12. Hubungan terlarang?

2554 Words
*** Dua minggu telah berlalu sejak kejadian itu, sikap dan sifat Sean berubah drastis. Pria itu selalu menempel pada sosok Vierra. Ia bahkan akan merengek jika Vierra pulang terlalu malam. Semua hal yang diperlukan Vierra selalu ada. Sean memprioritaskan Vierra diatas segalanya termasuk kekasihnya sendiri, Bella. Bella tidak marah dengan sikap Sean yang perlahan berubah padanya, melainkan Bella senang jika Sean lebih memperhatikan sang adik. Mereka bertiga hidup dalam satu atap dengan ketenangan. “Rara pulang pukul berapa?” tanya Sean melalui ponselnya. Raut wajah Sean bahkan berubah masam saat Vierra mengatakan akan pulang terlambat. “Kakak tidak mengizinkanmu pulang terlalu malam!” bantah Sean saat Vierra berkata akan pulang pukul sebelas malam. “Tidak, Ra. Jika kakak bilang tidak boleh berarti tidak boleh,” kekeuh Sean. “APA?!” Rahang Sean bergemelutuk menandakan sang empu sedang dikuasai amarah. “Tidak boleh menginap! Harus pulang!” tegas Sean. Pria itu sedaritadi tidak lelah berjalan ke sana kemari di depan Bella yang tengah menonton televisi di ruang keluarga ini. “Sean, duduk.” Mendengar perintah tegas dari Bella, Sean terpaksa mematuhinya. Pria itu duduk di samping Bella masih dengan tampang kesalnya. Bella jengah saat melihat Sean yang mengusik acara menontonnya. Namun karena itu berkaitan dengan Vierra, maka Bella memakluminya. “Tidak boleh, Ra. Kakak bilang kau harus pulang, berarti tidak ada bantahan.” “VIERRA!” Bella terkejut saat mendengar bentakan Sean. Wanita itu mengusap area jantungnya guna menetralisir rasa terkejut tadi. “Tidak boleh...” rengek Sean dengan wajah berubah sedih. Bella menggeleng tidak mengerti dengan sikap Sean ini. Tadi marah sampai-sampai membentak, sekejap kemudian berubah merengek dengan tampang memelas itu. Oh astaga, apakah kekasihnya ini terkena virus aneh? “Baiklah, asal jangan sampai menginap.” Sean menghempaskan ponselnya di meja ruang keluarga itu sembari menghela napas kasar. Vierra akan pulang pukul sebelas malam. Gadis itu tengah disibukkan dengan tugas kelompok dan individu yang menggunung. Vierra bahkan berniat menginap di apartemen temannya. Tak masalah jika itu seorang wanita, tapi sayangnya itu adalah pria. Ryder, itu yang Sean tahu tentang sahabat adiknya. Sean memang tidak terlalu mengenal Ryder karena mereka jarang bertemu dan bertegur sapa, maka tidak salahkan jika Sean waspada? “Bell, apa kau ingin jalan-jalan keluar?” tanya Sean tiba-tiba. Bella mengernyit heran. Ia menatap jam besar di sana yang menunjukkan pukul sembilan malam. Ada apa dengan Sean yang tiba-tiba mengajaknya keluar malam-malam seperti ini? Bahkan setahunya, di mansion ini sudah diterapkan peraturan oleh sang pemilik yaitu Sean sendiri berupa harus tidur minimal pukul sembilan malam dan paling lambat sepuluh malam. Peraturan itu dibuat sejak dua minggu yang lalu. “Bukankah sekarang waktunya tidur?” bingung Bella. Sean menatap jam tangannya, ia berdecak kesal. “Untuk hari ini pengecualian,” ucap Sean. “Kenapa?” tanya Bella yang masih bingung. Memangnya mereka mau kemana? “Aku lapar,” alibi Sean. “Bukankah pelayan sudah menyiapkan banyak makanan di dapur?” balas Bella. “Ya, benar! Ta-tapi aku ingin makan yang lain,” alibi Sean yang diiringi nada gugup. “Rara tidak akan suka denganmu yang menyia-nyiakan makanan,” peringat Bella santai. Wanita itu menyemil kembali makanannya dan menatap film yang berlangsung tadi kembali. Sean menghembuskan napas kasar karena tidak bisa mendapatkan alasan lagi. Pria itu menyandarkan punggungnya dan memilih memejamkan mata guna merilekskan pikirannya. Lintasan kejadian tragis dua minggu yang lalu kembali melintasi pikirannya. Sean tersentak bangun dan bergegas bangkit. “Mau kemana?” tanya Bella saat melihat Sean yang keluar dari mansion dengan tergesa-gesa. “Menjemput Rara,” balas Sean jujur. Ia malas mencari alibi lagi, maka berkata jujur adalah jalan satu-satunya yang ia ambil. “Hati-hati,” ucap Bella dan kembali pada rutinitasnya. Bermalas-malasan sembari menonton dengan cemilan adalah surga dunia bagi Bella. *** Sean memarkirkan mobil sportnya di halaman mansion besar ini. Sempat terjadi adu mulut antara Sean dengan sang security, tapi semua bisa ditangani saat Vierra datang dan mengatakan jika ia adalah kakaknya. Jangan tanyakan tahu darimana Sean lokasi mansion ini, tentu saja dari Vierra langsung. Pria itu meminta alamat mansion ini pada Vierra dengan paksaan tentunya. “Kak Sean kenapa ke sini?” tanya Vierra saat Sean turun dari mobilnya. Mendengar perkataan Vierra membuat Sean mendelik tidak suka. Pertanyaan Vierra seolah gadis itu tidak senang dengan kedatangannya. Apa semengganggu itukah Sean? Sean mengacaukan tugas Vierra atau mengacaukan acara berduaan gadis itu dengan Ryder? Rahang Sean menegang saat pikiran itu terlintas dalam benaknya. “Menjemputmu,” jawab Sean asal. “Tapikan Rara sudah bilang akan pulang pukul sebelas, Kak.” Vierra berdecak kesal sembari bersedekap d**a. “Terlalu lama, aku tidak bisa menunggu selama itu,” balas Sean yang ikut kesal. Reaksi yang ia bayangkan bahwa Vierra akan bersorak senang saat ia datang hancur sudah. Ekspektasinya tidak sesuai realita. “Ck, terserah,” decak Vierra. Gadis itu kembali memasuki mansion Ryder dengan langkah kaki dihentakan. Sean berjalan mengikuti Vierra dari belakang. Ia mengamati interior mansion yang terbilang sederhana namun elegan. Tidak terlalu banyak pernak-pernik sebagaimana mansion nya yang menunjukkan kemegahan. Sean berdecak, memang apa bagusnya mansion ini sampai Vierra ingin lebih lama di sini? Melihat Vierra duduk di bawah atau lebih tepatnya di karpet berbulu depan meja yang dipenuhi buku, cemilan dan laptop membuat Sean percaya jika gadis itu memang berniat kerja kelompok. Namun sikap Sean segera berubah kesal saat melihat Ryder duduk di sofa dengan kaki yang menghimpit tubuh Vierra yang di bawah sana. Vierra diapit oleh kedua kaki Ryder. Vierra yang sibuk mengetik sesuatu di laptop, sementara Ryder yang membungkuk di belakang Vierra sembari mengamati gadis itu mengerjakan tugasnya membuat posisi mereka begitu dekat. Sean berjalan cepat hingga sampai di depan mereka. Pria itu menggeser paksa tubuh Ryder hingga pria itu sedikit bergeser dan lututnya semakin menghimpit tubuh Serra. Sean semakin murka. “Minggir!” ketus Sean sembari menyingkirkan jauh-jauh kaki itu dari tubuh adiknya. “Kak,” peringat Vierra yang tidak enak dengan Ryder. Sikap kakaknya ini bisa dikatakan tidak tahu malu. Ini mansion Ryder, tetapi kenapa sikapnya seolah menunjukkan jika ia tuan rumahnya? “Apa?” balas Sean ketus pada Vierra. Sean kini menggantikan posisi Ryder tadi. Ia menatap pada laptop di hadapan Vierra yang menunjukkan banyak huruf berjejer rapi. “Tadi bilang akan kerja kelompok, kenapa hanya kalian berdua?!” kesal Sean. “Dua orang lainnya sedang menuju minimarket terdekat guna membeli lebih banyak cemilan,” jawab Ryder santai. Pria itu kini memilih duduk di lantai berdampingan dengan Vierra. “Aku bertanya pada adikku, bukan padamu. Dasar tidak beretika,” kesal Sean yang terlihat kentara jika ia tidak menyukai Ryder. “Yang tidak beretika itu bukannya Kak Sean? Ini mansionku,” ucap Ryder dengan raut polos yang dibuat-buat. “Apa-apaan panggilanmu itu! Jangan panggil aku kakak karena kau bukan adikku!” delik Sean tidak terima. “Ya sama saja mau sekarang ataupun nanti, aku akan tetap memanggilmu dengan sebutan kakak karena aku adalah calon adik iparmu,” balas Ryder tanpa rasa takut sama sekali. Pria itu mengedipkan mata nakal pada Vierra yang menggeleng kecil mendengar perdebatan mereka berdua. “Tidak akan pernah! Kau kandidat adik ipar yang tidak masuk dalam list! Kau tidak cocok dengan Rara-ku,” bantah Sean. Pria itu mengalungkan tangannya memeluk tubuh Vierra dari belakang. Tatapan Sean penuh permusuhan. Pria itu terlihat bagai anak kecil yang tengah memeluk mainannya saat mainan itu hendak dipinjam orang lain. “Ya Tuhan, Kak! Ryder hanya bercanda,” decak Vierra. “Siapa yang bercanda? Aku serius,” goda Ryder. “Ryder berhenti menggoda kakakku,” sahut Vierra penuh ancaman. Gadis itu tidak terusik sama sekali dengan pelukan Sean padanya. Ia terus sibuk mengetik di laptop itu tiada henti. “Ra, ayo pulang.” Rengekan Sean terdengar menggelikan di pendengaran Ryder. Pria itu bergidik ngeri dan berjalan menuju dapur guna meminum air dingin. Berdekatan dengan Sean bisa-bisa membuat ia berubah tidak waras. “Tugas Rara masih banyak, Kak. Diam dan tunggulah, atau pulang saja sendiri.” Sean menghembuskan napas kecewa. Pria itu menyandarkan dagunya di pundak Vierra. Matanya ikut menatap laptop itu dengan pandangan sayu karena mulai mengantuk. “Kak, kepalamu membuat pundakku pegal.” Sean membuka matanya dan memilih untuk duduk dengan tegap di sofa. Pria itu bersedekap d**a menatap seisi ruang tamu ini. “Kapan selesai, Ra?” tanya Sean yang sudah tidak tahan akan kantuknya. “Masih lama,” balas Vierra. “Sudahi tugasmu itu dan lanjut besok saja,” ucap Sean yang berharap akan mendapat persetujuan dari Vierra. Namun lagi-lagi Vierra menolak. “Tunggu atau pulang,” ucap Vierra tidak mengindahkan keluhan Sean. Sean menatap Ryder yang berjalan kembali menuju mereka. Dengan sigap, Sean duduk di lantai tepatnya di samping Vierra yang tadi ditempati oleh Ryder. Ryder berdecak melihat sifat posesif kakak sahabatnya, ia tidak menyangka jika yang Vierra ceritakan tentang kakaknya selama ini benar bahkan melebihi ekspektasinya. Tidak ada yang bisa Ryder lakukan selain duduk sedikit berjauhan dari Vierra karena tatapan mematikan milik Sean yang senantiasa mengancamnya untuk tidak mendekat. Bermenit-menit berlalu begitu saja, dan tidak terasa tiga puluh menit Sean duduk diposisinya dengan kepala terhantuk-hantuk karena mengantuk. Vierra kasihan melihat Sean yang mengantuk berat di sampingnya. Ia menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Vierra meraih kepala Sean dan menuntunnya untuk berbaring di pahanya. Sean menerima perlakuan itu dengan senang hati. Ia tidur dengan paha Vierra sebagai bantalannya. Pria itu bahkan memeluk perut Vierra dan memejamkan mata damai. Tidak lama setelahnya, deru napas teratur terdengar dan menjadi pertanda bahwa Sean sudah benar-benar tertidur di pangkuan Vierra. Jangan pikir Vierra biasa-biasa saja. Tentu saja gadis itu sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Jantung Vierra berdetak amat cepat karena gugup. Deru napas Sean yang terasa di perutnya menimbulkan kesan kupu-kupu di perut Vierra. Samar-samar pipinya bersemu. “Hello, kami datang!” pekik seorang gadis dengan kantung belanjaan besar ditangannya. Di belakang gadis itu juga ada seorang gadis lain ditambah satu pria. Mereka bertiga membawa kantung berisi belanjaan cemilan yang amat banyak. Saat mereka tiba di depan Vierra, gadis yang tadi memekik di depan pintu terkejut saat melihat sosok pria tampan sedang tidur di paha Vierra. “Pa-pangeran dari cerita dongeng mana dia?” tanya gadis itu. Wajahnya terlihat bersemu merah. Wajah tampan Sean membuat gadis itu tersipu. Demi Tuhan, ia merasa menjadi manusia paling beruntung karena bertemu pria tampan yang berkemungkinan kecil akan menjadi jodohnya. Oh Tuhan, kuharap dia jodohku! Batin gadis itu memekik senang. “Pangeran apanya? Dia kakakku,” ucap Vierra sembari menggelengkan kepala melihat sikap antusias temannya ini. “Benarkah? Kenapa tidak kau bilang sejak dulu? Bukankah aku cocok menjadi kakak iparmu, Ra?” ucap gadis itu penuh semangat. “Dia sudah memiliki kekasih, Laura.” Gadis yang Vierra sebutkan nanya Laura itu menghembuskan napas penuh rasa kecewa. Ia padahal berniat akan menjalankan rencana untuk mendekati pria tampan itu. PLETAK! “AU! Sakit, Wen!” pekik Laura saat gadis yang bernama Wendy memukul tengkuknya. “Mulutmu itu selalu saja berceloteh hal tidak masuk akal. Baru saja di minimarket tadi berkata pada pria tampan tak dikenal bahwa kau adalah jodohnya, lalu sekarang di sini kau juga melakukan hal yang sama? Apa kau ini playgirl? Oh tidak, mimpi apa aku memiliki teman sepertimu?” ucap Wendy panjang lebar. Gadis itu menghempaskan tubuhnya di sofa dengan keras karena kelelahan. Bahkan hal itu berhasil membuat tidur Sean sedikit terusik. Dengan cepat Vierra mengelus rambut Sean dengan lembut agar pria itu kembali tidur dengan tenang. Setelahnya barulah Vierra melempar tatapan tajam pada Wendy. “Apa?” tanya Wendy tanpa rasa bersalah. “Kau membuat kakakku hampir saja terbangun,” ucap Vierra. “Lalu?" heran Wendy. Jika kakak Vierra bangun maka apa yang akan terjadi? Apa dunia akan hancur saat Sean bangun? “Jika dia bangun, maka kupastikan seratus persen dia akan merengek untuk memintaku pulang. Dan tugas kita tidak akan selesai sekarang,” kesal Vierra. Wendy menutup mulutnya rapat, ia mengangguk mengerti. Leon, pria yang tadi ikut menemani Wendy dan Laura kini duduk di samping Ryder. Ia menatap pada wajah Ryder yang tertekuk. “Ada apa denganmu?” tanya Leon. “Gara-gara dia, aku jadi tidak ikut melihat tugas itu. Bagaimana aku bisa presentasi besok jika bagian laporan saja aku tidak tahu,” kesal Ryder. “Tenang, lagipula kau bisa menghapal besok.” Ryder mendelik kesal pada Leon. Pria itu ternyata membela pihak yang salah. Sumpah demi apapun, Ryder semakin kesal dibuatnya. “Kami akan melanjutkan tugas tadi,” ucap Wendy sembari turun dari sofa duduk di hadapan Vierra. Mereka kini kembali disibukkan