5. Kekasih

2132 Words
*** Telapak tangan Vierra berkeringat saat dirinya mulai berjalan menuju podium yang mana sudah terdapat ayah dan ibunya. Vierra bukan gugup karena menaiki podium itu. Hell, no! Vierra sejak tadi gelisah karena tak kunjung menjumpai kakaknya dalam jangkauan matanya. Tubuh Vierra sedikit bergetar saat mengingat kegiatan panas sang kakak. Tangan lentiknya meremas gaunnya dengan gelisah. Ia tidak akan tenang sebelum menemukan sosok kakaknya di sini. Terkutuklah Bella yang telah menyesatkan kakaknya. Denting jam besar berbunyi dan detik itu pula hari berganti. Sebuah kembang api terdengar memenuhi langit malam dan ucapan bergemuruh terdengar. “Selamat ulang tahun!” sorak semua orang gembira. Vierra tersenyum paksa. Tiba-tiba seorang pelayan datang dan memberikan segelas wine pada Vierra dan tamu lainnya. “Wine,” bingung Vierra. Ia belum pernah meminum minuman ini. Ia bahkan tak berniat menyentuhnya sama sekali. Vierra takut mabuk. “Cobalah, Nak.” Vierra menatap ayahnya dengan pandangan tak menyangka. Ayahnya sendiri yang menyuruhnya minum sementara dirinya tidak kuat minum? Apa-apaan ini? “Tapi, Dad-” “Itu hanya wine, Nak. Dengarkan Daddy. Tidak pernah sekalipun Daddy ingin membuatmu menjadi gadis nakal. Hell, no! Daddy hanya ingin kau mencoba sesuatu yang baru walau itu buruk bagimu agar nanti kau tak terjebak di masa depan.” Vierra mengernyit mendengar pernyataan sang ayah. Apa maksud dari ucapannya itu? “Mungkin maksud Daddy-mu adalah ia ingin kau merasakan wine kali ini agar tubuhmu bisa meminimalisir wine itu dilain hari,” ucap Mega yang kini telah meminum wine nya dengan anggun. “Hm, benarkah?” ucap Vierra menatap wine di tangannya dengan tatapan polos. Gadis itu meminumnya perlahan. Rasanya sedikit aneh bagi Vierra. Gadis itu meletakkan gelas yang telah kosong di atas meja.Tubuhnya merasakan reaksi saat wine itu telah melewati tenggorokannya. Ah, ternyata begini rasa wine. Tidak buruk. MC mulai kembali membawa acara hingga tahap pemotongan kue besar yang menjadi simbul ulang tahun Vierra. Tangannya dituntun untuk memotong perlahan kue hingga Vierra mendapatkan satu potongan lumayan besar. Gadis itu hendak mencari sang kakak sebagai suapan pertamanya tapi sayangnya ia tak melihat Sean. Kekecewaan lagi-lagi menghinggapinya. Vierra menghela napas kasar dan menyuapkan kue itu pada ayah, ibu serta Ryder yang entah sejak kapan telah berdiri di dekatnya. “Silakan nikmati pestanya,” ucap Alex. Pria paruh baya itu menjauh dari Vierra bersama sang istri. Kini tinggallah Vierra dan Ryder seorang. Lampu yang padam kini terisi hanya pada lantai dansa. Alunan lagu yang merdu membuat suasana romantis tercipta di dalamnya. Vierra duduk di sebuah kursi tak jauh darinya lalu diikuti Ryder. Gadis itu memakan kue dengan lahap berharap kekesalannya pada Sean segera hilang. “Makan pelan-pelan, Ra.” Vierra tampak acuh dan terus menyuapi kue itu hingga mulutnya penuh, bahkan ia terlihat kesulitan mengunyah kuenya. “Dasar bocah kecil,” dengus Ryder. Pria itu mengeluarkan sapu tangannya dan menghapus sisa kue di sudut bibir Vierra. Sejenak tatapan Vierra terkunci pada wajah Ryder yang dengan serius membersihkan sudut bibirnya. Andai saja Ryder adalah pria yang ia cintai, tentu tak sulit bagi Vierra untuk mengungkapkan rasanya. Vierra terlalu bodoh karena menyukai kakak angkatnya. Ia terjebak pada zona kakak adik bersama Sean hingga dirinya dipaksa mundur oleh keadaan sebelum bisa mengungkapkan perasaan. “Kenapa