***
Suara teriakan penuh amarah memenuhi mansion megah itu. Bahkan beberapa pelayan dan pengawal memilih untuk menjauh dari sosok yang kini tengah kacau di ruang tamu. Tubuh pria itu menanti sesuatu yang akan datang ke mansionnya. Dialah Sean. Pria itu tengah menanti Vierra pulang, ah atau bisa disebut sebagai jenazah sang adik. Dirinya masih tidak rela dengan kejadian ini. Sean bersumpah akan menghancurkan hidup orang yang telah merenggut nyawa adiknya. Sean bersumpah akan membuat orang itu tersiksa hingga menjerit meminta ajal segera datang.
Bella kewalahan sedaritadi untuk menenangkan Sean yang mengamuk. Pria yang sudah setengah sadar dari alkohol itu terus meracau meminta Tuhan mengembalikan adiknya. Bella menangis melihat Sean yang begitu hancur. Ia ingin memeluk kekasihnya, tapi apa daya Sean terus menolak hingga membentaknya.
“MENJAUH DARIKU, S*ALAN!” bentak Sean murka pada Bella yang sejak tadi tidak lelah mendekatinya berulang kali walau sudah ia dorong menjauh. Mendengar bentakan Sean yang diiringi tangis kencang itu membuat Bella menyerah. Wanita itu mundur menjauh hingga berdiri tidak jauh dari para pelayan dan pengawal yang menunduk takut.
“Tolong...”
“Tolong sekali ini saja, Tuhan. Tolong berikan aku kesempatan.”
“Kembalikan Vierraa-ku.”
“Ke-kembalikan di-dia,” rengek Sean dengan tangis sesenggukan.
Sean jatuh terduduk dengan kepala tertunduk dalam. Ia tak berniat sedikitpun untuk menghapus air matanya, akan tetapi memilih membiarkan air itu mengalir melewati pipinya. Detak jantung Sean menggebu saat dering ponselnya berbunyi. Sean bangkit dengan tergesa menghampiri ponselnya yang berada tak jauh dari sana. Sean tidak membaca siapa yang meneleponnya, sebaliknya ia berharap itu adalah Vierra-nya. Vierra masih hidup. Itu yang ia harapkan. Namun sayang harapan itu pupus seketika kala terdengar suara berat pria di seberang sana. Tanpa perlu menerka, Sean tahu jika itu adalah pihak polisi. Apakah jenazah adiknya akan segera dipulangkan? Sean belum terima fakta itu.
“Dengan Tuan Xander?” sapa polisi di seberang sana.
“Ya, i-itu saya.”
“Maaf atas-”
“Apa yang terjadi?”
DEG!
Semua orang lantas membalikkan tubuh mereka menghadap pintu keluar bersamaan setelah terdengar suara familiar dari sana, termasuk juga Sean. Bahkan dari mereka semua, Sean lah yang berbalik lebih dulu. Tangisan haru terdengar serentak saat itu juga. Pelayan, pengawal, Bella dan juga Sean, mereka semua menangis pilu penuh haru kala sosok cantik berdiri di depan pintu. Dialah Vierra.
“VIERRA!”
Sean berlari tanpa mempedulikan kakinya yang tertancap pecahan benda-benda tajam yang disebabkan olehnya barusan. Pria itu tak peduli jika dianggap tidak sopan oleh polisi yang meneleponnya tadi. Tatapannya hanya terpusat pada Vierra seorang. Sean berhambur memeluk tubuh itu erat, amat sangat erat membuat Vierra kesulitan bernapas.
“Vi-Vierra... kakak takut,” bisik Sean dengan air mata yang mengalir semakin deras. Pria itu menghirup harum tubuh Vierra dalam-dalam. Meresapi harum gadis kesayangannya. Sean bahkan menyeruakkan wajahnya di ceruk leher Vierra.
“A-ada apa, Kak? Kenapa dengan kalian semua?” bingung Vierra. Dengan wajah kebingungannya, Vierra balas memeluk tubuh bergetar sang kakak. Menatap wajah semua orang di sana yang dipenuhi air mata membuat Vierra semakin tidak mengerti dan pusing sendiri.
“Kau nyata?” gumam Sean. Pria itu melepas pelukannya dan menatap lamat-lamat manik yang berwarna abu-abu itu. Sean tidak bisa menahan air matanya. Ini kali pertama ia menangis lepas di depan semua orang terutama di depan gadis ini. Adiknya yang mampu menghancurkan dirinya berkeping-keping hanya dengan kabar ini.
“Rara? Tentu saja nyata, ada apa denganmu, Kak?” Vierra rasanya ingin menjerit meminta penjelasan tentang semua ini.
“Lihat! Dia adikku! Dia nyata!” ucap Sean dengan tawa menggelegarnya. Pria itu berbalik menatap semua orang yang tadi mengatakan jika Vierra-nya memang telah tiada.
“Adikku masih hidup!” sorak Sean penuh gembira.
Semua orang mengangguk dengan senyum mereka. Dari wajah Sean, mereka mengetahui betapa pentingnya sosok gadis itu terhadap diri Sean. Mereka mampu merasakan kelegaan dan kebahagiaan dari wajah Sean yang berseri. Lengkungan bibir itu membuat semua orang ikut melengkungkan bibir mereka membentuk senyuman.
“Puji Tuhan, selamat atas keberuntungan ini Tuan Muda,” ucap mereka.
Sean kembali menatap Vierra dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya. Namun entah kenapa pandangan Sean berputar dan semakin mengabur samar-samar. Sean tidak bisa melihat dengan cukup jelas. Dirinya menjatuhkan kepalanya di bahu Vierra sebelum tubuhnya terasa meringan dan kegelapan menjemputnya.
“TUAN SEAN!”
“SEAN!”
***
Ringisan kecil terdengar dari bibir itu, kelopak mata yang menutupi manik indah itu perlahan terbuka. Tangan besarnya sontak memegangi kepalanya yang terasa amat pusing bagai dihantam ribuan batu. Sean menyesuaikan dengan cahaya lampu yang menembus retina matanya. Ia memijat pangkal hidungnya pelan sembari mengingat-ingat apa yang terjadi padanya sebelum ia berada di atas tempat tidur ini.
Vierra.
Tubuh Sean menegang. Pria itu menyentak kasar selimut yang menutupi tubuhnya. Saat ia hendak bangkit dan berlari menuju luar kamar ini, tubuhnya lebih dulu terjatuh menghantam lantai yang dingin. Sean menatap telapak kakinya yang dibalut kain putih. Saat telapak itu ia gunakan untuk menapak, betapa sakitnya yang Sean rasa. Ia bagai berjalan ditumpukan pisau yang terus menusuk kakinya saat ia berusaha berjalan. Namun ketika mengingat niat awalnya yang ingin memastikan apakah Vierra-nya benar-benar ada atau hanya mimpi belaka, Sean kembali semangat berjalan walau sakit. Ia memaksa kakinya untuk berjalan walau tertatih-tatih dan tentunya membuat darah membasahi kain itu.
Sean berjalan pelan dengan bantuan dinding. Ia meringis tiap langkah yang ia ambil. Hingga saat Sean sudah tidak cukup energi untuk menahan rasa sakitnya, ia memilih untuk merangkak dengan tangannya. Sean bagai orang lumpuh sekarang.
Tok... Tok... Tok...
Sean mengetuk kamar Vierra dengan terburu-buru. Tak mendengar sahutan dari dalam, Sean kembali melakukannya.
“Ra.”
Tetap saja tak ada suara dari sana. Sean kembali panik. Ia hendak kembali menangis layaknya anak kecil yang kehilangan ibunya, tetapi saat pintu terbuka dan sosok Vierra muncul di depannya, wajah Sean berubah berseri-seri. Matanya berkaca-kaca dengan posisi duduk di depan pintu. Kepala Sean mendongak guna menatap wajah Vierra-nya.
“Astaga, Kak!” pekik Vierra panik. Gadis itu berjongkok guna mensejajarkan posisi mereka.
“Tunggu dulu, Rara akan meminta bantuan.”
Saat tubuh Vierra ingin berlari keluar meminta bantuan pengawal, cekalan di tangannya lebih dulu menghentikan niatnya. Vierra menatap Sean yang menahan tangannya dengan pandangan bingung.
“Jangan tinggalkan kakak.”
Vierra merasakan debaran menggila saat mendengar nada bicara Sean. Kakaknya itu meminta ia tetap tinggal bersamanya di sini? Namun melihat telapak tangan Sean yang berdarah, Vierra menggeleng tegas. Ia harus meminta bantuan pengawal guna mengangkat tubuh kakaknya itu ke ranjang.
“JANGAN!” raung Sean tidak terima.
“Kak, lepas. Kakimu berdarah, itu tidak bisa dibiarkan.”
“Jangan tinggalkan kakak, Ra.”
Vierra tidak tega saat melihat Sean memeluk erat tangannya dengan tubuh bergetar. Hati Vierra merasa diremas kuat oleh tangan tak kasat mata saat melihat Sean menangis di bawahnya. Vierra kembali berjongkok, gadis itu menangkup wajah Sean.
“Baiklah, jangan menangis, Kak.” Vierra menghapus air mata Sean dengan perlahan. Melihat tatapan penuh kesedihan di kedua manik kakaknya, membuat Vierra semakin sedih. Gadis itu mengecup kelopak mata Sean dengan penuh kasih sayang dan berakhir mengecup kening kakaknya yang sedikit berkeringat.
“Rara di sini, semua baik-baik saja.” Sean mulai kembali tenang. Pria itu mengatur napasnya agar tangisan yang tidak ia harapkan ini segera berhenti.
Terpaksa karena Vierra tidak bisa memanggil pengawal ataupun pelayan guna membantu mengangkat Sean menuju ranjang, akhirnya Vierra memapah sang kakak untuk berjalan perlahan ke sana. Tiap ringisan yang Sean keluarkan, Vierra semakin memperlambat jalannya. Butuh beberapa langkah barulah tubuh Sean bisa duduk di ranjangnya.
“Tunggu di sini, Kak.”
Sean kembali menahan pergelangan tangan Vierra sembari menggeleng. Mata itu kembali berubah cemas.
“Rara hanya ingin menutup pintu, Kak.” Butuh cukup waktu agar Sean melepaskan pergelangan tangan Vierra. Vierra tersenyum lembut, ia mengusap rambut Sean perlahan dan berbalik untuk menutup pintu yang terbuka lebar. Pandangan Sean tidak beralih sedetikpun dari tubuh Vierra yang bergerak menjangkau pintu.
Saat pintu telah ditutup dan Vierra kembali berjalan menuju ke arahnya, barulah Sean kembali tenang.
“Kakimu berdarah, Kak. Tunggu sebentar, Rara akan obati.”
Sean menatap segala gerak-gerik Vierra. Bahkan ketika gadis itu berjalan menuju kamar mandi, kekhawatiran kembali melingkupi Sean. Ia tidak tenang jika Vierra tidak dalam jangkauan matanya.
“Ra,” panggil Sean dengan suara lemah. Ia berniat menyusul Vierra, tetapi terhenti saat Vierra keluar dari kamar mandi dengan wadah berisi air bersih.
“Ini sedikit sakit, tapi tidak masalah daripada kaki Kak Sean terinfeksi.”
Vierra dengan telaten melepas kain berlumur darah itu. Ia membuangnya di tong sampah kecil di sana. Mencelupkan kain bersih ke dalam wadah berisi air dan mengelap kaki Sean dengan perlahan. Vierra meringis saat mengingat bagaimana saat tiga dokter dan lima suster khusus keluarga Xander datang dengan alat mereka melakukan pengobatan pada kaki Sean yang tertancap pecahan benda tajam.
Ya, Vierra sudah tahu semuanya. Ia sudah mendengarkan semua kejelasan atas apa yang terjadi saat ia berada di luar. Mulai dari kejadian kecelakaan pagi tadi dan sampai Sean yang mengamuk malam ini. Vierra merasa bersalah karena pulang terlambat. Andai saja ia pulang lebih cepat, mungkin kakaknya tidak akan menjadi seperti ini. Mungkin saja kesalahpahaman akan terselesaikan tanpa perlu adanya tangisan.
“Selesai. Sekarang biar Rara obati dengan obat antibiotik dulu. Tahan ya, Kak.” Vierra mengobati dengan perlahan walau kadang Sean meringis pelan akibat reaksi obat yang ditimbulkan. Vierra kembali membalut telapak kaki Sean dengan kain baru dengan cara yang sama seperti halnya yang dokter lakukan tadi.
“Yes, selesai.”
Vierra mengembalikan semuanya pada tempat semula lalu ikut naik ke sisi ranjang yang lain. Gadis itu menghadap Sean dengan senyuman hangatnya.
“Berhenti menatap Rara seperti itu, Kak. Tatapan itu seperti Kak Sean sedang menghakimi, Rara.”
Sean melunakkan tatapannya yang tadi tajam menatap Vierra. Ia bukan marah atau sejenisnya, Sean hanya tidak ingin jika ia berkedip terlalu lama maka Vierra akan hilang dari hadapannya. Sean takut ini hanya fatamorgana semata.
“Kemari, biar Rara peluk.” Sean menurut, ia bergerak mendekati Vierra dan memeluk tubuh gadis itu sembari meletakkan kepalanya di ceruk leher Vierra. Tidak bosan-bosannya Sean menghirup harum itu. Ini benar Vierra-nya. Sean tidak salah lagi. Namun menyadari jika Vierra berada di sini, lalu siapa yang telah menjadi korban tabrakan itu?
“Ra,” panggil Sean dengan suara serak. Posisi tidur Vierra yang lebih tinggi dari Sean, membuat Sean mesti mendongak.
“Kenapa, Kak?” tanya Vierra penuh kehati-hatian. Gadis itu mengusap rambut Sean.
“Apa ini nyata?” gumam Sean.
Vierra bingung antara ingin marah atau tertawa saat mendengar pertanyaan yang jelas-jelas sudah dipertanyakan oleh Sean sebelumnya. Betapa menggemaskannya Sean jika dalam mode seperti ini.
“Tentu, Kak.”
Sean memeluk tubuh Vierra dengan erat. Pria itu memilih memejamkan mata sembari mendengar detak jantung berirama milik Vierra. Amat sangat nyaman.
“Bagaimana bisa?” tanya Sean dengan lirih yang tentunya masih bisa didengsr oleh Vierra.
“Entahlah yang Rara tau, setelah kak Sean menurunkan Rara di tepi jalan saat itu, Rara menunggu sejenak apakah kakak akan datang kembali atau tidak, dan ternyata tidak. Rara lalu memutuskan untuk menyeberang jalan untuk duduk di kursi di seberang jalan. Ah iya, sebelum menyeberang Rara sempat mengambil ponsel di tas selempang kecil yang Rara pakai. Rara menelepon Ryder untuk memintanya menjemput Rara. Setelah itu tak lama Ryder datang dan kami berangkat bersama. Selesai. Hanya itu yang Rara ingat,” jelas Rara panjang lebar.
“Ah iya, Rara juga baru ingat kehilangan dompet Rara,” sambung Rara lagi.
Sean menghembuskan napas lega mendengar penjelasan adiknya. Namun mengingat gadis yang dinyatakan sebagai Vierra yang tewas, membuat Sean terdiam cukup lama.
“Bagaimana dengan dia?” tanya Sean yang terdengar ambigu di pendengaran Vierra. Dia siapa yang kakaknya ini maksud?
“Korban kecelakaan itu,” sambung Sean saat menyadari kebingungan yang melingkupi Vierra-nya.
“Oh... tadi Kak Bella bercerita bahwa polisi menghubungi kembali dan meminta maaf karena salah memberikan identitas. Korban kecelakaan itu bernama Cheryl Williamson yang berusia 22 tahun.”
“Lalu bagaimana bisa dompetmu berada padanya?” tanya Sean yang sudah amat penasaran.
“Rara tidak tau.”
Hembusan napas kembali terdengar dari bibir itu. Vierra tersenyum sembari mengelus rambut Sean dengan perlahan penuh kasih sayang. Posisi mereka tidak berhenti barang sedetikpun karena Sean yang tidak melepaskan pelukannya.
“Kak, apa tidak apa-apa jika Kak Sean tidur di sini sementara Kak Bella berada di kamar sana?” tanya Vierra. Ia sudah mencoba berdamai dengan Bella dan itu lebih baik daripada terus membenci tanpa sebab, karena Bella adalah sosok yang amat baik padanya dan juga kakaknya.
“Hm, tidak masalah.”
Vierra menggeleng tak menyangka saat jawaban singkat itu yang dikeluarkan kakaknya.
“Baiklah, sekarang mari tidur. Tidurlah, Kak.”
Sean perlahan memejamkan matanya, menikmati segala yang Vierra lakukan padanya. Usapan itu, hembusan napas ini serta detak jantung yang tengah ia dengar sekarang. Semua tampak nyaman baginya hingga tanpa menunggu waktu lama, Sean segera jatuh memasuki alam mimpi dengan perasaan damai dan tenangnya.
“Selamat tidur,” bisik Vierra. Gadis itu tidak menghentikan usapannya pada kepala Sean.
Seolah kejadian hari ini tereka ulang membuat Vierra sadar bahwa seberapa cinta pun Sean pada wanitanya, ia sebagai adik perempuan Sean memiliki tempat khusus di hati pria itu. Sampai di sini, Vierra sudah lega bila harus melepaskan rasa cintanya. Ia harus berusaha walau sulit. Ya, karena Vierra tidak ingin persaudaraan mereka hancur hanya karena rasa cinta.
Tok... Tok...
Pintu diketuk dari luar dan Vierra mengizinkan untuk masuk. Terpampanglah wajah Bella yang panik dan seketika berubah lega saat melihat keberadaan Sean. Wanita itu tersenyum pada kedua adik kakak itu.
“Apa dia baik-baik saja, Ra?” tanya Bella.
“Ya, Kak Bell. Kak Sean sudah cukup tenang. Tapi maafkan aku karena tidak bisa membujuknya untuk kembali ke kamarmu.”
“Tidak masalah, Kak Bella paham apa yang kakakmu rasakan. Dia terlihat syok berat. Kalau begitu kakak kembali ke kamar, ya, Ra. Selamat malam,” ucap Bella dengan senyumnya yang tidak pernah luntur sedikitpun.
Pintu tertutup suasana kembali sepi. Vierra mengecup puncak kepala Sean dan ikut tertidur menyusul kakaknya ke alam mimpi.
Hari yang melelahkan.
***