Bulan terus menatapi selembar kertas yang berada di pegangannya sekarang, di sana tertulis nama Langit Adithama dan nama dirinya yang telah membuat kesepakatan untuk berpisah. Sebuah tanda tangan dari lelaki itu sudah didapat, kejelasan akan masa depan yang diharapkan Bulan sudah terwujud. Bakal menyandang status baru setelah sidang di pengadilan agama bisa saja terjadi di kemudian hari. Rencana-rencana dalam pikiran pun sudah rapi sejak tidak ada kabar dari Langit. Tinggal selangkah lagi, kehidupan yang diidamkan Bulan terwujud. Namun, mengapa hatinya segelisah ini? “Apa dia benar-benar tidak bisa melihatku kemarin?” Batin Bulan bertanya kepada dirinya sendiri. Bagaimana dia begitu ingat ucapan kasarnya kepada Langit karena tidak kunjung menatapnya ketika mereka bicara. Namun, setelah

