Gadis cantik kelahiran Jakarta, yang disapa dengan nama Kayla, kini sedang bersiap-siap sekolah. Menata percaya di pantulan cermin. Kadang-kadang sedih sendiri, kompilasi mengingat dia hanya berjuang sendiri. Nelangsa? Jelas, itu yang Kayla rasakan. Hidup pontang-terengah-engah mencukupi kebutuhan hidup.
Kayla dikenal sebagai gadis yang cuek, dan penuh puzzle-teki. Di balik itu semua ia adalah gadis yang menyimpan sejuta kesakitan, kesedihan.
Sekarang Kayla telah sampai di sekolah. Tas ditaruh di atas meja, untuk penyangga kepala. Setiap hari tidur di dalam kelas. Itu adalah rutinitas Kayla. Malamnya begadang, siangnya tidur. Layak disebut manusia kelelawar. Bagaimana tidak? Malam hari bekerja, hingga larut. Pulang jam 3 dini hari. Pagi harus mengurus sang ibu, dan sekolah.Tak ada waktu untuk istirahat.
"Woy, Kay!" teriak Alfa, sambil menggebrak meja.
Alfa adalah sahabat Kayla sejak SMP. Mereka selalu bersama. Persahabatan mereka kekal karena Alfa begitu menyayangi Kayla layaknya adiknya sendiri, bahkan lebih dari seorang adik. Alfa adalah salah satu sahabat Kayla yang mengetahui beban yang di alami gadis itu, dia percaya miris dengan keadaan Kayla, bahkan dia berjanji akan mempertahankan dan mempertahankan Kayla. Namun, ada satu rahasia yang tidak diizinkan, yaitu pekerjaan Kayla, yang menjadi p*****r.
"Apa, sih?" jawab Kayla dengan nada kesal. Tidurnya terganggu, karena Alfa.
"Tidur, bae! Nih, makan." Alfa menjawab kesal, dan menyodorkan kotak nasi.
"Ah ... Gak usah! Gue lagi puasa," tolak Kayla kemudian melanjutkan tidurnya.
Alfa yang tidak sabar, akhirnya menarik dipegang Kayla agar duduk. Kayla melepaskan lengan sahabatnya itu. Mengapa Alfa selalu mempertimbangkan dirinya.
"Apaan, sih? Ah, ngeselin banget." Wajah gadis itu cemberut.
Kebiasaan Kayla yang tak pernah makan pagi, membutuhkan Alfa untuk selalu membawakan bekal. Alfa tak ingin, Kayla sakit. Lima tahun mereka bersahabat. Membuat pasangan hapal, apa saja yang diambil, dan tidak diambil.
****
Menjadi sorotan, adalah hal yang sudah biasa diperoleh gadis itu. Memakai pakaian mini, yang selalu mengoda birahi. Menari di atas panggung, dan bersolek manja, adalah pekerjaan Kayla. Urat malu seakan putus, Kayla yang sekarang mendapat Kayla dulu, yang terkenal pintar, dan kalem. Krisis ekonomi, membuat hidup Kayla menjadi berubah drastis. Prestasi anjlok, hidup tak beraturan.
"Kayla," teriak para pengunjung klub malam itu.
DJ memutarkan lagu yang lebih ramai, tentu saja menjadi lebih panas. Begitu juga dengan jogetan Kayla, dan penari striptis lainnya.
"Mi, mau berkencan satu malam sama cewek yang di atas sana," kata salah satu pria bernama Waluyo.
Gina yang sedang menyesap alkohol langsung melihat ke panggung. Mengrenyit, tak paham, siapa penari yang meminta pria ini.
"Yang mana?" tanya Gina.
"Pake BH biru," jawab Waluyo.
"Kayla?" tanya Gina, pria itu mengangguk.
"Bisa diatur. Asal donasinya dua kali lipat," jawab Gina.
"Hah? Donasi? Kaya kena bencana aja. Terus, kenapa harus dua kali lipat?" tanya Pria itu.
"Karena dia Star striptis. Dia bintang di sini, banyak yang mau sama dia, tapi ya gitu ... harus bayar dua kali lipat," jawab Gina. Dan, dibahas oleh Waluyo.
10 menit berlalu. Tolak para penari striptis. Kayla turun panggung, dan menuju ke toilet. Keringat bercucuran, menambah kesan seksi pada gadis yang diterima 17 tahun itu. Setelah dirasa cukup, gadis itu melangkahkan kaki menuju meja pantry. Meminta untuk bertender, agar dibawa segelas alkohol. Gina datangi Kayla yang sedang santai sambil merokok, sambil memegang gelas kecil yang berisi alkohol.
"Kay, ada yang mau kencan sama kamu," kata Gina.
"Tarifnya?"
"lima juta? Tapi, kamu harus layani dia. Dia pingin mantap-mantap sama kamu," kata Gina, kemudian menyesap rokok. Kayla masih diam, mantap-mantap? Bagaimana bisa? Sementara itu tidak mungkin memberikan seluruh untuk lelaki yang tidak ia cintai.
"Gak ah, aku gak mau. Kalo minta cuma, dan grepe-grepe, atau cium sih masalah gak. Tapi, kalo nyampe mantap-mantap, ogah dah, mi," Kayla menolak.
Gina pecah bola rusak. Tak setuju dengan perkataan Kayla.
"Percuma, Kay. Kamu itu p*****r. Di mana-mana p*****r itu dianggap rendah," ujar Gina.
Ingin rasanya Kayla berontak dan menyela, namun menurutnya percuma. Memang benar yang diucapkan oleh Gina, p*****r memang sudah rendah, tapi dia mendukung untuk mempertahankan apa yang harus dia pertahankan.
"Aku gak mau, mi. Tetap mau dibayar berapapun untuk ML. Aku tetap gak mau," kekeh Kayla. Gina meninggalkan Kayla, menuju ke Waluyo. Gadis itu mengreyit kompilasi melihat Gina tengah membisikkan sesuatu ke lelaki itu. Tak, lama kemudian Gina kembali menghampiri Kayla.
"Yaudah, kata dia, gak mantap-mantap gak papa, asalkan kamu mau kencan sama dia satu malam," kata Gina.
"Oke."
Kini Kayla membuang p****g rokok dan segera menghampiri Waluyo. Tanpa basa-basi, Kayla duduk di sebelah lelaki yang sudah terlihat itu. Gadis itu bergelayut manja, dan membelai Waluyo.
"Hay, om," ucap Kayla pindah. Waluyo tersenyum napsu, segera mengandeng Kayla dan mengajaknya ke hotel.
Tbc