sekarang." Ucap Rinjani sambil memandang motor butut bapaknya, yang mana sedikit-sedikit dibongkar, sedikit-sedikit diotak-atik, sedikit-sedikit diperbaiki dengan mengandalkan keahliannya sendiri. Panjang lebar Rinjani berkata, meyakinkan kedua orangtuanya bahwa kepergiannya ini akan membawa kesejahteraan untuk mereka. "Tapi di Jakarta itu banyak orang jahat, Rinjani." tutur ibunya menahan isakan, tapi air matanya sudah berlelehan. "Rinjani di Jakarta gak akan sendirian, Pak, Bu. Ada Hani yang udah siap menampung Rinjani di kostnya. Kalau beruntung, malah Rinjani bisa bertemu sama Kak Wira juga yang bisa menjaga Rinjani. Percayalah Bu, bagi Rinjani ini adalah kesempatan emas yang sayang sekali kalau harus Rinjani lewatkan. Rinjani yakin sekali dengan pilihan Rinjani ini. Maka Rinjani mohon, bapak dan ibu mengizinkan Rinjani dengan ikhlas." Akhirnya tak ada lagi yang bisa mereka ucapkan untuk mencegah anaknya itu pergi. Ibunya Rinjani menangis, mendengar keinginan mulia anaknya. Sedangkan Suja hanya berkaca-kaca, ia merasa telah gagal mensejahterakan keluarganya hingga Rinjani akhirnya memilih menerima tawaran bekerja di ibukota itu. "Pergilah, Nak. Maafkan bapak yang gak bisa membahagiakan kamu, mencukupi segala kebutuhan kamu sampai kamu kukuh sekali ingin mengubah nasib keluarga kita. Maafkan bapakmu yang bodoh ini, Nak." Rinjani menggeleng keras-keras, Demi Allah Rinjani tidak pernah mengeluh dengan keadaan mereka yang pas-pasan. Rinjani tidak pernah mengeluh dengan gaya makan mereka yang setiap hari hanya bisa makan ikan asin dan sambel. Rinjani tidak pernah mengeluhkan itu. Andaikan ia bisa berkata jujur, bahwa dua alasan utama Rinjani pergi adalah untuk menghindari lamaran orang-orang desa dan untuk bisa menyusul Wira. Bukan karena hidup mereka yang pas-pasan itu. "Jangan ngomong begitu, Pak. Rinjani sama sekali gak mengeluh kok, dengan kehidupan kita. Rinjani cuma ingin membahagiakan bapak sama ibu, juga ... menjemput kebahagiaan Rinjani sendiri." Rima dan Suja tidak mengerti, kebahagiaan yang Rinjani maksud adalah kebahagiaan untuk bisa bertemu dan dekat dengan kekasihnya, Wira. Tapi mereka menganggapnya, kebahagiaan itu adalah kebahagiaan mempunyai uang sendiri untuk bisa membeli apapun yang Rinjani inginkan. "Rinjani punya bekal, gak banyak tapi Rinjani yakin bisa untuk satu bulan bertahan hidup di sana. Sampai akhirnya Rinjani punya gaji, kalau sudah tiba waktunya Rinjani akan menyisihkan untuk Rinjani dan sebagiannya untuk bapak dan ibu." "Tapi Neng, bagaimana kalau kamu nggak diterima bekerja di sana? Ibu mohon ... kamu pulang aja ya, Neng?" Rinjani tersenyum, ia yakin sekali hal itu tidak terjadi. Rinjani memiliki optimis yang besar, kalau hatinya sudah optimis seperti itu, maka hal yang diperjuangkannya pasti tidak akan gagal. Rinjani meraih tangan ibunya, seperti tengah menghantarkan rasa optimis itu kepada Rima. Ia ingin ibunya merasakan harapan besar yang Rinjani rasakan itu. "Sebagai anak pertama, aku harus mempunyai bahu yang kuat dan kokoh, sekokoh karang." ucapnya dengan senyumnya yang manis. "Fajar sama Baim, jangan nakal ya! Kalau nakal dan buat ibu nangis, teteh gak mau loh kasih uang gajian teteh ke kalian!" ucap Rinjani menoleh pada kedua adik laki-lakinya yang dari tadi diam saja. "Teteh belum juga diterima kerja, udah ngancem gak kasih duit aja!" Celetuk Fajar, remaja yang sudah menginjak kelas tiga SMP itu. Membuat Rinjani membulatkan matanya. "Ehh anak ini!" Rinjani kesal sekali dengan remaja yang satu ini! Dia selalu punya cara untuk menentang Rinjani. Kedua orangtuanya hanya tersenyum. Fajar yang biasa disapa Ajay itu adalah laki-laki yang tidak banyak bicara. Tapi kalau sudah bicara, kata-katanya suka tajam dan menusuk. Dia remaja yang pintar dan kritis, kalau ada sesuatu yang janggal baginya langsung ia utarakan. "Nanti siapa dong Teh, yang nyuci baju Aim lagi? Masa Aim nyuci sendiri, Teh? Bareng gitu sama gadis-gadis lain di sungai? Nanti kan mereka suka mandi di sana, masa Aim harus ikutan bareng mereka?" Rinjani tertawa mendengar celotehan adiknya yang bungsu. Baim baru kelas lima SD. Setidaknya dia lebih menyenangkan ketimbang Fajar yang selalu menentangnya. Meski begitu, kedua adiknya itu tetap ia sayangi dengan takaran yang sama tanpa membeda-bedakan mereka. "Aim nyuci bareng A Ajay kalau sudah pulang sekolah. Mulai sekarang kalian nyuci baju sendiri. Jangan sampai ibu kelelahan, apalagi kamu Aim, awas kalau main seserodotan (perosotan) di tanah merah tapi gak nyuci baju sendiri. Awas ya!" ancam Rinjani galak. Gadis itu sering sekali merasakan lelahnya mencuci baju Baim yang penuh dengan tanah merah. "Iya teh, iya. Udah mau berangkat juga, masih aja galak!" Celetuk Baim yang mengundang tawa di antara mereka. "Rinjani ... nanti kalau sudah sampai kamu harus telepon ibu. Kabari orangtuamu ini setiap hari." "Kalau gak kerasan hidup di ibukota bilang Nak sama bapak, bapak akan langsung jemput kamu ke sana." Rinjani mengangguk, lalu bersalaman dengan mereka. Pagi ini keberangkatannya akan dimulai dengan menumpang mobil Ibu RT yang akan pergi ke kota. Rinjani akan menumpang sampai ke terminal. Lalu ia akan menaiki bus jurusan daerahnya menuju Jakarta. Seperti itulah rencananya. Dan Rinjani akan memulai perjalanan yang cukup panjang. *** Jakarta Rinjani turun dari bus yang membawanya, ia sampai di terminal Kota Jakarta Pusat. Gadis itu mengibaskan tangannya merasakan udara panas yang sangat berbeda dengan di kampungnya yang sejuk. "Namanya juga ibukota." ucapnya memaklumi. Sedikit celingukan, Rinjani mencari keberadaan Hani. Mereka sudah janjian, Hani bilang temannya itu akan menjemputnya di sini. Lalu teleponnya berdering, nampak di layar handphonenya tertulis nama Hani yang menelponnya. "Halo, Hani? Kamu dimana? Aku dah sampai." ucap Rinjani saat sambungan telepon itu tersambung. "Rinjani apa kamu lihat pohon besar? Aku menunggu kamu di sini, ya!" "Oh di sana, aku lihat. Aku kesana, ya?" "Oke ditunggu." Dengan sukacita gadis itu berlari ke pohon yang dimaksud. Tidak memperhatikan jalan, ia menyeberang dengan sembarangan, di saat yang bersamaan sebuah mobil merah melintas dengan kecepatan sedang. "Awaaassss!!!!" pekik seseorang yang entah siapa. Rinjani membulatkan matanya, saat mobil tersebut sedikit lagi saja menabraknya. Tapi detik kemudian terdengar decitan rem yang terdengar keras. Rinjani nampak syok meski akhirnya bisa bernafas lega. Seseorang dari mobil tersebut turun, seorang wanita dengan rambut sebahu dan memakai kaca mata hitam memakai dress berwarna putih. "Heh, nyebrang sembarangan! Gak punya mata, ya? Atau sengaja mau mati?" sentaknya sangat kasar. Membuat Rinjani langsung pucat pasi. "Maaf teh, maaf. Saya gak sengaja." "Gak sengaja? Yakin gak sengaja? Oh jangan-jangan kamu itu sengaja ya mau ditabrak sama saya, supaya saya ganti rugi dan kamu dapat uang gitu?" ucapnya dengan matanya melotot tajam. "Astaghfirullah, ngapain saya mempertaruhkan nyawa dengan tindakan konyol seperti itu. Ini benar-benar gak sengaja, Teh." Rinjani memandang takut, bar-bar sekali wanita di hadapannya itu. Menuduhnya dengan keji. Wanita berambut sebahu itu melepas kacamatanya lalu memandang Rinjani dari atas sampai ke bawah, ia tersenyum sinis saat menyadari gadis di hadapannya ini dari kampung. "Dasar kampungan!" ucapnya begitu kasar. Rinjani menelan ludah, baru menginjak kaki di ibukota langsung bertemu dengan wanita arogan seperti itu. "Ini Mas, ada wanita nyebrang sembarangan bodoh banget!" ucap wanita itu yang sepertinya sedang teleponan dengan seseorang, di telinganya ada sesuatu benda kecil yang sering Rinjani lihat di adegan sinetron tv kalau seseorang mengangkat telepon saat mengendarai mobilnya. "Gak terluka tuh, orang aku langsung ngerem, Mas. Udah ya Mas, aku matiin. Aku mau melanjutkan perjalanan. Love you Mas Wira!" Deg! Rinjani terpaku saat mendengar kalimat yang diucapkan wanita di hadapannya itu. Nama yang sama dengan nama kekasihnya. "Ishh bisa-bisanya nama pacarnya itu sama, sama Kak Wira, pasti pacarnya itu juga sama arogan dan bar-bar nya kayak dia! Untung Kak Wira-ku bukan orang seperti itu." ujar Rinjani sambil menyingkir saat mobil itu kembali melaju. Saat melewati dirinya, wanita berambut sebahu itu melotot sesaat kepadanya. Rinjani mengurut d**a. Ia berharap tidak akan bertemu dengan wanita itu lagi. Nama pacar boleh sama, tapi kelakuan Rinjani dengan wanita itu sungguh berbeda. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD