Alina Sang Putri Angkat Penguasa Sungai Sarimah

1457 Words
Sejak masih bayi aku sering mengalami banyak kejadian yang di luar nalar. Umurku baru tujuh hari saat ibu pernah kehilangan aku. Waktu itu tepat adzan magrib, ibu meninggalkan aku sendirian di ranjang dalam keadaan tertidur dan masih dalam bedongan. Beliau pergi hanya untuk mengambil air putih untuk jaga - jaga kalau saat tengah malam nanti haus. Namun saat ibu kembali aku sudah tidak ada di ranjang. Spontan ibu panik dan berteriak menggegerkan seisi rumah. Termasuk bapak yang baru selesai sholat magrib pun langsung berlari mendatangi ibuku. "Ada apa bu? Apa yang terjadi kenapa ibu berteriak dan menangis histeris begini ? tenang lah dan ceritakan kepada Bapak apa yang terjadi. " ujar bapak sembari memeluk Ibu dan menenangkannya. Ayah memeluk ibu mencoba menenangkan nya yang panik dan menangis histeris terduduk di lantai sembari menyebut namaku. "Alina pak! Alina hilang ... tadi ibu tinggal sebentar ke dapur, tapi saat ibu kembali Alina sudah tidak ada di tempat tidur pak. Bagai mana ini pak...di mana anak kita .....sudah ibu cari kemana mana namun tidak ada pak...hikss...hiksss...hiksss.." rintih ibu khawatir akan bayi yang baru di lahirkan nya. Ibu sangat khawatir memikirkan aku yang raib entah kemana beliau menangis sampai sesegukan, menyesal karna telah meninggalkan aku sendirian di kamar tanpa penjagaan. "Mashaa Allah, siapa yang telah mengambil Alina dari tempat tidur Bu ? apakah sudah ibu cari. Lagian bayi berusia tujuh hari bisa apa? " terang Bapak berusaha untuk tetap tenang. " Sudah pak, ibu sudah cari kemana mana tidak ada. Padahal tadi cuma sebentar ibu tinggal, tidak sampai lima menit , ya Allah Alina di mana kamu nak! auugghhh..auuuuggghh.." airmata ibu kembali membasahi wajah ayunya yang masih terlihat pucat pasca melahirkan. "Sudah jangan panik, Ibu tenang dulu. Kalau kita menghadapi segala sesuatu dengan panik maka akan semakin semrawut dan berakibat tidak baik, tapi kalau di buat tenang maka kita akan bisa berpikir dengan jernih dan pasti akan ada solusi yang terbaik. Bapak yakin Alin tidak hilang. Sekarang biar bapak yang akan cari. Ibu duduk aja di kursi itu tarik nafas dalam dalam dan keluarkan perlahan, ini minum dulu air putih nya biar ibu lebih baik." pinta Papak sembari memapah ibu untuk duduk di kursi di tepi ranjang. Setelah memberi ibu segelas air putih yang di ambil dari dapur tadi, Bapak meringsut duduk bersilah di atas tempat tidur dengan mata tertutup dan mulut komat kamit seperti sedang berinteraksi dengan seseorang. Kebetulan Bapak juga memiliki indra ke enam dan bisa berinteraksi dengan mahluk sakral tak kasat mata. Saat ini beliau sedang berkomunikasi dengan mahluk yang ada di sekitar rumah kami. Dan benar saja tak berapa lama bapak membuka matanya sembari tersenyum melihat ke arah ibu. "Sudah ... tidak apa apa bu. Anak kita baik baik saja tidak kemana mana dan masih ada di kamar ini. " ujar Bapak. Dengan mata masih berkaca kaca ibu menatap bapak dengan tatapan tidak mengerti dengan apa yang di maksudkan. Jelas - jelas aku hilang dan tidak ada di kamar, tapi bapak mengatakan sebaliknya. "Bapak ini gimana sih? Alina hilang kok di kata baik- baik saja, ibu sudah cari kesekitar ruangan ini namun Alin kita tidak ada pak." ungkap Ibu Kesal. Dengan tatapan penuh tanda tanya ibu masih menunggu penjelasan bapak. Sedangkan pria di hadapannya hanya tersenyum dan bergegas turun melongok ke bawa ranjang, dengan di bantu penerangan sebuah lampu teplok. "Kemari lah bu, lihatlah " ujar Bapak meminta ibu bersamanya melongok ke kolong ranjang Ibu bergegas menghampiri bapak dan melihat apa gerangan yang ada di bawa ranjang tersebut. Dan betapa terkejut nya ibu melihat aku yang tertidur pulas dalam bedongan tergeletak di lantai yang dingin itu tanpa merasa terganggu bahkan tak merasakan seekor nyamuk pun yang menggigit ku. "Shubhanallah Alina anakku ! Pak itu anak kita... kenapa bisa ada di kolong ranjang pak...." pekik ibu histeris. "Sudah nanti bapak jelaskan. Sekarang ibu minggir dulu bapak mau ambil Alina kita." pinta Bapak meminta ibu untuk minggir ke tepi. Tanpa intruksi lagi ibu gegas minggir memberi luang ke Bapak untuk mengambil aku dari kolong ranjang. Dan benar saja seperti yang Bapak katakan aku baik baik saja tanpa kurang satu apapun. Bapak segera memberikan aku yang masih tertidur pulas ke ibu yang sudah tidak sabar ingin memelukku. Ibu mengamati aku baik- baik dan membuka bedonganku, wanita itu meneliti tubuh mungil bayi di pangkuannya dengan seksama. Nampak aku baik - baik saja dan tetap tertidur dengan pulasnya. Ibu menciumi wajah mungilku dengan penuh kasih sayang dan dengan mata yang berkaca kaca. "Tapi pak, kenapa Alin bisa ada di bawa kolong ranjang, apakah dia terjatuh ? Tapi, rasanya tidak mungkin pak. Alin kan belum bisa apa - apa, lagi pula posisinya berada di tengah ranjang saat ku tinggalkan ke dapur tadi. " desah ibu bingung dengan apa yang telah terjadi kepadaku dengan perasaan yang masih was - was dan penuh tanda tanya ibu merusaha menerka - nerka kenapa aku bisa ada di kolong ranjang. "Alina tidak terjatuh Bu. Tadi sewaktu Ibu ke dapur kita kedatangan tamu yang ingin menjenguk Alina. Namun karna di lihatnya Alin sendirian maka dia pun berinisiatif menjaganya" terang Bapak. "Tapi ibu tidak melihat ada siapa pun yang datang ke rumah kita pak. Masak iya jagain, kok Alina di sembunyikan di kolong ranjang" protes Ibu. "Ha..ha..ha.. iya sih Bu, tapi dia hanya ingin menggoda ibu saja kok, karna meninggalkan seorang bayi sendirian saat magrib tanpa siapapun yang jagain itu pamali. Tapi ya sudahlah yang penting Alina baik baik saja kan" ujar Bapak membelai lembut kepalaku. Bapak tertawa kecil senbari mengusap kepala ibu dengan lembut dan mencubit kecil pipi mungilku yang masih tertidur nyenyak di pelukan ibu. "Sebenar nya siapa sih tamu kita pak , kok gitu amat. Pokoknya ibu gak mau pak kalau Alina di umpetin di kolong ranjang lagi. Anakku itu bayi manusia pak bukan bayi kucing yang sukanya di kolong ranjang." Gumam ibu kesal. Dengan raut wajah cemberut ibu berusaha protes ke bapak tentang tamu nya itu. Bapak hanya tersenyum melihat ibu yang tidak terima tentang kejadian yang menimpahku barusan. "Namanya Putri Sarimah bu, dia danyang kampung kita dan bersemayam di sungai sebelah rumah kita ini. Ibu jangan khawatir dia tidak akan mencelakai anak kita, bahkan dia menyayangi anak kita. Beliau juga minta maaf sudah buat ibu cemas barusan." ujar Bapak lagi. "Heeemmm.... tamunya makluk astral toh... Bapak sih berteman kok sama mahluk tak kasat mata, ya gini jadinya. Iya ibu maafkan, dengan syarat ibu tidak mau hal seperti tadi terulang lagi " ungkap Ibu masih dengan raut wajah kesal sembari membelai pipi mungilku. "Iya...iya...Sudah... ibu istirahat gi dan susui Alina , lihat tuh dia sudah bangun dan haus " Bapak kembali mengusap wajah mungilku yang mulai menggeliat dengan mulut moyong mencari asi. " Pak besok belikan Alina gelang kaki perak ya? Itu loh yang ada mainannya gunting dan kendi labu seperti yang di pake bayinya Melani teman ibu" pinta ibu. " Lohh ..buat apa Bu .. Alin kan masih bayi buat apa pakai perhiasan " desis Bapak "Buat tangkal dari mahluk jahat pak, sekalian biar ibu bisa mengawasi Alina dari jauh. Kalau dia menggeliat atau bergerak kan akan terdengar suara lonceng gelang kakinya. Jadi ibu gak akan kecolongan Alin lagi " "Ha..ha..ha.. ibu...ibu... ada - ada saja. Ya sudah besok bapak belikan gelang kakinya. Sekarang ibu istirahat ya, cepatan susui Alin lihat tuh mulutnya sudah moyong - moyong cari s**u jangan keburu dia nangis. Nanti ibu kepanikan lagi, mana Alina kalau nangis gak ada suara dan tubuhnya membiru jadi jangan sampai dia menangis." ungkap Bapak lagi. Ibu tersenyum dan mengangguk bergegas naik ke ranjang dan menyusui aku. Keesokan harinya sesuai janji Bapak ke ibu, beliau membelikan gelang kaki bayi berbahan perak dengan hiasan lonceng , kendi labu, gunting, kunci, gembok yang masing masing berukuran sangat mini mengelilingi rantai gelang. Konon untuk segelintir orang yang mempercayainya, gelang kaki itu di percaya bisa menjadi sebuah jimat pelindung atau tangkal tolak bala untuk para bayi yang memakainya. Namun pada hakikatnya hanya Allah SWT saja lah maha pelindung untuk semua mahluk yang ada di muka bumi ini. Tentu saja ibu sangat gembira dan antusias menerima gelang kaki pemberian bapak dan segera memakaikan ke kaki kiriku. Sejak saat itu aku selalu memakai gelang kaki di kaki kiri ini di manapun aku berada sampai sekarang. Saat balita di mana pun aku berada ibu akan mengetahui dari langkah kaki ku. Dan jika ibu tidak mendengar suara generincing gelang kaki ku maka ibu akan bergegas mencari keberadaanku di sekitar rumah. Begitu juga saat malam hari atau aku sedang berada di ayunan. Ibu akan mengetahui jika aku terbangun karna suara gemerincing gelang kakiku saat aku menggeliat. Namun hal itu tentu saja tidak membuat Putri Sarimah berhenti menemuiku. Bahkan tengah malam di saat bapak dan ibu tertidur pulas Putri Sarimah kerap kali datang menjaga dan membawaku keluar menjelang subuh dia akan mengembalikanku lagi ke tempat semula.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD