Jam lima pagi kamarnya diketuk. Suara Bude Nur mengalun halus.
“Nduk, sudah bangun belum? Ayo bangun, mandi terus sarapan.”
Milan meregangkan tubuhnya. Ototnya sudha tidak sekali kemarin. Sekarang tubuhnya segar dengan suasana hati yang ceria. Milan memukul dahinya ketika sadar belum menghubungi ibunya sejak sampai di sini. Mereka pasti khawatir. Milan mencari ponselnya, mencari stop kontak untuk mengisi baterai.
Milan masih belum berniat untuk mandi. Opsi lain yang ia pilih adalah berjalan menuju dapur. Dua orang lain yang mungkin akan menjadi rekan kerjanya sudah sibuk di sana. Mereka terlihat rapi dan wangi. Sepertinya sudah mandi pagi.
“Milan mandi dulu sana.” Bude Nur yang mengetahui eksistensinya berseru. Tangannya sibuk menumis bumbu di wajan.
Milan menggeleng. “Mandinya nanti saja bude. Milan nggak enak karena bangun paling siang. Sini Milan bantuin.”
Bude Nur menggeleng. “Haduh kamu ini memang malasnya nggak sembuh-sembuh. Ya udah sana bantuin Yani motong sayuran.”
Milan tidak tahu siapa yang bernama Yani. Karena dia belum sempat berkenalan dengan keduanya. Tapi Milan menuju meja di tengah dapur. Kemungkinan dia yang bernama Yani karena kini dia tengah memotong kentang. Sementara yang satunya menyiapkan nasi.
“Mbak, biar saya bantu.”
Wanita yang mungkin berusia awal tiga puluh tahunan itu tersenyum ramah. “Kamu bisa bantu potong kangkungnya?”
Milan mengangguk. Mengambil dua ikat kangkung. Segera mengerjakan tugasnya.
“Jadi kamu yang namanya Milan. Bagus ya namanya Milan. Kayak nama kota di Eropa.” Yani terkekeh pelan.
Milan ikut tersenyum. Memang namanya seperti klub sepak bola Eropa. Tapi Milan suka, apapun nama yang diberikan ayahnya, Milan akan menyukainya.
“Iya, mbak, nama saya Milan.”
Yani menepuk sikunya. “Nggak usah formal sama aku. Kita umurnya nggak beda jauh. Umurku masih dua puluh empat, panggil aja Yani.”
Milan mengangguk. Dalam hati meminta maaf karena sempat mengiranya berumur awal tiga puluh. “Oke, Yani.”
Mereka melanjutkan kegiatannya. Sesekali Yani menjelaskan sedikit tentang dirinya, juga Erna. Nama wanita yang sedang menanak nasi. Yani bilang agar Milan tidak mudah tersinggung dengan Erna.
“Erna itu judesnya minta ampun. Dia juga merasa paling berkuasa diantara kami. Tapi dia takut sama Bu Nur,” katanya tadi.
“Erna umurnya berapa, Yan?”
Yani bergerak berdiri. Hendak mencuci kentangnya, namun sebelumnya menunduk dan sedikit berbisik.
“Erna udah tua. Tapi nggak mau mengakui kalau tua, umurnya udah dua sembilan.”
Milan mengangguk. Dari gelagatnya saja Milan sudah tahu, dia akan mendapat banyak pertikaian dan omelan dari Erna. Tatapannya Sadi dan mematikan. Seakan tidak menerima kehadiran sosok Milan di sini. Tapi gadis itu memilih tidak ambil pusing.
Lima belas menit kemudian, mereka sudah siap dan duduk melingkari meja makan. Tadi Pak Andi sempat kemari untuk meminta lauk. Maklum, paviliun itu hanya dihuni para pria. Tidak ada yang pandai memasak selain masak nasi. Katanya sudah setiap hari mereka berbagi lauk.
“Milan nanti ngapain aja, Bude?”
Milan bertanya saat mereka masih menikmati sarapan.
“Biasanya kita mulai kerja jam enam pagi, Mil. Bude bagian masak di dapur sama Yani. Erna bagian nyuci sprei dan pakaian kotor. Juga bersih-bersih di ruang tamu. Nanti bagian kamu bersihin kamar, ya. Bantuin yang lain juga kalau mereka minta tolong. Kamu disini tugasnya ngurangin beban yang lain.” Bude Nur menjelaskan.
“Tapi nanti kalau Tuan Muda udah pulang, kita kerjanya mulai jam tujuh ya, Mil. Soalnya Tuan Muda nggak suka kalau rumahnya berisik pas pagi.” Yani menimpali. Milan mengangguk takzim.
“Di rumah utama ada siapa aja? Biar Milan bisa belajar hafalin majikan.”
“Ada Nyonya Besar, Tuan Besar sama Tuan Muda. Sekarang yang masih di rumah cuman Nyonya Besar. Tuan Besar dan Tuan Muda sedang perjalanan bisnis ke luar negeri. Bulan depan baru pulang. Oh, ada satu lagi. Mas Abel, dia belajar di luar negeri dari kecil. Pulang ke sini setahun sekali. Mas Abel anak bungsu.” Kali ini Erna yang menjawab.
“Milan nanti pakai seragam ya. Habis itu bude antar buat ketemu Nyonya Besar dulu. Kamu harus sopan dan rapi, jangan banyak bicara. Nyonya Besar lebih suka lalu rumah utama tenang.” Bude Nur menasehati. Milan mengangguk untuk kesekian kalinya.
“Habis ini Milan mandi dulu ya, bude. Milan juga mau mengabari ibu dulu. Dari kemarin belum Milan kabarin.”
Bude Nur mengangguk.
Setelah sarapan, Milan mandi. Setelah selesai kemudian mematut diri di deona cermin menggunakan seragam hitam putih seperti di dalam drama. Milan juga sudah menghubungi ibunya. Berkata bahwa ia sampai dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Dia juga berkata bahwa tempat kerjanya bagus, bude Nur juga banyak membantu.
Setelah selesai, Milan berjalan menyusuri jalanan yang ditata dari batu menuju rumah utama. Di sana, Erna sudah memegang sapu dan kemoceng.
“Bu Nur ada di dapur,” jawabnya ketika Milan bertanya dimana sang bude.
Milan bahkan tidak tahu dimana letak dapur dan toilet. Lalu dia harus pergi kemana? Milan berputar, menuju ek pintu belakang. Meminta Erna untuk mengantarnya. Tapi ketika Milan sudah sampai di teras belakang, Erna sudah menghilang. Bahkan kemoceng dan sapu yang ia bawa tidak terlihat. Milan mengemhembuskan napas berat. Dia akan berusaha mencari letak dapur berada.
Milan tidak sempat terpana akan keadaan dan barang di rumah. Dia hanya bingung karena lantai ruangan yang luas, smeuanya tersekat rak dan dinding. Membuatnya seperti labirin. Milan seperti anak kucing yang tersesat di rumah raksasa.
Gadis itu hampir jatuh terjungkal saat pundaknya ditepuk dari belakang. Milan hampir berteriak jika, dia tak lebih dulu menginterupsi.
“Heh, ini aku, Yani. Ayo, kamu ngapain disini. Nanti kalau Nyonya Besar lihat, bisa kena marah.”
Yani menyeretnya meninggalkan ruangan besar dengan lampu gantung raksasa itu. Milan mengikuti Yani yang berpostur lebih pendek darinya melangkah. Keduanya harus melewati dua sekat sebelum sampai di dapur. Rumah ini lebih mirip perangkap tikus yang rumit dari pada kastil.
“Kamu kemana aja, bude cariin dari tadi.”
Sesampainya di dapur, Milan disuguhi pemandangan yang sibuk. Sepertinya waktu sarapan sang majikan sebentar lagi, Bude Nur tampak kesusahan memasak dengan tiga kompor yang menyala.
“Ayo sini, Milan. Bantuin bude masak ini. Malah berdiri kayak patung.”
Milan segera bergerak. Beradaptasi dengan kecepatan Yani dan bude Nur yang begitu tangkas mengendalikan wajan dan kompor.
“Erna tadi kemana? Perempuan itu selalu saja pergi dan menghindar di saat penting begini.” Bude Nur bersungut kesal.
“Nggak tahu, Bu. Tadi pas aku ajak kesini, katanya mau beresin teras belakang.” Yani menyahut. Tangannya masih sibuk menumis wajan yang mengepulkan aroma pedas.
“Anak itu perlu sesekali dimarahi. Bekerja nggak penah benar, kalau pas dibutuhkan kayak sekarang cepat banget larinya.” Bude Nur masih mengomel.
Milan membersihkan beberapa potong ayam. “Ini mau dimasak apa bude?”
Yang dipanggil menoleh sebentar.
Memastikan kemudian kembali fokus pada tumisannya. “Bumbu kuning aja, Mil. Nanti digoreng. Mas Abel suka banget sama ayam goreng.”
Milan mengangguk. Meski tidak tahu siapa itu Abel. Dia hanya mengerjakan apa yang ditugaskan padanya. Milan tidak mau menjadi Erna versi dua yang tidak bisa mengerjakan hal dengan benar.
“Aku nggak tahu kalau Mas Abel pulang ke sini. Apa studynya sudah selesai. Terus sampai di sini jam berapa?” Yani bertanya.
“Dari yang kudengar dari Andi, Mas Abel sampai jam dua dini hari.”
Semuanya siap ketika jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Waktu yang pas ketika penghuni rumah utama biasanya sarapan. Milan diminta bude Nur membawa segala makanan ke ruang makan. Menggunakan troli besar yang biasanya ia lihat di restoran.
Saat Milan sampai, seorang wanita berusia setengah abad duduk di kursi paling ujung. Wajahnya memancarkan wibawa kuat yang membuat siapapun tidak berani berdebat dengannya. Milan melihat Erna sudah berdiri di sana, menyiapkan piring untuk sarapan pagi. Padahal Erna tidak membantu apapun. Mungkin itu yang membuat bude Nur dan Yani kesal.
Saat tengah menghidangkan makanannya, Nyonya Besar mengenali eksistensinya. Memanggil bude Nur yang berdiri di sudut ruangan.
“Nur, ini keponakanmu?”
Bude Nur bergerak maju. Memberikan hormat dengan menundukkan separuh badan sebelum mulai berbicara. Bude Nur menyikut lengan Milan. Memberinya kode agar mengikuti gerakannya. Setelah Milan memberikan hormat, bude Nur mulai memperkenalkan Milan.
“Nyonya Besar, ini Milan. Keponakanku yang aku ceritakan dulu. Dia gadis pekerja keras dan baik, dia akan membantu kami dalam mengurus rumah jika Nyonya mengizinkan.”
Nyonya Besar memindai Milan dari kepala hingga kaki, dari kaki hingga kepala. Setelah yakin, baru kemudian mengangguk. Tersenyum samar.
“Baik, Nur. Tidak perlu kuperiksa, siapapun yang kamu bawa pasti baik. Dan kamu, siapa namamu?”
“Milan, Nyonya.”
“Iya, Milan. Bekerjalah dengan giat. Aku tidak suka pegawaiku bermalas-malasan.”
Milan mengangguk. Dia mulai menyukai Nyonya Besar. Pemilihan kata yang menyebut mereka sebagai pegawai dan bukan pembantu sungguh menghangatkan hatinya. Mungkin ini yang membuat ia begitu dihormati.
“Ayo, cepat sajikan sarapan. Perutku lapar sekali. Sebentar lagi Abel turun tolong siapkan s**u hangat, ya.”
Yani mengangguk. Bergegas menghangatkan s**u di dapur.
Setelah semuanya tertata rapi, bude Nur memberi isyarat agar seluruh pelayan kembali ke dapur. Membiarkan Nyonya besar menikmati sarapannya dengan tenang.
“Mas Abel udah turun?” Yani bertanya pada mereka yang baru memasuki dapur.
Erna yang datang paling terlambat menyahut. “Udah, baru aja.”
Yani sudah menyiapkan segelas s**u hangat di atas nampan. Sudah melangkah hendak keluar dari dapur tapi kembali berbalik. Menyerahkan nampannya pada Milan.
“Kamu aja ya, aku belum siap ketemu Mas Abel.” Yani tersipu sendirian. Astaga ada apa dengan gadis itu, batin Milan ketika meninggalkan dapur.
Dari kejauhan, Milan mendengar suara Nyonya Besar yang sedang berbicara. Milan tidak tahu bahwa Mas Abel yang dimaksud adalah dia. Pria muda dengan setelan kaos putih dengan celana training itu duduk di meja makan. Milan gugup. Belum pernah dia bertemu dengan pria sewangi dan setampan ini. Pantas saja Yani tadi berkata demikian.
Bahkan seantero kampung halamannya, tidak ada yang tampan seperti ini. Milan meletakkan segelas s**u di samping Abel. Sedikit gemetar.
“Makasih.” Suara Abel memenuhi gendang telinganya. Terdengar ramah sekali.
“Oh, gue pikir Yani? Ma, ini siapa?”
Nyonya Besar yang sedang mengunyah makanan memindai Milan. Berusaha mengingat namanya. “Pegawai baru, namanya Meli.”
“Milan, Nyonya.” Milan meralat.
Nyonya Besar mengangguk tak acuh. “Namanya susah.”
Abel tertawa. Menampakkan deretan giginya yang tertata rapi. Tawanya renyah sekali, membuat Milan salah tingkah sendiri.
“Mama harus sering olahraga, sekarang udah tambah pikun.”
“Namanya yang susah, bukan Mama yang tambah tua.”
Suasana hening sejenak. Hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Dan Milan juga tidak tahu kenapa dirinya masih berdiri di sudut ruangan.
“Kamu sempat ketemu Papa, kan di Bali? Gimana?”
“Nggak enak, Ma. Abel lebih suka kuliah daripada kerja.” Abel menggelengkan kepalanya. “Abel mau lanjutin S2 dulu.”
Nyonya Besar melotot tidak terima. “Kamu mau kuliah di luar negeri lagi, kan? Mau jauh dari Mama? Abel. Kamu udah mandiri dari kecil. Kalau kamu mau kuliah lagi nggak apa-apa, asal di Jakarta. Biar kamu bisa tinggal di sini sama Mama.”
“Tapi, Ma. Abel udah daftar di Harvard. Surat pendaftaran Abel juga udah di acc, Abel diterima di manajemen bisnis, Ma.”
Mereka seperti lupa akan kegiatan utama. Yakni sarapan.
Nyonya Besar yang hendak menyahut menangkap eksistensi Milan yang masih berdiri di sana. “Kamu ngapain masih di sini? Sana bantuin yang lain.”
Milan tersedot ke permukaan. Menyadari betapa bodohnya kenapa ia masih di sana. Setelah membungkukkan badan, Milan melangkah pergi. Menggerutu karena dengan percaya diri ikut mencuri dengar.
***