Bab 3 Cemburu

608 Words
Hari sudah malam, Julia tidak bisa tidur karena tidak sabar menunggu hari esok. Di lihat suami nya sudah tertidur pulas. Pikiran Julia menerawang kemana-mana, tidak lama kemudian tertidur dengan sendirinya. Dan pagi itu, seperti biasa Ibu sudah menyiapkan sarapan untuk keluarga nya. "Hmmm harum bener! " Kata Iqbal sambil duduk di kursi makan. "Bentar Bu, Ranti ambilin air minum dulu. " Dengan sigap Ranti membuat teh manis untuk kedua orang tua nya juga untuk Iqbal dan diri nya. Ayah terkejut melihat penampilan istri nya yang berubah. Sudah tidak memakai baju rumahan lagi. Istri nya berpakaian rapih seperti orang yang mau bekerja di kantor. Ada rasa yang tidak bisa di tebak oleh Robi. Pikiran nya menerawang kemana-mana. "Kalau udah sibuk kerja di kantor berarti Ibu udah enggak ngurus rumah lagi? " Ibu berjalan menuju ke dapur untuk mengambil sesuatu, dengan membawa sendok dan Ayah di belakang mengekori nya. "Gak lah Ayah! Ibu tetap seperti biasa akan mengurus rumah dulu sebelum berangkat kerja." Jawab Ibu dengan tegas. Sibuk mengambil sarapan, Ranti dan Iqbal hanya terdiam mendengar perkataan dari kedua orang tua nya yang sudah berdebat pagi-pagi. "Ayo kita sarapan dulu." Seru Ibu sibuk mengambilkan sarapan untuk Ayah. "Ini teh manis buat Ayah. " Seru Ranti menyodorkan segelas teh manis yang masih hangat. "Ini punya Ayah udah Ibu siapin, ayok Yah sarapan dulu! " Ucap Ibu lagi. Ayah duduk di kursi makan menatap Ibu lagi. Yang di lihat Ayah bukan sarapan yang ada di meja, melainkan istri nya yang cantik, Julia, yang sudah berpakaian rapih untuk bekerja di kantor. Ayah memandang Istri nya tanpa berkedip. "Ibu cantik sekali dan juga harum". Kata Ayah dengan memuji dan mengagumi istri nya yang memang masih cantik. " Ibu enggak punya parfum. "Sahut ibu tersenyum geli. " Nama nya juga pertama kali kerja Ayah, harus rapih dan juga harum." Lanjut Ibu sambil tersipu di puji oleh suami nya. Biasa nya, Ayah selalu memarahi Ibu yang selalu meminta karena Ibu selalu bilang uang dari Ayah selalu kurang. "Ingat ya Bu, jangan tergoda oleh laki-laki lain! Ingat punya keluarga di rumah!" Seru Ayah sambil bangun dari kursi makan dan bersiap-siap untuk pergi bekerja. "Alhamdulillah! Makasih ya Ayah. " Kata Ibu sambil mencium punggung tangan suami nya. Seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa di antara mereka berdua. Setelah sarapan, Ranti bergegas mencuci piring sebentar, lalu bersama Iqbal berpamitan pada Ayah dan ibu, kemudian berangkat ke sekolah bersama. Ibu pun juga demikian, naik kendaraan umum untuk tiba di kantor Ibu bekerja. Sedangkan Ayah, Ayah juga pergi bekerja. Meskipun pekerjaan Ayah serabutan dengan penghasilan yang tidak pasti. Tiba di rumah, Ranti dan Iqbal tiba di rumah hampir bersamaan. Ranti mengambil kunci yang di letakkan di bawah pot bunga. "Laper! " Seru Iqbal lesu berjalan melangkah kedalam rumah. "Lepas baju seragam nya dulu Bal! " Seru Ranti mengingat kan adik nya yang terlihat sudah rebahan di kasur karena kelelahan. Tidak lama kemudian Ranti sudah di dapur menyiapkan satu bungkus mie rebus di bagi berdua bersama adik nya. "Ayo Bal! Kita makan siang dulu. " Teriak Ranti memanggil Iqbal dari meja makan. "Udah kakak ambilin nih piring nya." Lanjut nya lagi. Terlihat Iqbal berjalan gontai karena kelaparan. Di sepiring nasi dan di tuangkan nya mie rebus beserta kuah nya di piring Iqbal. "Enak! " Seru Iqbal bersemangat makan. "Lupa! " Ranti bangun dari kursi lalu berjalan menuju dapur nya yang kecil untuk mengambil air minum untuk mereka berdua. "Kakak juga laper banget Bal! " Sahut Ranti di sela kunyahan makanan nya. "Ibu nanti pulang jam berapa ya kak? " Tanya Iqbal yang ternyata sudah merindukan ibu nya. "Enggak tau kakak Bal, paling juga sore, jam kerja baru pulang. " Sahut Ranti menghibur Iqbal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD