Vano menatap takjub saat Freya makan seperti gadis itu tidak pernah menemui makanan selama berbulan-bulan. Cara makannya memang masih tenang karena dia malu pada Vano, tapi tangannya tidak berhenti menyuapkan makanannya untuk dia kunyah dengan cepat dari waktu ke waktu.
Flora sengaja membeli makanan dengan porsi sepuluh orang normal. Niatnya, dia ingin menyisakan beberapa bungkus untuk Freya makan di lain waktu karena apartemen gadis itu memang terlalu kosong sebagai apartemen yang diisi oleh seseorang. Tapi kini setengah dari makanan itu, sudah habis hanya oleh Freya seorang. Melihatnya makan begitu lapar membuat Vano kembali sedih. Teman terdekatnya, selama ini ternyata harus hidup dalam kesulitan ketika dia menikmati semua jenis kemewahan semenjak sang ayah datang menjemputnya waktu itu.
"Freya......"
Freya baru berhenti menyuap ketika gadis itu mendengar suara Vano dan akhirnya sadar bahwa dia mungkin terlalu berlebihan saat menyuap makanannya. Freya berhenti karena malu, namun perhatian Vano ternyata bukan pada masalah itu.
"Maukah kamu tinggal bersama keluargaku saja? Kita...... Telah berjanji untuk selalu bersama bukan? Aku bisa melindungimu. Mama juga pasti senang jika kamu mau tinggal bersama kami, Freya."
Freya langsung menyimpan piringnya saat Vano mulai menyinggung masalah itu. Ucapan Flora sebelumnya benar. Freya hanya akan menempatkan keluarga Vano dalam bahaya jika dia ikut bersama remaja itu saat ini. Bosnya masih memiliki kontrak yang ditandatangani oleh ibunya dan dia. Vano bisa dituduh mencuri 'barang' mereka nanti, dan konsekuensi dari tindakan itu jelas tidak akan main-main.
Freya menggeleng yakin, berusaha mengabaikan wajah Vano yang langsung terlihat kecewa.
"Aku tidak akan pergi ke mana pun. Ini rumahku, dan aku senang berada di tempat ini," ujar Freya tegas.
"Tapi di sini berbahaya Freya. Aku tidak bisa membiarkanmu tetap hidup di tempat seperti ini setelah aku menemukanmu sekarang," balas Vano tidak kalah keras kepalanya. Sejujurnya Freya saat ini benar-benar tergerak mendengar nada suara Vano yang penuh keyakinan. Freya benar-benar bersyukur dia bisa diberi teman sebaik Vano. Tidak peduli dengan situasinya, sejak dulu Vano memang selalu saja bertindak tidak ragu jika dia harus menolong Freya.
Vano terlalu baik, dan Freya merasa sejak awal dia memang tidak pantas berteman dengan pria sebaik Vano.
Freya sekali lagi menggeleng. "Aku baik-baik saja sampai saat ini. Aku bisa menjaga diriku sendiri, kamu tidak perlu khawatir lagi Vano," ujar Freya yang akhirnya menyebut kembali nama Vano setelah sekian lama hanya memanggil 'kamu' dan 'kamu'.
"Tapi......"
"Aku akan pindah jauh dan sekali lagi menghilang dari hidupmu Vano, jika kamu terus memaksaku seperti ini," ancam Freya saat Vano terus saja membujuknya tanpa kenal lelah. Freya sebenarnya merasa malu mengucapkan hal itu karena dia seharusnya tidak sepenting itu dalam hidup Vano. Tidak masalah bahkan jika dia menghilang dari hidup remaja itu. Tapi kenyataannya, ancaman itu benar-benar efektif untuk melawan Vano. Remaja itu langsung bungkam, saat Freya bisa melihat Vano benar-benar layu dalam posisi duduknya.
"Jika...... Aku tidak memaksamu pindah, bisakah setidaknya aku mengunjungimu dari waktu ke waktu? Kamu bisa menganggapku mengunjungimu seperti aku bermain ke rumahmu ketika kita masih kecil dulu."
Freya menghela nafas panjang saat Vano memohon padanya untuk sekali lagi. Tapi karena Vano telah setuju untuk berkompromi, Freya merasa tidak ada salahnya jika dia mengijinkan remaja itu datang selama Vano tidak menganggu waktu bekerjanya. Lagipula Freya yakin Vano juga akan tetap datang, jika dia menolak permintaan dari remaja itu saat ini.
"Datanglah di waktu malam karena aku sibuk bekerja dari pagi sampai sore. Lalu, jangan lupa untuk menutupi indetitasmu tiap kali kamu memutuskan untuk datang ke tempat ini. Penampilanmu yang mencolok hanya akan menarik kejahatan untuk mendekatimu. Jika kamu setuju dengan semua syarat ini, kamu boleh datang kapan pun kamu mau di masa depan."
Seperti anak kecil, David langsung ceria kembali saat dia mendengar persetujuan yang diucapkan oleh Freya. "Aku mengerti!" ucapnya dengan semangat. Pria itu dengan mata penuh harap terus menatap Freya, sampai gadis itu mulai malu sendiri di tatap sedemikian rupa oleh orang setampan Vano.
"Kita tetap teman bukan?" tanya Vano memastikan. Freya tersenyum samar saat yang Vano khawatirkan sekarang malah masalah ini. Freya mengangguk kecil, ada perasaan nostalgia saat Freya menatap Vano yang tersenyum melihat jawaban itu.
Freya merasa bahwa dia kembali ke masa lalu ketika dia merasa lebih santai saat ini. Senyuman Vano, pria itu seperti tidak berubah tidak peduli apa yang telah terjadi padanya selama bertahun-tahun ini.
Freya seakan menemukan rumahnya kembali ketika dia menatap senyuman Vano. Tanpa sadar Freya ikut tersenyum kecil, ketika dia berharap..... Mungkin, tidak akan apa-apa jika dia bersama Vano untuk saat ini.
"Kita tetap teman," ulang Freya dengan nada pelan.
*****
"Aku akan kembali lagi nanti, Freya!"
Vano melambai dengan senang saat Freya mau membalas lambaiannya walau tidak balas mengatakan apa pun tentang ucapannya. Hari sudah sangat larut, jadi Vano berinisiatif kembali cepat hari ini agar dia tidak menganggu Freya terlalu lama. Makanan yang masih tersisa Vano berikan pada Freya agar gadis itu bisa memakannya ketika dia lapar. Vano juga sebenarnya ingin memberi Freya beberapa uang saku agar gadis itu tidak terlalu lelah bekerja setiap harinya. Tapi dengan tatapan tajam yang Freya berikan padanya, Vano akhirnya hanya bisa menelan kembali idenya sebelum dia bisa memberi gadis itu uang apa pun.
Vano berjalan kaki untuk sampai ke tempat Flora memarkirkan mobil, saat Flora yang selama ini mengekor di belakangnya tiba-tiba berhenti ketika mereka berbelok di salah satu gang. Tatapannya ramah saat Vano berbalik untuk menatap wanita itu. Flora mendekati Vano, sebelum berbisik santai pada remaja itu.
"Vano, Bibi lupa meninggalkan kunci mobil di rumah Freya. Aku akan mengambilnya, kamu pergilah pertama dan tunggu Bibi di mobil oke?"
"Aku bisa ikut dengan Bibi," tawar Vano. Flora menggeleng pelan, sebelum dia menepuk bahu Vano agar remaja itu melakukan perintahnya saja.
"Aku tidak akan lama. Kalian akan bertemu lagi besok, kenapa kamu begitu tidak sabar dan ingin melihatnya lagi saat ini juga Vano?"
Vano langsung cemberut saat Flora lagi-lagi malah menggodanya ketika dia tengah serius. Tapi melihat ekspresi Flora, Vano tahu bahwa dia tidak bisa berdebat dengan wanita itu saat ini. Vano dengan berat hati meneruskan langkahnya untuk keluar gang, sementara Flora berbalik dengan santai sampai dia benar-benar yakin Vano sudah berada di zona yang aman.
Ketika Vano sudah tidak dapat lagi melihat gerak-geriknya, Flora langsung berlari untuk mengejar orang-orang yang diam-diam mengikuti mereka saat Flora dan Vano keluar dari rumah Freya. Orang-orang itu juga tidak pernah berpikir bahwa Flora telah menyadari kehadiran mereka sejak awal. Orang yang bisa merasakan kehadiran mereka yang bersembunyi dari jarak yang cukup jauh dengan semudah itu, meyakinkan mereka bahwa Flora bukan lah seorang wanita sembarangan. Dengan panik mereka mulai berlari, hanya untuk terkejar oleh Flora yang lari seperti seorang cheetah.
Sejak mereka mulai berlari, mereka tidak pernah sadar bahwa Flora sengaja membimbing mereka jalan buntu yang sepi agar wanita itu lebih mudah untuk menangkap mereka semua. Sejak awal Flora keluar untuk membeli makanan, dia telah berlari mengintari lingkungan ini untuk menghafal seluk-beluknya. Dia memesan dengan cepat dan masih sempat kembali untuk mendengarkan obrolan kecil Vano. Flora merasa dia sibuk sekali hari ini, kulitnya terasa kotor sampai dia berencana untuk mengambil hari libur sehari untuk pergi ke tempat spa setelah ini.
"Sial!"
Orang-orang itu mulai mengumpat saat Flora sudah berhasil menyusul mereka ketika mereka akhirnya sampai ke jalan buntu. Wanita cantik itu dengan tenang diam-diam mengeluarkan pisau kesukaannya. Tidak seperti adiknya Jasper yang lebih senang menggunakan senapan, Flora sebenarnya lebih suka menggunakan pisau yang lebih senyap untuk menghabisi musuh-musuh Dominic selama ini.
Pisau yang dia miliki merupakan hadiah dari Dominic saat dia berusia 12 tahun. Pisau itu dibuat dari bahan terbaik dan ditempa dengan hati-hati. Ketajamannya tidak perlu diragukan lagi. Freya bisa memotong tulang manusia yang keras hanya seperti tahu jika dia menggunakan pisau tersebut.
"Mengapa kalian mengikuti kami Tuan-tuan?"
Sambil tersenyum ramah, Flora mulai bertanya pada orang-orang yang berdiri tidak jauh dari posisinya. Sebenarnya dari penampilan mereka saja, Flora sudah bisa menebak bahwa orang-orang yang mengikutinya ini merupakan bagian dari kelompok Dimitri. Mereka semua selalu memiliki tato khusus di salah satu bagian tubuh mereka. Kebetulan salah satu dari mereka memiliki tato di punggung tangannya, sehingga tidak sulit bagi Freya untuk tahu dari mana orang-orang ini berasal.
Flora sebenarnya bisa saja langsung membunuh mereka semua untuk menyembunyikan kedatangan mereka. Tapi Flora tahu ada hal lain yang lebih baik dari sekedar membunuh orang-orang itu. Dia bertanya hanya untuk basa-basi, memancing orang untuk menyerangnya yang terlihat tidak berdaya saat bertanya dengan wajah 'polos'.
"Tangkap dia!"
Umpan Flora dimakan saat orang-orang itu tidak memiliki pilihan lain selain melumpuhkan Flora jika mereka ingin keluar dari situasi ini. Dua orang maju bersamaan sementara seseorang berusaha menelepon untuk bala bantuan. Sayang pria yang berusaha menelepon belum sempat menghubungi siapa pun, saat suara teriakan teman-temannya terdengar dan Flora tiba-tiba sudah berada tepat di depan wajahnya.
Dengan tangan yang memegang pisau penuh darah, Flora tersenyum manis saat dia merebut ponsel pria itu untuk dia banting ke tanah begitu saja. Hanya ketika dia menyadari ketenangan yang diungkapkan Flora, pria itu akhirnya sadar bahwa orang yang mereka lawan kali ini lebih berbahaya dari siapa pun yang pernah dia temui sebelumnya.
"Aku hanya bertanya, mengapa kalian harus menyerangku secara tiba-tiba? Rencanaku jadi kacau karena tindakan kalian. Seharusnya saat aku bertanya pada kalian dengan nada baik-baik, kalian juga balas menjawabku dengan nada baik-baik pula."
Dengan nada pura-pura kecewa, Flora menegur orang-orang itu dengan sangat tenang. Di bawah kakinya, genagan darah mengalir dari orang-orang yang sebelumnya dia bunuh. Kecepatan membunuh Flora tidak main-main saat ini. Semenjak Rika meninggal, dia memang bekerja keras untuk melatih teknik membunuhnya agar dia bisa berguna untuk menggantikan peran sang kakak yang hilang dari rumah Dominic. Dominic juga sangat puas dengan hasil latihan Flora, dia sengaja menugaskan Flora untuk mengawal Vano ke tempat ini karena Dominic tahu Flora mampu melindungi anaknya dari ancaman sekecil apa pun.
Flora biasa terlihat tenang dan tidak berbahaya sepanjang waktu. Penampilannya yang feminim dan ramah sering kali membuat orang-orang salah paham mengenai sifat aslinya yang sebenarnya. Flora sebenarnya merupakan yang terkejam di antara tiga bersaudara. Semakin dewasa, gadis itu hampir tidak memiliki rasa empati pada siapa pun, kecuali Dominic yang Flora anggap sebagai penyelamat hidupnya dan keluarganya yang harus Flora layani sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.
Flora dengan tenang menatap pria yang ketakutan di depannya ini sambil memikirkan sesuatu. Wanita itu tiba-tiba menepuk bahu pria itu, sampai tubuhnya menegang karena rasa takut yang ekstrim.
"Yah, karena kamu yang memerintahkan mereka untuk menyerangku, aku tidak bisa membiarkanmu hidup lagi setelah ini. Jika aku ingin menggunakan orang lain, aku sepertinya harus menunggu pria itu untuk mengirimkan orang lain agar aku bisa menggunakannya tanpa khawatir nanti. Apa kamu memiliki keluarga Tuan? Mereka pasti akan sedih sekali jika aku juga harus membunuhmu di sini saat ini."
"A, aku akan melakukan apa pun! Tolong, tolong jangan bunuh aku!"
Flora diam-diam tersenyum puas saat dia mendengar permohonan putus asa dari pria tersebut. Semua berjalan sesuai rencananya. Tapi untuk lebih meyakinkan, Flora tidak langsung menerima permohonan pria itu saat wajahnya tiba-tiba berubah seolah Flora tengah kesulitan akan sesuatu.
"Tapi jika aku tidak membunuhmu, bosmu akan curiga dan dia mungkin akan mengerjarku di masa depan. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku sebenarnya bisa saja melepaskanmu jika kamu berjanji akan memberiku ide yang bagus untuk keluar dari masalah ini."
Pria itu meneguk ludahnya dengan susah payah saat dia mencoba bernegosiasi lagi.
"Aku bisa mengatakan bahwa kelompok lain yang datang untuk membunuh mereka. Salah satu rival Bos pernah mengancam akan melawan Bos sehingga aku bisa menggunakan mereka untuk menutupi pem..... Pembunuhan ini. Bos sangat percaya pada ucapanku, dia pasti tidak akan melihat kebohongan apa pun jika aku yang mengatakan semuanya padanya."
"Aha!"
Flora terlihat senang saat dia menjentiman jarinya dengan wajah bersemangat. Pria itu ikut terkejut melihat perubahan drastis dari ekspresi Flora. Pria itu masih mengigil ketakutan, saat Flora tiba-tiba memperhalus rencana kasarnya itu.
"Siapa rival bosmu itu Tuan?"
"Giovanni. Dia pedagang senjata illegal terkenal di negara ini," jawab pria itu. Flora mengangguk mengerti, sebelum dia membersihkan pisaunya menggunakan pakaian pria itu.
"Apa kamu berada di sini untuk berpatroli?" tebak Flora. Pria itu mengangguk, sebelum menambahkan ucapannya dengan sedikit gugup.
"Gudang milik Bos diserang oleh seseorang belum lama ini. Adik Bos mati dan Bos sangat marah akan hal ini. Bos mulai memerintahkan kami berpatroli bergantian di daerah ini sejak beberapa hari yang lalu. Bos sepertinya percaya bahwa pelakunya berasal dari tempat ini atau sering berkunjung ke tempat ini karena seorang pemuda kaya dirampok di tempat ini pada hari kebakaran itu terjadi. Bos sebenarnya menyelidiki banyak hal, tapi dia tetap curiga pada tempat ini karena instingnya. Dia memerintahkan kami untuk menangkap siapa pun yang terlihat mencurigakan di daerah ini."
Flora mengangguk mengerti ketika dia mendengar penjelasan pria itu. Wanita itu tersenyum, ketika dia memberi perintah pada pria ketakutan itu.
"Baiklah. Sekarang anggap salah satu anggota Giovanni datang ke tempat ini dan kalian bertengkar sampai dua temanmu itu terbunuh sementara kamu akhirnya bisa membunuh anggota Giovanni itu. Tapi, bosmu pasti akan curiga jika kamu tidak terluka sedikit pun. Sini, biar aku membuatmu terluka ya......"
"Ughk."
Pria itu mengigit bibirnya saat Flora dengan santai melukai tangannya seperti tindakan itu bukanlah masalah yang besar. Selesai dengan tindakannya, Flora merogoh kantung pria itu untuk mengambil dompetnya dan melihat kartu pengenal dari pria itu. Flora mengingatnya baik-baik, sebelum menyerahkan dompet itu kembali pada pria yang masih meringgis karena luka yang dia buat sebelumnya.
"Sekarang, aku akan memerintahkan seseorang untuk membunuh anggota Giovanni dan membawanya ke hadapanmu. Lakukan tugasmu dengan baik mulai sekarang. Kamu harus berhasil membuat Bosmu itu percaya oke? Atau aku mungkin akan datang membunuh keluargamu jika aku tidak puas dengan pekerjaanmu."
Flora menepuk puas d**a pria itu saat dia akhirnya menyimpan pisaunya kembali. "Tunggu di sini. Seseorang akan mengantarkan mayatnya padamu nanti. Dan jangan coba-coba untuk mengkhianatiku setelah ini. Aku bisa melacakmu, bahkan dalam kematianmu nanti," ujar Flora sebelum pergi meninggalkan pria itu. Kakinya berjalan cepat untuk mencari sumber air terdekat. Wanita itu membersihkan darah yang menempel di tangannya, saat dia menelepon Jasper yang segera diangkat oleh adiknya tersebut.
"...... Kak?"
"Bisakah kamu membunuh seseorang dari kelompok Giovanni? Luka tusuk akan lebih baik. Kirimkan mayatnya pada alamat yang aku beri oke?"
Flora tahu adiknya diam-diam mengumpat di tempat lain karena panggilan sempat sepi untuk beberapa detik. Sayup-sayup, Flora bisa mendengar suara gemerisik tanda bahwa adiknya walaupun enggan tetap bersiap-siap. Tidak lama kemudian suara Jasper terdengar kembali, dengan nada suram yang mengandung sedikit keenganan.
"Aku mengerti," ucapnya dengan singkat. Flora menutup teleponnya tidak lama kemudian. Wanita itu dengan menyempatkan diri untuk memastikan pakaiannya bersih dari darah terlebih dahulu, sebelum dia berjalan kembali untuk keluar dari lingkungan tersebut.
Langkah Flora bergerak semakin cepat, ketika sosok Vano sudah terlihat dan remaja itu tampak tidak tenang berdiri sendirian saat ini.
Ketika Vano melihat Flora, remaja itu segera bergegas untuk menghampiri wanita itu. Flora tanpa sadar tersenyum ketika dia melihat wajah khawatir Vano. Wanita itu mengusap pucuk kepala Vano dengan lembut, sebelum menjelaskan dirinya sebelum Vano memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
"Aku pikir aku meninggalkan kuncinya di rumah Freya, tapi ternyata aku menjatuhkannya di jalan jadi butuh waktu agak lama sebelum aku bisa menemukannya. Ini sudah malam, kita sebaiknya segera pulang sebelum Bos dan Nona Alexa khawatir padamu."
Vano mengangguk ragu saat Flora membuka pintu mobil dengan gerakan santai. Vano akhirnya ikut masuk ke mobil tidak lama kemudian, meninggalkan jalanan yang sudah sepi karena sudah larut malam.
To be continued