" Bu, bangun Bu ! rumah kita kebanjiran sudah setinggi lutut. Ayo berkemas kita ngungsih ke rumah emak" berkali - kali Bapak mengguncang bahu ibu supaya terbangun, namun ibu seperti terhanyut di dunia mimpi terlalu dalam.
Lelaki itu kembali menggoyang - goyangkan pundak ibu yang tertidur pulas sembari memelukku. Saat itu pukul dua malam. Rumah kami berada di bantaran Sungai Padang, dan saat Sungai itu meluap maka tak ayal lagi rumah kami akan terendam banjir. Seperti biasa jika banjir datang Bapak akan mengajak kami mengungsi ke rumah Nenek Martik emaknya bapak untuk beberapa hari sampai air sungai yang menggenangi rumah kami surut. Nenek tinggal seorang diri di rumah yang tak jauh dari rumah kami, hanya saja rumah nenek berada di dataran tinggi sehingga tidak terkena banjir saat sungai meluap .
Setiap tahun Sungai Padang pasti akan meluap dan seperti biasanya jika Sungai itu meluap maka akan ada korban jiwa, dan sebelum ada korban yang hanyut di Sungai itu, maka air tidak akan surut. Namun korban biasanya bukan dari kampung kami tapi dari kampung lain atau pendatang yang ingin berkunjung ke desa kami namun tanpa kulonuwon atau permisi keoada Danyang sungai. Saat ini Sungai itu meluap lagi dan airnya hampir menggenangi seluruh rumah yang ada di sekitar bantaran Sungai.
"Eeiiiggghhh...eeiiiggghhh....Ada apa pak? Masih malam kok sudah bangunin ibu sih pak! Ayam pun belum terdengar berkokok" protes Ibu sembari menggeliat kemudian mengucek matanya yang masih terasa berat.
" Sungai Padang meluap Bu, lihat nie sudah masuk kedalam rumah, sudah selutut, ayok bantu Bapak mengemasi barang - barang supaya tidak rusak terendam banjir."pinta Bapak lembut.
"Baik - baik Pak!. Tapi Alina masih tidur pak." Ujar ibu bangkit dan bergegas akan membantu Bapak untuk mengemas barang.
"Tidak apa - apa, kita tinggal saja sebentar jangan di bangunin, kasihan, biarkan gadis kecil kita tidur " titah Bapak di balas anggukan ibu.
Ibu bergegas turun dari ranjang membantu bapak mengemasi barang - barang supaya tidak rusak terendam banjir di saat kami mengungsi nanti. Karena biasanya butuh waktu beberapa hari untuk air Sungai surut kembali.
Mereka berdua pun segera mengamankan barang barang menaikkan ke tempat yang lebih tinggi supaya tidak terendam air. Barang - barang elektronik dan pakaian di tempatkan di atas almari sedangkan barang barang lainnya di tumpuk menjadi satu di tempat yang lebih tinggi di dalam rumah.
Saat itu usiaku hampir lima tahun. Air yang mulai naik mendekati ranjang membuatku kedinginan. Suara gemerincing gelang kakiku terdengar oleh ibu saat tubuhku menggeliat karena kedinginan. Namun ibu masih tetap melanjutkan membantu bapak berkemas karna aku tidak menangis saat itu.
Aku melihat seorang wanita cantik berpakaian hijau dan berambut panjang tersenyum mendekatiku di atas ranjang. Dia meraihku kedalam pelukannya dan menghangatkan tubuhku yang sedang kedinginan. Aku membiarkan wanita itu membelai kepalaku layaknya ibuku. Aku sering melihat wanita ini sejak masih bayi hal itu membuat aku dekat dan tidak merasa takut padanya. Karna sudah tidak merasakan kedinginan lagi aku pun kembali tertidur di dalam pelukan wanita itu. Sedangkan ibu melanjutkan berkemas, ibu tahu aku kembali tertidur karna sudah tidak mendengar suara gemerincing gelang kakiku lagi.
"Sudah siap Bu, ayo kita ke tempat emak, Ibu ambil Alina biar Bapak yang membawa barang barang keperluan kita."pinta Bapak
"Iya Pak, Ibu ambil Alina dulu ya." Jawab ibu sembari berlalu dari hadapan Bapak.
Bapak mengangguk sambil membawa semua barang yang di butuhkan di rumah Nenek nanti, sedangkan ibu bergegas ke kamar dan langsung menyingkap tirai kelambu yang menutupi ranjang.
"Astaqfirullah hal adzim...... ularrr .....ada ulaaarr paaak... Alina di belit ular..... tolonggg pak...." pekik Ibu histeris
Ibu sangat terkejut dan menjerit histeris begitu melihat seekor ular sawah kembang yang sangat besar membelit tubuhku yang sedang tertidur pulas. Bapak bergegas berlari menghampiri ibu begitu mendengar teriakan ibu yang sangat panik.
"Ada apa bu....ada apa ? " ucap Bapak
" Ularr pak...ulaarrr....Alina di lilit ular...tolong Alin kita pak...." lirih ibu dengan bibir bergetar dan wajah pucat pasih. Ibu menangis sembari menunjuk kearah ku dengan perasaan panik melihat tubuhku yang di lilit seekor ular besar seukuran paha manusia yang bahkan bisa sekali telan jika ingin memangsa tubuh mungilku. Bapak tak kalah terkejut melihat pemandangan itu. Namun tidak ada kepanikan di wajah Bapak. Karna di mata bapak aku bukan di lilit seekor ular melainkan di peluk dan tertidur di pangkuan seorang wanita cantik. Ya wanita itu adalah Putri Sarimah sang penguasa Sungai Padang.
"Ibu mundur ke belakang Bapak sebentar ya, sudah jangan menangis, Alina tidak apa - apa ular itu tidak akan menyakiti nya. Bapak akan mengambil Alina." Titah Bapak.
Ibu mengangguk dan langsung mundur kebelakang dengan air mata yang tetap mengalir tanpa bersuara. Melihat putri nya yang dalam bahaya. Sedangkan Bapak maju kedepan mendekati ular yang sedang melilitku itu.
"Assalamualaikum Putri Sarimah, terimakasih telah sudi menjaga Putriku. Mohon maaf Nyai, kami mau mengambil putri kami kembali." Ungkap Bapak kepada ular itu.
"Baik Ki Uman, ini ambillah Putrimu. Hati hati mengangkatnya Alina sedang tidur jangan sampai terbangun. Tapi kenapa istrimu menangis ketakutan seperti itu ?" tanya Putri Sarimah sembari melemparkan pandangan ke arah ibu dengan perasaan tidak enak hati.
"Mohon maaf Putri, istri saya hanya mengkhawatir kan Alina saja. Sebab di matanya Putri adalah seeokor ular besar yang sedang melilit anaknya." Terang Bapak.
"Ha..ha..ha...aku hampir lupa dengan wujud asliku. Baiklah Uman, sampai kan lah maafku kepada Istrimu Ki Uman, dan katakan padanya aku tidak akan pernah menyakiti Alina. Aku hanya mampir saja. Melihat Alina sendirian jadi ya aku temani. Baiklah Uman ini ambillah Putrimu, aku pamit dan sampaikan pada warga kampung dalam tujuh hari ini setiap menjelang Zhuhur dan magrib jangan dekati Sungai Padang. Ki Damar Kencana akan pergi ke hulu menyelesaikan tapanya dan melewati sungai padang ini, tubuhnya yang berbentuk naga akan melahap siapa saja yang dia jumpai di sepanjang perjalanan. Jadi penduduk yang berpapasan dengan Ki Damar Kencana akan mati mendadak dengan tubuh membiru. Seyogianya dia telah menjadi santapan penguasa Jaluntung itu walau di mata manusia mereka menimggal karna demam tinggi akibat malaria. Dan siapa saja warga yang melihat tubuh asli Ki Damar Kencana dalam wujud naga. Walau pun hanya melihat dari kejahuan, ia tetap akan terkenah wabah penyakit yang sulit untuk di sembuhkan. Selama banjir ini Nyai Nilam juga akan kembali mencari mangsanya jadi aku harap warga mematuhi peringatanku ini demi kebaikan kalian semua."
"Baik Putri terimakasih atas pengarahannya , akan aku kabarkan ke warga peringatan atau pun nasehat Kanjeng Putri.. Terimakasih atas pertolongan Nyai kepada warga kampung selama ini."
Nyai Sarimah tersenyum sembari mengangguk kemudian pergi masuk kedalam air dan menghilang seketika meninggalkan tubuhku yang masih terlelap di ranjang. Bapak bergegas menggendongku dan menyerahkan ke ibu.
" Alina sayang... kamu gak apa apa kan nak ...kamu tidak terluka kan sayang.." lirih Bapak sembari memeriksa tubuhku dengan seksama. Walau beliau tahu Putri Sarimah tidak akan pernah menyakitiku namun tetap saja sebagai orang tua ia khawatir takut terjadi apa - apa kepadaku.
Ibu meraihku dari gendongan Bapak seraya menciumiku yang masih terlelap tanpa tahu kepanikan ibu dan Bapak. Ibu juga ikut memeriksa tubuhku dengan seksama dan memang tidak ada luka sedikit pun di sana. Dengan menghela napas panjang Ibu merasa sangat lega. Kemudian mereka pun bergegas keluar meninggalkan rumah yang semakin lama semakin tergenang oleh banjir yang kian tinggi.
"Pak, sebenarnya siapa ular tadi, kok lama sekali menatap ular itu, sampai ular itu pergi sendiri " Dengan rasa penasaran ibu bertanya ke bapak perihal peristiwa tadi yang begitu membuatnya khawatir.
"Kenapa bu, cemburu ya ..ha..ha..ha.." goda Bapak sembaru tertawa renyah.
Di tengah malam yang gelap gulita dengan penerangan sebuah lampu teplok di tangan kiri sembari berjalan kaki, Bapak mencoba mencairkan ketegangan ibu dengan menggodanya.
"Apaan sih pak... idiihh....cemburu kok sama ular ada - ada saja Bapak ini." gerutuh Ibu sambil memanyunkan bibir nya mencubit kecil lengan Bapak.
"Eehhh... jangan salah... wujud manusianya sangat cantik loh Bu... Yakin ibu gak cemburu kalau melihat wujud manusian ya." goda Bapak lagi dengan senyum tersungging di bibir nya kembali mencagili ibu yang mulai sewot.
"Ya sudah ..sana ...Bapak pergi sama ular itu kalau dia lebih cantik dari ibu." gerutu ibu yang mulai terpancing.
"Ha..ha..ha.. Bapak kan tidak bilang Putri Sarimah lebih cantik dari ibu. Tetap ibu yang tercantik di mata Bapak! Eeehhh ... Buuu...tungguu... Bu..... Bapak kok di tinggal, hati - hati bu jalannya gelap...ha..ha..ha.." cicit Bapak terus menjahili istrinya
Ibu berjalan mendahului bapak dengan hati mulai kesal sembari memeluk ku di gendongannya. Malam kian larut, angin malan berhembus menusuk tulang, di iringi suara binatang malam Bapak mempercepat langkahnya mengejar ibu. Melihat tingkah ibu yang ke kanak kanakan membuat bapak tertawa karna berhasil mencagili nya.
"Buu... masak sih Bapak di suruh pergi dengan Putri Sarimah. Apa ibu gak sayang lagi sama Bapak. " bujuk Bapak merengkuh pundak ibu sembari berjalan di sisinya.
"Habisnya Bapak gitu sih. " ibu tersenyum kecil sembari memalingkan mukanya.
"Ada hal penting yang di utarakan Putri Sarimah tadi yang harus Bapak sampaikan kepada warga. Nanti sesampainya di rumah emak bapak akan menceritakan semuanya" lirih Bapak di samping istrinya
Bapak menggandeng lengan ibu dan tidak lagi mencagili nya, beliau juga memberitahu bahwa ada pesan yang di ucapkan Nyai Sarimah untuk semua warga desa.
"Pesan apa itu pak?" Ibu semakin penasaran dengan ucapan Bapak.
"Nanti saja Bapak ceritakan, itu kita sudah sampai di rumah emak." Cicit Bapak.