Epilog

1186 Words

"Alhamdulillah." Kalimat thayyibah terus meluncur dari bibirnya. Bergantian, ia terus menciumiku dan Emyr. "Kamu akan punya adik, Sayang. Akan jadi abang," ucapnya pada bocah yang matanya masih keriyep-keriyep. "Senang banget, sih?" tanyaku sedikit heran. Seingatku, dulu saat kehamilan Emyr saja ekspresinya tidak sebahagia ini. "Iya, dong," jawabnya singkat. Lengkungan pada ujung bibirnya seolah enggan turun. Menampakkan kebahagiaan yang teramat dalam. "Dulu perasaan saat hamil Emyr, gak segitunya?" "Kata siapa? Mas, sangat menyayangi Emyr." "Iya. Tahu kalau, Mas, sayang banget sama Emyr. Cuma waktu aku kasih tahu kalau hamil, gak berlebihan seperti ini." Dia menatapku sendu, lalu mengusap kepala kepalaku dengan sangat lembut. "Satu Emyr bisa mengikat cinta kita dengan kuat. Se

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD