Ketika Ayah ada di rumah selalu ada saja keributan yang di buat nya. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk mendapatkan uang. Kebutuhan semakin banyak dan semua nya pakai biaya.
"Kurang terus! Kurang terus!" Kata Ayah sambil marah - marah pada Ibu.
" Jelas kurang Yah! Kebutuhan untuk rumah sama sekolah nya anak-anak besar Yah!"Jawab Ibu tidak mau kalah.
" Kalau begini terus Ibu harus cari kerja. Kerja apa saja yang penting halal buat menutupi kebutuhan rumah tangga dan sekolah nya anak-anak!" Lanjut Ibu sambil ngap-ngapan melihat ke Ayah yang juga tidak mau kalah pada Ibu.
"Berisik!! " Omel Iqbal sambil cemberut dan menutup kedua telinga nya.
Ranti dan Iqbal bersembunyi di kamar mereka sendiri, sambil menutup kedua telinga mereka, tetap saja terdengar, karena rumah mereka yang kecil, ??????? ??? ???? ?????????.
"Ayah! Ibu juga sudah usaha kesana kemari untuk mencari tambahan, anak-anak yang mengurus rumah pada saat kita sibuk kerja di luar! " Terang Julia kesal pada suaminya.
Julia pun tak kalah lelah nya, dari menerima uang dari suami, kerja serabutan membantu suami mencari tambahan pun sudah, puter otak pun sudah.
Sedangkan Ranti dan Iqbal mengurus rumah di kala orang tua nya membanting tulang demi mendapatkan rupiah untuk memperpanjang hidup mereka dan sekolah mereka.
"Bagaimana mau belajar kalau Ayah sama Ibu ribut terus!" Cetus Iqbal sambil merengut dan menutup kedua telinga nya. Ranti menghela napas sambil menutup kedua telinga nya juga tanpa mengatakan apapun. Dia dan Iqbal yang tadi nya sedang belajar di meja makan, mau tidak mau mereka mengungsi ke kamar tidur untuk melanjutkan acara belajar .
"Kayak nya dari kita kecil ribut mulu deh ayah setiap pulang ke rumah? " Sungut Iqbal pada Ranti yang terlihat masih menulis.
"Ayah emang dari dulu kayak gitu setiap pulang, enggak tau kenapa? "Sahut Ranti menoleh pada adik nya yang masih menutup kedua telinga nya.
Sejak Ranti dan Iqbal masih kecil, Ayah dan Ibu nya sudah sering bertengkar. Penyebab pertengkaran kedua orang tua mereka bermacam-macam, mulai dari kondisi ekonomi keluarga, sampai kecemburuan ayah pada ibu. Wajar saja Ibu Julia masih sangat cantik meskipun baju yang di pakai nya lusuh dan warna nya juga sudah pudar, kecantikan nya masih tetap terlihat, tidak pernah juga memakai make up atau poles bedak atau lipstik. Karena memang tidak punya. Makan tak pakai lauk-pauk tidak masalah, yang penting ada beras di rumah.
"Kalian enggak apa-apa? " Tanya sang ibu tiba-tiba masuk ke dalam kamar sulung nya dan duduk di pinggir tempat tidur.
"Enggak apa-apa sudah biasa aja Bu. " Sahut Ranti ringan dengan menutup buku nya yang sudah selesai di tulis.
Robi Idris, sang Ayah bekerja serabutan, apapun dilakukan untuk menghasilkan uang. Dia bukan pekerja kantoran, hanya lulusan SMA, tapi ijasah nya terselip di mana dia sendiri tidak tahu. Ibu sendiri saja tidak tahu apa pekerjaan Ayah sebenarnya. Julia sering memperhatikan Robi, setiba di rumah selalu kelelahan, sangat kasihan pada sang suami, dulu dia seorang suami yang sangat sayang pada anak dan istri nya, karena kebutuhan ekonomi yang membengkak sifat nya menjadi berubah. Karakter suami nya yang sekarang ini mudah marah, membuat Julia menjadi kesal dan sering kehilangan kesabaran karena suami nya tidak mau mengerti kebutuhan sehari-hari dan biaya buat sekolah kedua anak nya yang tidak mencukupi. Sehingga suatu hari Julia Humaira pergi melamar kerja, dengan baju yang sederhana dan rapih. Baik anak-anak maupun suami tidak mengetahui nya. Satu minggu kemudian dia di panggil oleh tempat dia melamar kerja nya yang kemarin. Walaupun ulusan SMA dia di terima di suatu perusahaan. Meskipun hanya staff marketing
Pada saat makan malam.
" Ibu punya kabar gembira, hari ini Ibu di terima kerja di suatu perusahaan " Kata Julia sambil tersenyum bahagia menatap kedua anak nya.
"Alhamdulillah"! Jawab Ranti dan Iqbal serempak sambil tersenyum lebar bahagia dan memeluk tubuh Ibu mereka.