Valerie memalingkan wajahnya, menatap jendela di sepanjang perjalanan menuju hotel. Merenungkan nasibnya berubah secara tiba-tiba. Hidupnya yang damai, ah tidak terlalu damai karena ia dan teman-temannya terkadang memancing keributan, menjadi terganggu. Ia kini sudah menjadi istri seseorang. Meski pun Valerie sudah menekankan berkali-kali bahwa tidak akan ada yang berubah, tapi tetap saja. Statusnya kini berubah. Bisakah ia pergi dan pulang semaunya? Bisakah ia balapan di sirkuit bersama teman-temannya? Air mata menetes begitu saja, dengan cepat Valerie menghapus air mata itu agar Darrel tidak melihatnya. Sayangnya, gerakan tangan Valerie tentu saja dilihat oleh Darrel Laurens. “Kau menangis?” tanya Darrel namun tidak dijawab oleh Valerie. “Kenapa? Apa kau begitu tidak menginginkan per

