"Lepaskan aku ...!" Bulan menarik-narik lengannya yang dicengkram oleh Langit dengan sangat keras hingga pegangannya terlepas. Sakit dan berbekas kemerahan, tetapi Langit masih menatapnya begitu tajam.
"Jadi begitu kelakuanmu di belakangku? Bertemu dengan laki-laki lain dan bermesraan dengannya?!" bentak Langit keras.
Suaranya menggema di dalam rumah yang sudah mereka tinggali selama satu minggu ini.
Bulan menggelengkan kepala. "Aku tidak bermaksud begitu, Lang. Kami berdua hanya kebetulan bertemu dan ...."
"Dan kalian akan menjalin hubungan lagi! Benar begitu?!"
Bug!
Prak!
Kepalan tangan melayang di udara dan jelas terarah, Bulan semakin takut dan menunduk pasrah jika hantaman itu mendarat di wajahnya.
Namun, ternyata tidak.
Tangan dingin itu menghantam lemari kaca di sebelah wajahnya, Bulan terisak menangis. Napasnya terengah-engah saking takutnya, ia pun tak berani lagi menatap wajah langit dan hanya merasakan tubuh geemetar yang menggigil ketakutan.
"Dia adalah kekasihmu ... benar. Aku sangat mengenalnya, karena dia kau tak pernah melihatku." Suara Langit terdengar sayup di sebelah telinga Bulan.
Namun, Bulan masih merasakan aura kemarahan yang begitu kuat pada diri Langit, dengan desahan napas suaminya yang masih tak beraturan.
"Sekali lagi kulihat kau bersamanya, kupastikan laki-laki bernama Awan itu hanya tinggal nama saja. Apa kau mengerti?" bisik Langit.
Diam. Tak tahu jawaban apa yang akan keluar, mulut Bulan sengaja ia kunci setelah merasakan kemarahan Langit mulai redam.
Yang sejujurnya, ia amat ketakutan jika Langit benar-benar melakukan hal nekat terhadap Awan. Laki-laki itu terlalu baik untuk disakiti oleh suami berhati iblis sepertinya.
"Sekarang pergilah dan siapkan air hangat untukku mandi," ucap Langit. Menyingkirkan tubuhnya sendiri lalu melepaskan jas, dasi serta jam tangan yang langsung ia berikan pada Bulan.
Dia pun melangkah meninggalkan Bulan sendiri, akhirnya wanita itu bisa bernapas lega meski masih menyisakan luka lebam di tangannya.
Bagaimana Langit bisa tahu hubungannya dengan Awan? Sedangkan ia tak lagi bertemu dengan kekasihnya itu semenjak kelulusan saat SMA dulu.
Saat kemarahan Langit memuncak seperti tadi, ia selalu tak mampu berkata dan pasrah menerima keadaan. Apa yang bisa ia lakukan? Bahkan untuk bertanya saja ia takut.
Nasib keluarganya berada di tangan Langit.
***
Langit menggeliatkan tubuh ketika pertama kali ia membuka mata. Sesekali menguap dan mencoba tersadar dari mimpi yang hinggap dalam tidur.
Saat meraba ke samping, Bulan tak berada di sampingnya. Ia tercekat. Lalu membuka selimut dan turun dari tempat tidur. Jam di dinding masih menunjukan pukul setengah empat pagi. Kemana Bulan?
Menuruti kemana langkah akan membawa, rumah berlantai dua yang cukup besar dan mewah ini hanya sebagian lampu yang dinyalakan. Jarak pandang terbatas namun tak urung menghentikan langkah Langit mencari Bulan.
Hingga pada akhirnya langkah itu berakhir pada sebuah ruangan dimana seorang istri biasa berada di dalamnya. Dapur.
Gerak tangan apik dan cekatan terlihat. Sangat sibuk dengan pekerjaan rumah di hadapannya, Bulan tak menyadari keberadaan Langit yang bersembunyi di balik dinding.
Masih mengenakan pakaian tidur, rambut Bulan yang sedikit pirang sebahu ia ikat asal, lensa cokelat di matanya ia ganti dengan kacamata yang selalu ia pakai.
Berjalan dengan sangat hati-hati, sekarang Langit sudah tepat di belakang Bulan yang tengah mengelap bersih stand memasaknya. Istrinya menoleh, ia terperanjat dan langsung menunduk saja.
"Apa kau sedang mencari batu?" tanya Langit datar.
"T-tidak, Lang." Gugup. Sedikit mengigit bibir bawah, Bulan masih menunduk.
"Lalu kenapa kau selalu menunduk saat di hadapanku? Aku tidak suka."
Bulan diam.
"Kenapa kau bangun sepagi ini? Apa kau mencoba kabur dariku?"
Spontan Bulan mendongak, sejenak ia menatap Langit kemudian menunduk lagi.
"T-tidak."
"Hah, tidak tidak tidak. Apa hanya kata itu yang bisa kau ucapkan?!" Suaranya meninggi. Istrinya semakin menunduk dan ketakutan.
"Iya, eh ... tidak. Eh tapi ... tidak. Itu maksudku ... ya," ucap Bulan gemetaran.
Hening.
"Ck. Baru kali ini aku menemukan wanita sepertimu, aneh dan tidak punya pendirian. Buang-buang waktu juga aku mencarimu sampai ke sini." Langit berdecap malas sesudah itu berbalik arah.
Ia marah, sebab Bulan pergi dari kamar tanpa memberitahunya, tapi ia sedikit lega ternyata pikiran buruk tentang istrinya hilang setelah ia mendapati Bulan masih ada di rumah ini.
"Lang, tunggu ...."
Langit merasakan sedikit tarikan di lengan kanan sampai ia kembali menoleh dan berhenti melangkah. Tatapan Bulan masih sama, tapi genggaman di tangannyalah yang membuat Langit agak terpaku.
"Tanganmu? Kenapa belum diobati?"
Menarik kembali lengannya, Langit mengalihkan wajah dari hadapan bulan kali ini. Yah, memang. Tangannya yang memukul dinding masih berbekas luka dan memar. Ia malas mengobatinya karena ini adalah hal biasa.
"Jangan pedulikan, lakukan saja pekerjaanmu kembali."
"Tidak. Aku akan mengobatinya dulu."
Bulan menarik lengan Langit tanpa ada penolakan apapun.
Istrinya berlari kecil mengambil kotak P3K di dalam lemari, kemudian langsung mengobati lukanya.
"Kenapa kau masih peduli padaku?" tanya Langit di sela-sela ringisan kecil ketika Bulan begitu fokus mengobati lukanya.
"Kau adalah suamiku, bagaimana mungkin aku tidak peduli padamu."
Langit terdiam. Menatapi seksama wanita yang sudah menjadi istrinya selama satu minggu ini. Mata bulatnya, rambut pirangnya, serta bibir tipis kemerahan begitu memikat hati.
Dia ... memang wanita baik-baik.
***
Hanya menatapi telapak tangan kanannya yang dibalutkan perban, pekerjaan sibuk Langit pagi ini sedikit terbengkalai.
Dan penyebab semua itu adalah ... luka ini.
Yah, luka ini memang sakit. Tapi entah kenapa hari ini ia begitu bahagia hingga tak bisa memikirkan apapun lagi kecuali Bulan, Bulan, Bulan dan Bulan.
Ini adalah perhatian pertama Bulan untuknya selama pernikahan mereka, dan untuk pertama kalinya juga Bulan mengatakan kalau ia peduli padanya sebagai seorang istri.
Wanita itu.
Ia adalah impian dalam mimpinya selama bertahun-tahun, dari sejak SMA hingga masuk ke Universitas. Hanya mampu membuntutinya dari belakang tanpa bisa menyapanya sama sekali, sekarang mimpi itu menjadi kenyataan, lewat keadaan yang memihak padanya. Semua rencana berjalan dengan lancar dan pada akhirnya ia bisa meraih Bulan tanpa ada hambatan sedikitpun.
Langit terkekeh kecil sendiri.
"Kau memang sudah seharusnya menjadi milikku, Bulan. Langit tidak akan pernah berada di balik Awan lagi. Laki-laki itu takkan pernah bisa merebutmu dariku." Mengepalkan telapak tangannya, ia masih terkekeh. Tak bisa ia ungkapkan lagi kebahagiaannya ini dengan satu hal apapun.
Tuk
Tuk
Tuk
Seseorang mengetuk pintu seraya mengucap salam, seseorang dengan wajah kusut memasuki ruangannya. Membawa secarik kertas di tangan, laki-laki itu berdiri di hadapannya masih dengan wajah murung.
Dan ia begitu mengenali siapa orang itu, dia adalah Rion. Salah satu staf di kantornya ini. Sekaligus teman satu angkatannya dulu di Universitas.
"Ada apa?"
"Saya ingin mengundurkan diri daei perusahaan ini," jawab Rion datar. Menyodorkan selembar kertas ke atas meja Langit.
Langit mengernyit. "Ada apa? Apa alasannya?"
Rion diam.
Membenarkan posisi duduk dan meraih kertas itu, ia mengembalikannya dengan sedikit dilempar. Tak mengerti kenapa alasan Athaya ingin keluar dari kantornya begitu saja.
"Tidak bisa, aku masih membutuhkanmu disini. Sekarang pergilah, kembali ke tempatmu."
"Sekalipun Bapak menolaknya, saya akan tetap keluar dari pekerjaan saya."
Tiba-tiba tensi darah merangsak naik ke atas kepala, sedikit mendongak dengan tatapan tajam tapi Rion seolah tak takut dengan kemarahannya.
Ia benci penentangan!
"Apa sekarang kau berani menentangku?!" bentaknya.
BRAK'
Menggebrak meja dengan kedua telapak tangan, napasnya naik turun tak menentu. Emosi hampir membludak seluruhnya namun sikap Rion begitu dingin.
"Keputusanku sudah bulat. Selamat siang ...." Rion berlalu tanpa mempedulikan disetujui atau tidaknya pengunduran dirinya.
Langit semakin menjadi, menatapi kepergian salah satu stafnya yang paling berguna di perusahaan ini dengan sangat mendadak bukanlah hal yang bisa ia duga.
Dan lagi, bagaimana bisa ia bisa seacuh itu padanya? Dengan sikapnya yang begitu. Itu berarti Rion sudah benar-benar merendahkan jabatannya di perusahaan ini.
"Berhenti di tempatmu ...!"
Rion berhenti sebelum ia sempat membuka pintu. Masih mebelakangi Langit masih berdiri di tempatnya.
"Beraninya kau bicara seperti itu padaku. Apa kau tahu aku ini siapa, hah?!" teriaknya.
Rion perlahan berbalik arah. "Sekarang kau bukan atasanku lagi," datar.
Hening sesaat. Darah mulai memuncak naik ke atas kepala hingga menggelapkan pandangan mata. Derap langkah cepat menuju sesosok tubuh jangkung dan berambut ikal itu.
BHUAK'
Sebuah hantaman mendarat di wajah Rion, laki-laki itu tersungkur hingga menubruk pintu transparan yang ada di belakangnya. Sontak saja keributan yang jelas terjadi di dalam ruangan itu memancing setiap mata yang melihatnya.
Semua orang berkerumun, namun tak ada yang berani melerai. Sedangkan tak cukup sampai disitu. Langit langsung menarik kerah kemeja Rion dan menghadapkan wajah laki-laki itu ke hadapannya.
Tajam tatapannya mulai mereda, kenapa?
Sebab setelah dilihat dari dekat. Wajah laki-laki ini sangat menyedihkan dari biasanya.
"Katakan sekali lagi ucapanmu itu ...!"
Rion diam.
Langit semakin geram karena tak mendapat apa-apa dari karyawan sekaligus temannya ini. Rion malah mengalihkan pandangan ke arah lain saat ia tanyai.
"Lihat mataku!" bentaknya lagi. Mencengkram kerah kemeja Rion namun tetap saja laki-laki itu datar tak berkata. "Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Katakan, karena aku tahu ini bukan dirimu Rion ...!"
"Apa kau bertanya padaku sebagai teman?"
Langit mengernyit.
"Tak ada gunanya, karena itu takkan berpengaruh padaku." Datar. Rion melepas cengkraman itu dengan keras.
Langit tercekat dan berdiri, sedikit darah mengalir di sudut bibir Rion. Tapi kenapa ia seolah merasakan hal lain yang menyakitinya lebih daripada ini? Ditambah lagi Rion juga sedikit pucat. Sebenarnya apa yang terjadi? Sebagai seorang atasan hal seperti ini memanglah bukan jadi urusannya.
Tapi ia tidak bisa mengabaikan begitu saja karena Rion adalah satu-satunya teman baginya sewaktu dulu. Bahkan sampai detik ini meski status jabatan membedakan mereka.
"Katakan ada apa?" Sekali lagi ia bertanya. Sejenak melirik ke arah kerumunan orang dengan tajam hingga mereka bubar sendiri.
"Masalahku bukan urusanmu."
"Cih! Baiklah. Jika kau tidak bisa mengatakan yang sejujurnya, maka aku juga tidak akan menyetujui surat pengunduran dirimu. Sekarang pergilah ...."
Rion diam lagi. Sejenak masih berada di lantai namun sesaat kemudian mulai beranjak dengan wajah murungnya yang sama.
"Ambilah cuti beberapa hari, aku akan mengizinkannya," ucapnya lagi.
Rion tak menjawab dan malah langsung berlalu begitu saja, namun ia tahu Rion mengerti dan akan menuruti perkataannya tadi.
KLEK'
Terdengar suara pintu terbuka lagi setelah beberapa saat kepergian Rion. Langit yang mencoba mengatur napas dari emosi yang naik turun tadi kembali memuncak karena merasa terganggu.
"Bukankah sudah kukatakan pergi dari sini?! Apa kau tidak dengar hah?!"
Sebuah rantang makanan terjatuh, wajah kaget dan takut membuat Langit sontak mengunci kemarahannya dalam sesaat. Wanita cantik berambut kecokelatan dan mengenakan dress biru cerah masih berdiri di depan pintu dengan wajah tertunduk.
"Bulan?"
"M-maaf, sepertinya aku mengganggumu ...." Cepat gerak tangan Bulan meraih rantangnya yang tak begitu hancur, membersihkan sedikit ceceran tumpahan air dari maskakannya ia lantas berdiri lagi.
"Bulan? Bulan, tunggu ...."
Bulan tiba-tiba berlalu meninggalkan ruangannya setelah berkata, iapun mengejar larian istrinya karena hinggap rasa bersalah dalam hati kenapa ia bisa sampai tak sengaja membentak Bulan seperti tadi.
Setelah sampai dan lengan istrinya ia dapat, Langit menghadapkan tubuhnya di depan Bulan. Istrinya masih menunduk, sedikit isakan kecil terdengar dan usapan jemari lentiknya mengahpus air mata.
"Maaf, aku sudah merusak makan siangmu. Sekarang aku akan menggantinya dengan yang baru," lirih Bulan dengan suara gemetaran.
"Tidak perlu ...."
"Tapi, Lang. Makananmu rusak, atau kamu ingin aku belikan makanan lain? Katakan saja, biar aku membelikannya untukmu."
"Sudah kukatakan tidak perlu, ya tidak perlu?! Kenapa aku harus mengulang kalimat dua kali agar kau mengerti?!" bentak Langit.
Bulan kaget dan semakin menunduk. Tak bisa ia bayangkan hukuman apa yang akan menimpanya kali ini, setelah semalam ia terbebas dengan kediaman Langit, apa suaminya akan memberi maaf kali ini?
Langit menoleh kesana-kemari, semua mata orang-orang yang masih ada tertuju padanya, dan mereka pasti berpikiran kalau ia adalah suami yang paling kejam pada istrinya.
"Ayo ikut aku ...." Langit menarik lengan Bulan, tetapi istrinya itu menarik lagi dengan keras hingga pegangannya terlepas.
"Aku tidak mau ...!"
Langit sedikit kaget, mengapa Bulan tiba-tiba bersikap seperti ini. Wanita itu sudah berteriak padanya dan berani mempermalukan ia di tempat umum.
"Kamu—”
"Kenapa? Kenapa kamu terus bersikap seperti ini padaku, Lang?!" tanya Bulan. Menatap mata Langit secara langsung ia tak lagi merasa takut karena kesal.
Langit terdiam. Mulutnya terkunci karena tak biasanya Bulan menangis sekencang ini.
"Jika begini, bagaimana ... bagaimana bisa aku mencintaimu? Aku tidak pernah menyangka akan hidup bersuamikan iblis sepertimu ...!"
Satu dorongan keras di d**a Langit membuatnya tercekat, dengan isakan tangis yang makin menjadi Bulan berlalu begitu saja.
Hanya menatapi kepergian istrinya, Langit tak mempedulikan lagi orang-orang di sekeliling yang mungkin akan menganggapnya suami terjahat di dunia.
Ia tidak peduli, karena mereka semua tak pernah merasakan hidup seperti dirinya.
Semakin jauh Bulan pergi, ia masih mematung. Kini di hatinya seolah ada gemuruh petir yang akan menyambar apapun.
"Andai saja kamu tahu, Lan. Aku juga membenci iblis yang ada di dalam diriku ini," gumamnya.