Beberapa hari ini, Freya tanpa sadar mulai menantikan waktu pulang bekerjanya. Ketika dia sampai di kontrakannya yang lusuh, Freya sudah terbiasa melihat Vano dan Flora sudah menunggu di depan pintu apartemennya sebelum dia pulang. Awalnya Freya tidak berpikir Vano akan datang sesering itu. Tapi ketika Vano semakin hari semakin meningkatkan porsi kunjungannya ke rumah Freya, gadis itu akhirnya berinisiatif menyerahkan kunci cadangan pintu apartemennya agar Vano tidak perlu selalu menunggu di luar pintu sampai dia pulang bekerja.
Ketika Vano merasa tidak enak harus memegang kunci apartemen Freya begitu saja, Freya mengatakan bahwa tidak masalah bahkan jika Vano datang kapan pun remaja itu mau. Toh, di dalam apartemen itu Freya sebenarnya tidak memiliki barang-barang yang berharga. Vano juga bukan tipe remaja yang senang membongkar barang-barang orang lain. Jadi melihat bahwa tidak ada yang perlu mereka khawatirkan, Vano akhirnya tetap mengambil kunci cadangan itu dan mulai datang lebih cepat dari sebelumnya.
Awalnya Vano hanya datang dengan makanan yang akan remaja itu makan bersama Freya sepulang gadis itu bekerja. Tapi semenjak Vano memiliki akses untuk memasuki apartemen Freya kapan pun dia mau, Vano dan Flora mulai datang lebih awal untuk sesekali membersihkan apartemen Freya. Vano kadang juga berusaha membelikan Freya banyak furnitur baru, tapi tidak lagi diijinkan karena Freya marah Vano terlalu banyak memberinya barang baru ketika dia membiarkan pria itu melakukan apa pun yang Vano mau.
Dengan perawatan Vano, apartemen Freya yang semula tidak pantas ditinggali mulai terlihat lebih nyaman di bawah usahanya. Vano bersyukur dia memilih untuk membeli barang-barang pokok terlebih dahulu sebelum Freya marah, sehingga Vano cukup puas melihat Freya bisa hidup lebih nyaman walaupun di tempat kecil ini.
Clek
"Selamat datang!"
Pipi Freya sedikit bersemu merah saat dia terlihat seperti seorang istri yang disambut suaminya begitu di masuk ke dalam apartemennya sendiri. Di dalam, Vano sudah duduk dengan tenang setelah Flora selesai menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga. Wajah remaja itu langsung berubah cerah, ketika dia mendekati Freya dengan ekspresi yang ceria.
"Apa kamu lelah? Bibi Flora bisa menyiapkanmu air panas jika kamu ingin mandi."
Freya sebenarnya ingin marah karena Vano selalu saja merepotkan orang yang baru beberapa hari ini Freya kenal sebagai bibi dari Vano saat remaja itu berkunjung ke apartemennya. Vano tampaknya tumbuh dimanja oleh orang-orang sekitarnya, karena Flora sendiri tidak terlihat keberatan saat wanita itu dengan sigap sudah memegang teko memasak air saat dia ikut bertanya pada Freya.
"Kamu mau?"
"Tidak perlu, terima kasih."
Freya langsung menjawab cepat ketika dia masuk ke rumahnya untuk duduk bersama Flora dan juga Vano. Lemari pakaiannya berada di belakang punggung Vano, bagaimana bisa dia mandi dan berganti pakaian jika Vano menahan lemarinya?
Freya juga tidak ingin meminta Vano menyingkir. Jadi daripada mandi, dia lebih baik makan dulu bersama orang-orang itu.
"Ya ampun Freya, bagaimana bisa kamu tidak mandi setiap pulang bekerja? Aku terus di sini beberapa hari ini, tapi kamu tetap tidak mau mandi sampai aku dan Bibi Flora pulang nanti. Aku tahu terkadang mandi memang membuat kita malas. Tapi kebersihan tetap yang paling utama, kamu harus tetap sering mandi Flora."
"Aku mandi saat kalian telah pulang!"
Freya tanpa sadar langsung meninggikan suaranya karena malu saat Vano malah berspekulasi dia jarang mandi selama ini. Remaja itu mengangkat alisnya dengan bingung setelah mendengar jawaban Freya. Dia tampaknya tidak mengerti sama sekali, sampai Flora harus berinisiatif menjelaskan pada remaja itu.
"Tempat ini....... Kamar, tempat makan, dapur, semuanya menjadi satu tanpa ada dinding yang memisahkan mereka, Vano. Mengganti pakaian di kamar mandi juga..... Rasanya kurang pantas. Kita sudah menganggu Freya sejak kemarin, jadi aku pikir tidak pantas jika kamu berkomentar untuk masalah ini, Vano."
Freya tidak menyangka Flora akan berani menegur Vano secara langsung seperti itu. Tapi Vano tampaknya tidak keberatan, saat dia malah menatap Freya seperti remaja itu baru saja menyadari sesuatu.
"Jika itu masalahnya, aku bisa keluar terlebih dahulu sebelum kamu keluar dan berganti pakaian bukan? Kita sudah bersama sejak kecil, mengapa kamu masih canggung untuk hal-hal semacam ini?"
Ya, Vano mungkin baik-baik saja. Tapi Freya tidak seperti remaja itu. Pikiran Freya tidak akan bisa fokus jika dia harus meminta Flora dan Vano keluar saat dia harus berganti pakaian. Dia terlalu malu, jadi Freya hanya bisa terdiam tanpa menjawab pertanyaan Vano.
"Sudahlah Vano. Ah ya, kami membawakanmu makanan dari rumah untuk hari ini. Nona Alexa memaksa untuk memasak sendiri dan membawakan makanannya untukmu hari ini. Dia mengatakan bahwa dia menyesal belum bisa mengunjungimu sampai detik ini, karena masih ada pekerjaan yang harus dia lakukan sebelum dia bisa berkunjung ke sini."
Freya menatap terkejut makanan hangat yang kini tersaji di mejanya. Ibu Vano...... Alexa selalu perhatian padanya sejak mereka masih kecil. Hidung Freya sedikit tersengat saat dia mencoba menahan keinginan menangis saat dia menatap satu per satu menu yang mereka bawakan untuknya. Semua ini...... Alexa membawakan semua makanan favorit Freya yang bisa wanita itu ingat.
Sudah bertahun-tahun sejak Freya hidup sendiri dan harus melakukan semuanya secara mandiri. Walaupun Freya sudah bisa melakukan semuanya secara mandiri sejak dia masih kecil, Freya terkadang masih merindukan perasaan diperhatikan oleh seseorang seperti sekarang. Alexa memberinya perasaan bahwa dia masih memiliki ibu lain di dunia ini. Senyum lembut Alexa yang masih Freya ingat sampai sekarang tiba-tiba saja malah membuatnya sedih. Tidak peduli di masa lalu atau masa sekarang, dia ternyata terus saja menyusahkan orang-orang baik ini.
Freya sudah berusaha menjauh, namun mereka ternyata masih terus berusaha mengulurkan tangan mereka untuk menyelamatkan Freya dari dunia yang kejam ini.
"Oh ya, apa Mama juga mengatakan bahwa dia mungkin akan bertemu denganmu di pertemuan daycare saja. Mama tidak pernah absen dalam pertemuan ini dan...... Hei, apa kamu menangis?"
Nada Vano langsung berubah khawatir saat dia melihat hidung dan ujung mata Freya yang sedikit memerah. Vano takut Freya sedih akan sesuatu, namun gadis itu malah menggeleng dan menujuk makanan pedas yang dibawa Vano sebelumnya.
"Makanannya pedas, lanjutkan saja ucapanmu Vano."
Walaupun Vano tidak terlalu percaya dengan kebohongan Freya, Vano mencoba mengabaikannya karena Freya berekspresi seperti dia akan benar-benar menangis jika Vano memaksa Freya memberinya jawaban pasti. Vano dengan lembut mengusap punggung Freya ketika dia mulai bicara lagi. Kali ini nadanya sangat lembut, seakan dia mencoba menghibur Freya dengan kata-katanya.
"Um...... Ya. Kamu masih ingat daycare tempat Mama bekerja saat kita masih kecil? Kami semua selalu menjalin hubungan baik sampai sekarang dan kami akan mengadakan acara semacam reuni satu tahun sekali untuk saling bertukar kabar. Yang lain ingin kamu bisa menghadiri acara itu juga sekarang. Ayden, Mama, dan yang lain semuanya ingin bertemu denganmu lagi, Freya."
Vano dengan hati-hati mencoba melihat ekspresi Freya ketika remaja itu terus bicara. Dia tahu Freya pasti sibuk bekerja selama ini. Tapi Vano juga benar-benar ingin Freya sesekali mengambil hari libur, bermain bersama yang lain dan menghabiskan hari seperti gadis seumurannya.
Vano susah gagal membujuk Freya agar gadis itu berhenti bekerja dan pindah sana ke rumahnya untuk menjalani hidup yang bebas. Jadi sebisa mungkin, Vano mencoba membantu Freya di bidang yang lain saja untuk saat ini.
"Acaranya akan diadakan dua minggu lagi, pada hari minggu Freya. Jika kamu memang masih harus bekerja pada hari itu, aku siap memberi bosmu kompensasi selama kamu bisa keluar pada hari itu. Kamu mau kan datang bersamaku pada hari itu? Mama sangat menantikan kedatanganmu loh..... Oh ya, aku lupa tapi Ayden juga menitip salam padamu saat dia tahu kita sudah bertemu lagi. Kamu masih ingat dia bukan? Ayden, anak berisik yang senang menggunakan plester luka di hidungnya karena dia merasa itu keren ketika dia masih kecil."
Freya tanpa sadar tersenyum saat Vano mulai menjelaskan temannya dengan nada lucu. Melihat bahwa Freya terhibur dengan tindakannya, Vano mulai menceritakan keadaan teman-teman mereka yang lain ketika mereka sudah dewasa sekarang. Freya mendengarkan semua ucapan Vano dengan wajah senang. Berbicara dengan Vano selalu berhasil membuat gadis itu melupakan masalah yang dipikulnya selama ini. Vano membuatnya merasa seperti mereka memutar balikan waktu ke masa lalu, di mana mereka bisa bermain dan bercanda tanpa perlu mengkhawatirkan apa pun.
Flora menyaksikan interaksi muda-mudi itu dengan senyum yang juga terselip di wajah cantiknya. Nada dering ponsel yang dia miliki mengambil alih perhatian Flora. Wajahnya yang tenang tiba-tiba terlihat kaku, saat dia membawa pesan singkat yang dikirimkan oleh adiknya baru saja ini.
[Pria itu telah mati. Aku tidak tahu apa kematiannya ada hubungannya dengan kita atau pun tidak. Tapi kata Bos, kalian sebaiknya hati-hati sampai aku bisa mengetahui secara pasti apa penyebab kematiannya Kak.]
Pria yang Jasper maksud adalah orang yang Flora biarkan hidup dan diminta untuk mengadu domba kelompok Dimitri dengan mayat teman-temannya sendiri. Flora takut kematiannya berarti Dimitri telah sadar bahwa dia dibodohi selama ini. Mereka memang belum memiliki bukti pasti, tapi akan selalu lebih baik jika mereka bersiap sebelum sesuatu benar-benar terjadi nanti.
[Aku mengerti. Kami tidak akan pulang terlalu larut hari ini.]
Flora diam-diam berpikir, saat tangannya tanpa sadar mengetuk meja dengan nada teratur setelah itu.
*****
"Freya."
Freya menatap Flora saat wanita itu tiba-tiba memanggilnya ketika mereka hendak pulang seperti biasanya. Vano tengah berada di kamar mandi sebelum mereka benar-benar pulang, jadi Flora berpikir itu adalah kesempatan bagus baginya untuk bisa bicara berdua saja dengan Freya tanpa diganggu oleh Vano.
"Apa kamu sudah bisa menemukan kontraknya?"
Wajah Freya ikut berubah serius saat Flora menanyakan perihal usahanya untuk mencuri kontrak yang mengikatnya selama ini. Freya dengan menyesal menggeleng pelan, menciptakan helaan nafas panjang dari pihak Flora.
"Bos akhir-akhir ini tidak pernah meninggalkan kantor, Bibi Flora. Aku tidak memiliki kesempatan sedikit pun untuk mencari kertas perjanjian itu, karena semua berkas itu hanya ada di ruangan Bos."
Alis Flora semakin berkerut ketika dia mendengar berita baru tersebut. Flora mulai berpikir bahwa orang-orang mulai curiga pada rencana mereka, namun Freya malah mengartikan ekspresi Flora dengan wanita itu yang tidak puas dengan jawabannya.
"..... Maaf....." ujar Freya dengan suara kecil. Menyadari kesalahannya, Flora segera menggeleng. "Tidak apa-apa. Sejak awal, tugas yang kuberikan padamu lemah tidak mudah," ujarnya berusaha menghibur Freya. Keduanya terdiam lagi, sampai Vano akhirnya selesai dengan urusannya di kamar mandi.
Melihat Freya dan Flora hanya saling bertatapan, Vano mengangkat alisnya karena bingung. "Apa ada masalah?" tanyanya yang dibalas gelengan oleh Flora.
"Kami hanya menunggumu. Apa kamu sudah selesai?"
Vano memiliki sedikit keraguan karena sikap aneh keduanya sebelum ini. Tapi mencoba membuang pemikiran buruknya, Vano akhirnya tetap mengangguk sebelum menatap Freya lagi.
"Aku pulang dulu. Sampai bertemu besok, Freya."
Freya mengangguk. "Sampai nanti," ujarnya membalas dengan suara pelan.
To be continued