***
Vierra dan Sean kini tengah berdiri sembari menunduk di depan wanita yang tengah berkacak pinggang di depan pintu. Siapa lagi jika bukan Bella. Wanita itu menatap kakak adik di depannya dengan kantung mata hitam miliknya. Wajah Bella memancarkan kekesalan sekaligus murka,ia ingin mencabik-cabik kedua orang yang berhasil membuatnya cemas semalaman hingga tidak bisa tidur.
“Darimana kalian?” ketus Bella sembari bersedekap d**a di hadapan keduanya.
“Kak,” bisik Vierra.
“Kenapa?” balas Sean sembari ikut berbisik.
Bella mendelik marah saat melihat keduanya tengah berbisik-bisik di hadapannya. “JANGAN BERBISIK-BISIK, CEPAT JAWAB!” tegur Bella dengan suara kerasnya yang berhasil membuat Vierra dan Sean terlonjak kaget dengan degup jantung yang tiba-tiba memompa cepat. Sumpah demi apapun, Bella terlihat mengerikan sekarang. Wanita itu tampak benar-benar marah. Vierra meringis saat pandangannya dan Bella bertemu.
“Ra-”
Suara Bella tiba-tiba terhenti saat tiba-tiba tubuh Vierra membungkuk sembari memegangi perutnya. Tidak, bukan itu yang membuat Bella berhenti bicara, melainkan suara angin alias kentut gadis itu. Sean mendelik mendengar suara kentut Vierra. Pria itu menjaga jarak dari Vierra sembari mengibaskan angin berharap tidak akan ada bau busuk mendekat.
Vierra menyengir lebar, ia berpura-pura meringis seolah sakit perut. Tanpa Bella sadari, gadis itu berkedip pada sang kakak berharap pria itu mengerti akan kodenya.
“Aduh, sakit sekali. Kak, perut Rara sakit. Au!” ringis Vierra menjalankan aksi pura-puranya.
“Astaga, apa yang terjadi? Bawa Rara masuk,” perintah Bella pada Sean. Dan saat melihat senyuman Vierra, Sean baru sadar bahwa ini hanya pura-pura.
“O-oh, astaga Ra! Ayo sini kakak bantu,” balas Sean ikut berpura-pura panik.
Bella menghembuskan napas kasar. Kakak dan adik itu ternyata sangat menyebalkan. Tidak memberi kabar pulang, dan tiba-tiba pulang dengan keadaan sakit. Bisa-bisa nanti Bella mati muda oleh keduanya.
“Untukmu, Ra. Lebih baik kau berdiam diri di kamar dan istirahat dengan tenang. Lalu untukmu Sean, cepat ke kamar setelah Rara tidur di ranjangnya. Ingat! Aku tidak suka menunggu lama,” peringat Bella.
“Maaf, Kak Bell. Rara akan pergi ke kampus karena ada presentasi hari ini. Jadi, Vierra hanya pulang untuk berganti baju,” ucap Vierra menyangga dengan cepat.
“Bukankah kau sakit, Ra?” heran Bella.
Mata Vierra sontak membulat kaget, ia lupa bahwa sedang berpura-pura sakit sekarang. Dengan cepat gadis itu kembali mengontrol raut wajah dan kembali bersifat lemah.
“Presentasi ini amat penting, Kak. Rara akan berjuang walaupun sakit menerjang,” balas Vierra dan hanya diangguki oleh Bella. Wanita itu memilih berjalan lebih dulu guna memasuki kamar Sean.
Sean meringis pelan. Pria itu menatap pada Vierra yang terkikik geli di sampingnya. Gadis itu melepas rangkulan Sean pada bahunya dan menghentikan aksi pura-pura mereka. Saat keduanya sampai di depan pintu kamar Vierra. Gadis itu berbalik menatap sang kakak dengan pandangan iba. Tangannya terangkat lalu menepuk pelan pundak Sean sembari berkata, “Rara tau kakak hebat, maka hadapilah dengan semangat!”
Sean ingin membantah tapi kalah cepat dengan Vierra yang lebih dulu menutup pintu itu. Tidak ada yang bisa Sean lakukan selain pasrah menerima ocehan Bella seorang diri. Ia akui semalam ia lupa tidak memberi kabar pada Bella, tapi itu memang rasa lupa bukan karena disengaja. Bukankah bisa ditolerir? Ya, semoga saja.
Saat Sean membuka pintu kamarnya, hawa-hawa panas mencekam sudah terasa sebelum kakinya memasuki ruangan itu. Dan sontak saja Sean menelan saliva kasar saat melihat Bella duduk bersedekap di ranjang menatapnya dengan tatapan tajam.
“Tutup pintu!” perintah Bella amat tegas.
Ah, selamatkan nasibku!
***
Ketika matahari telah beranjak meninggi dan cuaca terlihat panas menyengat, Vierra dan teman-temannya baru selesai menyelesaikan tugas mereka dengan hasil yang amat memuaskan. Vierra senang dengan hasil yang ia dapat. Kerja sama diantara mereka ternyata menimbulkan efek positif. Tidak sia-sia mereka bergadang guna menyelesaikan itu agar tepat waktu.
Sebagai upah dari kerja keras mereka, Leon mengajak mereka untuk mampir lebih dulu ke restoran terenak di kota itu. Leon bahkan mengatakan ia yang akan membayar semua biaya yang dikeluarkan mereka. Ryder tentu saja biasa saja tanpa ada rasa antusias berlebihan. Namun berbeda dengan Laura, Wendy dan Vierra yang bersorak senang. Ketiga gadis itu bahkan tidak henti-hentinya berbicara seputar dosen yang mengajar mereka tadi.
“Apa kau tadi lihat, Ra?” tanya Laura dengan wajah sang ratu gosipnya.
“Lihat apa?” heran Vierra.
“Dosen muda tadi terlihat tertarik padamu, apa kau tau? Saat kau menyampaikan materi awal, sejak itu dia menatapmu diam-diam. Bahkan saat kau tersenyum, dia juga ikut tersenyum. Lalu apa kau ingat? Dia tadi juga membantu kita menjawab pertanyaan kelompok lain! WOW! INI LUAR BIASA! Dia yang katanya dosen cuek ternyata begitu perhatian pada kita, ah ralat maksudnya padamu,” pekik Laura senang. Ia mengakui bahwa Vierra memang cantik, tapi tidak pernah terlintas sedikitpun pada benaknya bahwa dengan adanya Vierra dikelompok ini ternyata tanpa sadar memberikan jalan mulus meraih nilai besar. Kalau begini ceritanya, maka Laura rela satu kelompok bersama Vierra seumur hidup.
Setibanya mereka di sana, pandangan takjub terlihat di mata mereka. Gaya ala kerajaan yang dipakai restoran membuat mereka terasa menjadi para bangsawan sungguhan.
“Sumpah demi apapun, aku akan sering-sering ke sini,” ucap Wendy tanpa ia sadari. Ketiga gadis itu terpesona pada interior restoran sampai lupa mereka kini menjadi pusat perhatian. Ah ralat, bukan mereka melainkan Vierra.
Ryder mendengus saat menyadari para pria di restoran itu mulai melihat ke arah Vierra. Ryder heran, kenapa bisa kemanapun Vierra pergi, mata pria selalu menatapnya? Ternyata menjadi cantik juga melelahkan.
Ryder mendekat pada Vierra, merangkul bahu gadis itu dengan santainya dan Vierra hanya diam menerima hal itu karena itu sudah biasa. Tanpa sepengetahuan Vierra, Ryder tersenyum miring sembari menatap para pria yang menatap sahabatnya. Ryder harus menjauhkan pria-pria mes*m itu dari sahabatnya yang polos.
“Ryder, kau ingin pesan apa?” tanya Vierra yang kini sedang sibuk menatap buku menu ditangannya.
“Makanan yang paling mahal,” jawab Ryder asal.
Vierra menaikkan pandangannya untuk menatap Ryder dengan pandangan penuh tanya. Oh ayolah, apa Ryder berniat memeras Leon mentang-mentang ini gratis karena Leon traktir? Pandangan Vierra beralih pada Leon yang terlihat biasa saja.
“Apa?” bingung Leon saat Vierra dan disusul Ryder menatapnya dengan pandangan yang membuat Leon merasa dikasihani. Hey, apa-apaan ini!
“Apa uangmu cukup jika Ryder memesan makanan termahal,” tanya Vierra berusaha sehalus mungkin agar tidak menyakiti hati Leon.
Mendengar perkataan Vierra dan raut wajah gadis itu yang sedikit tidak enak hati, Leon tertawa lebar. Pria itu tidak menyangka bahwa alasan Vierra menatapnya karena takut uang yang ia keluarkan tidak cukup. Oh Tuhan, kenapa bisa Kau ciptakan makhluk semenggemaskan Vierra?
“Kenapa tertawa?” tanya Vierra dengan tampang kebingungannya. Wajah gadis itu terlihat polos. Hanya dengan tampangnya yang menggemaskan saja mampu membuat para pria yang curi pandang padanya sedaritadi menjadi memerah malu karena gemas.
Ryder berdecak kesal. Ia melemparkan tatapan tajam pada pria yang ia pergoki menatap Vierra, tapi entah kenapa mereka seolah mengabaikan keberadaan Ryder di samping Vierra.
Ryder yang sibuk dengan pria yang menatap Vierra, sedangkan Leon yang sibuk berusaha meredakan tawanya. Sementara Laura dan Wendy yang tidak tahu apa-apa dengan hak yang terjadi ikut terdiam seperti Vierra.
“Kau sangat lucu, Ra. Mana mungkin uangku akan habis hanya karena membeli makanan walau makanan itu mahal sekalipun.” Vierra mengangguk kecil. Gadis itu memajukan wajahnya guna lebih dekat dengan Leon.
“Memang kau punya berapa ribu dolar?” bisik Vierra penasaran. Gadis itu terlihat bagai orang yang tidak pernah memiliki uang banyak, padahal di kartu rekeningnya sendiri jumlah saldo terlampau banyak. Namun sikap gadis ini yang antusias dengan nominal uang yang dimiliki Leon membuat Leon sedikit mengangkat kepalanya angkuh. Pria itu mengeluarkan kartu hitam miliknya, ya blackcard America yang hanya dimiliki orang-orang tertentu di dunia ini. Saat melihat itu, Vierra berdecak kecil. Pantas saja Leon berkata uangnya tidak akan habis.
“A-apa itu blackcard?" tanya Wendy tidak percaya. Ia menatap blackcard itu dengan tatapan berbinar takjup. Wendy bukan kalangan bawah ataupun kurang mampu, Wendy terbilang berada di keluarga cukup kaya. Namun tentu saja melihat blackcard ini adalah pertama kalinya.
“Tentu, mau lihat?” ucap Leon penuh kesombongan sejati. Pria itu memberikan pada Wendy untuk gadis itu lihat lebih lamat lagi.
“Oh Tuhan, demi kerang ajaib ini sungguh luar biasa!” ucap Laura yang ikutan takjub.
“Ck, hanya kartu hitam saja kalian heboh, dasar wanita.”
Wendy dan Laura mendelik pada Ryder yang baru saja bicara. Pria itu tanpa merasa bersalah bahkan memberikan tatapan sedikit mengejeknya. Laura yang tidak bisa kalem segera menginjak kaki Ryder dengan kuat.
“Rasakan itu, b*jingan. Kau iri kan tidak bisa memiliki kartu hitam seperti yang Leon miliki? Uluh uluh dasar tukang iri!” ketus Laura.
Vierra cukup terhibur dengan perdebatan teman-temannya tentang kartu hitam milik Leon. Tidak terbesit sedikitpun di benak Vierra untuk memisahkan mereka karena menurutnya ini cukup menyenangkan untuk dilihat bersama.
“Sudah lelah?” tanya Vierra setelah hampir sepuluh menit mereka berdebat. Laura yang kelelahan adu mulut dengan Ryder mendengus kesal mendengar pertanyaan Vierra.
“Daripada sibuk mempermasalahkan itu, lebih baik kita cari solusi bagaimana membuat uang di kartu itu habis.”
Laura kembali berseri-seri, apa yang Vierra katakan ternyata ada benarnya juga. Lalu Wendy tersenyum lebar menerima saran itu. Pandangan mereka beralih ke arah Leon meminta persetujuan dan Leon hanya mengangguk karena baginya uangnya tidak akan cepat habis untuk mentraktir tiga temannya.
Pelayan datang dengan menu yang sebelumnya sudah Vierra minta. Mereka menghentikan sejenak perdebatan tadi dan melanjutkan dengan kegiatan menikmati hidangan yang tersedia.
Ah indahnya dunia ini bila banyak uang.
***
Saat kaki Vierra memasuki mansion tempatnya tinggal ini, tiba-tiba suara berisik orang-orang terdengar dari arah ruang keluarga. Vierra awalnya tidak merasa penasaran dengan apa yang terjadi, namun entah kenapa saat melihat suara sang kakak berada di sana, kaki Vierra otomatis membawanya ke ruang keluarga.
Saat Vierra memasuki ruang itu, ia sedikit tersentak saat melihat dua orang asing berada di sana. Salah satu dari orang itu terlihat tidak asing bagi Vierra. Entahlah, ia merasa pernah melihat pria itu tapi ia lupa dimana.
“Ra, sini gabung bersama kami.”
Ajakan Bella membuat Vierra memberanikan diri mendekat. Gadis itu memilih duduk di antara Bella dan satu orang pria asing menurutnya.
“Saat melihat adikmu, entah kenapa menurutku kalian sedikit berbeda. Tidak ada kemiripan di wajah kalian, apa pandanganku saja atau memang seperti itu?” tanya seorang pria di hadapan Bella.
“Dean, jangan mulai,” peringat Sean.
Pria yang dipanggil Dean oleh Sean itu terkekeh kecil saat melirik wajah Vierra yang berubah suram. Ia sedikit bersalah saat melihat wajah berseri-seri Vierra tadi berubah muram seperti ini. Namun Dean memang payah dalam mengontrol mulutnya yang selalu ingin bertanya hal yang tidak seharusnya ia tanyakan.
“Apa Kak Sean tidak pernah bilang bahwa Rara adalah adik angkat, Kak Dean?” tanya Vierra yang tanpa ia sadari sudah menjawab pertanyaan Dean tadi dan mengejutkan semua orang. Sean bahkan menghentikan permainan PS-nya bersama Dean. Pria itu menatap pada Vierra dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Sean sedikit sensitif jika menyangkut posisi Vierra di keluarganya. Maka dari itu, tidak satupun dari sahabatnya mengetahui hal itu termasuk juga Bella.
Raut wajah sahabat Sean terlihat amat kaget, apalagi Bella yang membeku di tempatnya. Wanita itu menatap tidak percaya pada Sean dan Vierra bergantian. Pantas saja ia merasa keduanya tidak mirip, tapi karena dirinya yang terlalu berpikir positif tentang saudara kandung tidak selamanya memiliki kemiripan, maka Bella beranggapan begitu. Namun ternyata, kenyataan memberikan tanda alarm bahaya di alam bawah sadarnya. Bella menatap lamar pada Vierra dan beralih pada Sean.
Tidak masalah, tidak mungkin kan mereka memiliki hubungan terlarang dibelakangnya? Bella percaya pada Sean bahwa pria itu tidak akan mengkhianatinya. Namun saat melihat wajah Vierra, entah kenapa menimbulkan getaran ketakutan dalam benak Bella sendiri. Ia yang wanita saja bisa jatuh cinta dengan tampang mempesona milik Vierra, apalagi Sean.
“Ah, sepertinya cuaca semakin panas. Aku akan ambilkan minum untuk melegakan dahaga,” ucap Bella lalu pamit menuju dapur.
Ini tidak bisa dibiarkan. Jarak Vierra dan Sean harus sedikit dipisahkan. Ya, harus.
Berbeda dengan Bella yang gelisah, seseorang di ruang keluarga bersama yang lainnya malah memberikan senyuman miringnya. Entah kenapa ini cukup asik untuk ia saksikan. Hubungan saudara angkat antara Vierra dan Sean memberikan percikan rasa waspada dan cemburu pada Bella.
Hm, sepertinya menyenangkan.
***