Bab 5

608 Words
Julia benar-benar bekerja keras, sadar bahwa diri nya harus lebih giat dalam bekerja. Sejak dia naik jabatan, kondisi ekonomi keluarga kecil nya semakin baik. Dan mereka bertiga sedang merayakan nya dengan makan di luar bersama. "Bagaimana tempat nya? " Seru Julia pada Ranti dan Iqbal dengan senyum di wajah nya yang cantik. "Bagus trus enak trus semoga makanan nya juga enak! " Sahut Iqbal dengan riang nya. Julia hanya bisa tertawa geli melihat tingkah laku dan mendengar kata-kata lucu dari Iqbal. "Enak tempat nya Bu. Nyaman." Ucap Ranti lembut dengan senyum lepas. "Ibu dapet rekomendasi dari temen kerja ibu yang sering makan disini. " Seru Julia senang melihat wajah kedua anak nya tersenyum lepas bahagia. "Itu makanan nya udah dateng. " Seru Iqbal senang. Dua minggu setelah makan bersama di kafe, Julia sedang membuat kejutan kembali untuk kedua anak nya yang di sayangi nya. "Ibu lagi ngapain senyam senyum sendiri begitu? Mencurigakan niyh? " Tanya Ranti pada Ibu yang sedang mencuci tangan di westafel. Iqbal sedang menonton acara sepak bola kesukaan nya, lalu menoleh kearah kedua nya dengan rasa ingin tahu. "Ada deh! Rahasia!" Jawab Ibu sambil tersenyum misterius dan berlalu dari hadapan Ranti. "Apaan sih Bu? " Tiba-tiba Iqbal bertanya dengan tidak sabar. Iqbal tahu, sejak bekerja Ibu nya banyak menyimpan rahasia. Tidak seperti dulu lagi, gampang bercerita pada mereka berdua. "Hmmm sejak ibu kerja baru kali ini jadi aneh dan banyak senyum." Gumam Ranti sambil mengelap meja makan dengan menggelengkan kepala nya. Hingga beberapa hari kemudian Ibu membelikan motor bekas tapi kondisi masih bagus, tentu saja masih di cicil, untuk Ranti dan Iqbal pergi ke sekolah. " Ranti, Iqbal kesini! Panggil Ibu dengan suara kencang. " Ada apa Bu?" Jawab kami berdua berbarengan. Kami keluar dari kamar dengan jalan tergesa-gesa. "Ibu membelikan motor, untuk kalian pergi ke sekolah. Meskipun bekas tapi kondisi nya masih bagus " Kata Ibu sambil tersenyum senang. "Terima kasih Bu"! Jawab kami sambil memeluk Ibu dengan senang dan rasa syukur. Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat. Di kala Ranti dan Iqbal hanya berdua, tidak sengaja mereka merindukan Ayah mereka, Robi Idris. Bagaimana pun juga dia tetap Ayah mereka . Mereka berdua berharap suatu hari nanti bisa bertemu dengan Ayah mereka tanpa sengaja. " Kenapa muka kayak gitu?" Tanya Ranti melihat muka adik nya aneh. "Kakak pernah kangen enggak sih sama Ayah? " Tanya Iqbal penasaran, Ranti tidak pernah mengeluarkan isi hati nya kalau tidak di tanya lebih dahulu. "Kangen lah. Kadang kakak berharap bisa ketemu sama Ayah tanpa sengaja? " Ranti berubah sendu. Ada darah yang tidak bisa di hilangkan dari tubuh mereka. Ikatan batin. Ada nafkah yang pernah di berikan sang Ayah pada anak-anak nya. "Doa in aja Ayah selalu sehat walafiat dalam kondisi apapun. " Ranti mengelap mata nya yang air mata nya sudah keluar. "Iya Kak yah, kadang Iqbal juga ada rasa kayak gitu. Pen ketemu sama Ayah tiba-tiba, entah di mana. " Iqbal mengelap mata nya juga yang basah. Dengan berjalan nya waktu kondisi ekonomi keluarga kecil mereka semakin baik. Julia menyisihkan sedikit uang nya untuk memperbaiki kondisi rumah mereka. Waktu pun berlalu, sekarang ini Ranti sudah menjadi gadis cantik, pintar dan dengan tinggi badan 165 centimeter. Dan sekarang sudah kelas tiga SMA, kini usia Ranti tujuh belas tahun. Iqbal kelas tiga SMP, berusia lima belas tahun. Dan Ibu Julia semakin hari semakin cantik. Padahal Julia pekerja kantoran dan juga jadi Ibu rumah tangga. Tugas bersih-bersih rumah selalu di lakukan bersama secara gotong royong. Iqbal yang menyiram tanaman dan jadi kurir rumah apabila di suruh Ibu beli gas , galon atau semacam nya. Sedangkan Ranti bersih-bersih didalam rumah. Tugas Ibu hanya memasak di rumah selain kerja di kantor.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD