Prolog
Musik menggema di telinga, asap rokok menyeruak indera penciuman, bau alkohol sangat menyengat. Tak lain lagi, ini adalah klub malam. Tempat di mana orang-orang melakukan kesenangan sesaat. Tempat di mana orang-orang melampiaskan masalah yang menganggu fikiran.
Para wanita bayaran bersolek, dan bergelayut manja di lengan pria. Semua mangut-mangut menikmati hiburan malam ini. Namun, Ada yang lebih menarik dari pada wanita mengoda.
Yaps! Penari striptis di panggung sana. Ia bergoyang vulgar mengikuti alunan musik. Tubuhnya yang molek menjadi incaran para pria.
"Kayla." Orang memanggilnya.
Sorak riyuh bergemuruh. Pertanda Kayla tampil memukau malam ini.
Satu kata yang terpatri dalam hidup Kayla adalah TERPAKSA. Ia menjadi p*****r dan penari striptis. Demi kebutuhan ekonomi, dan biaya sekolah. Tak hanya itu ia adalah korban broken home. Ayahnya tak bertanggung jawab, dan pergi entah kemana, ibunya terkena stroke ringan. Mengharuskan dia turun ke dunia malam ini.
Sungguh miris. Namun, inilah kenyataanya. Menjadi seorang p*****r harus tahan malu, tahan godaan, tahan cemooh dari orang-orang. Itu yang dirasakan oleh seorang Kayla. Ia sering mendapat perlakuan yang tak senonoh, ia sering dilecehkan. Bahkan dengan sengaja, ada yang pernah memegang p******a, dan b****g Kayla. Kayla ingin marah. Namun, percuma. Marah untuk apa? Toh, dianggap sudah dianggap rendah.
"Luar biasah." Seorang wanita menghampiri Kayla, yang kini tengah duduk.
"Seperti biasah, penampilamu selalu memukau para pelanggan," lanjutnya.
"Ah ... Mami bisa aja deh," balas Kayla.
"Besok ada tamu jauh, kamu tunggu saja ya jam malam. Dia ngajak kamar sampai jam tiga pagi."
"Apa? Haduh, Mi. Gak salah tu sampai jam segitu? Aku harus sekolah. Udah sering bolos." Kayla memprotes.
"Lumayan, loh ... kamu juga butuh uang kan? Bolos sekali lagi. Demi Uang loh ini," kata Gina membujuk.
"Tapi ... Em, ya sudah lah. Nanti telpon Kayla aja ya, Mi," kata Kayla.
Gina Mareta, seorang g***o, sekaligus pemilik klub malam itu. Orang yang diundangnya dengan sebutan mami. Setiap orang yang bertemu dengan Gina adalah orang yang memiliki banyak masalah. Niat dia membantu, dan mencari keuntungan, tetapi ke jalan yang salah. Contohnya seperti Kayla ini. Target yang sangat pas.
****
Dengan langkah gontai Kayla menaiki tangga Sekolah. Rasa pening di kepalanya membuat ia meringis. Pengaruh alkohol semalam masih terasa. Belum banyak yang mengerti kedok Kayla yang sebenarnya. Hanya teman-teman malamnya yang tau bagaimana Kayla sebenarnya. Sejak kelas 2 SMA dia sudah aktif di dunia malam. Mifta, ibu kandung Kayla tidak mengerti pekerjaan Kayla yang sebenarnya. Yang Mifta Tahu, Kayla menjadi pelayan disalah satu restauran di Jakarta.
Kayla mencari tempat yang tepat untuk mengumpat, dan di gudang inilah ia bisa beristirahat sejenak. Kayla mengeluarkan rokok di sakunya, ia menyalakan api, dan menghisap ujung rokoknya.
Gubrak ...
Sesuatu terkejut Kayla, spontan ia menjerit karena kaget. Ada ular cobra, dalam hati Kayla memohon ampun kepada tuhan. Ia melempar rokoknya ke Arah
Ular itu. Ia sangat takut. Keringat dingin mengucur deras.
"Tolong aku!" teriak Kayla. Dengan sekuat tenaga ia berteriak, entah kenapa rumit, semua terasa lambat. Pintu terasa terkunci, dan sulit dibuka.
"Woy! Siapa di dalam?" teriak seseorang di luar sana.
"Tolong aku!" teriak Kayla lagi.
Ular itu mendekat ke arah Kayla. Kayla semakin menjerit histeris.
Jika ini akhir dari semuanya. Ijinkan aku bertaubat tuhan. Batin Kayla.
Tiba-tiba ia mendapat bantuan seseorang. Kayla terjatuh, karena seseorang itu mendoringnya.Antara sadar, dan tidak sadar. Ia melihat lelaki yang mahir menangkap ular itu. Dalam hati ia terpesona dengan ketampanan lelaki itu.
"Hay, kamu gak papa?" Lelaki itu menyadarkan lamunan Kayla.
"Aku ... iya, gak papa. Makasih ya?" ucap Kayla.
"kamu ngapain di sini? Em ... kamu kok bau rokok si?" tanya lelaki itu.
"Kamu ngerokok, ya?" tanyanya lagi, lelaki itu melihat satu bungkus rokok tergeletak di lantai. Kayla mengangguk. Lelaki itu hanya menggelengkan kepala.
Sekarang mereka berada di kantin.
Suasana masih canggung, mereka masih saling diam. Kayla sesekali melirik ke arah lelaki di hadapnya.
"Nama kamu siapa?" tanya lelaki itu.
"Panggil aja Kayla. Kalau kamu?"
"Aku Glen, kelas duabelas IPA satu, aku murid baru di sini," jawab Glen. Kayla mangut-mangut pertanda ia paham. Glen mengamati kecantikan Kayla yang alami. Ia sampai tak bisa, jika tidak memerhatikan perempuan yang ada di hadapannya.
"Kenapa ngerokok?" tanya Glen memecahkan keheningan.
"Gak papa, Udah kecanduan," jawab Kayla.
"Gak bagus buat kesehatan, apalagi kamu cewek."
"Haha. Merokok mati, kok merokok juga mati kok," jawab Kayla, kemudian ia meninggalkan Glen di pojok kantin. Sugguh kasihan nasibnya.
“Ya ampun, lupa tanya, dia kelas berapa,” ujar Glen menepuk jidatnya sendiri.
*****
Tbc.