"Sebenarnya mau kamu itu apa? Datang karena ingin memberikan warna kebahagiaan atau ingin menorehkan luka yang sangat dalam?"
- Rekayla -
*****
SEJAK kejadian yang dilakukan Stella dan Dara beserta antek-anteknya, Rey begitu posesif menjaga Kayla. Bahkan laki-laki itu membawa Kayla kemana pun dia berada.
"Duh Rey, aku mau ke temen-temen aku aja ah. Males gini mah ngintilin kamu," keluh Kayla melihat kesibukan Rey.
Seharusnya dia mengikuti agenda para peserta MPLS yang sekarang sedang ada kegiatan bersama di lapangan sekolah. Panitia OSIS sebenarnya juga bergabung dengan para Dewan Ambalan Pramuka untuk menjalankan acara ini.
Jadilah pihak Dewan Ambalan Pramuka akan mengambil alih jika waktu malam hari demi keberlangsungan acara.
"Duduk diem sama aku aja," tegas Rey menatap Kayla yang sudah sejak tadi gelisah, gadis itu merengek minta untuk berkumpul bersama teman-temannya.
Tapi Rey tetap tidak mau ambil resiko jika Stella dan yang lainnya kembali berbuat ulah, Rey tidak akan tinggal diam. Kayla itu gadisnya dan siapapun yang melukainya akan berurusan dengannya.
"Tapi kan semuanya pada seru di luar, masa aku disini sama kamu si. Ayo keluar Rey," rengekan Kayla mulai tidak tahan.
Dia terpaksa bertingkah kekanakan ini agar Rey luluh ditambah dengan memasang puppy eyes miliknya yang terlihat sangat menggemaskan dimata milik Rey, membuat Rey tidak tahan.
"Yaudah," akhirnya Rey pasrah membuat Kayla menjerit heboh, "Yeay!!!!"
"Tapi sama aku dan jangan jauh dari aku walaupun semester," pesan Rey dibalas anggukan Kayla.
Daripada dia terjebak di Ruang Osis ini lebih lama lagi, lebih baik dirinya keluar. Walaupun harus bersama Ketua Osis menyebalkan menurutnya.
Kayla berjalan di sisi Rey yang setia menggenggam tangannya, dua insan itu menyusuri koridor sekolah yang sepi ditambah hari sudah gelap apalagi semuanya banyak berkumpul di aula sekolah mengadakan evaluasi sekaligus games bersama agar cepat akrab.
"Serem juga ya kalo kalem," cicit Kayla melirik kesana kemari dengan wajah polosnya, "Karena udah malem," jawab Rey sekenanya.
Kayla melepaskan pegangan keduanya membuat Rey menoleh menatap gadis tersebut, ternyata Kayla memilih kesana kemari bahkan gadis itu membuka pintu setiap ruangan untuk melihat-lihat.
Mumpung sekolah sepi dan tidak ada muridnya, dia bisa survei secara langsung tanpa melihat anak kelasnya.
"Ngapain sih?" tanya Rey menggeleng pelan melihat tingkat Kayla yang seperti anak kecil baru bebas dari kandangnya. "Luas juga setiap kelas, eh setiap kelas ada AC ya? Kok aku baru nyadar?" tanya Kayla dengan polosnya.
Rey segera merengkuh pinggang gadis itu membuat Kayla menjerit terkejut karena tindakan tiba-tiba Rey.
"Apaan si ngagetin anjir!" cecar Kayla memukul tangan Rey yang memeluk pinggang rampingnya.
"Kamu gak bisa diem La, nanti kalo dikira kamu maling gimana? Setiap ruangan ada CCTV sama AC nya jadi ga usah kek katro gitu," ucap Rey membuat Kayla menganga tak percaya.
Laki-laki itu baru saja mengatakan bahwa Kayla katro padahal Kayla hanya sedikit norak.
"Gue gak katro ya," Kayla mencebikkan bibirnya kesal tapi seketika dis harus meringis saat tau sudut bibirnya belum sebuah, masih terluka sejak kejadian tadi.
Rey yang mendengar pun langsung menatap kearah Kayla saat Kayla meringis menahan sakit. "Masih sakit ya? Makanya jangan banyak tingkah dulu," tegur Rey memperingati.
Kayla yang mendengar celotehan Rey pun hanya mendelik tak suka, dia itu hanya terluka sudut bibirnya bahkan darahnya pun sudah berhenti. Tapi kenapa Rey masih terlihat lebay sekali?
"Heh sudut bibir nya ini udah ga berdarah, cuma sisa perih apa hubungannya ama banyak tingkah anjir?!" geram Kayla sudah tak tahan, Rey pun hanya memandangnya bingung.
"Siapa yang nyuruh pake bahasa kasar?" Rey menatap datar gadis dihadapannya, tak ada wajah takut sama sekali yang terlihat, bahkan terlihat hanya kekesalan disana.
"Noh bapak lo!"
Kayla meninggalkan Rey dari sana dengan segera, sungguh dia harus banyak-banyak membaca istigfar jika berada di dekat Rey. Laki-laki itu bisa saja membuat Kayla memiliki penyakit darah tinggi secara mendadak.
Dan Kayla tidak ingin itu terjadi karena dia masih muda dan belum mempunyai keluarga, jadi lebih baik dia segera pergi dari sana.
*****
"Baik, kita sekarang masuk ke dalam Mini Games!!!!!"
Seruan sang pemandu acara malam ini membuat aula begitu heboh, kegiatan yang tadinya membosankan kini berubah menjadi lebih ramai dengan segala sorakan.
"Akhirnya mini games juga,"
"Untung aje udah selesai, sumpah ngebosenin amat denger ceramah. Pengen tidur gue,"
"Mini games nya apa dah?"
"Ini kapan selesai si? Gue mau tidur elah,"
"Pala lu tidur, ini masih jam 8 anying,"
"Duh gue mau skincare malam nih, keburu kaga ya?"
"Bawa skincare emang lo? Emang sempet?"
"Ya allah napa panitianya banyak yang cakep-cakep ye,"
"Tuh yang pake kaos ijo punya gue titik awas aja lo ambil,"
"Nyi Roro Kidul?"
"Kaga gitu setan!"
"Berisik woi diem!!!"
"Kaga ada dangdutan aja napa? Gue bosen mini games segala, mager ngapa-ngapain,"
"Lah ni anak malah molor, woi iler lu tuh dah kek danau!"
"ANAK DAJJAL MAKANAN GUE!"
"Ketos mana dah? Kok kaga keliatan?"
"Ketos gue ilang woi!"
"Eh tuh yang bawa kuaci lempar oi!"
Suara-suara silih berganti terus terdengar membuat aula terdengar berisik, bahkan ada saja yang tidur diam-diam meski keadaan tak terkendali.
"Si Kayla mana dah?" tanya Aster menatap Letta yang sibuk mencoret buku kecilnya, gadis itu nampak bosan, "Letta gak tau, tadi kan dibawa ama Rey, Aster," keluh Letta.
Letta merapikan sedikit rambutnya yang berantakan, jujur saja kedua gadis itu sudah sangat-sangat bosan bahkan tak antusias saat mendengar akan ada mini games berlangsung.
"Kayla baik-baik aja ga ys sama Rey?" tanya Letta khawatir, "Udahlah ama Ketos galak kek dia mah, Kayla pasti aman," jawab Aster dengan santai.
Letta masih saja tidak bisa merasa tenang, gadis itu terlalu mengkhawatirkan Kayla. "Letta takut Kayanya diapa-apain ama Rey tau, kan Rey gitu-gitu suka berantem ama Kayla," balas Letta.
"Terus menurut lo Kayla bakal diapain? Yakali Rey main di sekolah, entar keciduk lebih bahaya," Aster memakan keripiknya dengan kesal mendengar balasan dari Letta.
"Emang maksudnya main itu main apa? Rey ngajakin Kayla main gitu?" tanya Letta dengan polosnya membuat Aster mendelik.
Mempunyai teman terlalu polos juga membuat dirinya ingin menelan Letta dengan bulat-bilat, Aster itu bukan tipe gadis penyabar yang mau menjelaskan secara pelan.
"Buka google!"
Pada akhirnya hanya itu jawaban yang dapat Aster berikan daripada dia menjelaskan secara detail kenapa tidak menggunakan google saja?
"Hp nya kita kan dikumpul Aster, gimana si!" gerutu Letta memukul pelan bahu Aster.
"Yaudah diem, tunggu ada hp nya aja. Gak usah minta jawaban gue, entar salah lagi gue," ucap Aster.
"Tapi Letta terlanjur kepo sekarang, gimana dong?" tanya Letta dengan matanya yang mengerjap, "Lo bacot sekali lagi, gue sumpel pake nih plastik sampah ya Ta," ancam Aster membuat Letta terdiam.
"Nah git--"
BRAKK!!!
"ANJIRR SAKETTT!!!"
Teriakan membahana itu membuat semua orang berhenti fokus, lalu mengalihkan pandangannya kearah pintu aula yang berada di belakang mereka.
Terlihat Kayla yang sudah jatuh tersungkur di lantai dengan mengenaskan, gadis itu awalnya berniat menguping pembicaraan di dalam aula namun dia tidak menyadari bahwa pintu tidak ditutup dengan benar, sehingga membuat tubuhnya terdorong ke depan saat ingin bersender.
Dan lebih parahnya lagi, semua menahan nafas melihat Rey dengan wajah khawatirnya menghampiri Kayla.
"Aku tadi bilang apa, La," Rey menghela nafasnya melihat tingkah kecerobohan Kayla, "Mana yang sakit?" tanyanya lagi.
"Telapak tangan Kayla sakit," adu Kayla menahan air matanya dan memperlihatkan telapak tangannya yang memerah karena tergesek lantai, bahkan ada yang mengeluarkan sedikit darah dari sana.
Rey sempat terdiam melihat wajah Kayla yang begitu menggemaskan dengan wajah menahan tangis. Bahkan gadis itu tanpa sadar seperti mengadu kepada bundanya sendiri.
"Lain kali jangan kayak gini lagi ya, kasian tangannya berdarah," ucap Rey mencoba menenangkan dan meniup pelan tangan Kayla, gadis itu masih diam bergeming.
Semua yang melihat pun tidak bisa berkata-kata lagi melihat kemesraan keduanya. Bahkan ada yang menggigit bibir bawahnya karena tidak tahan.
Rey segera membantu Kayla berdiri dan berjalan kearah kursi miliknya bersama dengan Kayla, laki-laki itu tak menghiraukan sedikit pun tatapan orang-orang kepadanya.
"Itu Kayla," ucap Letta pelan namun tersirat tatapan khawatir melihat kejadian tadi, "Iya," balas Aster mengiyakan.
Kayla di dudukan di kursi yang di sediakan panitia OSIS untuk Rey sang Ketua Osis agar bisa menikmati acara, tapi kursi itu beralih di duduki oleh Kayla.
"Duduk disini ya, diem aja jangan kemana-mana," pesan Rey menatapnya dengan lembut. Kayla menggeleng pelan, "Duduk sama Aster sama Letta aja," tolaknya.
Kayla tau sekarang mereka berdua menjadi pusat perhatian maka dari itu Kayla ingin pergi dan berkumpul bersama kedua sahabatnya, jujur saja tatapan seperti itu tidak mengenakkan sama sekali.
Rey menatap dalam manik mata Kayla, tak ingin memperdulikan permintaan gadis itu. Dia memilih mengusap pelan telapak tangan gadis itu setelah dia mengobati nya.
"Tunggu disini, jangan kemana-kemana. Kalo ada yang gangguin bilang aku," ucap Rey pelan kearah Kayla agar tidak ada yang mencuri dengar pembicaraan mereka.
Kayla yang mendengar pun hanya pasrah saja dan mengangguk, setelah itu Rey berdiri dari tempatnya dan berjalan kearah podium. Dia sebentar lagi akan memberi pidato singkat untuk malam ini.
Kayla sempat menatap dua sahabatnya yang juga menatapnya, Kayla mengeluarkan lengkungan ke bawah bibirnya seolah merasakan kesedihan duduk sendirian.
Sedangkan Aster hanya melihatnya dengan geli lain hal dengan Letta yang juga ikut memasang wajah kasiann dan khawatirnya.
"Nih konsumsi lo!"
Suara yang sedikit nyaring itu menganggu aksi tatap-tatapan Kayla dan dua sahabatnya, dia menoleh kearah gadis yang menatapnya dengan tidak suka sembari menyerahkan kotak makanan.
"Lah buat gue? Bukannya khusus buat panitia doang? Gue liat peserta kaga dapet tuh," ucap Kayla menatap santai kearah panitia tersebut.
"Bacot lo, ambil aja bisa kan?"
Kayla menyipitkan matanya membaca name tag panitia tersebut.
Tania Veronica Malik.
"Sorry ya kakak Tania, gue gak mau dianggap berbeda dari yang lain. Jadi buat lo aja ya," tolak Kayla sopan, tapi melihat wajah Tania yang terlihat tidak bersahabat membuat Kayla berpikir bahwa kali ini pasti ada perdebatan lagi.
"Lo it---"
"Maaf kak gue udah capek berantem hari ini, berilah gue waktu sehari aja. Iya tau lo semua pada kesel ama gue karena gue deket ama Rey dan lo pada iri karena gak di posisi gue, gue ngerti tapi ya beri gue waktu juga lah buat istirahat. Capek ngebacot anjir,"
Kayla menghela nafas dan memilih segera beranjak dari kursinya membuat Rey yang tadi fokus memberi pidato langsung melirik kearah kursi Kayla.
Gadis itu beranjak pergi dari aula dengan muka lelahnya, gadis itu sepertinya habis berdebat dengan salah satu anggotanya lagi.
"Baiklah, hanya itu saja. Semoga kalian nyaman dengan kegiatan yang akan diselenggarakan berikutnya," ucap Rey mengakhiri pidato singkatnya.
Rey segera turun dari podium, membiarkan pembawa acara segera melaksanakan mini games. Dia harus mengejar Kayla sekarang karena gadis itu sudah tidak ada di aula.
"Lo apain pacar gue?"
Tania yang sedang menggerutu dan menyumpah adik kelasnya tadi langsung menoleh ke belakang, matanya terbelalak saat melihat Rey berdiri di depannya.
Raut wajah Rey terlihat sangat datar dan dingin, seperti memberikan tatapan intimidasi.
"Pac---pacar yang mana Rey? Emang lo punya pacar?" tanya Tania dengan beraninya, gadis itu belum tau bahwa Kayla adalah pacar Rey.
Karena gadis itu yang sibuk menyiapkan acara bersama rekan kerja Osisnya yang lain membuatnya tidak tau sama sekali tentang apapun.
"Sialan," umpat Rey dengan kasarnya lalu pergi dari hadapan Tania yang membeku karena terkejut.
Laki-laki itu lebih memilih mencari Kayla daripada menikmati acara mereka, dia harus menemukan Kayla.
"Huaaa gue laperrr....."
Rengekan terdengar tak jauh dari posisi Rey sekarang, laki-laki itu melangkah dan mendapati Kayla yang duduk di bangku dihadapan kelas 11, terlihat menunduk sambil mengerucutkan bibirnya.
Rey tersenyum tipis, setidaknya dia sudah menemukan kekasih kecilnya.