“Makanlah ini, apa masih mual?” ujar Langit seraya menyodorkan segelas teh manis hangat yang baru saja di antarkan Mbak Susi ke kamar. Sejak turun dari mobil, Bulan mengeluhkan perutnya mual, dia jadi tidak tega sendiri. Bulan hanya mengangguk. “Langsung istirahat saja, Lan. Kamu pasti terlalu lelah hari ini, aku temani sampai kamu tertidur,” ujar Langit lagi. “Memangnya kamu mau ke mana?” “Ada yang harus kukerjakan malam ini, dan itu sangat penting untuk besok.” Langit mulai menyelimuti setengah tubuh istrinya hingga hangat dan nyaman. “Apa tidak sebaiknya kita bahas masalah itu sekarang? Aku tidak mau menundanya terlalu lama, Lang. Kita harus punya rencana untuk ke depannya,” ujar Bulan. Langit menghela napas kecil, disibaknya anak rambut Bulan hingga ke belakang telinga. "Aku men

