Kalian percaya keajaiban? Karena Milan tidak. Sedari kecil Milan diajarkan untuk berusaha mendapatkan hal yang ia mau dengan kerja keras. Hidup beratapkan rumah kesederhanaan, Milan menjalani hidup yang tidak ramah. Milan harus bersusah payah menabung atau bahkan menunggu lama jika menginginkan sesuatu.
Milan ingat sekali ketika ia pernah menginginkan sepeda. Dia harus menunggu satu bulan penuh. Menghitung setiap matahari dan bulan yang sudah lewat. Menanti kepastian akan datang sepeda impian. Milan dari awal hanya hidup dengan Ibu, ayahnya sudah meninggal bahkan saat ia masih di kandungan. Itulah sebabnya jika ia menginginkan sesuatu, ibu harus bekerja dua kali lebih giat.
Milan dulu masih kecil, dia tidak paham bagaimana susahnya mencari uang. Apalagi ibu yang seorang single parent. Tapi bagaimanapun hidup, ibu tidak pernah mengeluh sekalipun Milan meminta barang mahal. Jika ibu tak bisa menuruti, paling Milan akan ngambek dua sampai tiga hari. Setelahnya kalau di belikan es krim pasti akan lupa dengan yang lalu.
Semenjak itu Milan berusaha menahan keinginannya. Tidak mau lagi membebani ibu, toh dia masih bisa pinjam punya teman. Milan punya banyak teman, apalagi laki-laki. Milan tidak suka bergaul dengan perempuan yang banyak gaya dan selalu pamer boneka Barbie hadiah dari orang tua mereka. Milan lebih suka mengejar layang-layang ke penjuru desa hingga kulitnya benar-benar menggelap. Milan di antara temannya, hanya dia yang perempuan. Milan menjadi tidak suka merawat diri dan tomboy.
Ibu selalu mengeluh ketika Milan pulang dengan luka baret ataupun kulit yang menggelap dan kian kering. Ibu menjadi semakin marah ketika Milan menyimpan banyak kelereng, layangan dan berbagai macam mainan laki-laki lainnya. Milan ganti merajuk. Dia tidak terima kalau alasan ibunya adalah gender kenapa bermain saja harus meributkan jenis kelamin?
Setiap orang punya hak yang harus dijunjung tinggi. Orang lain tidak boleh mengganggu hak sesama. Milan berteriak mengulang pelajaran PPKN di hadapan ibunya. Berakhir telinganya yang memerah karena di jewer.
Milan tersenyum kecut. Maka ketika orang-orang bermimpi begitu tinggi dan berharap akan adanya keajaiban, dia abai. Milan tidak peduli. Baginya tidak ada lagi yang ia harapkan. Bahkan Milan saja tidak tahu apa mimpinya.
"Milan! Hujan! Bantuin ngangkat jemuran di atap cepat!"
Teriakan Yani membuatnya terjaga dari kilasan masa lalu. Milan berlari tunggang langgang meninggalkan gunungan baju yang selesai ia setrika. Milan bergegas menaiki tangga dengan berlari. Hujan yang datang tanpa peringatan membuatnya lelah. Padahal lima menit lalu langit masih cerah, arak-arakan awan putih terlihat di langit barat. Lalu kenapa sekarang bumi di hajar air hujan begitu deras?
Milan sampai di atap rumah dengan wajah memerah. Keringatnya mengalir namun di abaikan. Di sana Yani sudah mengomel panjang lebar. Menyalahkan langit yang menurunkan hujan di saat yang tidak tepat.
"Hujan itu berkah, Yani. Jangan di marahin!" Milan menimpali.
"Paling nggak bilang dulu. Kasih aba-aba mendung dulu, kalau gini kan bajunya apek semua padahal udah mau kering!"
Mereka bergerak cepat sekali. Melemparkan tiap potong pakaian ke dalam keranjang. Setelah selesai, keduanya duduk bersama empat keranjang pakaian di teras atap. Mereka mengipaskan tangan agar panas tubuh menurun.
Hujan turun begitu berirama. Bulirnya yang sebesar biji jagung membuat suara begitu keras. Milan bahkan harus mengencangkan volumenya agar Yani bisa menangkap maksud perkataannya.
"Yang lain kemana?!"
Yani mendekat. "Apa?!"
Milan membulatkan mulut. Bersiap untuk teriakan kedua. "Yang lain kemana? Kok nggak bantuin?!"
Yani menggeleng. "Nggak tahu. Tadi pergi sama Nyonya Besar pakai mobil. Paling belanja perabotan baru atau nggak ke pasar!"
Teriakan Yani teredam gemuruh hujan. Jika tidak, mungkin seisi rumah akan terkejut mendengar betapa kerasnya suara Yani. Milan hanya mengangguk sebagai jawaban.
Tempias hujan membasahi emperan teras. Membuat Milan bergerak semakin menepi. Basah. Dia mau bergerak turun, tapi kata Yani lebih baik di sini dulu kalau hujan masih deras. Milan tidak menanyakan lebih lanjut. Dia menurut dan menemani Yani duduk menatapi rinai hujan yang jatuh.
"Kita kenapa nggak boleh masuk, Yan?"
Yani memeluk tubuhnya sendiri. Kedinginan.
"Nggak apa-apa. Kamu temenin aku dulu, mau lihat hujan."
Milan mengedipkan mata beberapa kali. Jadi ini dia dikerjai atau hanya diperalat oleh Yani? Kenapa pula dia harus mendekam kedinginan di sini seperti tuna wisma?
***
Setelah puas menemani Yani yang nyatanya hanya ingin melihat hujan, Milan memutuskan untuk pergi ke ruang baju. Berniat menggosok seluruh baju yang baru saja ia angkat dari jemuran. Dirinya bersenandung ringan. Lagu kenamaan Aurora. Run away, mengalun.
Milan mulai mengerjakan tugasnya. Bibirnya sesekali tersenyum ketika nadanya begitu pas di telinga. Hujan tinggal menyisakan rinai kecil dengan aroma petrichor yang kental. Milan suka aromanya. Dia jadi ingat semasa kecil suka bermain hujan.
"Ckckck."
Milan hampir melompat mendengar decakan dari sudut ruangan. Milan terkejut mendapati Abel yang berdiri di kusen pintu. Menyilangkan tangan di depan d**a sembari menggeleng menatapnya.
Milan membenarkan posisi dan segara menunduk. Astaga. Apa dia melakukan kesalahan? Apa dia berbuat salah?
Milan meremat erat kedua jemarinya. Berharap jika dia tidak melakukan kesalahan, astaga Milan sangat pelupa. Dia tidak ingat apakah dia berbuat sesuatu yang buruk atau tidak.
"Mbak, kalau nyetrika yang benar. Malah konser. Nanti kalau Mama tau, pasti kena marah."
Abel berjalan mendekat. Kini jaraknya hanya beberapa langkah dari Milan. Sementara gadis itu menahan cemas. Tidakkah lucu kalau baru bekerja beberapa hari lalu dipecat gara-gara menyanyi saja? Milan menggeleng. Padahal dia selalu bangga akan bakatnya satu itu, tapi kali ini dia mengutuk suaranya. Dia belum mau dipecat.
"Eh, nama Lo siapa? Meli? Melia?" Abel menggaruk kepala. Ingat dengan betul bahwa ada unsur M di nama perempuan ini.
"Milan." Gadis itu bercicit pelan. Tidak berani bersuara.
Mendengar nada suara Milan yang bergetar, Abel tertawa keras. Astaga, dia hanya bercanda. Sepertinya Milan menganggap candaannya terlalu serius.
"Hahaha. Nggak-nggak. Gue bercanda aja. Eh, anyway, mbak umur Lo berapa? Kayanya nggak beda jauh sama Yani."
Milan mengangguk kecil. Tidak berani menatap Abel. "Dua puluh."
Abel mengangguk kecil. "Wah, lebih muda dari gue dong."
Abel mengangguk sekali lagi. "Panggil aja Mas Abel. Kayak yang lainnya. Okay, Milan?"
Abel sedikit menunduk. Menyamakan tingginya dengan Milan.
"Oke, Mas Abel."
Cowok itu belum bergerak. Masih diam ditempatnya. "Nggak gitu. Coba lihat wajah gue. Bilang di depan wajah gue, jangan nunduk, Mil."
Milan ragu. Benarkah begitu? Apa boleh dia mengangkat wajahnya? Abel menunggu dan sepertinya tidak akan pergi sebelum Milan menuruti apa maunya.
Milan mendesah kecil sebelum mendongak. Yang Milan tidak sadari hari itu ialah, tindakan kecilnya menjadi awal. Titik awal dari sebuah kisah kecil yang dimulai secara sepihak. Kisah yang membuat Milan larut dalam perang batinnya.
"Oke, Mas Abel." Milan mengatakannya tepat setelah mendongak. Menatap manik mata Abel yang lebih tinggi darinya. Melihat betapa senyum Abel begitu tulus dan menenangkan. Milan hanyut, dia bahkan lupa bahwa entah berapa sekon ia habiskan hanya untuk menatap Abel.
Mungkin Abel pun begitu. Karena hingga detik ini dia masih tidak berkedip menatap Milan.
Hari itu, kisah dua anak manusia dimulai. Halaman baru mulai ditulis.
Kontak mata mereka terputus ketika teriakan Nyonya Besar menggema di seisi rumah. Bukan Milan ataupun Abel yang di panggil, tapi keduanya segera berlari. Jarang sekali Nyonya Besar berteriak seperti ini. Pasti ada hal yang penting.
"Erna!" panggil Nyonya Besar.
Milan mengeluh dalam hati. Jangan sampai Erna membuat masalah.
Milan hanya mampu berdiri di sudut ruangan. Dia melirik sekilas apa yang terjadi dengan Erna, tapi begitu matanya bergerak, dia mendapati Abel yang tengah menatap dirinya. Milan berkedip beberapa kali, sepertinya dia menangkap basah Abel. Karena setelahnya pria itu salah tingkah membuang muka.
Milan mendesis ketika punggung tangannya di tepuk bude Nur, lebih tepatnya dipukul.
"Jangan berani lihatin mereka kayak gitu, Mil. Nggak sopan."
Mungkin bude Nur mengira dia mengamati Erna yang kini tengah dimarahi habis-habisan oleh Nyonya besar. Gadis itu dimarahi karena telah merusak gorden kesayangan Nyonya Besar yang katanya impor dari Paris. Limited edition. Merk Gucci, maka dari itu Nyonya marah besar.
Mungkin jika sekali atau dua kali Nyonya bisa maklum, tapi Erna sering sekali lalai dalam mengemban tugas. Entah sudah berapa barang mahal yang telah ia rusak. Maka dari itu amarah Nyonya Besar begitu tak bisa dikendalikan.
"Sekali lagi kamu rusakin barang-barang. Kamu mau aku pecat! Gajimu dua tahun aja nggak bisa ganti biaya ini, Erna! Kamu paham nggak?!"
Erna masih bersimpuh. Menangis. Berharap bahwa Nyonya Besar mau berlapang hati dan tidak memecatnya. Nyonya Besar yang kalap hendak mengeluarkan kata pedas lainnya sebelum Abel mendekat. Merangkul pundak Nyonya Besar.
"Mama, udah. Nanti Abel beliin yang baru. Kebetulan teman Abel ada yang kerja di sana. Nanti nitip beliin ya."
"Tapi nggak bisa gitu, Bel. Harganya mahal! Mama nggak mau barang Mama di rusakin!"
Abel mengusap lengannya. Memutar tubuh Nyonya besar agar menghadap dirinya. Setelah sempurna memunggungi Erna, Abel berkedip singkat pada bude Nur. Memintanya untuk membawa Erna pergi dari amukan Nyonya Besar.
"Iya, nanti dimarahin lagi. Sekarang Mama istirahat aja, nggak baik marah-marah. Nanti darah tinggi Mama kumat."
"Doain terus yang jelek-jelek buat Mama!"
Meski masih mengomel, Abel tetap tersenyum. Merangkul Mamanya menuju lantai dua. Mengantarnya untuk beristirahat di kamar.
***
Hari ini rumah sepi. Kebetulan, tiga hari ke depan adalah hari liburan bagi seluruh pegawai di rumah. Menyisakan dua orang satpam juga bude Nur yang setiap tahun memang tidak pernah ikut.
Nyonya Besar memang membuat agenda tentang liburan bersama untuk seluruh pegawai. Biasanya tempat wisata. Tahun lalu mereka di kirim ke Bromo, tahun sebelumnya ke Jogja dan tahun ini mereka akan berwisata ke Bandung. Meskipun jaraknya dekat tapi mereka tetap antusias. Setiap orang akan mendapatkan uang saku dengan nominal besar, juga sudah banyak fasilitas menunggu.
Erna dan Yani tampak bersemangat menata baju di dalam tas. Memindai apakah ada yang kurang atau tidak.
"Kamu beneran nggak ikut, Mil?" Yani bertanya sekali lagi. Padahal sudah tiga kali terhitung dia bertanya. Dan jawabannya akan selalu sama.
"Enggak, Yan. Aku nggak enak. Belum lama kerja di sini kok udah ikut liburan aja. Nggak apa-apa, Milan bantuin bude Nur jaga rumah."
Yani mengangguk. Wajahnya masam karena dia begitu berharap Milan akan ikut bersamanya. Milan gadis yang ceria dan asik, berlibur bersamanya akan sangat menyenangkan.
Bude Nur berjalan membawa nampan berisi kue kering. Katanya hasil percobaan. Milan mengambil satu.
"Ikut aja, Mil. Kamu belum pernah ke Bandung kan? Sana ikut. Lihat kebun teh, nanti nginepnya juga di villa. Dapat uang saku banyak. Bude udah biasa sendiri."
Milan tetap menggeleng. "Nggak bude. Milan ikut tahun depan aja."
Suasana masih lengang. Suara TV yang menayangkan program favorit Yani, Ikatan Cinta, menjadi latar belakang. Siapa, sih nama pemerannya? Alexander ya? Dia lupa. Milan tidak begitu suka, dia lebih suka drama Korea. Apalagi pemerannya adalah Wi Ha Jun.
"Kalau liburan, majikan pada ikut nggak, sih?" Milan bertanya seraya meraih satu buah roti.
Yani mengangguk. Masih fokus menatap layar TV. "Ikut. Tapi biasanya cuma Nyonya Besar sama Tuan aja. Kalau Mas Abel nggak pernah ikut, dia aja pulang ke sini berapa tahun sekali."
Milan mengangguk. "Kalau Tuan Muda?"
Yani mengingat kembali. "Belum? Sepanjang Yani di sini belum pernah lihat Tuan Muda ikut liburan. Kalau Bu Nur gimana? Dia pernah ikut?"
Semua mata mengarah ke bude Nur. Pasalnya hanya beliau yang berkerja di sini paling lama. Suhu dari para senior.
"Udah pernah. Cuma sekali, waktu itu pas masih sekolah. Bude lupa umur berapa."
Milan mengambil lagi roti kering yang tersaji. Tanpa sadar telah menghabiskan sepiring. Enak sekali buatan bude Nur.
"Berarti besok kita cuma sendiri, bude?"
"Nggak tahu, Mil. Kita lihat aja nanti, tapi biasanya nunggu Tuan Besar dulu kalau mau liburan. Tumben sekarang mereka belum pulang tetep liburan."
Erna yang sedari tadi diam ikut menimpali. "Mungkin mumpung Mas Abel di sini, sekalian karena Tuan Muda belum pulang. Jadi mereka nggak bisa ketemu."
Yani mengangguk dua kali. Setuju dengan opini Erna. "Iya kali. Jadi emang sengaja biar Mas Abel bisa ikut liburan."
Milan mengerutkan kening dalam. Pusing dengan pembicaraan mereka. Apa maksudnya? Memang kenapa kalau Tuan Muda sudah pulang dan Abel masih di rumah? Apa mereka tidak akur? Atau bagaimana?
"Emangnya Mas Abel sama Tuan Muda kenapa?" Milan bertanya serius.
Beberapa detik mereka hanya membiarkan pertanyaan Milan mengambang tak terjawab. Yani bahkan hanya mampu berkedip sembari melarikan pandangan.
Erna menggeleng. "Jadi kamu belum tahu soal mereka?"
Milan semakin bingung. "Mereka kenapa? Ini mereka maksudnya Tuan Muda sama Mas Abel? Atau siapa? Jelasin pelan-pelan, Milan nggak paham sama sekali."
Belum sempat Erna membuka mulut, terpaksa dia harus menelan bulat perkataannya di pangkal lidah. Bude Nur segera menginterupsi.
"Udah-udah. Kenapa malah gosipin urusan orang lain? Diberesin barangnya, jangan sampai ada yang ketinggalan. Bandung dingin!"
Bude Nur meminta Milan untuk kembali ke kamar. Mengabaikan gerutuan gadis itu sebab pertanyaan tadi tidak terjawab. Katanya, Milan akan tahu saat sudah waktunya. Biar waktu yang menjelaskan semuanya, Milan hanya perlu menunggu.
***