"Aku membuka hatiku dengan mudah untukmu bukan berarti kamu juga mudah untuk menyakitiku. Tolong hargai dan pahami itu."
- Rekayla -
*****
LETTA dan Aster terlihat celingak celinguk kesana kemari mencari Kayla yang belum saja sampai, padahal 15 menit lagi waktu masuk tiba. Bahkan keduanya menunggu di depan pagar sekolah selama setengah jam lamanya. Namun, tidak ada tanda-tanda bahwa Kayla akan tiba.
"Anjir mana sih tuh anak," celetuk Aster yang sudah mengeluh kebosanan, berbanding terbalik dengan Letta yang menunggu dengan sabar tanpa mengeluh sama sekali.
"Mungkin Kayla udah mau nyampe, kita harus sabar Aster," ucap Letta dengan senyum manisnya, "Sabar paan udah setengah jam nih, tuh anak minta dicubit ginjalnya emang. Mana lupa tukeran nomor lagi, jadi susah ngehubungin," gerutu Aster kembali.
Mereka memang belum sempat bertukar nomor telepon sehingga menyulitkan jika ingin menghubungi.
Tak lama, mobil BMW i8 berwarna putih datang dan melewati Aster dan Letta yang menatap mobil itu dalam diam. Mereka berpikir, siapa yang membawa mobil mewah seperti itu ke sekolah? bukan hanya mereka berdua, bahkan para peserta MPLS dan OSIS pun menatap kearah mobil mewah itu.
Karena yang mereka tau, belum ada yang pernah membawa mobil semewah itu ke sekolah. Bahkan ini baru pertama kalinya mereka melihat.
Kayla yang di dalam mobil mengernyitkan dahi bingung, "Ngapa pada liatin kesini dah?" tanyanya yang di dengar oleh Rey. Rey hanya mengendikkan bahunya pertanda tak tau menau.
Dia juga merasa aneh melihat semuanya menatap kearah mobil miliknya karena ya baru pertama kali Rey membawa mobil ke sekolah dari awal dia bersekolah disini.
"Mereka liatin mobil kamu kayaknya," ucap Kayla yang akhirnya mengerti, "Jarang bawa mobil apa gimana?" tanyanya lagi dibalas anggukan Rey.
"Dari awal sekolah disini gak pernah bawa mobil sama sekali, mungkin ini pertama kalinya," jawab Rey memarkirkan mobilnya di tempat yang di sediakan panitia OSIS.
Rey dapat melihat bahwa anggotanya sudah stand by di posisi mereka masing-masing sesuai intruksinya dalam rapat pagi tadi.
Rey melepaskan sabuk pengamannya lalu beralih menatap Kayla yang masih fokus melihat keluar dari balik jendela. Rey hanya menggeleng tersenyum lalu mendekatkan tubuhnya.
Kayla yang merasa Rey mendekatinya menatapnya bingung, "Mau ngapain?" tanya Kayla waspada dan memundurkan badannya.
Dia takut Rey melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya, karena Kayla tau Rey itu juga pria normal yang bisa bergejolak jika bersama perempuan seperti Kayla contohnya.
Rey tetap diam dan makin mendekatkan dirinya, lalu tangannya meraih sabuk pengaman Kayla dan melepaskannya membuat Kayla menatapnya terpaku. Rey yang ditatap pun balik menatap dirinya juga, membuat keduanya saling tatap dalam diam.
Rey tersenyum kecil membuat Kayla makin terpesona melihat senyuman yang langka itu, Rey segera mencium kening Kayla dan menjauhkan badannya. Dia keluar dari mobil yang disambut pekikan dari segala penjuru.
"HUAAA REY!!!!"
"Astaga ternyata si ketos woi yang punya mobil!"
"Ya Allah cogan, foto woi foto"
"Akang Rey!!!"
"Rey ganteng banget asli, ga salah gue mah daftar sekolah disini bisa nyuci mata,"
"Rey kaga pake seragam sekolah makin cakep ye,"
"Ketos woi ketos!"
"Ketosnya ganteng banget jadi pengen nangis huaaa...."
"Alay woi alay, masih gantengan gue ini,"
"p****t ayam masih keliatan ganteng daripada muka lo njir,"
"Kok lo ngatain suka bener sih Fer,"
"Ketawa lo ketawa! Suka amat kalo temennya dinistain,"
"Eh eh itu Rey buka pintu lagi tuh,"
"Eh Rey bareng siapa dah?"
"Astaga siapa tuh yang mau dibukain pintunya?"
"Ketos sama siapa tuh? kayaknya mau bukain pintu"
"Mana gue mau liat, minggir woi!"
"Jangan dorong-dorongan anjir, entar gue nyungsep!"
Rey tak memperdulikan teriakan di sekitarnya, dia segera membuka pintu mobil dan tersenyum sangat tipis melihat Kayla yang ragu untuk keluar dari mobil.
"Entar kalo mereka nerkam gimana?" tanya Kayla bergidik ngeri.
Tubuhnya masih tertutupi tubuh Rey karena Rey tidak membuka lebar pintu mobil melainkan sedikit saja. Jadi banyak yang mencoba mencuri-curi pandang kearah dalam mobil Rey.
"Kok gue jadi kepo juga si?" celetuk Aster yang sudah masuk ke dalam sekolah melihat banyaknya orang yang memperhatikan mobil milik Rey yang sudah menjadi sorotan saat masuk tadi.
"Itu Kayla kan?" tanya Letta pelan, dia tidak sengaja melihat kilasan sedikit bayangan Kayla dari kaca spion mobil.
"Mana?" tanya Aster mencoba mencari tau juga.
Rey hanya mendengus geli, "Gak ada yang berani nyakitin kamu La," ucap Rey menatap lembut Kayla, "Gak ah takut," tolak Kayla masih ragu.
"Percaya sama aku, gak ada yang berani ngapa-ngapain kamu," ucap Rey lalu mengulurkan tangannya.
Entah kenapa melihat tatapan lembut Rey dan suaranya yang terdengar tenang membuat Kayla menurut dan membalas uluran tangan Rey dengan masih sedikit ragu.
Rey menarik pelan tubuh Kayla, setelah Kayla keluar semua menatap tak percaya bahkan ada yang mengucek matanya karena takut salah liat.
"KAYLA??!!!"
"It----itu Kayla kan?"
"Wanjir Kayla?!"
"Astaga itu cewek yang bikin onar MPLS kemarin kan?"
"Kayla cantik banget njir, gue deketin bisa kaga ya?"
"Ngaca dikit lur,"
"Sial, gue kira siapa eh ternyata cewek biang rusuh kemaren,"
"Hoki banget bisa dateng bareng Rey, gue jadi pengen,"
Rey menggenggam tangan Kayla dengan lembut, tidak peduli dengan Kayla yang sudah ketar-ketir sendiri melihat tatapan tajam setiap gadis kepadanya. Untungnya, kelas 11 dan 12 tidak ada. Mereka hanya diizinkan melihat acara MPLS ketika api unggun. Jadi Kayla bisa sedikit lega.
Tapi matanya dapat melihat Dara dan Lolita yang berada tak jauh darinya, memang tak melihat secara langsung. Kayla hanya melirik sebentar, namun dia tau bahwa Dara sudah menatapnya dengan sangat tajam seperti ingin membunuhnya.
"Mati deh gue," gumam Kayla sangat pelan agar Rey tidak mendengarnya.
Rey segera mengambil barang-barang Kayla yang berada di bagasi mobilnya, lalu membawakannya kearah tempat Kayla akan menginap nantinya. Rey sendirilah yang mengatur dimana gadis itu akan tidur.
"Ini ruangan kamu," ucap Rey setelah berhenti melangkah bersama Kayla di sebelahnya.
Kayla melihat ruangan tersebut yang hanya berisi dua tas saja, padahal ruangannya sangat-sangat luas untuk ditempati beberapa orang.
"Kayla!!"
Panggilan dari belakang membuat keduanya menoleh, sudah ada Aster dan Letta disana yang mengikuti mereka. Bahkan Letta tak memperdulikan Rey dan langsung memeluk Kayla dengan erat seolah baru saja bertemu setelah beberapa tahun berpisah.
Sungguh konyol.
"Njir Let, santai woi santai," ucap Aster yang melihat Letta memeluk erat Kayla.
"Kita satu ruangan yeay!!" pekik Letta sangat semangat membuat Kayla hanya mendengus kasar dan melepaskan pelukan keduanya.
Kayla bisa saja mati karena kesulitan bernafas akibat pelukan erat Letta kepadanya, gadis cantik itu memang tidak tanggung-tanggung jika melepaskan rasa rindu.
"Ini bukan lo kan yang ngatur Rey?" tanya Aster menatap Rey penuh selidik.
Karena ruangan sebesar itu hanya diisi oleh dirinya, Letta, dan Kayla saja. Belum ada yang memasukinya sama sekali sejak mereka datang ke sekolah.
Rey hanya mengangguk acuh, "Enak ye Ketos, bagus dah gue juga malas ngumpul ama yang lain. Enek liat muka mereka," ucap Aster lalu bergabung dengan kedua sahabatnya.
Rey mendekat kearah Kayla yang sibuk mendengar celotehan Letta, "Aku pergi dulu, nanti kumpul ke lapangan ya. Jangan telat," pesan Rey menatap lembut Kayla yang diangguki dengan malas oleh Kayla.
Rey hanya menggeleng pelan lalu beralih mencium puncak kepala Kayla sebelum pergi, membuat Letta dan Aster menganga tak peraya. Sungguh kejadian yang langka.
"Titip dia," Rey menatap kedua gadis yang menatapnya dengan cengo lalu beranjak pergi darisana. Masih banyak yang harus dia urus.
"Ceritain semuanya La!"
Kayla pasrah ketika dua sahabatnya menuntut jawabannya, lalu mengalirlah semua cerita dari mulutnya hingga membuat Letta menahan nafas karena ingin menjerit mendengar cerita dari Kayla.
"Berasa drama w*****d aja anjir," respon Aster mendengar cerita Kayla. "Gue juga ngerasa sama," balas Kayla mengerucutkan bibirnya.
"Tapi ini Rey ga main-main kan sama Kayla? dia serius kan?" tanya Letta menatap Kayla yang dibalas anggukan, "Awalnya gue ngira dia mau balas dendam karena tingkah gue dari awal MPLS udah buat onar tapi dia tetep aja bilang kalo dia tulus, ya mau gimana lagi,"
Kayla berjalan masuk ke dalam, melirik tasnya yang sempat ditaruh dengan Rey ke dalam. Gadis itu memilih duduk untuk beristirahat.
"Percaya gak percaya aja gue ama sikap si Ketua Osis karena yang gue ama Letta tau, tuh cowok gak pernah sama sekali deket ama cewek dari dia sekolah disini maupun pas SMP atau SD," ucap Aster, "Tau darimana lo?" tanya Kayla menatap Aster.
"Diceritain lah dari Letta, tuh cewek kan sering denger gosip kalo ke kantin sekolah," jawab Aster dan Letta hanya nyengir kuda membuat Kayla menatapnya datar.
"Gue kira lo ga bakal suka denger gosipan, eh ternyata sama aja. Dasar cewek," ucap Kayla, "Ih Kayla, cewek itu udah manusiawi kalo suka ngegosip dan ngedenger gosip. Itu udah jadi makanan mereka, sekali ngegosip pasti ketagihan,"
Jawaban lancar dari Aster hanya membuat Kayla mencibirnya pelan.
"Gue gak pernah tuh," sahut Kayla, "Apaan itu tadi bahas Rey namanya gak ngegosip? terus apa? negerumpi?" tanya Letta mencebikan bibirnya.
Aster hanya tertawa mendengar balasan dari Letta, kali ini Kayla harus kalah karena gadis manis tersebut.
"Mampus lo skakmat!" kekeh Aster sedangkan Kayla berusaha tak peduli.
"Tapi gue ingetin, karena lo sekarang udah jadi ceweknya Rey apalagi udah banyak yang tau lo karena kerusuhan kita kemaren-kemaren jadi lo harus hati-hati. Bakal banyak yang sirik," pesan Aster.
"Gue tau kok, tadi aja jalan kesini udah diliatin sinis banget apalagi tuh Dara ama dayangnya kayak mau makan gue aja. Kalo mau Rey mah ambil aja, gue juga gak peduli," ucap Kayla asal.
"Yakin?" ejek Aster dibalas timpukan snack dari Kayla.
"Sialan lo, laknat emang,"
*****
Setelah memakai pakaian yang diminta panitia OSIS, kini ketiganya sudah berjalan menuju tempat makan. Selepas sholat maghrib memang diagendakan untuk makan bersama terlebih dahulu sebelum melanjutkan agenda selanjutnya.
Saat sampai di tempat makan pun ketiganya dapat melihat begitu banyak manusia disana mengantre, membuat ketiganya sedikit ragu.
"Lo pada yakin mau ngantri?" tanya Aster kepada kedua sahabatnya, "Gue sih ogah desak-desakan, mending cari lain aja," balas Kayla memutar badannya.
Berjalan menjauhi tempat makan diikuti oleh Aster dan Letta, "Tapi Letta udah laper banget tau," rengek gadis itu.
"Kita cari makan diluar aja," usul Kayla dibalas seruan Aster, "Setuju gue!"
Letta hanya mengerucutkan bibirnya, tapi apa mereka bisa diizinkan keluar?
"Tuh ceweknya,"
Ketiganya berhenti saat dihadapan mereka ada Dara bersama seorang gadis yang melipat tangannya dengan angkuh.
"Siapa?" bisik Kayla, "Kayaknya sih kakak kelas, Letta sempat liat pas di kantin," sahut Letta pelan dan menunduk. Gadis itu mulai ketakutan lagi.
Dara dan orang itu berjalan mendekati ketiganya, disusul beberapa orang dibelakang keduanya. Kayla dan kedua sahabatnya sedikit terkejut karena jika dilihat cukup banyak juga yang mengikuti keduanya.
"Jadi ini Kayla, gadis yang buat onar di sekolah dan katanya berangkat bareng sama pacar gue?" suara gadis dengan pakaian minimnya berdiri di hadapan Kayla.
"Gue Stella pacar Rey," Stella memperkenalkan dirinya dengan nada mengejek. Mendengar hal itu membuat Aster mengerutkan keningnya.
"Pacar? Gak salah lo?" tanya Aster dengan santai sedangkan Kayla malah lebih menilai penampilan gadis di hadapannya.
Kayla menyunggingkan sudut bibirnya, ternyata jelmaan Dara banyak juga. Tapi Kayla akui bahwa Stella lebih buruk daripada Dara pikirnya.
Lihat saja, gadis di hadapan Kayla itu memakai rok mini sebatas setengah pahanya yang Kayla yakini jika tertiup angin maka dalaman gadis itu bisa saja kelihatan jika tidak memakai celana pendek. Lalu memakai tanktop yang tak sampai menutupi perutnya dengan dilapisi jaket denim.
Apa ini murid SMA Rajawali? berpakaian seperti w*************a diluar sana?
"Ternyata sama aja ya La, kek nenek lampir pakaiannya," ejek Aster menatap Kayla, "Sumbangin baju gih Ter, kasian gue liatnya," timpal Kayla menatap menghina kearah Stella.
Stella yang merasa tersindir pun menggeram marah, "Maksud lo apa hah?!" Stella menatap tajam Kayla bahkan gadis itu mulai memegang kuat dagu gadis itu.
Kayla masih terlihat santai, lalu dengan kuat menepis tangan gadis itu yang mencengkram dagunya.
"Kenapa? tersindir? berarti lo merasa dong? Oi Dar, ngapa si punya temen ga jauh-jauh spesies nya ama lo, sama-sama kayak cewek penggoda," celetuk Kayla dan mampu membuat semua menggeram marah.
"Marah? Gak salah lah kalo gue ama sahabat-sahabat gue menghina lo, karena nyatanya kita ngomong fakta. Sekalian aja nih Kak Stella yang terhormat buat ga pake baju, kan lebih enak dilihatnya," ucap Kayla.
"b******k!"
Stella segera menarik kuat rambut Kayla disusul Dara yang menampar pipi gadis itu dengan kuat.
"Anjir!" Aster yang ingin membantu Kayla harus terhenti karena kedua teman Stella segera menahannya dan memegang tangannya dengan kuat. Letta pun bernasib sama.
Bedanya Aster terus memberontak minta dilepaskan lain halnya dengan Letta yang menunduk makin takut.
"Lepasin sahabat gue sialan!" teriak Aster semakin memberontak.
"Lo itu yang penggoda, dasar cewek gak guna," maki Dara mendorong kuat tubuh Kayla ketika Stella melepaskan jambakannya dengan kasar.
Kayla dapat merasa kepala dan pipinya yang sangat sakit, bahkan sudut bibir gadis itu berdarah karena tamparan itu. Lagi-lagi pipinya yang menjadi korban.
"Main fisik aja beraninya," decih Kayla mengusap sudut bibirnya dengan pelan, namun wajahnya tetap terlihat santai.
Stella yang melihat pun ingin segera menampar gadis itu sama seperti yang Dara lakukan namun tertahan saat seseorang memegang pergelangan tangannya cukup kuat.
"Ap---Rey?!"
Semuanya menatap Rey menatap tajam kearah Stella, aura laki-laki itu terlihat mematikan. Ditambah Rey sempat melihat wajah gadisnya terluka.
Rey dengan kasar menghempaskan tangan Stella, "Apa yang lo lakuin?" desis Rey dengan nada dinginnya.
"Eh ada apa nih?" celetuk Athala bersuara diikuti Arkan yang melihat semuanya, "Lo semua lagi ngebully ya?" tuduh Athala lagi.
Athala mengusap hidungnya dengan pelan, "Liat tuh Kan, temen cewek lo ngebully adik kelas berasa apa tuh?" ejeknya membuat Arkan mendengus, "Bukan temen cewek gue anjir," bantah Arkan tak terima.
"Tapi kan satu kelas ya otomatis teman lah," bela Athala, "Kaga anjir, ngajak kelahi ya lo!" ucap Arkan.
Athala terkekeh, "Heh lo pada kaga malu ngebully adik kelas? udah merasa apaan? lu juga Dara, anak OSIS bisa-bisanya ikut ngelakuin hal yang kayak gini," Athala menatap dua gadis tersebut dengan tatapan merendahkan.
"Gue ga ngebully!" bantah Stella tak terima, "Gue cuma mau ngingetin dia kalo Rey ini pacar gue, jadi biar dia tau diri,"
Perkataan Stella membuat Arkan dan Athala sontak tertawa mendengarnya, "Lo denger tadi, Kan? Ngaku-ngaku die, njir kocak,"
"Bangun woi Stel, jangan ngimpi mulu," lanjut Arkan.
Rey hanya berdecih lalu segera menghampir Kayla yang meringis merasakan sudut bibirnya yang terluka cukup parah. Rey menatap tajam dengan luka itu lalu segera mencengkram dagu Stella.
"Lo apain cewek gue sialan,"