dengan wajahku? Apa aku terlalu tampan?” goda Ryder menaikturunkan alisnya. Vierra tertawa kecil dan mencubit perut keras sahabatnya itu. Pandangan Vierra kembali menatap ke arah depan atau lebih tepatnya area dansa. Matanya terlihat semakin sayu saat melihat seseorang di lantai dansa bersama pasangannya. Mereka tampak mesra. “Apa kau ingin berdansa?” tanya Ryder. Vierra awalnya tak berniat sama sekali untuk menginjakkan kakinya ke lantai dansa, tetapi saat ia melihat Sean bersama Bella tengah melakukan dansa di sana, entah kenapa Vierra berubah pikiran. Ia sangat ingin berdansa sekarang. “Ya, aku ingin.” Ryder bangkit dari duduknya dan berdiri di samping Vierra sembari sedikit membungkus mengulurkan tangannya pada gadis itu. “Maukah Anda berdansa dengan saya, My Lady?” ucap Ryder dengan gaya bangsawannya. “Tentu.” Saat Vierra dan Ryder berdansa, perlahan para tamu sedikit menepi membiarkan kedua insan itu berdansa dengan leluasa. Vierra yang cantik dengan Ryder yang tampan amat cocok bagi orang yang melihatnya. Tiba-tiba lagu berhenti sejenak dan suara MC terdengar. “Saatnya berganti pasangan.” Vierra tidak tahu harus dengan siapa ia berdansa sekarang, tapi secara tiba-tiba tangannya tertarik menuju ke arah belakang dan matanya bertemu dengan mata hijau emerald milik seorang pria tampan yang ia ketahui merupakan sahabat kakaknya. “Malvin Feliciano, itu namaku.” Pria yang baru saja memperkenalkan dirinya pada Vierra tersenyum tipis memaklumi. Sementara Vierra kini merasa amat kikuk tak bisa bergerak dengan sewajarnya. Pandangan pria ini begitu tajam seolah menembus kepalanya. Ya Tuhan, selamatkan Vierra. “Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Vie?” ucap Malvin yang kembali memulai obrolan. “Vie?” gumam Vierra tak mengerti. “Namamu Vierra, kan? Aku ingin memanggilmu dengan nama berbeda dari kebanyakan orang,” jelas Malvin sembari terkekeh. “Oh.” “Bagaimana dengan kuliahmu, Vie?” tanya Malvin yang Vierra yakini hanyalah basa-basi semata. “Baik, semuanya berjalan lancar dengan semestinya.” Mereka asik mengobrol. Vierra tak lagi kaku seperti tadi, Malvin yang terus mengajaknya berbicara membuat Vierra menjadi lebih rileks dari sebelumnya. Mereka terlibat pembicaraan yang meliputi hari-hari Vierra. Tanpa Vierra mau, matanya tak sengaja menatap pada sosok kakaknya yang berdansa dengan wanita lain, bukan Bella seperti tadi. Saat mata Vierra mencari sosok Bella, dirinya mendapati wanita itu berdansa dengan seorang pria. Pria yang tak asing baginya. Dan benar saja, pria itu adalah Dean Franky Brave. Sahabat kakaknya dan juga Bella. Alunan musik pun perlahan berhenti dan dansa selesai. Pasangan yang berdansa sampai akhir itu membungkuk pelan pada tamu. Sorakan pujian terdengar dimana-mana memuji dansa sang primadona malam ini, Vierra Nathania Xander. “Gadis cantik itu terlihat cocok dengan semua pria tampan yang ada di sini.” “Cantiknya bahkan tak terdefinisi.” “Apakah dia melakukan perawatan tiga kali sehari? Kenapa dia begitu sempurna?” “Dia gadis tercantik yang pernah aku temui.” Banyak lagi sederetan kalimat yang memuji Vierra secara terang-terangan. Mereka melihat Vierra bagai seorang dewi khayangan yang terjebak di dunia yang pana ini. Gambaran yang terlalu sempurna untuk sosok gadis yang dulunya adalah anak buangan keluarga. Saat Vierra mulai menjauh dari Malvin dan kembali mendekat pada Ryder yang sudah menunggunya di tepi lantai dansa. Alex dan Mega menghampiri keduanya. Terlibat percakapan santai diantara keempatnya. Vierra mematung saat Sean mendekat ke arahnya. Matanya yang semula menatap wajah Sean yang tersenyum cerah, kini beralih menatap ke arah tangan Sean yang menggenggam erat tangan lentik seorang wanita. Dan sialnya, wanita yang beruntung itu adalah Bella. Tiap langkah kaki yang diambil Sean menujunya, tiap itu pula denyut jantung Vierra semakin menyesakkan d**a. Vierra berusaha keras untuk tidak meneteskan air matanya. “Mom, Dad,” sapa Sean saat berada di depan mereka. Tanpa melepas genggaman tangannya pada Bella, Sean mengecup kening Vierra penuh sayang. “Selamat ulang tahun, Sayang.” Deg. Deg. Deg. Vierra merasakan tubuhnya menegang kaku. Panggilan sayang dari Sean adalah hal yang selalu ia inginkan. Tapi tidak untuk sekarang. Vierra ingin Sean mengucapkan kata sayang dalam artian pria pada wanitanya, bukan kakak pada adiknya. Vierra benci menerima fakta ini. “Maaf karena tak bisa menemanimu memotong kue bersama, Ra.” “Kenapa?” tanya Vierra dengan napas tercekat. Suaranya ia tahan agar tak bergetar. Sean terlihat salah tingkah. Pria itu mengusap tengkuknya dan menatap Vierra tak enak hati. Antara bersalah dan malu, itulah yang Sean rasakan. “Ada hal penting yang terjadi,” ucap Sean. Lagi dan lagi. Kalimat singkat Sean berhasil menikam jantung Vierra begitu dalam. Hal penting katanya? Vierra tertawa miris mendengar itu. Hal penting apa yang kakaknya ini maksud? Apakah s**s begitu penting ketimbang Vierra? Vierra seolah ditampar oleh fakta bahwa ia tak sepenting itu dimata Sean. “Dad, Mom, ada hal yang ingin aku sampaikan pada kalian.” Sean berucap dengan tatapan berbinar dan penuh kebahagiaan. Tak pernah sekalipun Vierra melihat senyum Sean yang seperti ini. Tidak pernah. “Aku dan Bella mulai berpacaran, dia kekasihku sekarang.” DEG! Bagai tersiram air dingin, tubuh Vierra membuka seutuhnya. Bahkan rasa dingin itu menjalar hingga ke hatinya. Lutut Vierra terasa begitu lemas saat kalimat menyakitkan itu keluar langsung dari bibir sang kakak. Tak pernah sekalipun Vierra mengira hal ini akan terjadi. Dan terjadi di hari bahagianya. Sean menggoreskan luka amat dalam di hatinya pada hari ulang tahun Vierra yang ke-20 tahun. Vierra merasa ingin menenggelamkan diri di samudera. “Be-benarkah?” ucap Mega dengan terbata-bata. Wanita itu terlihat sama kagetnya dengan Vierra. “Tentu, Mom.” Mega menggeleng tak percaya. Matanya menatap lurus mata Sean seolah berkata ; Jangan bercanda! Sean paham akan tatapan sang ibu. Ia beralih menatap Vierra yang bengong menatapnya. Sean menatap lamat gadis itu untuk memastikan sesuatu. Sean tak merasakan debar jantung menggila pada Vierra. Sean yakin bahwa ia tidak mungkin mencintai Vierra. Hey! Vierra adalah adiknya, tentu saja Sean tidak mau. Demi membuktikan omongannya. Sean meraih dagu Bella, mendongakkan wajah wanita itu agar menatapnya dan detik itu juga bibirnya menyatu pada bibir Bella yang terbuka. Menunjukkan di depan mata kedua orang tuanya serta Vierra bahwa apa yang ia ucapkan adalah benar. Bella adalah kekasihnya sekarang, mungkin selamanya. Saat bibir itu menyatu, tepat saat itu air mata Vierra jatuh. Jatuh tanpa melewati pipinya. Air mata itu langsung jatuh menyentuh lantai setelah pelupuk mata Vierra terlalu penuh oleh air mata. Kepala Vierra tertunduk dalam. Tangan gadis itu terangkat naik meremas area jantungnya. Ia tak sanggup berdiri di sini menyaksikan secara langsung hal menyesakkan itu terjadi. “Vierra, kau tak apa?” bisik Ryder yang menyadari ada hal yang tidak beres pada Vierra. “Mataku kelilipan,” alibi Vierra. Gadis itu berusaha kembali menetralkan pandangnya yang sempat meredup sendu. “Apa kalian percaya?” ucap Sean setelah mengakhiri ciumannya. Mega telah terduduk di salah satu kursi sembari memijat pelipisnya. Wanita itu tampak kaget dengan kabar mendadak yang Sean bawa. Alex berdiri di samping sang istri untuk membuat wanitanya itu menjadi sedikit tenang. “Terserah apa maumu, tapi jangan menyesal,” ucap Mega. Ia melirik sekilas pada Vierra. Gadis itu terlihat baik-baik saja. Apa Vierra tak mencintai putranya? Mega menghela napas kasar. Baiklah kalau begitu. Selagi Vierra tak mencintai Sean dan Sean pun juga begitu, maka mungkin sudah takdirnya mereka hanya menjadi sepasang adik kakak. *** “Rara!” pekik suara menggema dalam ruang tamu yang luas itu. Sean mencari-cari sosok adiknya itu untuk pulang ke mansion milik Sean yang berada tak jauh dari perusahaan dan kampus Vierra. Itulah alasan mengapa Vierra tinggal berdua bersama Sean ketimbang orang tuanya. Tentu karena jarak kampus sangat dekat dengannya dan akan menghemat waktu serta uang. “Bibi, kemana Rara?” tanya Sean pada kepala pelayan. Pria itu menuruni tangga dengan celana panjang dan kaos hitamnya. “Nona Rara sudah pergi sejak tadi, Tuan.” Alis Sean terangkat naik. Apa yang dikatakan kepala pelayan ini benar? Apa telinganya yang bermasalah? Lagipula sejak kapan Vierra-nya berani pergi tanpa seizinnya? Sean sedikit terbawa emosi, tapi ia sudah kembali rileks sekarang. “Pergi kemana, Bi?” tanya Sean lagi. Pria itu mengambil sebotol air dingin di dapur dan meneguknya hingga tandas tak tersisa. “Nona Rara berkata dia ingin ke kampus dan pulang sore nanti,” ucap kepala pelayan itu sembari membungkuk hormat. “Oh baiklah,” ucap Sean. Ia sempat heran dengan Vierra yang pergi tanpa meminta izin terlebih dahulu padanya. Biasanya gadis itu akan berteriak izin ke kampus, tapi kenapa sekarang tidak? Tak ingin berburuk sangka, akhirnya Sean memilih pulang ke mansion-nya sendiri. Setibanya Sean di mansion miliknya, senyum pria itu terbit kala mengingat hal semalam. Ia mendapatkannya. Ia mendapatkan cinta pertamanya, Bella. Sudah sejak lama ia menyukai wanita itu, high school adalah tempat pertama kali mereka berjumpa. Dan saat itulah Sean jatuh cinta pada sosok Bella yang dewasa, cantik dan anggun. Senyum Sean tiba-tiba luntur begitu saja saat beberapa pengawal ayah yang keluar dari mansion nya sembari membawa koper. Bukan satu atau dua koper saja, melainkan empat koper besar. Sean berjalan cepat menghampiri mereka. “Ada apa ini? Koper siapa yang kalian bawa?” tanya Sean. “Koper Nona Vierra, Tuan.” “Rara?” gumam Sean. “Kenapa dengan kopernya? Coba jelaskan padaku, ada apa ini?” desis Sean yang terdengar marah. “Mulai hari ini, Nona Vierra akan tinggal di mansion utama.” “APA?! Tapi kenapa bisa?” Sean mengeraskan rahangnya. Ia amat marah dengan tingkah kekanakan orang tuanya. “Masukkan kembali kopernya, Rara tidak akan pulang.” “Tapi Tuan-” “Ini perintah!” Sean kembali menuju mobilnya dengan wajah marah yang amat kentara. Pria itu memutar kemudi untuk kembali menuju mansion utama milik sang ayah. Ia ingin penjelasan kenapa Vierra harus dipindahkan begitu saja dari mansion nya. Dia tidak mencintai Vierra bukan berarti mereka bisa menjauhkan mereka. Tidak akan. Sean tidak akan membuat kedua orang tuanya menjauhkan Vierra darinya. Sial. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD