bc

Luka yang Membawaku Pulang

book_age18+
7
FOLLOW
1K
READ
second chance
drama
city
like
intro-logo
Blurb

Dulu, Dhatu percaya pernikahannya dengan Respati Waluyo adalah rumah yang tak akan pernah runtuh. Sampai dia melihat sendiri suaminya bersama perempuan lain — dan Respati tak pernah membelanya.Lima tahun berlalu. Dhatu bukan lagi perempuan yang sama. Dia berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa nama Waluyo, tanpa rasa butuh pada masa lalu.Sampai sebuah proyek mempertemukan mereka kembali.Tatapan Respati masih sama — tapi kali ini Dhatu bersumpah tidak akan jatuh dua kali. Namun semakin dekat mereka, semakin banyak kejanggalan yang muncul dari malam yang menghancurkan pernikahan mereka.Perceraian itu ternyata bukan tentang pengkhianatan. Itu tentang kesalahpahaman yang sengaja dibiarkan — dan kebenaran yang selama ini disembunyikan demi melindunginya.Kali ini, mampukah dua hati yang sudah terlanjur patah kembali menyatu jadi utuh? Atau kesalahpahaman yang sama akan kembali memisahkan mereka selamanya?

chap-preview
Free preview
Pertemuan yang Tak Diundang
Dhatu Nareswari sudah tiga kali membaca ulang slide presentasinya sebelum akhirnya menutup laptop dan menatap jam di pergelangan tangan. Sepuluh menit lagi. Dia menarik napas panjang, merapikan blazer abu-abunya di depan cermin kecil yang tergantung di balik pintu ruang tunggu, memastikan tidak ada helai rambut yang keluar dari sanggul rapinya, lalu melangkah menuju ruang rapat utama di lantai dua puluh tiga gedung yang menjulang di kawasan bisnis Jakarta. Ini bukan presentasi biasa. Proyek pengembangan kawasan hunian premium senilai ratusan miliar rupiah, dan perusahaannya — Nareswari Design Consultant, yang dia bangun dari nol lima tahun lalu dengan modal tabungan dan keberanian yang nyaris habis — akhirnya mendapat kesempatan mempresentasikan konsep desain di depan klien besar. Kesempatan seperti ini yang selama ini dia perjuangkan: malam-malam lembur, proyek-proyek kecil yang dia kerjakan sendirian sebelum akhirnya bisa merekrut tim, penolakan demi penolakan dari investor yang meragukan seorang perempuan muda bisa membangun firma desain sendiri tanpa dukungan nama besar di belakangnya. Semua itu demi momen seperti sekarang. Dia tidak tahu siapa klien itu. Timnya hanya diberi tahu nama perusahaan: Waluyo Group. Nama itu seharusnya membuatnya waspada. Seharusnya dia bertanya lebih jauh, mencari tahu siapa saja yang akan hadir, memastikan dirinya siap menghadapi kemungkinan terburuk. Tapi Dhatu terlalu sibuk memastikan setiap detail presentasinya sempurna hingga tidak sempat memikirkan kemungkinan itu. Lagi pula, Waluyo adalah nama besar dengan banyak anak perusahaan dan puluhan direktur di berbagai divisi. Peluangnya kecil, pikirnya waktu itu, terlalu kecil untuk dikhawatirkan. Dia masuk ruang rapat, menyapa dua orang perwakilan yang sudah duduk di sana, tersenyum profesional, mulai menyusun laptopnya di podium, menyambungkan kabel HDMI, mengecek sekali lagi urutan slide sambil sesekali melirik catatan kecil yang dia selipkan di balik laptopnya. Semuanya berjalan normal—sampai pintu di ujung ruangan terbuka, dan seseorang melangkah masuk dengan langkah yang dulu sangat dia kenal. Tinggi. Tegap. Jas abu-abu gelap yang dipotong sempurna mengikuti bentuk bahunya. Rahang yang mengeras seperti kebiasaan lama saat dia menahan sesuatu. Rambut yang disisir rapi ke belakang, sedikit lebih pendek dari yang dia ingat, dengan sedikit uban di pelipis yang tidak pernah ada lima tahun lalu—tanda-tanda kecil dari waktu yang telah berlalu, dari beban yang mungkin dia pikul sendirian selama ini. Respati Waluyo. Waktu seolah berhenti sepersekian detik. Dhatu merasakan darahnya berdesir naik ke wajahnya, lalu turun lagi secepat dia menyadari matanya sendiri terlalu lama menatap. Dia memaksa dirinya berkedip, memaksa jantungnya berhenti berdetak seolah baru saja lari maraton. Tangannya yang sedang memegang remote presentasi tiba-tiba terasa dingin dan berkeringat sekaligus, dan dia harus menahan diri agar tidak menjatuhkannya. Respati juga berhenti di ambang pintu. Hanya sepersekian detik, tapi cukup bagi Dhatu untuk melihat sesuatu berkelebat di matanya—sesuatu yang dulu selalu bisa dia baca, seperti buku terbuka yang hanya dia yang punya kuncinya, tapi kini asing karena terlalu cepat hilang di balik topeng dingin yang sudah lama dikenakannya. "Selamat pagi." Suara Respati mengalun rendah, tenang, seolah dia tidak baru saja masuk ke ruangan yang berisi mantan istrinya. "Maaf saya terlambat, ada rapat internal yang molor." Tidak ada yang tahu di ruangan itu—kecuali mereka berdua—bahwa lima tahun lalu, pria yang baru duduk di kursi kepala meja itu pernah menjadi suami perempuan yang berdiri gemetar di depan layar presentasi. Bahwa nama yang tertera di kartu namanya sekarang, Direktur Utama Waluyo Group, dulu adalah nama yang tertulis berdampingan dengan nama Dhatu di sebuah akta pernikahan yang kini entah tersimpan di mana, mungkin di sebuah kotak arsip lama yang tidak pernah lagi dia buka. Dhatu menelan ludah, memaksa suaranya tetap stabil. "Selamat pagi. Saya Dhatu Nareswari, dari Nareswari Design Consultant." Dia sengaja menyebut nama lengkapnya. Nama yang sekarang sepenuhnya miliknya sendiri, bukan lagi bagian dari nama keluarga siapa pun. Dia tidak pernah memakai nama Waluyo bahkan selama menikah dulu, tapi menyebutkan nama itu sekarang terasa seperti menegaskan sesuatu—bahwa dia berdiri di sini atas usahanya sendiri, bukan karena koneksi masa lalu, bukan karena belas kasihan siapa pun. Respati mengangguk singkat. "Saya tahu." Dua kata itu—diucapkan datar, nyaris tanpa emosi—entah kenapa terasa seperti pukulan telak di d**a Dhatu. Tentu saja dia tahu. Tentu saja Respati sudah tahu sejak awal siapa yang akan mempresentasikan proyek ini. Pertanyaannya adalah: kenapa dia tetap datang? Kenapa dia tidak mendelegasikan rapat ini pada salah satu direktur di bawahnya, seperti yang biasanya dilakukan direktur utama sebesar dia untuk rapat-rapat presentasi awal yang biasanya bukan levelnya untuk hadir langsung? Presentasi berjalan. Dhatu memaksa dirinya profesional, menjelaskan konsep desain dengan suara yang—untungnya—tidak gemetar meski tangannya dingin sepanjang waktu. Dia menghindari menatap langsung ke arah Respati, memilih fokus pada dua perwakilan lain di ruangan, pada layar, pada apa pun selain sepasang mata yang dulu bisa membuatnya merasa seperti rumah. Dia menjelaskan konsep zonasi, orientasi bangunan terhadap matahari, pemilihan material yang ramah lingkungan, keseimbangan antara ruang privat dan ruang komunal, semua dengan lancar meski di dalam kepalanya seolah ada dua percakapan berjalan bersamaan—satu tentang proyek, satu lagi berisi teriakan panik yang terus bertanya, kenapa dia di sini, kenapa harus sekarang, setelah semua yang terjadi. Respati sendiri duduk diam, mendengarkan dengan seksama, sesekali mencatat sesuatu di buku kecilnya, sesekali mengangguk pelan tanda setuju. Dia tidak menyela, tidak membuat komentar tak perlu, berbeda dari beberapa klien lain yang biasa memotong presentasi Dhatu di tengah jalan hanya untuk menunjukkan kekuasaan mereka. Hanya di satu titik, ketika Dhatu menjelaskan filosofi desain yang mengutamakan ruang terbuka dan cahaya alami, Dhatu melihat sudut bibir Respati bergerak sedikit—hampir seperti senyum yang ditahan, senyum yang berusaha keras dia sembunyikan di balik ekspresi profesionalnya. Dia tahu kenapa. Filosofi itu adalah sesuatu yang dulu sering mereka bicarakan berdua, di apartemen kecil mereka sebelum pindah ke rumah besar keluarga Waluyo. Dhatu selalu bilang, rumah yang baik adalah rumah yang membiarkan cahaya masuk, bukan rumah yang menyembunyikan gelap di setiap sudutnya. Dulu Respati suka menggodanya, bilang dia terlalu puitis untuk seorang arsitek, dan Dhatu akan membalas bahwa justru itu yang membedakan rumah dari sekadar bangunan—bahwa sebuah bangunan menjadi rumah hanya ketika ia jujur pada penghuninya. Ironis, mengingat bagaimana pernikahan mereka berakhir—di rumah besar keluarga Waluyo yang penuh koridor gelap dan pintu-pintu yang selalu tertutup, tempat rahasia bersembunyi di setiap sudut yang tidak pernah benar-benar diterangi, tempat yang seharusnya jadi rumah tapi justru menjadi kuburan bagi kepercayaan mereka berdua. Presentasi selesai empat puluh menit kemudian. Dua perwakilan lain memberikan tanggapan positif, mendiskusikan detail teknis, bertanya soal estimasi biaya dan timeline pengerjaan dengan antusias yang membuat Dhatu sedikit lega, sementara Respati hanya mendengarkan sampai akhirnya berbicara. "Konsepnya bagus," katanya, menatap Dhatu langsung untuk pertama kalinya sejak presentasi dimulai, suaranya tetap dalam nada bisnis yang terukur. "Kami akan mempertimbangkan proposal ini secara serius. Tim saya akan menghubungi dalam waktu dekat untuk pembahasan lebih lanjut." Formal. Profesional. Seperti dia sedang berbicara dengan orang asing yang baru dia temui hari itu, tanpa jejak sedikit pun dari lima tahun kebersamaan yang pernah mereka lalui. Namun ketika Dhatu mulai mengemasi laptopnya dan ruangan mulai kosong satu per satu—dua perwakilan itu berpamitan lebih dulu, membawa map berisi proposal, berjalan keluar sambil masih berdiskusi soal detail konstruksi—Respati tidak langsung pergi. Dia berdiri di dekat pintu, menunggu, tangannya di saku celana, sampai hanya tinggal mereka berdua di ruangan yang tiba-tiba terasa terlalu sunyi, terlalu sempit untuk menampung semua yang tidak terucap di antara mereka. "Dhatu," katanya, pelan, dan nama itu—diucapkan dengan suara yang sama seperti dulu, dengan penekanan yang sama di suku kata pertama, dengan nada yang dulu selalu membuatnya merasa spesial setiap kali diucapkan—membuat sesuatu di d**a Dhatu retak sedikit. "Direktur Waluyo," balasnya, sengaja formal, sengaja menjaga jarak dengan gelar itu seperti tameng yang dia pasang cepat-cepat sebelum sesuatu yang lain sempat keluar dari mulutnya. Rahang Respati mengeras sesaat, seolah nama gelar itu menyakitinya lebih dari yang dia tunjukkan, seperti dia berharap Dhatu akan memanggilnya dengan nama yang lebih akrab. "Aku tidak menyangka kau yang akan memimpin proyek ini." "Aku juga tidak menyangka Waluyo Group yang jadi kliennya." Dhatu membalas, suaranya datar meski dadanya bergemuruh seperti ombak yang dipaksa tenang. "Tapi bisnis tetap bisnis. Aku harap kita bisa profesional, Pak Respati." Kata "Pak" itu keluar dengan sengaja tajam, seperti pisau kecil yang dia gunakan untuk menandai batas, untuk mengingatkan diri sendiri sekaligus pria di depannya bahwa mereka sekarang hanyalah dua orang asing yang kebetulan terikat urusan bisnis. Respati menatapnya lama, seolah mencoba membaca sesuatu di balik topeng tenang yang dipasang Dhatu, matanya menyusuri wajah perempuan itu seperti mencari sesuatu yang mungkin sudah berubah dalam lima tahun—atau mungkin justru berharap menemukan sesuatu yang masih sama. "Tentu," katanya akhirnya. "Profesional." Dia berbalik dan berjalan keluar ruangan tanpa kata lain, langkahnya tegas seperti biasa, tapi Dhatu memperhatikan sedikit keraguan di ambang pintu—sepersekian detik saat Respati seolah ingin mengatakan sesuatu lagi—sebelum pria itu benar-benar menghilang di koridor. Dhatu berdiri sendirian di ruang rapat yang kini sunyi, tangannya masih memegang laptop erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih. Baru setelah pintu benar-benar tertutup, dia membiarkan dirinya bernapas panjang—napas yang selama empat puluh menit terakhir dia tahan tanpa sadar. Dia menyandarkan diri ke meja rapat, menutup mata sejenak, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih belum kembali normal, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah rapat bisnis biasa yang kebetulan melibatkan seseorang dari masa lalunya. Dalam perjalanan pulang, di dalam mobilnya sendiri, terjebak macet di sepanjang jalan protokol yang basah oleh gerimis sore, Dhatu baru menyadari tangannya masih gemetar saat menggenggam setir. Bukan karena takut. Bukan karena marah, meski ada jejak kemarahan lama yang ikut terusik. Melainkan karena setelah lima tahun berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia sudah benar-benar melupakan Respati Waluyo—setelah lima tahun membangun tembok demi tembok di sekeliling hatinya, batu bata demi batu bata yang dia susun dengan kerja keras dan kesibukan tanpa henti, setelah lima tahun memberi tahu dirinya sendiri bahwa dia baik-baik saja, bahwa dia sudah move on, bahwa nama itu tidak lagi punya kuasa apa pun atasnya—satu pertemuan singkat empat puluh menit itu cukup untuk membuktikan bahwa dia berbohong pada dirinya sendiri selama ini, bahwa tembok yang dia bangun ternyata jauh lebih rapuh dari yang dia kira.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
26.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
24.4K
bc

Kali kedua

read
223.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
197.3K
bc

MENCINTAIMU TANPA SENGAJA

read
1.3K
bc

Langit Tak Selalu Abu-Abu

read
125.6K
bc

Mencintaimu Suami Kejamku

read
9.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook