"Mas, sudah salat isya?" Aku mengingatkan di antara napas yang memburu. "Sudah tadi di bandara," sahutnya. Ia tetap mengunciku dalam lingkaran tangannya. Tanpa mau mengurangi sedikit pun aktifitas sebelumnya. "Mas bau." Laki-laki itu berhenti sejenak, "Apa, mas, perlu mandi dulu?" lirihnya bertanya sembari menatap syahdu. "Mmm ... tapi aku suka baunya," jawabku malu-malu. Merasa tidak rela lepas dari kehangatan tubuhnya. Tubuhnya memang bau asam. Namun, aku menyukainya. Dia tertawa. Renyah. Terdengar sangat manis dan pelak saja menambah buncah getar di d**a. Ransel yang masih terpasang di punggung, ia jatuhkan begitu saja. Masih erat memeluk pinggangku, ia perlahan mengarahkan langkah, menggiringku ke bilik pelabuhan rindu. Malam mengukir sepi tatkala pekatnya kian menjadi. Tidak