dengan bagian tugas masing-masing. Laura terlihat santai karena ia telah lebih dulu menyelesaikan bagiannya. Disusul Ryder, lalu Leon, Wendy dan terakhir Vierra. Mereka meregangkan tubuh karena pegal yang melanda. Senyum cerah muncul dalam wajah mereka. “Akhirnya selesai,” ucap mereka semua dengan penuh kelegaan. Saat Vierra menatap jam besar di sana, betapa terkejutnya ia saat jam itu menunjukkan pukul satu malam. “Sepertinya tidak baik jika harus pulang selarut ini, ada baiknya kalian menginap saja.” Ucapan Ryder diangguki mereka, kecuali Vierra. Vierra menatap Sean yang masih setia dengan tidurnya. Pria itu terlihat amat nyenyak. “Tapi bagaimana dengan kakakku? Dia pasti tidak mengizinkan aku menginap,” ucap Vierra. “Coba saja dulu, Ra. Mungkin kakakmu akan ikut menginap juga di sini,” ucap Ryder. Vierra mengangguk. Gadis itu menepuk pelan pipi Sean berulang kali hingga sang empu terbangun dari tidurnya. Sean mengerjap pelan dan tersenyum tipis saat wajah yang pertama ia lihat adalah Vierra. Dilihat lamat-lamat ternyata Vierra tampak cantik dari bawah ini. Ah beruntungnya Sean memiliki adik secantik ini. “Kak, Vierra akan menginap.” Senyum Sean luntur seketika. Pria itu bangkit duduk dari rebahannya dan melemparkan tatapan tidak setuju. Sebelum Sean mengucapkan bantahannya, Laura lebih dulu menyahut dengan cepat, “Ini sudah pukul satu malam, dan tentu saja kita tidak tahu bahaya apa yang akan mengintai di luar sana jika pulang selarut ini.” Sean mengernyit saat melihat gadis yang sebelumnya tidak ia lihat. Dan pandangannya juga berubah seperti semula saat menyadari ada tiga orang tambahan yang kemungkinan adalah teman Vierra yang dikatakan Ryder tadi. Sean menatap lamat pada wajah lelah Vierra. Waktu dari mansion ini dan mansionnya membutuhkan waktu perjalanan setengah jam, tentu saja itu akan membuat Vierra semakin kelelahan. Dan tidak ada cara lain selain mengizinkan adiknya ini menginap. “Hm, baiklah.” Vierra tersenyum cerah. Mereka membereskan segala macam benda yang berserakan di meja itu dan bangkit menuju kamar masing-masing yang ditunjukkan oleh Ryder sebelumnya. Kamar Vierra dan Sean terpisahkan oleh satu kamar yaitu milik Wendy. Mereka diberikan satu kamar untuk satu orang. Saat Vierra sudah siap akan menuju alam mimpinya, derit pintu terdengar terbuka menunjukkan Sean sebagai pelakunya. Pria itu berjalan menuju ranjang Vierra dan ikut tidur di samping Vierra. “Kenapa kakak ke sini?” heran Vierra. Gadis itu cemas jika teman-temannya melihat dan berasumsi yang tidak-tidak tentang hubungan mereka. “Kakak tidak bisa tidur jika tidak memelukmu,” rengek Sean. Pria itu memeluk perut Vierra sebagaimana malam-malam sebelumnya. Vierra menepuk jidatnya, ia baru sadar tentang kebiasaan kakaknya itu. Memang benar sejak kejadian tragis dua minggu yang lalu, Sean selalu tidur di kamarnya dan tidak pernah lagi tidur sekamar dengan Bella. “Baiklah, selamat tidur.” “Hm.” Apa ini hubungan terlarang? Batin seseorang yang tanpa sengaja melihat Sean memasuki kamar Vierra. Sementara itu, Bella tengah menunggu kepulangan Sean dan Vierra dengan perasaan cemas. Tidak ada kabar dari keduanya. Dan entah kenapa pemikiran buruk terlintas di kepalanya berulang kali. Dengan paksaan akhirnya Bella bisa tidur juga. Awas saja mereka! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD