Bab 6 Tertutup

603 Words
Sejak perceraian kedua orang tua mereka, Ranti agak trauma dengan yang nama nya pacaran atau pernikahan. Teman pria pun tak punya. Hanya sang adik, Iqbal seorang. "Nanti Iqbal jemput kakak seperti biasa. " Seru Iqbal setengah berteriak ketika menurunkan kakak nya di depan sekolah. "Iya Bal. Kakak masuk dulu. " Sahut Ranti setelah Iqbal mencium tangan kakak nya. Dari Ranti turun dari motor hingga berjalan menuju ke kelas, dia sudah di nanti-nanti oleh teman-teman laki-laki nya. Banyak dari mereka melempar senyuman manis pada nya, tapi sayang Ranti menanggapi nya tersenyum tipis kadang dingin. Saat melangkah masuk ke dalam kelas. "Ck! Makin cantik makin dingin gitu."Seru Revan mata nya tidak lepas dari Ranti. "Eh elo kalo punya nyali datengin sono! "Seru Jovan memberi semangat pada Revan yang ragu-ragu untuk mendatangi Ranti. Bunga es salju. Ketika di kelas pada waktu istirahat, Ranti dan beberapa teman nya sedang membicarakan tentang pria, tentang seperti apa pria idaman yang dalam angan-angan mereka. " Nanti kalau lu lulus SMA, apa ke inginan lu?" Tanya Alicia dengan wajah serius menatap Diana dan Ranti. "Yang pasti nih, gue mau kuliah,mau kerja, trus gue mau dapet calon suami yang sudah mapan. " Sahut Diana dengan mata menerawang, bagaikan sudah bisa melihat masa depan nya sendiri. "Bagus lah! " Jawab Ranti datar dengan pikiran yang kosong. Dia tidak mempunyai rencana mengenai masa depan, mengenai cita-citanya yang setidak nya di bahas dengan teman-teman nya. Ranti takut curhat dengan teman-teman nya. Mereka tidak tahu kondisi kedua orang tua nya yang sudah bercerai. "Kalo elu sendiri gimana Ran? Mau kuliah di mana? " Tanya Diana antusias menatap wajah Ranti yang datar, tidak ada ekspresi ingin membicarakan mengenai rencana masa depan nya. "Entahlah gue sendiri gak tau. " Jawaban pasrah dari Ranti membuat teman-teman nya bertanya-tanya. "Elu ada masalah Ran?" Tanya Alicia berusaha menebak jalan pikiran teman nya. Di jawab dengan gelengan kepala tanpa terlihat segan mengeluarkan isi hati nya. "Kali aja kita bisa bantu buat ngurangin beban yang ada di pikiran lu. " Ucap Diana yang terlihat perduli seperti Alicia. Belum sekolah berbunyi. Siswa-siswi berjalan perlahan menuju pintu kelas. "Ran, pulang sekolah bareng ya? " Seru Fajar sudah berdiri di samping Ranti, dia juga yang sudah sering mengajak Ranti pulang sekolah bareng. "Gak deh Jar, Iqbal dateng jemput seperti biasa. " Jawab Ranti biasa saja. Ranti menjadi pribadi yang tertutup. "Sekali ini doang Ran! Please! "Cetus Fajar dengan muka memohon. Hingga saat ini, Ranti sudah menolak teman-teman sekolah pria nya seperti Fajar dan masih banyak lagi yang malas Ranti sebut kan nama nya. "Kak Ranti gak jalan mingguan sama temen kakak yang nganterin Kakak pulang kemarin sore? " Seru Iqbal sambil memandang kakak nya yang sedang melipat baju. "Gak lah Bal! Kakak malas! " Jawab nya lalu menonton acara musik di televisi. "Kenapa kamu gak jalan sama salah satu teman kamu Ran? " Tanya Ibu tiba-tiba sambil mengusap sayang pada anak perempuan nya. Sejak Julia nya bekerja, dia jadi jarang meluangkan waktu nya untuk berbicara dari hati ke hati pada anak-anak nya. Walaupun dia sempat mengerjakan pekerjaan rumah. Dan baru kali ini di di lakukan nya. "Mau sampe kapan kamu ngejomblo begini? Gak enak tau kalo ngejomblo, gak punya tempat buat curhat atau buat ajak senang-senang bareng. Atau ngajakin jalan-jalan kemana gitu. Kamu gak mau gitu Ran?" Lanjut Ibu sambil memperhatikan raut wajah anak nya, dan posisi duduk semakin rapat dengan Ranti. " Jangan liat perkawinan Ibu sama Ayah ya? Setiap orang itu beda-beda ya sayang ya. "Lanjut Ibu sambil masih menasehati anaknya dengan muka serius. Julia merasa bersalah melihat kondisi kedua anaknya, imbas dari perceraian nya, Ranti jadi menutup diri, dan dingin terhadap teman laki-laki.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD