2. Rencana Terselubung

979 Words
“Apa!? Maksud kamu Parveen jadi sekretaris pribadi Fairel? Kenapa bisa? Bukannya dia udah punya sekretaris?” Valeeqa tidak bisa menyembunyikan raut keterkejutannya saat mendengar cerita Daiyan yang merekomendasikan Parveen menjadi sekretaris pribadi Fairel. Meskipun jauh di dalama lubuk hatinya merasa lega, karena sebentar lagi adik iparnya itu akan menyusul mereka berdua. “Lara mengundurkan diri kemarin. Aku juga enggak tahu alasan pastinya, tapi yang jelas udah beberapa hari ini aku selalu mendapat kabar kalau Fairel pulang larut malam dengan alasan pekerjaan. Jadi, mau tidak mau aku harus merelakan Parveen pergi ke sisinya, walaupun memberatkan bagi Fairel,” papar Daiyan sekenanya. Valeeqa terlihat mengembuskan napasnya pelan, lalu melingkari kedua lengannya ke arah leher Daiyan sembari menatap lelaki itu tersenyum manis. “Kalau begitu, aku tinggal menunggu kabar baik dari mereka berdua.” Valeeqa tertawa kecil. “Soalnya Mamah sudah mempertanyakan tentang pernikahan Fairel. Aku jadi merasa bersyukur kalau mereka berdua kembali bersama.” “Tapi, aku tidak yakin kalau Parveen akan ingat semuanya,” gumam Daiyan tanpa sadar membuat Valeeqa memajukan bibirnya kesal. “Sayang, aku ‘kan udah bilang. Sebenarnya, Parveen itu mengalami gegar otak yang menghilangkan sebagian memori masa kecilnya.” “Iya, iya. Aku tahu. Uhm ... ngomong-ngomong masalah rapat pemegang saham besok gimana? Aku belum menerima berkas itu hari ini.” “Benarkah? Astaga, sepertinya aku lupa memberikan padamu tadi.” Valeeqa menutup bibirnya sembari mendelik terkejut, lalu meringis pelan melihat raut wajah Daiyan berubah drastis. Seakan apa yang dikatakan istrinya itu hal biasa. “Ya sudah, tidak apa-apa. Aku tahu kamu lelah mengurus kami berdua, tapi apa kamu tidak berniat untuk berhenti kerja? Sepertinya aku tidak masalah kalau harus mengerjakan ini sendirian. Lagi pula aku masih ada Kiara yang akan meng-handle semuanya.” Daiyan kembali mengungkit masalah pekerjaan, membuat Valeeqa langsung melepaskan tangannya dari leher Daiyan, lalu bangkit dari pangkuan lelaki itu. Ia melangkah pada kursi tepat menghadap sang pemilik ruangan yang kini berpusat pada dirinya. “Yan, bukannya gue mau ngatur lo seumur hidup. Tapi seenggaknya, lo harus ngerti kalau gue itu mau berkarir dulu. Gue mau ngewujudin mimpi gue. Walaupun pada akhirnya, gue akan tetap berada di dapur.” Helaan napas terdengar dari Daiyan melihat Valeeqa bersikeras menjadi sekretaris pribadinya. Akan tetapi, sebagai naluri seorang ayah, Daiyan juga merasa kalau anaknya perlu kasih sayang. Meskipun hanya dari Valeeqa. Ia hanya tidak ingin kalau Valeeqa terlalu asyik bekerja sehingga melupakan kewajibannya seorang istri. “Sampai kapan?” tanya Daiyan mulai melunak menatap wajah kesal istrinya yang melihat kedua tangannya di depan d**a, lalu menatap ke arah lain. “Sampai Fairel benar-benar menikah. Walaupun bukan bersama Parveen,” jawab Valeeqa mantap. Dan yang Daiyan lakukan hanya menuruti permintaan istrinnya daripada perdebatan ini berlanjut hingga mereka berdua pulang ke rumah. Itu akan menjadi hal yang kurang baik, terlebih ada Shasha di rumah yang menunggu mereka berdua. “Baik. Langkah pertama kita harus membuat keduanya dekat,” tegas Daiyan membuat Valeeqa mendelik. “Enggak bisa, Yan! Harus perlahan,” tolak Valeeqa tidak terima. “Kalau begitu, aku tidak akan membiarkan semuanya berjalan lambat.” Daiyan tersenyum misterius, lalu menggerak-gerakkan jemarinya di atas meja. “Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Valeeqa penasaran. “Sekarang, kamu kabari Fairel kalau hari ini ada tanda tangan kontrak kerja dengan perusahaan penyedia batu bara,” jawab Daiyan sembari membuka loker yang terletak di bagian paling bawah meja, membuat lelaki itu merendahkan tubuhnya. Akan tetapi, Valeeqa yang masih penasaran pun tidak membuatnya mengurungkan niat untuk menghubungi Fairel, seperti titah Daiyan tadi. Tidak sampai menunggu lama, Valeeqa pun selesai, lalu membalikkan tubuhnya menatap Daiyan yang lebih banyak tersenyum daripada tadi. Anehnya, senyum itu malah terlihat seperti senyum psikopat sedang merencanakan sesuatu. “Sudah?” Daiyan menoleh pada Valeeqa yang mendudukkan diri tepat di hadapannya. “Hm. Katanya lima belas menit lagi mereka sampai,” jawab Valeeqa memasukkan ponselnya ke dalam saku blazer, lalu menatap Daiyan yang bangkit dari tempat duduk. “Mau ke mana?” “Aku ingin menghubungi Mamah soal kontrak kerja kemarin, sepertinya akan sangat berguna jika membawa Fairel sekaligus.” Sejenak Valeeqa mencerna perkataan suaminya, lalu tersenyum lebar. “Baiklah. Aku mengerti maksudmu.” Daiyan menatap wajah cantik istrinya yang begitu memesona. Entah kenapa ia sangat bersyukur telah memiliki wanita tanggu seperti Valeeqa. Wanita yang telah ia perjuangkan selama belasan tahun lamanya. Mungkin kalau mereka menikah, sudah mempunyai dua anak yang sudah menduduki bangku sekolah dasar. “Kalau begitu, aku berangkat dulu. Kamu di sini baik-baik,” ucap Daiyan memeluk tubuh istrinya erat. Dengan senang hati Valeeqa membalas pelukan, lalu menenggelamkan kepalanya di d**a bidang lelaki itu. Aroma kesukaannya tercium jelas, membuat Valeeqa diam-diam tersenyum di balik pelukan tersebut. “Jika ada masalah langsung kabari aku,” ucap Daiyan lagi tanpa melepaskan pelukan hangatnya. “Iya, suamiku. Sampai kapan kita berpelukan seperti ini? Lama-lama kamu tidak akan pergi,” balas Valeeqa memutar bola matanya malas menghadapi sifat manja Daiyan yang tidak ada bedanya dengan anak mereka, Shasha. Daiyan tertawa pelan, lalu melepaskan pelukannya sembari mengacak rambut Valeeqa gemas. Tentu saja hal tersebut membuat Valeeqa mendelik tajam, sebab menata rambutnya saja membutuhkan waktu cukup lama, tetapi dengan mudah Daiyan mengacaknya. Tidak tahu diuntung. “Aku pergi dulu, istriku,” pamit Daiyan mengecup bibir Valeeqa singkat. “Hati-hati, suamiku. Kalau bisa, jangan pulang,” balas Valeeqa tertawa pelan, membuat Daiyan langsung mendaratkan kecupannya kembali. “Kalau kamu menggoda seperti ini terus, bisa-bisa aku tidak jadi pergi, sayang. Yang ada, kita malah beralih ke kamar dan membuat adik untuk Shasha,” sinis Daiyan menatap wajah cantik istrinya. “Iya, iya. Sana pergi! Aku mengusirmu,” ucap Valeeqa memasang wajah kesal, lalu mendorong tubuh besar Daiyan agar segera hengkang dari ruangan. “Ingat pesanku, sayang!” seru Daiyan sedikit keras membuat para karyawan yang kebetulan berada di depan ruangan lelaki itu terkejut, lalu buru-buru mengalihkan perhatiannya saat mendapati sepasang suami-istri sedang dimabuk cinta. “Astaga, Daiyan!!!” pekik Valeeqa dengan wajah memerah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD